Penggundulan Hutan

Diposting pada

Latar Belakang

Penggundulan Hutan – Dampak, Penyebab, Alasan Dan Kegiatannya – Pada zaman sekarang sebagian hidup tidak dapat dipenuhi karena tidak mempunyai pekerjaan dan lain-lain, karena hal tersebut sebagian dari masyarakat menggunakan hutan sebagai jalan pintu untuk memenuhi kebutuhan hidup, yaitu dengan cara menebang pohon secara liar dan masyarakat tidak sadar atau pekerjaan yang dilakukan itu. Karena pekerjaan itu dapat mengakibatkan hal-hal buruk diantaranya, terjadi banjir, longsor dan lain-lain, tapi kalau mereka sadar akan hal itu mungkin penebangan pohon secara liar tidak akan mereka lakukan pasti tidak akan mengakibatkan hal-hal yang buruk.


Maka dari sekarang kita semua harus sadar bahwa penebangan pohon itu sangat berakibat patal kalau hutan tidak dijaga penebangan liar pasti akan lebih banyak dan hutan akan menjadi gundul. Maka dari sekarang kita harus menjaga hutan untuk anak cucu kita di masa yang akan datang.


penggundulan-hutan

Beberapa pelajaran diambil dari pengalaman penulis di Departemen Kehutanan Indonesia (1998-2001) sebagai berikut: penebangan liar meningkat dengan cepat selama masa transisi menjelang demokratisasi dan disentralisasi, memunculkan pertanyaan-pertanyaan tentang kesiapan hukum, sumberdaya manusia, dan komunikasi antara pemerintah pusat dengan daerah.

Permasalahan di Indonesia tidak unik, sehingga mungkin dapat dipelajari dan dibagi dengan Cina, Brazil, Rusia, dan negara-negara Afrika. Penebangan liar bukan masalah yang berdiri sendiri, tetapi isu yang diperoleh dari kebijakan penggabungan hutan dan industri kayu. Akhirnya, tindakan penanggulangan telah dilakukan dengan cepat dari tingkat lapangan ke tingkat pusat dan internasional, termasuk kerjasama semua pihak dan pemanfaatan yang efektif dari informasi ilmiah di dalam pembuatan kebijaksanaan. Denagn demikian penulis mengambil judul untuk karya ilmiah yakni“Penebangan pohon  secara liar akan menyebabkan kerusakan alam”.


Baca Juga : Sensus Penduduk adalah


Penggundulan Hutan

Penggundulan hutan atau deforestasi adalah kegiatan penebangan hutan atau tegakan pohon (stand of trees) sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk pemakaian nir-hutan (non-forest use), seperti pertanian, peternakan atau kawasan perkotaan.


Istilah deforestasi hampir sering disalahartikan untuk menggambarkan perkerjaan penebangan yang semua pohonnya di suatu daerah ditebang habis. Namun, di kota beriklim ugahari yang lumayan lengas (temperate mesic climate), penebangan semua pohon sesuai dengan langkah-langkah pelaksanaan kehutanan yang berkelanjutan (sustainable forestry)–tepatnya dianggap sebagai ‘panen permudaan’ (harvest regeneration).


Di daerah ini, permudaan alami oleh tegakan hutan biasanya tidak tetao terjadi tanpa gangguan, baugs secara alami maupun gara-gara manusia. Selain itu, gara-gara dari panen permudaan seringkali mirip dengan gangguan alami, termasuk hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity) setelah perusakan hutan hujan (rainforest) yang berlangsung secara alami.


Berikut merupakan kerugian akibat penebangan hutan secara liar :

  1. Penebangan hutan atau illegitimate logging sekarang juga mengakibatkan timbulnya seluruh anomali di sektor kehutanan.
  2. Salah satu anomali terburuk sebagai akibat kerusakan hutan merupakan ancaman proses deindustrialisasi bezirk kehutanan.
  3. Sektor kehutanan lokal yang secara konseptual bersifat berkelanjutan karena ditopang dengan sumber daya alam yang bersifat terbaharui yang ditulang punggungi oleh aktivitas industrialisasi kehutanan di sektor hilir dan pengusahaan hutan disektor hulu, kini sudah berada di titik ambang kehancuran.
  4. Penebangan liar juga amat merugikan bagi kehidupan, sebab keberadaan hutan sangatlah berharga sebagai penjaga keseimbangan alam. Seperti yang telah kindertageseinrichtung ketahui tentang penyebab pemanasan global, yang merupakan salah satu contoh dampak untuk penebangan liar.
  5. Pemanasan global bukan hanya bersumber untuk asap kendaraan bermotor akan tetapi juga dipengaruhi oleh situasi hutan yang tidak seimbang.

Kita tahu bahwa daun bisa menetralisir karbondioksida, itulah sebabnya kenapa hutan dianggap paru-paru dunia. Jadi kalau hutan masih terjaga tampaknya global warming tidak mengenai terjadi.


Baca Juga : Faktor Penyebab Terjadinya Globalisasi


Dampak Negatif Penebangan Pohon Secara Liar

Dampak Negatif Penebangan Pohon Secara Liar

  • Mengakibatkan Banjir

Fungsi hutan juga menyerap dengan cepat serta menyimpan air dalam besarnya yang banyak ketika hujan lebat terjadi. Namun semasa hutan digunduli, hal indonesia tentu saja membuat haluan air terganggu dan mengakibatkan air menggenang dan banjir yang mengalir ke pemukiman penduduk.


  • Turunnya Sumber Daya Air 

Pohon sangat berkontribusi di dalam menjaga siklus air, menggunakan akar pohon menyerap surroundings yang kemudian di alirkan ke daun dan lalu menguap dan dilepaskan ke lapisan atmosfer. Ketika pohon-pohon ditebang dan daerah ini menjadi gersang, maka tidak ada lagi yang mendukung tanah menyerap lebih tidak sedikit air, dengan demikian, hasilnya menyebabkan terjadinya penurunan sumber daya air.


  • Hilangnya Kesuburan Tanah

Ketika hutan dalam babat pohon-pohonnya, hal di sini. mengakibatkan tanah menyerap sinar matahari terlalu banyak hingga menjadi sangat kering serta gersang. Hingga nutrisi pada tanah mudah menguap. Selain itu, hujan bisa menyapu sisa-sisa nutrisi dari tanah. Oleh sebab itu, semasa tanah sudah kehilangan melimpah nutrisi, maka reboisasi akhirnya menjadi hal yang sulit lalu budidaya di lahan tersebut menjadi tidak memungkinkan.


  • Punahnya Keaneka Ragaman Hayati

Sekalipun hutan hujan tropis cuma seluas 6% dari permukaan bumi, tetapi sekitar 80-90% dari spesies ada dalam dalamnya. Akibat penebangan hujan pohon secara besar-besaran, nyata sekitar 100 spesies hewan menurun setiap hari, keanekaragaman hayati dari berbagai kota hilang dalam skala tidak kecil, banyak mahluk hidup, teliti hewan maupun tumbuhan sudah lenyap dari muka bumi.


Baca Juga : Geostrategi adalah


  • Pemanasan Global

Deforestasi juga berdampak di pemanasan global. Pohon berperan dalam menyimpan karbondioksida yang kemudian digunakan untuk meraup karbohidrat, lemak dan healthy proteins yang membentuk pohon, pada biologi proses ini dianggap fotosintesis.


Ketika terjadi deforestasi, banyak pepohonan yang dibakar, ditebang, yang mengakibatkan lepasnya karbondioksida di dalamnya, situasi ini menyebabkan tingginya kadar karbondioksida yang terdapat pada atmosfir. Dengan melihat dampaknya yang sangat mengerikan, jadi pelestarian hutan perlu serta Harus segera dilaksanakan. Eksploitasi hutan yang terus menerus terjadi, berlangsung sejak dulu hingga sekarang tanpa dibarengi dengan penanaman kembali, mengakibatkan kawasan hutan menjadi rusak.


  • Eksploitasi Hutan di Dalam Negri

Saat ini separuh dari Indonesia yang memiliki hutan, ini merepresentasikan penurunan signifikan dari luasnya hutan pada awalnya. Pembalakan liar yang dilakukan orang merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan.


Padahal sudah kita cari, hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya menfasilitasi bahan pangan maupun petunjuk produksi, melainkan juga penghasil oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air flow. Alih fungsi hutan akhirnya menjadi lahan pertanian semakin merebak dari dulu hingga sekarang, demikian pula penebangan hutan semakin tak terkendali, teliti untuk memenuhi kebutuhan industri kayu, untuk bahan bagunan, bahan perkakas rumah tangga, maupun untuk bahan bakar.


Kita bisa menghitung berapa volume kayu untuk keseluruhan kebutuhan tadi, dan berapa dari luar Jawa yang masuk, dan berapa yang dihasilkan oleh Perhutani. Total hutan-hutan di Indonesia kini ini makin berkurang. Besar hutan hujan semakin menurun, mulai tahun 1960an semasa 82 persen luas negeri ditutupi oleh hutan hujan, menjadi 68 persen dalam tahun 1982, menjadi 53 persen di tahun 95, dan 49 persen saat ini.


Baca Juga : Sumber Daya Alam Non Hayati


Sebab Akibat Terjadinya Kerusakan  Alam

Pada zaman sekarang perkembangan  perekonomian indonesia semakin  besar, para pejabat  banyak korupsi  hukum kurang ditegakan  kriminalitas semakin meningkat , dan lain-lain. Masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan hidupnya sangat menderita oleh karena itu hanya masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan menggunakan hutan.


Sekarang tempat untuk merubah perekonomiannya tetapi bagi masyarakat yang kurang bertanggung jawab pohon-pohon ditebang secara liar, mereka tidak melakukan penghijauan atau tebang pilih yang dipikirkannya adalah bahaya ingin mendapatkan yang sebanyaknya,  mereka tidak berpikir akibat yang akan terjadi  karena pekerjaan. Akibat  hutan  menjadi gundul  dan akibatnya  hutan gundul  yang akan mengakibatkan  longsor  dan mengakibatkan korban jiwa.


Bencana Apa Saja  Yang Disebabkan  Oleh Penebangan Liar

Bencana yang disebabkan  oleh penebang liar contohnya  longsor, banjir dan lain-lain.  Ada juga penyebab lain  tanah longsor yang disebabkan  oleh faktor manusia

  • Pemotongan tebing pada penambangan  di lereng terjal
  • Penimbunan tanah urugan di daerah lereng
  • Pegundulan hutan
  • Budi daya dalam kolam ikan  di atas lereng  dan lain lain
  • Jadi kita harus sadar bahwa  bahaya penebangan liar  itu sangat  berakibat patal contohnya yang ditulis  di atas bencana yang disebabkan  oleh faktor manusia. Maka dari sekarang  jangan coba-coba   menebang liar  sembarangan yang berakibat  buruk, lestarikanlah  hutan   supaya tidak ada  bencana yang mengakibatkan  korban jiwa.

Upaya Pemerintah  dalam Menanggulangi  Kerusakan Alam

Kerusakan alam sangat  merugikan masyarakat dan untuk menanggulanginya  pemerintah melakukan  tebang pilih  dan memberikan pendidikan  kepada masyarakat bagaimana  cara mengolah hutan dan hutan ditegakan  bagi orang  yang melanggar hukum kehutanan  diberi sangsi dan keamanan harus diperketat.


Sistem pengelolaan hutan pada dasarnya bertumpu pada aspek ekonomi dan hanya sedikit yang memperhatikan aspek pengelolaan hutan itu sendiri. Hal inilah yang menimbulkan dampak yang negatif, seperti terjadinya bencana alam banjir, tanah longsor dan pencemaran udara akibat pembakaran hutan secara di sengaja ataupun proses alam. Menghentikan penebangan liar ini tidaklah mudah, karena terkait dengan mekanisme struktur budaya masyarakat yang sudah beradaptasi secara turun temurun.


Baca Juga : “Lempeng Indo – Australia” Definisi & ( Sejarah Terbentuk – Batas Lempeng )


Dengan melihat hal tersebut maka diperlukan penanganan yang serius dan terpadu dalam program pembangunan hutan, dan dalam hal ini adalah Dinas Perhutani. Pentingnya peran Dinas Perhutani dalam menjaga kelestarian hutan menjadi tanggung jawab utama disamping masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut tentunya harus berbagai upaya dilakukan oleh pihak Dinas perhutani. Berdasarkan fenomena tersebut membuat penulis ingin mengetahui lanjut tentang kebijakan-kebijakan apa saja yang akan dilakukan oleh dinas yang terkait dalam menaggulangi pengendalian illegal logging  dan dituangkan dalam bentuk penelitian dengan judul “Kebijakan Dinas Perhutani Dalam Upaya Menanggulangi Pembalakan Hutan Diwilayah Propinsi Jawa Timur (Studi di KPH Malang)”.


Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana kebijakan Dinas Perhutani dalam menanggulangi upaya menanggulangi pembalakan hutan di wilayah KPH Malang.Ingin mengetahui bagaimana membangun jejaring  (nett working) kemitraan dalam pengelolaan hutan terpadu  secara berkelanjutan dan Ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat dalam menanggulangi upaya menanggulangi pembalakan hutan di wilayah KPH MalangJenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, lokasi penelitiannya adalah di KPH Malang dengan subyek penelitianya adalah Kepala Dinas Perhutani dan Kepala KPH Kota Malang. Dimana dalam pengambilan datanya digunakan observasi, wawancara dan data dokumentasi.


Setelah data diperoleh kemudian dianalisa dengan menggunakan teknik anailisa kualitatif.Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa Pemerintah provinsi dan  kabupaten sampai saat ini hanya sebagai “polisi tidur”  atas  pembangunan kehutanan, meskipun Undang-undang  No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan Keputusan No. 215/KPTS-II/2003 tentang Rencana Kerja tahunan Perum Perhutani telah ditetapkan, namun tidak efektif penyelenggaraannya karena peran sentralistik Perhutani sangat dominan, mengakibatkan pengelolaan  hutan belum  mencerminkan keterpaduan karena :


Pemerintah Pusat  belum iklas melepaskan  kewenangan  pengelolaan hutan kepada pemerintah daerah,  berdampak  rendahnya ruang partisipasi  lembaga masyarakat  dan stake holders lainnya  dalam pengelolaan hutan, sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang No.32 Tahun  2005 tentang Pemerintahan daerah.  Jejaring kemitraan pengelolaan hutan yang dibangun oleh Perhutani dalam rangka pengendalian penebangan liar, belum berhasil sebab kepercayaan masyarakat terhadap program PHBM tidak utuh. lebih menekankan pembentukan hubungan kerjasama pemanfaatan peluang dalam pengelolaan  sumber daya hutan. Prinsipnya adalah bagi hasil atas produksi tanaman agribisnis dalam jangka waktu tertentu yang  berorientasi pasar.


Baca Juga : “Potensi Lokasi Indonesia” Upaya Pemanfaatan & ( Astronomis – Geografis – Geologis )


Norma bagi hasil diatur dalam  kontrak kerjasama antara petani, perhutani, pemerintah kabupaten/kota serta LKPDH secara proporsional yang ditetapkan secara musyawarah dalam forum komunikasi tingkat kecamatan.Faktor penghambat dalam menanggulangi pembalkan hutan diwilayah KPH Malang adalah belum adanya  tindakan    inovatif  untuk  mengendalikan  pelaku  penebangan liar yang dilakukan oleh   3 (tiga)  kelompok yang berbeda, yaitu Cukong (pemilik modal), Blandong  Illegal (Juru Tebang Ilegal) dan  Sopir (Pengangkut kayu).


Ketiganya  membentuk  perikatan secara tidak resmi dan samar-samar, tetapi memiliki keterkaitan yang erat  dengan Makelar Kayu (Belantik Kajeng) sebagai mediator untuk mengatur skenario penebangan liar, pengangkutan dan penjualan hasil hutan. Akibatnya  perilaku itu berlangsung tanpa ada  hambatan yang berarti. Ketidak berdayaan pemerintah daerah dalam pengelolaan hutan disebabkan oleh dominasi  pemerintah pusat yang menyerahkan  urusan pengelolaan hutan kepada  Perum Perhutani, sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2003 tentang Perum Perhutani.


Peranan Aparat penegak hukum  kurang optimal  dalam penerapan hukum kehutanan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, karena  adanya   ego centris  dan konflik kepentingan sebagai  akibat  dari  lemahnya koordinasi  di antara  aparatur  penegak hukum sehingga  penegakan hukum belum dapat memberikan efek jera (shock therapy) bagi pelaku kejahatan kehutanan.


Masyarakat dan pengusaha   kurang  memiliki akses seimbang  terhadap sumber daya hutan, karena dominasi Perum Perhutani yang kurang memberikan ruang untuk  berpartisipasi  dalam pengelolaan hutan terpadu. Masyarakat miskin  di sekitar hutan belum mendapat akses yang seimbang dalam memanfaatkan sumber daya hutan, karena itu tidak jarang  Cukong/Belantik Kajeng  memanfaatkan  mereka sebagai  pelaku penting dalam praktek penebangan liar.


Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan :

  • Berupaya mereboisasi ataupun penanaman kembali hutan yang gundul.
  • Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang.
  • Menerapkan sistem tebang centang dalam menebang pohon.
  • Menerapkan sistem tebang-tanam di kegiatan penebangan hutan.
  • Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan hutan.

Baca Juga : “Ciri-Ciri Benua Amerika” Definisi & ( Bentang Alam – Iklim – Penduduk )


Demikian penjelasan artikel diatas tentang Penggundulan Hutan – Dampak, Penyebab, Alasan Dan Kegiatannya semoga dapat bermabfaat bagi pembaca setia DosenPendidikan.Co.Id