Sudut Pandang adalah

Diposting pada

Sudut Pandang – Pengertian Menurut Para Ahli, Jenis & Contoh – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Sudut Pandang yang dimana dalam hal ini meliputi pengertian menurut para ahli, jenis dan contohnya, nah agar lebih dapat memahami dan dimengerti simak ulasan selengkapnya dibawah ini.

Sudut Pandang

Pengertian Sudut Pandang

Sudat pandang adalah elemen yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun cerita pendek. Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan dirinya terhadap cerita, dari sudut mana pengarang memandang ceritanya. Sudut pandangan tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokoh bercerita. Jadi sudut pandangan ini sangat erat dengan teknik bercerita.


Pengertian Sudut Pandang Menurut Para Ahli

Berikut ini terdapat beberapa pengertian sudut pandang menurut para ahli, terdiri atas:


  1. Menurut Aminudin (1995:90)

Sudut pandang adalah cara seorang pengarang menampilkan para tokoh / pelaku dalam dongeng yang disampaiakan/ dipaparkan. Terdapat 4 cara pengarang dalam menempatkan dirinya pada sebuah dongeng yaitu:

  • Sudut pandang orang pertama yaitu pengarang berperan sebagai tokoh utama.
  • Sudut pandang orang ketiga yaitu pengarang bertindak sebagai pengamat yang serba tahu terhadap sikap para tokoh yang ada dalam cerita. Di sini pengarang menyebut pelakunya dengan kata dia, ia, mereka atau menyebut namam tokoh.
  • Sudut pandang pengarang sebagai narator/ pencerita yaitu pengarang hanya menceritakan apa yang terjadi, seolah-olah pembaca menonton sandiwara.
  • Sudut pandang serba tahu dalamm hal ini pengarang seolah-olah mmengetahui seluk beluk isi dongeng yang di sajikan.

  1. Menurut Heri Jauhari (2013:54)

Sudut pandang disebut dengan sentra narasi yaitu penentu corak dan gaya cerita. Waatk dan kepribadian dari pencerita akan banyak menentukan dongeng yang disajikan kepada pembaca. Keputusan seorang pengarang dalam hal menentukan siapa yang menceritakan kisah menentukan apa yang terdapat dalam cerita. Apabila pencerita berbeda, detail-detail dongeng yang dipilih nantinya juga akan berbeda.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Alur Adalah


  1. Menurut Atar Semi (1988:51)

Menyebutkan bahwa istilah sudut pandang, atau sentra pengisahan atau point of view ialah posisi dan penobatan diri seorang pengarang dalam ceritanya, atau dari mana seorang pengarang melihat peristiwa-peristiwa yang ada dalam sebuah cerita.


  1. Menurut Montaqua dan Henshaw (1966:9)

Sudut pandang membedakan kepada pembaca, siapa yang menentukan struktur gramatikal narati dan siapa yang menceritakan. Siapa yang menceritakan dongeng ialah hal yang begitu penting, dalam menentukan apa yang ada dalam cerita, pencerita yang berbeda juga akan melihat benda-benda secara berbeda.


  1. Menurut Atar Semi (1988:57-58)

Sudut pandang adalah titik kisah yang merupakan penempatan dan posisi pengarang dalam ceritanya. Dia juga mengemukakan titik kisah terbagi menjadi 4 jenis yaitu pengarang sebagai tokoh, pengarang sebagai tokoh sampingan, pengarang sebagai orang ketiga, dan pengarang sebagai narator atau pemain.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Contoh Iklan Baris


Jenis-Jenis Sudut Pandang dan Contohnya

Berikut ini terdapat beberapa jenis-jenis sudut pandang, terdiri atas:


  • Sudut Pandang Persona Ketiga “Dia”

Pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona ketiga, gaya “Dia”, narator adalah seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita menebut nama, atau kata gantinya. Ia, dia, mereka. Sudut pandang ‘dia’ dapat dibedakan dan keterkaitan pengaruh terhadap bahan ceritanya.


Disatu pihak pengarang, narator dapat bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh “dia” atau yang disebut sudut pandang “Dia” mahatahu, di lain pihak, ada juga sudut pandang yang mempunyai keterbatasan “Pengertian” terhadap tokoh “Dia” yang diceritakannya, atau yang disebut sudut pandang “Dia” terbatas, “dia” sebagai pengamat.


Sudut pandang orang ketiga, biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya misalnya “Aisha”, “Fahri”, dan “Nurul”. Pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona ketiga gaya ”Dia”, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya : ia, dia, mereka.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Pengertian Berita Menurut Para Ahli


Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti. Hal ini akan mempermudah pembaca untuk mengenali siapa tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak. Sudut pandang ”dia”dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya.


Di satu pihak, pengarang, narator dapat bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh ”dia”, jadi bersifat mahatahu, di lain pihak ia terikat, mempunyai keterbatasan ”pengertian” terhadap tokoh ”dia” yang diceritakan itu, jadi bersifat terbatas, hanya selaku pengamat saja. Ada yang berpendapat bahwa sudut pandang menggunakan gaya “Dia” terbagi menjadi dua, yaitu:


A. “Dia” Mahatahu

Dalam sudut Dia pandang ini, cerita dikisahkan dari sudut ”dia”, namun pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ”dia” tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan :  Analogi Adalah


Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh ”dia”yang satu ke ”dia” yang lain, menceritakan atau sebaliknya ”menyembunyikan” ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata.


B. ”Dia” Terbatas ”Dia”

Dalm sudut pandang ini, sebagai pengamat. Dalam sudut pandang ”dia” terbatas, seperti halnya dalam”dia”mahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada seorang tokoh saja atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh cerita mungkin saja cukup banyak, yang juga berupa tokoh ”dia”, namun mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama.


  • Sudut Pandang Persona Pertama “Aku” 

Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona pertama (First-person point of new), “Aku”, jadi: gaya “Aku”, narator adalah seseorang ikut terlibat dalam cerita. Tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri. Seorang pembaca, penerima apa yang diceritakan oleh si “Aku”, maka kita hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan si “Aku”.


Sudut pandang personal pertama dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan peran dan kedudukan si “Aku” dalam cerita, yaitu “Aku” tokoh utama dan “aku” tokoh tambahan. ‘aku’ tokoh utama dalam sudut pandang mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya.


Selanjutnya, dalam sudut pandang ini tokoh “aku” sebagai tokoh tambahan hadir membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian “dibiarkan” untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama. Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona pertama (first person point of view), ”aku”. Jadi: gaya ”aku”, narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Penggunaan Tanda Baca


Ia adalah si ”aku” tokoh yang berkisah,mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui,dilihat, didengar,dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si ”aku” tersebut.


A. ”Aku” Tokoh Utama

Dalam sudut pandang teknik ini, si ”aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si”aku”menjadi fokus pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si ”aku”, peristiwa, tindakan, dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita yang demikian,si ”aku” menjadi tokoh utama (first person central).


B. ”Aku” Tokoh Tambahan

Dalam sudut pandang ini, tokoh ”aku” muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first pesonal peripheral). Tokoh ”aku” hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian ”dibiarkan” untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya.


Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si ”aku”tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah.


Dengan demikian si ”aku” hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si ”aku” pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita.


  • Sudut Pandang Campuran

Penggunaan sudut pandang yang bersifat campuran, mungkin berupa penggunaan sudut pandang persona ketiga dengan teknik “dia” mahatahu dan “dia” sebagai pengamat, persona pertama dengan teknik “aku” sebagai tokoh utama dan “aku” tambahan atau sebagai saksi, bahkan dapat berupa campuran antara pertama dan ketiga, antara “aku” dan “dia” sekaligus.


Sudut pandang campuran, di mana pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan.


Sudut pandangan yang berkuasa. Merupakan teknik yang menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandangan yang berkuasa ini membuat cerita sangat informatif. Sudut pandanga ini lebih cocok untuk cerita-cerita bertendens. Para pujangga Balai Pustaka banyak yang menggunakan teknik ini. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui.


Demikianlah pembahasan mengenai Sudut Pandang – Pengertian Menurut Para Ahli, Jenis & Contoh semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua,, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Butuhkan