Adaptasi Hewan

Diposting pada

Adaptasi Hewan

Adaptasi Hewan – Pengertian, Tujuan, Tingkah Laku, Macam & Contoh – Dalam bidang ilmu Biologi dikenal dengan istilah Adaptasi. Adaptasi merupakan cara suatu organisme atau makhluk hidup dalam mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya supaya dapat mampu untuk bertahan hidup.


Ekologi berasal dari bahasa Yunani; Oikos = rumah , Logos = ilmu. Secara umum Ekologi sebagai salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari interaksi atau hubungan pengaruh mempengaruhi dan saling ketergantungan antara organisme dengan lingkungannya baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan makhluk hidup itu. Lingkungan tersebut artinya segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup yaitu lingkungan biotik maupun abiotik.

Adaptasi-Hewan


Ekologi hewan adalah cabang biologi yang khusus mempelajari interaksi antara hewan dengan lingkungannya yang menentukan sebaran (distribusi) dan kemelimpahan hewan-hewan tersebut. Perubahan kondisi lingkungan berpengaruh terhadap hewan. Hewan mengadakan respon terhadap perubahan kondisi lingkungannya tersebut. Respon hewan terhadap kondisi dan perubahan lingkungannya denyatakan sebagai respon hewan terhadap lingkungannya. Respon tersebut berupa perubahan fisik, fisiologis, dan tingkah laku.


Kepekaan terhadap stimulus merupakan salah satu ciri utama kehidupan. Tujuan akhir dari respon adalah untuk mempertahankan hidupnya. Apabila kondisi lingkungan menjadi sangat tidak baik, maka yang terjadi adalahpertama : hewan meninggalkan tempat itu dan mencari tempat dengan kondisi yang lebih baik.Kedua : hewan memberikan respon tertentu yang mampu mengatasi efek negative perubahan tersebut.Ketiga : hewan itu akan mati.


Interaksi hewan dengan lingkungannya menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara hewan dengan lingkungannya. Dalam hubungan itu, kondisi dan perubahan kondisi lingkungan berpengaruh pada hewan, dan hewan mengada-kan reaksi terhadap kondisi atau perubahan kondisi lingkungannya (Darmawan, 2005).


Reaksi hewan terhadap kondisi dan perubahan lingkungannya dinyatakan sebagai respon hewan terhadap lingkungannya. Respon hewan terhadap lingku-ngan dapat berupa perubahan fisik, fisiologis, dan tingkah laku. Respon hewan terhadap kondisi dan perubahan lingkungan ada yang bersifat reaktif, artinya respon itu berbentuk dan berlaku pada saat pengaruh kondisi dan perubahan lingkungan terjadi. Misalnya, ayam mencari tempat yang teduh ketika hujan turun. Respon-respon seperti itu bukan merupakan respon yang terpola untuk semua anggota spesies. Respon itu merupakan perubahan pada hewan yang bersifat reaktif terhadap lingkungannya (Darmawan, 2005).

Homologi Anggota Tubuh Bagian Depan pada Beberapa Hewan

Homologi Anggota Tubuh Bagian Depan pada Beberapa Hewan


Pengertian Adaptasi Hewan

Interaksi hewan dengan lingkungannya menunjukan adanya hubungan timbal balik antara hewan dengan lingkungannya. Dalam hubungan itu kondisi dan perubahan kondisi lingkungan berpengaruh pada hewan, dan hewan mengadakan reaksi terhadap kondisi dan perubahan kondisi lingkungannya.


Reaksi hewan terhadap kondisi dan perubahan lingkungannya dinatakan sebagai respons hewan terhadap lingkungannya. Respons hewan terhadap lingkungan dapat berupa perubahan fisik, fisiologis dan tingkah laku. Respons hewan terhadap kondisi dan perubhan lingkungan ada yang bersifat raktif, artinya respons itu terbentuk dan berlaku pada saat berpengaruh kondisi dan perubshan lingkungan berlaku.Misalnya, ayam mencari tempat yang teduh ketika hujan turun.Repons-respons seperti itu merupakan respons yang terpola untuk semua anggaota spesies.Respons itu merupakan perubahan pada hewan yang bersifat reaktif terhadap lingkungannya.


Disamping respons yang bersifat reaktif, hewan mempunyai respons terhadap lngkungan yang terpola untuk semua spesies. Respons itu mempunyai sifat yang diwarisi oleh nenek moyagnya. Misalnya, semua anak itik baru menetas mengikuti hewan apa saja yang dijumpai pertama kali, repons seperti itu dapat di golongkan sebagai respons yang bersifat adaptif terhadap kondisi atau perubahan lingkungan yang ada, artinya respons itu merupakan ciri-ciri yang teradaptasi terhadap kondisi atau perubahan lingkungan yang ada.


Adaptasi pada umumnya diartikan sebagai penyasuaian makhluk hidup terhadap lingkungannya. Namun, Begon (1996) berpenda[at bahwa pengertian itu mengandung benyak penafsiran . penjelasannya sebagai berikut. Jika dikatakan bahwa “hewan X teradaptasi untuk hidup dilingkungan Y”, pernyataan itu dapat di artikan sebagai berikut.


  1. Hewan X hanya dapat dijumpai pada lingkungan Y. Dalam hal ini dapat berarti hewan X mempunyai sifat yang hanya sesuai untuk hidup di lingkungan Y dan tidak dijumpai di daerah lain.
  2. Hewan X hanya dapat hidup di lingkungan Y, tidak dapat hidup di lingkungan lain.
  3. Hewan itu mempunyai siafat yang lolos dari alam, yang diwarisi dari nenek moyagnya. Dalam hal ini kata adaptasi mempunyai arti bahwa pada diri nenek moyangnya terjadi perubahan genetic sehingga sesuai dengan kondisi lingkungan, dan sifat genetik baru yang terbentuk diturunkan kepada turunannya. Pengertian ini diberikan kepada para ahli ekologi evolusi.
  4. Para ahli ekologi yang mengkhususkan diri pada aspek fisiologi mengartikan pernyataan di atas bahwa hewan X telah mempunyai pengalaman di masa lalu yang memungkinkannya untuk hidup dilingkunga Y. pengertian ini lebih tepat untuk di terapakan pada sifat- sifat fenotip.
  5. Pernyataan ini juga dapat berarti bahwa hewan X mempunyai sifat genotip dan fenotip yang sesuai untuk hidup di lingkungan Y.

Diantara pengertian adaptasi yang berbeda- beda itu ada yang menyatakan bahwa ciri-ciri organisme ada yang dirancang untuk sesuai dengan kondisi lingkunganmasa kini dan masa yang akan dating. Penjelasan itu kurang tepat, karena lingkungan sekarang ditempati oleh suatu organisme karena kondidi lingkungan tersebut secara kebetulan sama dengan kondisi lingkungan yang di huni oleh nenek moyangna ketika lolos dari seleksi alam. Maka dari itu ciri-ciri yang teradaptasi itu merupakan ciri yang di turunkan oleh nenek moyangnya.Istilah yang tepat untuk mengatakan kesesuaian makhluk hidup dengan lingkungannyaitu adalah adaptasi. Kata adaptasi menunjukkan kesesuaian organisme dengan lingkunganya yang meruapakan produk masa lalu. Organisme-organisme masa kini dapat hidup dilingkunganyakarena kondisi lingkungannya itu secara kebetulan sama dengan kondisi lingkungan nenek moyangnya.


Baca Juga: Pengertian Jantung Dan Fungsinya Pada Manusia


Mekanisme Adaptasi

Sifat yang dimiliki suatu populasi yang ada sekarang merupakn sifat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Nenek moyang dari populasi yang bersangkutan telah berhasil mempertahankan hidup dan berkembang biak karena memiliki sifat tersebut. Dengan kata lain, populasi yang ada sekarang merupakan populasi yang lolos dari seleksi alam.


Penjelasan ini merupakan ringkasan dari teori-teori seleksi alam yang dikemukakan oleh Darwin, yang prinsip-prinsip pokoknya adalah sebagai berikut.

  1. Sifat dari individu –individu dalam suatu poulasi tidak sam persis. Individu-individu mempunyai sifat yang bervariasi dalam hal ukuran, kecepatan berkembangbiak, merespons kondisi lingkungan dan lai-lain.
  2. Beberapa sifat yang berbeda dalam suatu populasi diwarisi oleh nenek moyang. Dengan kata lain individu-individu mewarisi gen pembawa sifat tersebut dari nenek moyangnya.
  3. Semua populasi mempunyai potesi untuk mendiami seluruh permukaan bumi jika setaip individu dapat bertahan hidup dan menghasilkan keturunan secara maksiamal. Namun, tidak setiap individu mempunyai sifat demikian. Ada individu yang mati sebelum berkembangbiak. Individu yang mampu berkembangbiak mewariskan sifat kepada keturunannya.
  4. Nenek moyang yang berbeda meninggalkan keturunan yang berbeda jumlahnya. Ini juga berarti bahwa ndividu dari populasi yang ada sekarang juga menghasilkan anak yang jumblahnya berbeda.
  5. Anak-anak yang di turunkan oleh suatu individu tidak seluruhnya tergantung pada interaksi sifat individu orang tua dengan lingkungannya.

Meskipun dalam teorinya Darwin yakin bahwa sifat-sifat makhluk hidup yang teradaptasi dengan lingkungan hidup merupakan ciri yang bersifat menurun, tetapi ia tidak menyadari bahwa bentuk adaptasi yang terbaiklah yang memancarkan ciri-ciri adaptif kepada keturunannya.


Adanya sifat menurun itu menjadi lebih terang setelah mendel dapat mengungkapkan adanya gen-gen ang dapat menentukan sifat genetic suatu organisme. Pengetahuan genetika yang di pelopori oleh Mendel itu dapat di gunakan untuk menjelaskan pengaruh kombinasi gen yang terbentuk pada perkawinan dalam populasi terhadap sifat keturunan. Di samping itu pengetahuan genetika juga menjelaskan bahwa seleksi alam merupakan faktor yang menentukan sifat hasil perkawinan.


Jika perubahan faktor lingkungan dan perkawinan antara individu dalam populasi memunculkan variasi baru, maka terbentuknya variasi baru itu akan menimbulkan gangguan pada keseimbangan genetik (genetic equilibrium). Keseimbangan genetic adalah suatu stabilitas genetik individu-individu populasi yang sifat genetiknya sama. Keseimbangan genetik dapat berubah sebagai akibat dari adanya mutasi, perubahan secara acak pada frekuensi gen, dan seleksi alam.Perubahan keseimbangan genetik itulah yang menyebabkan terjadinya evolusi organisme.


Di alam organisme terkumpul beberapa kelompok-kelompok populasi yang di antara anggotanya terjadi hubungan kawin.Setiap kelompok di sebut deme.Kelompok besar yang terdiri dari banyak kelompok disebut jenis organisme. Deme-deme dari suatu jenis organisme ada yang menempati daerah-daerah geografis yang berbeda, misalnya, benteng yang samapi kini masih ada di P .Jawa ada yang hidup ditaman baluran (jawa timur) dan taman nasional ujung kulon (Jawa Barat). Daerah-daerah geografis itu dapat merupakan lingkungan hidup yang sempit dan bersifat khas dibandingkan dengan daerah penyebaran jenis organismenya.


Deme yang menempati daerah geografis khusus itu dapat mempunyai sifat genetik yang berbeda dengan deme yang menmpati daerah lain, jika di atara deme-deme itu terjadi iolasi geografis sehingga antar deme tidak terjadi pertukaran informasi genetik.kelompok yang terisolasi itu disebut kiln (clien), dan merupakan subjenis organisme atau subpopulasi. Perbedaan sifat genetik atau kiln dengan kiln yang lain terbentuk dari perbedaan perubahan lingkungan dalam suatu rentangan tertentu, yang di sebut dengan gradient ekologik (ecological gradients). Variasi sifat individu pada landaian ekologis yang berbeda disebut ekotip.


Baca Juga: Pengertian & Perbedaan Rantai Dengan Jaring Makanan


Perubahan sifat itu dapat dalam hal bentuk, warna dan lain-lain.Contoh yang terkenal adalah fenomena melanisme industrial. Kupu biston betularia yang hidup di hutan yang jauh dari daerah industry berwarna abu-abu keputihan sesuai dengan batang pohon yang sesuai substratnya, tetapi kupu-kupu yang hidup dai daerah industry britania mempunyai warna gelap. Di daerah industri, pohon-pohonan menjadi warna hitamkarena tertutupi asap dan jelaga pabrik. Kupu-kupu yang berwarna terang menjadi mangsa buruan yang mudah dilihat oleh predator, tetapi kupu yang berwarna hitan lebih selamat dari serangan predator.kejadian inilah yang disebut fenomena melanisme industrial.


Kesesuaian antara sifat-sifat organisme dengan lingkungannya sehingga menimbulkan sifat yang bervariasi antara satu kelompok dengan kelompok lain, baik jenis organismenya sama maupun berbeda telah digenerasikan dalam beberapa hokum, antara lain : Hukum bergman, hokum Allen, dan Hukum Gloger. Hukum Bergman mengatakan bahwa hewan-hewan yang hidup di daerah dingin bertubuh besar.


Rasionalnya adalah untuk bertahan pada suhu dingin tubuh yang besar tidak cepat kehilangan  panas, sedangkan untuk bertahan pada lingkungan panas hewan yang bertubuh kecil lebih cepatvmemanarkan panas. Hewan homeoterm, yaitu burung dan mamalia yang hidup di daerah dingin mempunyai tubuh yang lebih besar dari pada yang hidup di daerah panas.Namun hewan-hewan poikiloterm didaerah dingin cenderung bertubuh kecil.


Hukum Allen mengatakan bahwa bagian-bagian tubuh (ekor,teling,tangan,kaki,dan lain-lain) yang idup di daerah beriklim dingin lebih pendek dari pada hewan yang hidup didaerah yang berikilim panas. Contoh, tikus yang hidup di lingkungan yang bertemperatur 31-33,5oC berekor lebih panjang dari pada starin yang hidup di temperatur 15,5-20oC.


Hukum Gloger berbunyi : pada lingkungan yang panas dan lembab hewan mempunyai pigmen lebih gelap dari pada hewan yang hidup di daerah beriklim dingin dan kering.Di daerah arid (beriklim kering) pigmen yang muncul banyak merah dan kuning kecoklatan.Contoh : Belalang kayu Carausius menjadi berwarna hitam pada temperature 15o C dan berwarna coklat pada temperature 25oC.


Hukum-hukum lain yang menyatakan hubungan antara lingkungan dengan sifat hewan antara lain berbunyi : burung yang hidup di daerah beriklim dingin mempunyai kemampuan berimigrasi lebih besar, rentangan sayap yang lebar, bertelur lebih banyak, dan saluran pencernaan makanan dapat menyerap sari makanan lebih banyak dari pada burung yang hidup di daerah beriklim panas. Katak Hyla dan kecebong bertanduk Phrynosoma berwarna makin gelap jika temperature lingkungannya turun.


Deme-deme sering kali terisolasi secara geografis, menyebabkan kelompok-kelompok populasi tidak dapat berbaur lagi untuk melakukan hubungan perkawinan.Isolasi itu di sebut isolasi geografis.Jika isolasi itu bersifat tetap maka populasi yang terpisah dari populasi yang hidup dihabitat asli dapat berubah menjadi jenis organism baru.Isolasi geografis dapat terjdi pada jenis rganisme yang bermigrasi.Isolasi habitat itu di sebut isolasi ekologis.


Populasi dapat terisolasi di tempat yang berbeda tapi masih dalam kawasan habitat yang sama, tetapi tidak dapat melakukan hubungan perkawinan dengan populasi lai. Isolasi itu di sebut disebut isolasi spatial. Jenis organism yang menduduki daerah yang geografisnya berbeda disebut organism allopatrik, sedangkan yang hidup di temat yang secara biologis terpisah dari yang lain disebut jenis organismeyang simpatrik. Contoh yang terkenal dengn isolasi-isolasi tersebut adalah kelompok-kelompok burung Finch Darwinyang tersebar secara terpisah-pisah di pulau-pulau yang berbeda.


Baca Juga: Fungsi Paru-Paru


Burung-burung itu menemukan habitat-habitat yang berbeda ketika bermigrasi dari daratan Amerika ke kepulauan Gapalagos. Itu merupakan contoh allopatrik yang arahnya ditentukan oleh terjadinya perubahan frekuensi gen sebagai akibat dari seleksi alam dan pemisahan genetik. Begitu jenis organism terisolsi etika pindah ke daerah baru yang kondisi lingkungannya berbeda jenis organism itu akan berubah menjadi jenis organism seiring dengan perjalanan waktu. Hal ini mengisyaratkan bahwa jenis organisme baru merupakan ekspresi dari kombinasi berbagai faktor lingkungan.kejadian itu merupakan proses adaptasi yang mengarah pada pengisian nisia yang ksong dan mengarah pada pemanfaatan lingkungan secara efisien dan lengkap.


Tujuan Adaptasi

  1. Untuk melindungi diri dari musuh maupun pemangsa yang lainnya.
  2. Untuk bisa mendapatkan makanan.
  3. Untuk bisa bertahan hidup.

Prinsip Prinsip Adaptasi

Sifat adaptasi penting bagi hewan dan organism lain untuk bertahan hidup pada lingkungan baru atau jika ada perubahan lingkungan di habitatnya. Namun kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya berbeda-beda.

Kemampuan hewan dan makhluk hidup lain untuk beradatasi diprngaruhi oleh beberapa factor.

  1. Adaptasi ditentukan oleh sifat genetik. Diatas telah disebutkan bahwa jenis organisme yang sekarang hidup dan teradaptasi dengan lingkungan dengan habitatnya adalah jenis organisme yangsifat-sifatnya diwarisi dari nenek moyangnya. Cirri-ciri habitat itu secara kebetulan sama dengan cirri-ciri habitat di lingkungan yang dihuni oleh nenek moyang. Sifat yang diturunkan itu adalah sifat genetik. Sifat-sifat genetik itu memancarkan fenotip yang sesuai dengan kondisi faktor-faktor lingkungan. Kupu biston betularia yang saat ini hidup di daerah industriadalah kelompok yang mempunyai variasi gen yang memancarkan warna hitam pada tubuhnya,dan sifat itu menurun sehingga keturunan tetap warna hitam,meskipun kerbatnya yang hidup di luar daerah industri berwarna terang
  2. Kemampuan adaptasi dipengaruhi oleh kemampuan berkembang biak. Populasi yang anggotanya mampu mrnghasilkan keturunan dalam jumlah banyak lebih ditimbulkan dari perkawinan antar anggota populasi yang mempunyai sifat berbeda. Diantara variasi itu terdapat kemungkian yang besar untuk sesuai dengan kondisi lingkungannya.
  3. Kemungkinan hewan untuk beradaptasi terhadap suatu perubahan lingkungan ditentukan oleh frekuensi peribahan lingkungan. Perubahan lingkungan ada yang bersifat siklik terarah dan eratik (tidak teratur). Perubahan lingkungan yang bersifat siklik adalah perubahan lingkungsn ysng terjadi berulang-ulang dan intensitasnya rendah, misalnya perubahan instentitas cahaya antara siang dan malam. Hewan mudah beradaptasi terhadap perubahan seperti itu. Perbuahan lingkungan yang bersifat terarah biasanya berlangsung dalam waktu panjang, sering kali melebihi masa hidup dari hewan misalnya endangkalan dasarsungai di muara yang disebabkan oleh terjadinya endapan lumpur yang terbawa air. Hewan mungkin juga beradaptasi diri terhadap perubahan itu jika intensitasnya tidak besar. Namun pada peruahan lingkungan yang bersifat eratik hewan tidak dapat engadaptasikan dirinya,karna perubahan itu bersifat mendadak, terjadi dalam waktu singkat, dan intensitasnya besar, misalnya kebakaran hutan, siklon, dan banjir.

Kemampuan hewan untuk beradaptasi terbatas. Keterbatasnnya adalah :

  1. Ketahanan hidup (survival) hewan tergantung pada kapasitas individu untuk mengatasi lingkungannya. Setiap individu hewan mempunyai ketahanan hidup sendiri-sendiri.
  2. Pada setiap jenis organisme individu-individu berkemampuan adaptasi yang berbeda.
  3. Karena setiap perubahan selalu bertumpang tindih dengan kondisi sebelumnya, maka adaptasi merupakan proses yang lambat.
  4. Adaptasi melibatkan seluruh kegiatan hidup ( the whole bussines of living)

Baca Juga: Proses Fotosintesis Pada Tumbuhan


Adaptasi Struktur

Sifat-sifat adaptif yang dimiliki oleh hewan ada yang berbentuk adaptasi struktural, adaptasi fisiologis dan adaptasi tingkah laku.


Adaptasi struktural adalah sifat adaptasi yang muncul dalam wujud sifat-sifat morologis tubuh, yang meliputi bentuk tubuh, bentuk dan susunan alat-alat tubuh, ukuran tubuh, serta warna tubuh (kulit dan bulu). Di atas telah di uraikan beberapa contoh adaptasi yang menyangkut bentuk, ukuran dan warna tubuh dalam rangka menjelaskan tentang hukum Bergman, Hukum Allen, Hukum Gloger. Berikut ini akan diberikan contoh lain dari adaptasi struktural.


Bentuk dan Ukuran tubuh

Bentuk tubuh yng di maksud disini adalah pola tubuh yang menyangkut perbandingan anatara lebar dan panajang tubuh. Hewan-hewan yang hidup di daerah dingin mempunyai bentuk bulat dan besar, sedangkan yang hidup di daerah panas tubuhnya lebih kecil dan ramping. Pada hewan yang hidup di daerah dingin perbandingan antara lebar dan panjang tubuh kecil, sehingga tubuhnya cenderung berbentuk bulat. Bentuk tubuh seperti ini tidak mudah melepaskan panas atau lebih bersifat penyimpan panas jika suhu berubah menjadi lebih dingin. Pada tubuh yang bulat dan berukuran besar proporsi luas permukaan tubuh yang berhubungan dengan udara luar kecil.

Bentuk tubuh lain yang ada kaitannya dengan penyesuaian diri dengan lingkungan adalah bentuk streamline pada ikan. Bentuk sperti itu memudahkan gerak di air karena tubuh yang pipih serta meruncing di depan dan di belakang.


Bagian-Bagian Tubuh

Dalam hal ukuran dari bagian-bagian tubuh telah di uraikan sesuai dengan Allen. Hewan yang hidup didaerah panas mempunyai bagian  tubuh yang lebih panjang dari pada yang hidup didaerah dingin.

Aspek lain pada bagian bagian tubuh hewan yang mempunyai kesesuaian dengan lingkungan adalah bentuk bentuk bagian bagian tubuh yang bersifat homolog dan analog. Sifat homolong dapat di amati pada anggota tubuh hewan vetebrata. Pada dasarnya semua hewan vetebrata mempunyai 2 pasang anggota tubuh, yaitu sepasang anggota tubuh depan dan sepasang anggota tubuh belakang. Pada hewan mamalia kedua pasang anggota tubuh berfungsi sebagai kaki.


Pada burung anggota tubuh depan berubah bentuk menjadi sayap. Pada beberapa jenis reptil, misalnya kadal dan biawak kedua pasang tubuh berfungsi sebagai kaki, sedangkan reptil yang lain ( misalnya kura kura dang penyu) kedua pasang anggota tubuh berfungsi sebagai alat renang. Sirip dada dan sirip  ekor pada ikan adalah anggota anggota tubuh belakang dan depan yang berfungsi alat renang. Kaki depan kuda, sayap burung, kaki kura kura, dan sirip ikan merupakan  alat alat tubuh yang secara embrional berasal dari jaringan yang sama, tetapi dalam perkembangannnya, berubah menjadu bagian tubuh yang fungsinya berbeda.keadaan itu disebut homolog. Pada fenomena lain burung dan belalang mempunyai sayap untuk bergerak diudarah, tetapi kedua alat gerak tersebut berasal dari jaringan embrional yang berbeda. Keadaan itu di sebut analog.


Baca Juga: 16 Bagian Mata Manusia dan Fungsinya


Adaptasi alat alat gerak ada hewan, darat sesuai dengan sesuai sifat sifat subsrat yang ada di habitatnya. Anggota gerak depan hewan hewan mamalia yang tergolong primata kebanyakan dapat digunakan untuk memegang. Hewan hewan yang tergolong primata hampir semuanya dapat memanjat pohon dan bergerak dari satu cabang ke cabang lain. Anggaota depan digunakan untuk memegang cabang atau ranting pada saat hewan tersebut derjalan di atas pohon. Disamping itu anggota depan juga digunakan untuk memegang makanan dan benda denda lain. Simpanze yang dipelihara dalam sangkar dapat menggunakan tongkat untuk mengambil makanan yang diletakan diluar sangkar.


Perkembangan anggota tubuh bagian depan sebagai tangan sangat menonjot pada manusia. Hewan hewan mamalia lain  yang hidup di pohon kaki depan dan belakang tidak dapat digunakan untuk memegang, tetapi dilengkapi dengan kuku yang tajam, sehingga kakinya dapat mencengkram pohon yang dipanjatnya.  Disamping itu, tupai mempunyai tubu kecil dan gerakan yang lincah. Ukuran tubuh dan kelincahan itu sanggat gerakan di atas pohon. Hewan hewan mamalia yang hidup di lingkungan yang tananya keras, atau berbatu kebanyakn mempunyai jejak yang keras, karena telapak kakinya teletak dari lapisan tanduk yang tebal.


Hewan hewan yang tergolong ungas yang hidup di lingkungan pohon pohonan,  tanah keras, tanah becek dan air. Adaptasi untuk hidup di lingkungann yang berbeda itu tampak pada bentuk susunan jari kaki. Pada burung yang hidup pohon, jarikakinya yang menghadap kebelakang agak panjang sehingga bersama-sama dengan jari-jari yang menghadap kedepan dapat di gunakan untuk mencengkram cabang atau ranting hinggap. Burung buas mempunyai kaki yang beekuku panjang dan melengkung, yang diperlukan untuk menangkap dan mencengkram mangsanya, misalnya pada elang. Unggas yang hidu di tanah becek mempunyai kaki yang berselapu. Selaput itu terdapat di jari-jari kaki. Dengan adanya selaput itu kaki unggas tidak terperosok ke dalam tanah. Unggas yang hidup ditanah becek itu antara lain: bangau. Selaput pada unggas  yang hidupp di air (misalnya : belibis, angsa, itik, dan entok) berkembang lebih lebar, sehingga dapat di gunakan untuk berenang di air.


Bentuk-bentuk adaptasi lain pada kaki dapat diamati pada beberapa jenis organisme hewan. Cecak mempunyai telapak kaki yang rata kalau di tempelkan ke sustratnya sehingga tidak adarongga udara di antara permukaan telapak kaki dengan permukaan substrat. Dengan demikian telapak kaki itu dapat menempel karena pengaruh tekanan udara. Kaki cumi-Cuma, gurita, dadan hewan tergolong Asteroidea memunyai batil pengisap. Batil penghisap itu digunakan untuk meletakkan kakinya pada substrat atau benda-benda yang di pegangnya dengan batil penghisap itu bintang laut dapat membuka rumah kerang,sehingga dagingnya dapat di ambil.


Adaptasi struktural juga terjadi pada mulut dari hewan-hewan vetebrata dan avetebrata. Bentuk mulut hewan mamalia secara umum sama. Perbedaannya terdapat pada bentuk dan susunan gig. Hewan pemakan daging, seperti harimau mempunyai taring yang tajam dan kuat untuk mencabik daging hewan yang di mangsa. Hewan-hewan pengerat (Rodentia) kebanyakan mempunyai gigi seri panjang dan runcing. Hewan-hewan pemakan rumput dan pemakan gegala mempunyai geraham yang bentukny cocok untuk mengunyah makanan sampai halus.


Bentuk mulut yang berbeda dapat diamati pada paruh burung. Bentuk-bentuk paruh burung pemakan biji berbeda dengan pemakan buah, pemakan serangga, dan pemakan daging . Misalnya: paruh burung pemakan daging besar dan paruh atas melengkung. Paruh unggas air berbentuk sudut. Perbedaan bentuk mulut juga dapat dilihat pada hewan-hewan yang tergolong serangga. Mulut kupu berbentuk belalai, disebut probosis, cocok untuk menghidap madu pada kelenjar madu. Mulut lalat rumah berbentuk lidah cocok untuk menjilat yang basah, misalnya gaging busuk.mulut nyamuk berbentuk penusuk dan penghisap untuk menusuk kulit dan menghisap darah hospes.


Baca Juga: Penjelasan Macam-Macam Pekembangbiakan Makhluk Hidup


Penutup tubuh (kulit dan bulu)

 Enutup tubuh pada hewan berbeda-beda. Sebagin besar hewan-hewan Arhropoda mempunyai kulit tebal yang tersusun oleh khitin. Kulit seperti itu sangat berguna untuk menahan hilangnya air dari dalam tubuh, karena hewan-hewan arthoropa itu kebanyakan hidup di lingkungan hidup lain yaitu di dalam tanah dan air. Kulit yang tebal juga dimiliki oleh beberapa jenis organisme hewan yang tergolong moluska, misalnya : siput. Siput bahkan dapat menutup seluruh permukaan tubuhnya jika lingkungan hidupsangat kering. Siput air biasanya mempunyai tutup cangkang yang dapat dibuka dan ditutup. Siput kebun tidak mempunyai tutup cangkang seperti itu, tetapi pada musim kering hewan itu membentuk epifragma untuk menutup lubang cangkangnya selama musim kering. Epifragman itu adalah selaput yang terbentuk dari cairan yang disekresi oleh tubuh siput.


Beberapa jenis organisme hewan vetebrata juga mempunyai kulit yang tebal, terutama hewan-hewan yang tergolong pada Reptilia. Kulit hewan-hewan reptilia pada umunya tebal dan tersusun oleh lapisan tanduk. Kulit semacam itu sangat berguna untuk penguapan pada saat hewan itu berda di lingkungan yang kering. Hewan yang tergolong amfibia tidak mempunyai kulit tebal, tetapi jaringan di bawah kulit selalu mengeluarkan cairan perubahan suhu lingkungan tidak terlalu banyak mempengaruhi suhu didalam tubuh. Hewan-hewan mamalia kulitnya di lengkapi dengan pori-pori dan kelenjar keringat.


Kelenjar dan keringat dari pori-pori tubuh itu berguna untuk mengatur air dari dalam tubuh baik dari dalam tubuh baik dalam rangka pengaturan tekanan osmotik maupun temperatur tubuh. Kulit hewan-hewan mamalia dilengkapi dengan rambut. Rambut itu berfungsi sebagai isolator suhu. Hewan-hewan mamalia dilengkapi dengan rambut. Rambut itu berfungsi sebagai isolator suhu. Hewan-hewan yang hidup di daerah dingin mempunyai rambut lebih tebal dari padahewan yang hidup di daerah panas.


Warna Tubuh

Selain warna hitam dan putih, hewan-hewan ada yang mempunyai warna merah, hijau dan lain-lain, bahkan ada yang mempunyai beberapa macam-macam warna sekaligus dalam permukan tubuhnya. Muncul warna pada permukaan tubuh hewan disebabkan oleh :1) pigmen-pigmen khusus yang menyerap panjang gelombang tertentu dan memantul panjang gelombang yang lain, 2) strukur permukaan tubuh yang menyebabkan sinar terserap atau direfraksikan, 3) kombinasi-kombinasi dari pengaruh absorbtif, refraktif, reflektif, atau difraktif. Diantara warna-warna itu mungkin ada yang berhubungan dengan sifat adaptif terhadap lingkunganya.


Hubungn itu di tunjukan oeh hewan-hewan yang hidup di lingkungan geografis yang sama memunyai warna yang sama. Braun 1914 yang mempelajari Microlepidoptera dari genur Lithocolletis yakin bahwa pola-pola warna pada hewan merupakan akibat dari proses fisiologis dan bahwa pola-pola itu mengikuti kecederungan orthogenetik, artinya “tergantung pada kondisi eksternal” kenyataan bahwa warna hewan mempunyai hubungan dengan sifat adaptasi terhadap kondisi lingkungannya dapat dijelaskan dengan hukum Gloger dan fenomena melanisme industrial, seperti yang telah di uraikan di atas. Kesesuaian antara wana dengan kondisi lingkungan sebagai seperti yang di uraikan dalam hukum gloger dan fenomena melanisme industrial berkaitan dengan keberhasilan hewan dalam menghadapi seleksi alam. Warna hewan tampaknya mempunyai manfaat-manfaat dan fungsi-fungsi khusus menghadapi lingkungannya. Hal yang terakhir ini akan diuraikan pada bagian berikut.


Baca Juga: Penjelasan Cara Adaptasi Pada Tumbuhan Dalam Biologi


Mimikri

Berbagai penelitian menunjukan bahwa warna-warna hewan mempunyai manfaat tertentu bagi dirinya. Sesuai dengan manfaatnya warna-warna itu dapat di bedakan dengan klasifikasi Poulton:

  1. Warna apatetik, sama dengan semua atau beberapa bagian dari warna lingkungannya :
  2. Wana kriptik yaitu warna yang sama dengan lingkungan, untuk bersembunyi, yang di bedakan menjadi : 1) warna prokriptik: kesamaan warna untuk berlindung 2) warna antikriptik: kesamaan warna untuk menyerang.
  3. Warna pseudosematik, yaitu warna untuk peringatan atau tanda yang ironik, yang dibedakan atas : 1) warna pseudaposematik: mimikri yang bersifat protektif, dan 2) warna pseudepisematik : mimikri yang bersifat agresif dan warna yang bersifat erotik.
  4. Warna sematik, warna untuk memberi peringatan dan sinyal
  5. Warna aposematik : warna untuk peringtan
  6. Warna episematik : warna untuk memberi sinyal.
  7. Warna epigamik, warna yang ditampilkan untuk kawin

Kategori-kategori di atas dapat dijelaskan dengan uraian dan contoh-contoh berikut ini. Diantara warna-warna yang dimiliki oleh hewan ada yang sama atau mirip dengan benda-benda yang ada dilingkungannya, baik benda mati maupun makhluk hidu lainya. Kesamaan warna hewan dengan benda-benda lain yang ada di lingkungannya diknal dengan istilah mimikri contoh mimikri yang sering di tunjukan adalah perubahan warna pada bunglon. Pada saat bunglon hinggap di tempat yang dasarnya berwarna coklat kulitnya berwarna coklat, dan ketika hinggap di daun yang berwarna hijau kulitnya berubah menjadi hijau.


Warna hewan yang bersifat tetap juga ada yang sama atau mirip dengan lingkungannya. Sifat-sifat mimikri banyak dijumpai pada hewan-hewan yang tergolong pada serangga, baik yang masih berupa larva (ulat) maupun sudah dewasa (kupu dan belalang). Misalnya : belalang dan ulat yang hidup di daun banyak yang berwarna hijau, sedangkan belalang dan ulat yang biasa hinggap di batang pohon atau substrat lain yang berwarna coklat mempunyai sayap dan tubuh berwarna coklat. Kesamaan warna itu bukan hanya warna dasar, melainkan warna permukaan tubuh hewan itu ada yang bermacam-macam dari polanya juga mirip dengan pola warna substrat atau benda lain yang ada disekitarnya.


Kejadian mimikri itu juga dapat berupa kemiripan bentuk hewan dengan benda-benda yang ada di lingkungannya. Bentuk tubuh bellang kayu (walking sticks) bersama denan kakinya miripdengan cabang dengan ranting-rantingnya. Ada ulat yang jika menempel di suatu cabang dengan ranting-ranting. Ada ulat jika menempel di suatu cabang dengan ranting-rantingnya. Ada ulat yang jika menempel di suatu cabang atau batang membentuk posisi tubuh sedemekian rupa sehingg menyerupai cabang atau ranting batang yang menempel, karena warnanya mirip kulit kayu.


Baca Juga: Penjelasan Evolusi Beserta Adaptasi Dan Seleksi Alam


Kesamaan warna dan bentuk hewan yang telah disebutkan di atas merupakan contoh warna prokriptik, yaitu kesamaan atau kemiripan warna yang menyebabkan hewan tersembunyi atau tidak mudah dilihat oleh musuhnya  di samping itu ada ulat yang bentuk kepala ular, matanya menonjol dan berwarna menyolok sehingga menunjukkan kesan bahwa hewan itu garang dan akan menyerang. Itu merupakan contoh dari pseudepisematik.


Kesamaan bentuk, warna dan tingkah laku antara saat jenis organisme hewan dengan jenis organismenya hewan lain juga terjadi di alam. Hewan yang bentuk, warna atau tingkah lakunya “meniru” disebut mimic, sedangkan hewan yang bentuk dan warna, atau tingkah lakunya “ditiru” disebut model. Kejadian mimikri terhadap bentuk mempunyai manfaat untuk terhindar dari serangan predator. Ada dua macam bentuk mimikri sehubungan dengan kepentingannya untu mengurangi kemungkinan dapat diserang oleh predator, yaitu mimikri Batesian dan mimkri Mullerian. Pada mimikri Mellerian. Pada mimikri Mullerian. Pada mimikri Mulleri kedua macam-jeni organisme mempunyai pola warna yang sama dan keduanya tidak di sukai predator karena rasanya tidak enak, bahkan dapat menyebabkan rasa sakit di lambung.


Pada mimikri Baterian hewan mimic mempunyai rasay yang enak dan di sukai oleh predator, tetapi modelnya tidak di sukai oleh predator karena rasanya tidak enak dan bersifat racun. Contoh yang terkenal untuk mimisan Batesian adalah antara kupu-kupu viceroy (mimik) dan kupu Monarch (model). Dengan di milikinya sifat mimikri itu, kupu viceloy dapat mengurangi serangan dari burung predator yang menyukainya, karena ketika melihatnya burung predator menghubungkan pola warnanya dengan warna yang tidak enak ketika memangsang kupu monarch.


Namun mimikran Batersian itu masih mengandung resiko bagaimana pun dalam kejadian mimikri itu warna mimik dengan model tidak sepenuhnya sama. Berdasarkan pengalamnya, burung predator suatu ketika dapat membedakan mangsa yang rasanya enak (mimik) dengan memangsa rasanya yang tidak enak (model), sehingga burung predator dapat memilih yang rasanya enak. Mimikri ini merupakan contoh pseudosematik.


Bau

Hewan-hewan tertentu mempunyai bau yang khas. Bau yang khas itu dapat merupakan tanda bagi hewan lain yang sejenis, misalnya serangga-serangga tertentu mempunyai hormone yang dikenal dengan nama feromon yang dapat digunakan untuk menarik lawan jenis pada musim kawin. namun hewan-hewan lain ada yang mempunyai bau yang tidak disukai hewan lain. Bau seperti itu menyebabkan hewan predator menjauhinya. Contoh yang mudah diamati adalah bau pada walang sangit.


Contoh adaptasi Fisiologi pada Hewan

  • Hewan ruminansia, misalnya sapi, kambing, kerbau. Makanan hewan tersebut adalah rumput-rumputan, di dalam saluran pencernaannya terdapat enzim selulase, enzim ini berfungsi untuk mencerna selulose yang menyusun dinding sel tumbuhan, dengan enzim selulase maka makanan menjadi lebih mudah dicerna.
  • Kucing, apabila hewan ini berteduh kadar metabolisme badan kucing tersebut akan direndahkan supaya kadar kehilangan air di dalam badan berkurang.
  • Musang juga beradaptasi dengan cara menyemburkan cairan untuk mengelakkan dirinya daripada musuh. Kelenjar bau yang dimiliki oleh musang tersebut membuat musuh tidak kuat dan pergi karena baunya
  • Teredo navalis, adalah mollusca yang biasa hidup pada kayu galangan kapal, kayu tiang-tiang pelabuhan. Mollusca ini dapat merusak kayu karena makanannya berupa kayu. Di dalam saluran pencernaan Teredo terdapat enzim selulase untuk membantu menguraikan selulose yang ada pada kayu yang menjadi makanannya.
  • Berdasarkan jenis makanannya, hewan dapat dibedakan menjadi karnivora (pemakan daging). herbivora (pemakan tumbuhan), serta omnivora (pemakan daging dan tumbuhan). Penyesuaian hewan-hewan tersebut terhadap jenis makanannya. antara lain terdapat pada ukuran (panjang) usus dan enzim pencernaan yang berbeda. Untuk mencerna tumbuhan yang umumnya mempunyai sel-sel berdinding sel keras, rata-rata usus herbivora lebih panjang daripada usus karnivora.
  • Ikan yang hidup di laut lebih sedikit mengeluarkan urin dibandingkan dengan ikan yang hidup di air tawar. Air laut lebih banyak mengandung garam. Kadar garam yang tinggi juga menyebabkan cairan tubuh keluar terus menerus. Garam juga masuk ke dalam tubuh dan harus dikeluarkan. Untuk menyesuaikan diri, ikan banyak meminum air laut dan sedikit mengeluarkan urin. Ikan yang hidup di air tawar, sedikit minum air dan banyak mengeluarkan urine dan menggunakan insangnya secara aktif untuk mengikat garam yang terlarut dalam air supaya ikan tidak kelebihan air atau kembung.
  • Hewan onta yang punya kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama.
  • Burung hantu memiliki penglihatan dan pendengaran yang sangat tajam yang memungkinkannya untuk dapat melihat di malam hari
  • Anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin dengan menahan panas tubuh tetap tertahan.

Baca Juga: Pengertian Adaptasi Makhluk Hidup Serta Macam Dan Contohnya


DAFTAR PUSTAKA
Dharmawan Agus, Ibrohim, Taurita Hawa, Suwono Hadi, Susanto Pudyo. 2014. Ekologi Hewan.   Universitas Negeri Malang. JICA
Godam. 2009. Macam Dan Jenis Adaptasi Mahluk Hidup– Struktural, Fisiologi danTingkah Laku.(http://organisasi.org/macam-jenis-adaptasi-makhluk-hidup-struktural-fisiologi-dan-tingkah-laku-untuk-menyesuaikan-dirii,diakses 26 Agustus 2015).

Demikianlah pembahasan mengenai Adaptasi Hewan – Pengertian, Tujuan, Tingkah Laku, Macam & Contoh semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Butuhkan