Aliran Filsafat

Diposting pada

Pengertian Filsafat

Bila dirujuk dari akar kata pembentuknya, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philo yang berarti cinta dan Sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom). Dengan demikian, filsafat dapat diartikan sebagai “cinta kepada kebijaksanaan”.


Berfilsafat dengan demikian juga bertujuan hanya untuk mencari, mempertahankan dan melaksanakan kebenaran/kebijaksanaan atau ditujukan untuk kebenaran itu sendiri, berfilsafat tidak bertujuan untuk ketenaran, pujian, kekayaan, atau yang lainnya. Inilah yang kemudian dikenal dengan tradisi pemikiran filosofis Yunani yaitu suatu pemahaman atas “kebenaran-kebenaran pertama” (first truth), seperti baik, adil dan kebenaran itu sendiri, serta penerapan dari kebenaran-kebenaran pertama ini dalam problema-problema kehidupan.



Tugas filsafat yang paling mendasar yaitu untuk menemukan konsep-konsep yang digunakan dalam ilmu pengetahuan, lalu menganalisisnya dan menentukan makna-makna yang tepat dan saling berhubungan. Selain itu, filsafat juga bertugas untuk mengkaji secara kritis segala bentuk keyakinan-keyakinan yang kita miliki secara radikal, universal, konseptual, sistematik, bebas dan bertanggung jawab.

Aliran-Filsafat


Beberapa definisi filsafat yang dikemukakan oleh para filsuf berikut ini, mungkin akan lebih membantu untuk menafsirkan dan menjelaskan mengapa filsafat pendidikan dipelajari:

  1. Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi ini merupakan arti yang informal tentang filsafat. Filsafat dianggap sebagai sikap atau kepercayaan yang ia miliki.

  2. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi. Pengertian filsafat ini merefleksikan bentuk atau tugas dari filsafat kritik, khususnya dalam mengkritisi keyakinan-keyakinan dalam kehidupan kita sehari-hari.

  3. Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Inilah yang menjadi tugas dari filsafat spekulatif dalam usahanya mentransendensikan pengalaman-pengalaman dan ilmu pengetahuan dalam visi atau gambaran yang komprehensif.

  4. Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan konsep. Pengertian ini termasuk dalam kategori kerja filsafat kritik sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa filsafat mempunyai tugas menganalisis konsep-konsep seperti substansi, gerak, waktu, dan sebagainya.

  5. Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat. Pengertian ini pada prinsipnya berada dalam pemikiran para filsuf dalam rangka menjawab berbagai problematika kehidupan dan tentunya terus berlangsung tanpa mengenal titik lelah (Widodo, 2007: 9)


Baca Juga : Pengertian Tradisi


Cabang-Cabang Filsafat

  • Ontologi atau sering juga disebut metafisika (meta = melampaui, fisik = dunia nyata/fisik) adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang hakikat segala sesuatu yang ada, atau membahas watak yang sangat mendasar (ultimate) dari benda atau realitas yang berada di belakang pengalaman yang langsung (immediate experience).Ontology berbicara tentang segala hal yang ada, pertanyaan-pertanyaan yang akan dibongkarnya tidak terbatas, misalnya apakah hakikat ruang, waktu, gerak, materi, dan perubahan itu? Apakah yang merupakan asal mula jagad raya ini? Dan lain sebagainya. Kaitannya dengan pendidikan, ontologi ilmu pendidikan membahas tentang hakikat substansi dan pola organisasi Ilmu pendidikan.

  • Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode, dan sahnya pengetahuan. Pertanyaan yang mendasar adalah: Apakah mengetahui itu? Apakah yang merupakan asal mula pengetahuan kita? Bagaimana cara kita mengetahui bila kita mempunyai pengetahuan? Bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? Dan lain sebagainya. Dengan demikian, epistemologi membahas tentang hakikat objek formal dan material ilmu pendidikan.

  • Aksiologi. Aksiologi berbicara tentang nilai dan kegunaan dari segala sesuatu terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu pengetahuan yang diperoleh. Aksiologi ilmu pendidikan, membahas tentang hakikat nilai kegunaan teoretis dan praktis ilmu pendidikan.

  • Logika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang aturan-aturan berpikir agar dengan aturan-aturan tersebut dapat diambil kesimpulan yang benar. Dengan kata lain logika adalah pengkajian yang sistematis tentang aturan-aturan untuk menguatkan premis-premis atau sebab-sebab mengenai konklusi aturan-aturan itu, sehingga dapat kita pakai untuk membedakan argument yang baik dan yang tidak baik.

Aliran-Aliran Filsafat

  1. Aliran Realisme

Realisme merupakan suatu aliran dalam ilmu pengetahuan. Menurut aliaran ini ia mempersoalkan obyek pengetahuan manusia. Aliran realisme memandang bahwa obyek pengetahuan manusia terletak di luar diri manusia, contohnya:


  1. Pengetahuan tentang pohon
  2. Pengetahuan tentang binatang
  3. Pengetahuan tentang bumi
  4. Pengetahuan tentang kota. Semua contoh diatas tidak hanya ada dalam pikiran manusia yang mengamatinya, malaikan juga ada dengan sendirinya dan tidak tergantung pada jiwa manusia.

Aliran realisme ini dibagi menjadi dua golongan:

  1. Golongan Realisme Rasional. Aliran realisme rasional dibagi dua lagi (a) realisme klasik, (b) realisme relegius. Kedua aliran ini (aliran realisme klasik dan aliran realisme relegius) berpangkal pada filsafat Aristoteles. Namun demikian ada perbedaan antara dua aliran ini. Perbedaanya adalah aliran realisme klasik langsung dari pandangan Aristoteles, sedangkan aliran realisme religius tidak langsung, ia berkembang pada filsafat Thomas Aquina, yaitu filsafat kristen yang kemudian dikenal dengan aliran Thomisme, pandangan dari kedua aliran realisme ini setuju bahwa dunia materi adalah nyata dan berada diluar orang yang mengamatinya.

    Selanjutnya penganut aliran Thomisme ini berpendapat bahwa jiwa itu penting walaupun tidak nyata seperti badan. Maka aliran ini juga berpendapat bahwa jiwa dan badan diciptakan oleh Tuhan yang Maha Esa. Aliran Thomisme juga berpendapat bahwa pengetahuan diperoleh melalui wahyu, berpikir dan pengalaman. Penganut aliran realisme religius juga berpandangan bahwa aturan-aturan keharminisan alam semesta ini merupakan ciptaan Tuhan, maka kita harus mempelajarinya.


  2. Golongan aliran realisme alam atau realisme ilmiah berkembangnya ilmu pengetahuan alam. Aliran realisme alam ini bersifat skeptis dan eksperimentil. Aliran ini berpandangan bahwa dunia di sekeliling kita nyata, maka yang menjadi tugas ilmu pengetahuan adalah menyelidiki semua isinya,dan ini bukan tugas dari filsafat. Tugas filsafat tidak lain adalah mengkoordinasi konsep-konsep dan penemuan-penemuan dari ilmu pengetahuan yang bermacam-macam itu, menurut aliran ini alam bersifat menetap, memang ada perubahan nya, akan tetapi perubahannya langsung sesuai dengan hukum-hukum alam yang bersifat menetap yang membuat alam semesta ini terus berlangsung menurut susunannya yang teratur.

Baca Juga :Pengertian Budaya


Pada umumnya penganut aliran realisme alam ini menolak adanya spiritual, dan dia juga mengatakan bahwa dunia spiritual ini tidak dapat dibuktikan, sehingga hal ini secara filosofi tidak penting. Mereka hanya berfikir fungsi yang koplek dari susunan tubuh, saraf dan lainnya kemauan bebas. Mereka juga mengakui bahwa manusia dipengaruhi dua lingkungan:


  1. Lingkungan Sosial
  2. Lingkungan fisik.

Akibat kebebasan memilih dipandang sebagai ketergantungan manusia dengan lingkungannya. Pandangan dari kaum realisme, dunia tidak tergantung pada manusia, akan tetapi alam diatur oleh hukum-hukum alam yang mampu di kontrol oleh manusia.


Aliran realisme di kenal pula sebagai aliran empirisme, yaitu aliran filsafat dalam ilmu pengetahuan yang memandang bahwa pengalaman adalah sumber atau dasar pengetahuan manusia. Sebaliknya aliran yang mengatakan bahwa sumber pengetahuan adalah resiko disebut rasionalisme.


Tokoh-tokoh dari aliran realisme alam antara lain Francis Bacon (1561-1626), John Locke (1632-1704), David Hume (1711-1776), John Stuart Mill(1773-1836), Alfred North Wihitehead (1861-1947) dan Bertrand Russel (1872-1970). Semua tokoh ini berasal dari Eropa pada abad 15 dan 16. Sedangkan tokoh realisme ilmiah adalah Kulpe (1862-1915).


  1. Aliran Rasionalisme

Rasionalisme merupakan aliran filsafat yang memandang bahwa akal pikiran atau resiko adalah sebagai dasar pengetahuan manusia. Menurut seseorang tokoh rasionalisme yaitu Ploto mengatakan bahwa pengetahuan diri atas penangkapan aspek-aspek dari dunia sekitar kita. Aspek-aspek itu bersifat menetap dan telah ada pada kita, itulah yang disbut dengan idea.


Oleh karena itu balajar menurutnya bukan lah memperoleh pengetahuan baru, akan tetapi menyadarkan kita kepada pengetrahuan yang ada pada kita. Dengan kata lain memperoleh pengetahuan itu pada hakikatnya adalah mengingat kembali. Contohnya bagaimana kita dapat membuat segitiga dua kali lebih besar. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus mengingat prinsip-prinsip ilmu ukur yang ada pada kita.


Dari uraian diatas maka muncul pertanyaan kalau memang pengetahuan itu telah ada pada kita, maka idea itu datangnya dari mana? Kemudian Plato menjawab bahwa idea itu sudah dibawa sejak lahir, yang disebut dengan Doktrin Innate Ideas. Selanjutnya Plato membedakan pengetahuan yang didasarkan atas alat indera dengan pengetahuan yang didasarkan atas akal.Pengetahuan yang didasarkan pada akal sehat disebut pengetahuan sejati. Sedangkan pengetahuan yang didasarkan pada alat indera hanya menghasilkan pengetahuan bayangan atau pendapat.


Selanjutnya tokoh rasionalisme yang lain Descartes mengatakan bahwa ia selalu meragu-ragukan sesuatu. Menurutnya segala pengetahuan yang dimilikinya selalu meragukannya. Dengan kesangsian terhadap kebenaran, maka Descartes memutuskan untuk mempersoalkan segala sesuatu dengan metode kesaksian, yaitu dimulai dengan metode kesaksian yang sistematik tentang sesuatu, dan berusaha untuk mendapatkan apa yang mustahil dapat disangsikan.


Menurut kesangsian metodis adalah metode yang cocok untuk mempengaruhi sistem filsafat. Selanjutnya Descartes berusaha untuk mencari kebenaran mutlak. Ia ingin menncari pengetahuan, keyakinan-keyakinan yang tidak dapat digoyahkan lagi, dan ia juga ingin mencari dasar yang kokoh tentang kebenaran, sesuatu yang menetap, dan yang pasti, itulah tujuannya.


Descartes juga menemukan kreteria pngetahuan yang tidak diragukan lagi, sehingga tercapai pada suatu kepastian yang di dambakannya. Unbtuk tercapainya suatu kepastian ia mengajukan suatu test. Descartes mengatakan bahwa kalau saya menemukan bahwa satru segi saja dari pengetahuan yang meragu-ragukan saya, maka saya akan menolak pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman, karena pengetahuan itu dipandangnya tidak kokoh, tidak memenuhi tiga macam kreteria yang di kemukakannya, yaitu:

pola-pikir


Baca Juga :Pengadilan Tingkat Kedua adalah


  1. Apa yang disebut silap mata, yaitu sebagai manusia pasti ada keterbatasan dari alat indera dimilikinya
  2. Berkhayal atau bermimpi, yaitu bahwa manusia dapat tidak sadar dan bermimpi. Dengan demikian kita tidak bisa menjamin bahwa manusia tidak bermimpi atau tidak sadar pada suatu saat. Jadi dunia kita ini, baik dunia jaga maupun dunia impian, selalu di dasrakan pada aturan tertentu.

  3. Manusia diciptakan olah Tuhan, tetapi siapa yang menjamin bahwa Tuhan itu memberi kemungkinan pada manusia dapat mengalami sesuatu yang benar. Maka demikian ucapan Deacartes itu tidak sesuai dengan keyakinan agama bahwa Tuhan Maha Sempurna dan Maka Kuasa. Karena pengetahuan melalui alat indra tidak memuaskan Descartes, maka ia sampai pada suatu kegelisahan. Ia mengatakan bahwa karap kali keyakinan yang suatu pada diri kita, yang senangi, teryata tidak benar. Namun bagaimana Descartes sampai kepada kepastian bahwa “ ia berfikir maka ia ada “ (corgito ergo sum), yaitu bahwa manusia itu adalah makhluk berfikir?

    Mengapa hal itu dianggab muktlak dan tidak pasti? Descartes menjawab ia memperoleh kepastian itu karena hal itu bagiannya sudah jelas dan tegas, atau tidak meragukannya lagi.Pengertian jelas dan tegas yang di maksudkan Descrates adalah sebagai berikut: saya akan menyebut sesuatu drengan tegas kalau hal itu dapat saya batasi pada hal yang jelas itu, dan dapat dibedakannya dari hal-hal yang lain. Pengetahuan itu barujelas bila telah mennjadi masalah bagi kita, dan ia akan menjadi tegas apabila dapat dibatasi pada hal-hal yang jelas dari pengetahuan itu.


Menghubungkan konsep jelas dan tegas itu dengan pengalaman. Menurutnya ada dua jenis pengalaman, yang keduanya sudah jelas dan tegas yaitu: (1) pengalaman yang di perolehdengan alat dria. Misalnya, kita lihat sesuatu, demikian kita jelaskan tentang. (2) selain itu ada pengalaman yang di peroleh dengan berpikir. Saya memikirkan sesuatu dan ini juga sudah jelas. Menurut Descartes, pengalaman berdasarkan akal adalah berbeda hakiki, dan ini sudah tegas. Jadi ada dua pokok pikiran yang penting: “jelas dan “tegas”. Sebelum descartes harus diakui bahwa belum ada orang yang merumuskan sesuatu itu dengan jelas dan tegas.


Selanjutnya descartes mengemukakan bahwa, untuk mencapai kebenaran kebenaran yang mutlak itu harus ada yang menjamin. Yang menjamin itu di katakannya adalah Tuhan. Menurut Tuhan adalah idea tentang makhluk hidup yang semperna, dan hal itu sudah mutlak baginya.


Kalau Tuhan berdusta maka itu bukan makhluk yang sempurna. Untuk mencari kebenaran yang di kemukakan oleh tuhan itu. Kita mencari dengan akal kita, dan kebenaran itu akan kita kemukakan sebagai idea-idea yang tegas. Akan tetapi Descartes tidak dapat membuktikan dari mana kita ketahui bahwa tuhan itu tidak berdusta atau makhluk semperna.


  1. Aliran Empirisme

Emperisme merupakan suatu aliran dalam filsafat yang tertuju pada keduniaan, yangmenentang sikap mentingkan dogma agama yang kaku.


Berikut akan dikemukankan pandangan tiga orang pendukung aliran emperismen yang terkenal. (1) John Locke. Menurut John Locke mengarang buku yang terpenting yaitu “Essay Concerning Human Understanding” berpendapat bahwa pengetahuan itu bukanlah telah ada pada kita, tetapi ada diluar diri kita dan datang kepada kita melalui alat indra. (2) George Berkeley. Dalam buku karangan George Berkeley yang terkenal adalah a treatise Concerning the Principles of Understanding dan Three Dialogues between Hylas and Philonous. Beliaumenganut paham emperisme dan menolak baik realisme maupun materialisme.


Menurut George Berkeley sesuatu ada karena diamati. Kalau tidak di amati maka tidak ada (“Ess est Persipi”). Pendirian Berkeley itu dapat pula disebut idealisme. (3) David Hume. Karya filsafatnya yang paling terkenal adalah A treatise on Human Nature, Philosophical Essays Concerning Human Understanding dan An Inguiry Concerning the Phriciples of Morals. David hume adalah penganut Sketisisme dan sesorang Agnostik. Skeptisisme adalah sikap menangguhkan pertimabngan tentang sesuatu sampai analisa kritik tentangnya menjadi sempurna dan segala bukti yang mungkin sudah diperoleh. Agnostik adalah orang yang berpendirian bahwa adanya Tuhan itu tidak dapat di buktikan dan tidak dapat dibohongkan.


Baca Juga :Pengadilan Tingkat Pertama adalah


  1. Aliran Positivisme

Positivisme merupakan aliran yang berorientasi pada ilmnu pengetahuan alam. Timbulnya filsafat positivisme adalah sebagai reaksi tehadap spekulasi theologis dan metafisis filsafat hegel. Aliran positivisme ini memberi tekanan kepada fakta, kepada bukti-bukti yang konkrit kepada sesuatu yang diverifikasi.


Tokoh-tokohutama aliran positivisme ini adalah Auguste Comte (1798-1857), john Stuart Mill (1806-1903). Auguste Comte berpandangan bahwa alam pikiran manusia berkembang menjadi tiga tahap: (1) religius, (2) metafisis, (3) positivisme. Pada tahap relegius segala sesuatu diterangkan dari sudut pandangan adanya pengaruh dan sebab-sebab yang melampaui kemampuan dan kondrat manusia. Manusia memandang sesuatu dari sudut keyakinan baik politheisme atau mototheisme.


Pada taraf metafisis, segala sesuatu diterangkan oleh manusia melalui abstrak, melalui perenungan metafesis.pada tingkat positivistis segala sesuatu ingin diterapkan dari sudut pengetahuan yang bertolak dari hukum sebab akibat yang sudah determinitis. Menurut Comte, ilmu pengetahuan termasuk ilmu masyarakat, haruslah bersemangat positivisme, artinya dapat dialami dan dapat dibuktikan dengan fakta-fakta berdasarkan hukum kausalitet. Comte sendiri adalah ahli sosiologi dan dipandang sebagai bapak ilmu sosiologi modern.


Menurut positivisme Comte, kita harus menjahui diri dari pertanyaan yang melampai bidang-bidang ilmu positif. Positivisme ingin mengetahui tentang gejala, bukan hakikat kenyataan. Hubungan antara gejala-gejala disebut comte sebagai. “ konsep-konsep” atau “hukum-hukum” dan hukum-hukum itu bersifat positif. Pandangan metafisis dan spekulatif di pandangan oleh comte sebagai tidak positif, tapi negatif. Karena itu filsafat comte bersifat anti matematika.


Neo-positivisme Filsafat positifisme telah sangat berjasa bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sekarang ini positivisme masih hidup dalam aliran neo-positivisme sebagaimana yang di kembangkan oleh kelompok sarjana yang tergabung dalam Wiener Kreis atau Vienna Circle (lingkaran wina), atau disebut juga dengan sebutan: logika positivisme, logica empiricism dan scientific empiricism. Pendirinya ialah Moritz Schilick (1882-1936), dan tokoh yang lain ialah Hans Hahn (1879-1934) dan Rudolf Carnap (1891-1979).


Menurut Neo-positivisme pengalaman itu hendaknya dijadikan sebagai sumber satu-satunya bagi pengetahuan. Karena kurang tertib dalam perumusan bahasa, maka neo-positivisme menurut analisa daripada istilah-istilah yaitu penertiban dalam penggunaan bahasa. Pandangan mereka erat hubungannya dengan logika modern. Banyak anggota”lingkaran wina” adalah orang yahudi yang melarikan diri ke Amerika dan Inggris sebelu Hilter menduduki Australia, sehingga kelompok ini tidak lama dalam hidupnya.


Pengertian Filsafat Pendidikan

Dengan melihat definisi filsafat dan pengertian pendidikan maka definisi dari filsafat pendidikan menurut Widodo (2007:9. Lihat juga Mudyahardjo, 2004:5) adalah suatu pendekatan dalam memahami dan memecahkan persoalan-persoalan yang mendasar dalam pendidikan, seperti dalam menentukan tujuan pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, manusia, masyarakat, dan kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan itu sendiri.


Baca Juga :Hukum Administrasi Negara


Pendidikan tidak dapat terlepas dari aliran filsafat yang melandasinya, sebagaimana dilakukan oleh Amerika Serikat yang meletakkan filsafat pendidikan atas dasar pengkajian beberapa aliran filsafat tertentu, seperti pragmatisme, realisme, idealisme, dan eksistensialisme, lalu dikaji bagaimana konsekuensi dan implikasinya dalam dunia pendidikan.  Begitu juga dengan pendidikan Indonesia yang tidak bisa terlepas dari filsafat Pancasila yang notabenenya merupakan nilai-nilai luhur budaya bangsa.


Mudyahardjo (2004:5) membedakan pendidikan dalam dua macam, yaitu (1) praktek pendidikan dan (2) ilmu pendidikan sebagai salah satu bentuk teori pendidikan. Yang selanjutnya, juga membedakan filsafat pendidikan ke dalam dua macam, yaitu (1) filsafat praktek pendidikan, dan (2) filsafat ilmu pendidikan. Filsafat praktek pendidikan adalah analisis kritis dan komprehensif tentang bagaimana seharusnya pendidikan diselenggarakan dan dilaksanakan dalam kehidupan manusia.


Filsafat praktek pendidikan dapat dibedakan menjadi: (1) filsafat proses pendidikan (biasanya disebut filsafat pendidikan) dan (2) filsafat sosial pendidikan. Filsafat proses pendidikan adalah analisis kritis dan komprehensif tentang bagaimana seharusnya kegiatan pendidikan dilaksanakan dalam kehidupan manusia. Filsafat proses pendidikan biasanya membahas tiga masalah pokok, yaitu (1) apakah sebenarnya pendidikan itu; (2) apakah tujuan pendidikan itu sebenarnya; dan (3) dengan cara bagaimana tujuan pendidikan dapat dicapai.


(Henderson, 1959, sebagaimana dikutip Mudyahardjo, 2004:5).Sementara filsafat sosial pendidikan membahas hubungan antara penataan masyarakat manusia dengan pendidikan. Atau dapat pula dikatakan bahwa filsafat sosial pendidikan merupakan analisis kritis dan komprehensif tentang bagaimana seharusnya pendidikan diselenggarakan dalam mewujudkan tatanan masyarakat manusia idaman.


Epistemologi Ilmu Pendidikan

  • Objek Formal Ilmu Pendidikan

Objek formal ilmu pendidikan berkenaan dengan bidang yang menjadi keseluruhan ruang lingkup garapan ilmu pendidikan. Sedangkan objek material ilmu pendidikan berkenaan dengan aspek-aspek yang menjadi garapan penelidikan langsung ilmu pendidikan. Objek formal ilmu pendidikan menurut Mudyahardjo (2004:45) adalah pendidikan, yang dapat diartikan secara luas, dan sempit.


Pendidikan dalam artian yang luas adalah segala situasi dalam hidup yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Pendidikan adalah pengalaman belajar, yang oleh karenanya pendidikan dapat pula didefinisikan sebagai keseluruhan pengalaman belajar setiap orang sepanjang hidupnya. Sedangkan dalam pengertian pendidikan dalam arti sempit adalah sekolah atau persekolahan (schooling).


  • Objek Material Ilmu Pendidikan

Sebagaimana telah diungkap di atas, bahwa objek material ilmu pendidikan adalah salah satu aspek pendidikan. Apabila dilihat dari segi ini, maka ilmu pendidikan dibagi menjadi dua, yaitu 1) ilmu pendidikan makro, yaitu yang menyelidiki keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan nasional, dan 2) ilmu pendidikan mikro, atau ilmu pendidikan yang menyelidiki satuan pendidikan atau kegiatan pendidikan secara keseluruhan atau hanya satu satuan atau satu bentuk kegiatan pendidikan. Bagan berikut, menjelaskan bagian atau cabang-cabang dari ilmu pendidikan (objek material ilmu pendidikan).


Baca Juga :Otonomi Daerah


  • Aksiologi Ilmu Pendidikan

  • Aksiologi Ilmu Pendidikan (Nilai Kegunaan Teoretis)

Meskipun status ilmiahnya masih belum sejajar dengan ilmu-ilmu yang sudah mapan, ilmu pendidikan dapat memberikan sumbangan teoretis terhadap perkembangan ilmu-ilmu sosial (Social Sciences) atau ilmu-ilmu tingkah laku (Behavioral Sciences).


Sumbangan tersebut, antara lain berupa memperluas konsep-konsep ilmiah yang berkenaan dengan kehidupan sosial atau pada tingkah laku manusia. Ilmu pendidikan menghasilkan konsep-konsep ilmiah tentang pola tingkah laku dalam proses belajar mengajar yang berlangsung di lingkungan hidup manusia. Konsep tersebut menambah rekanan konsep-konsep aspek sosial-budaya dalam kehidupan manusia.


  • Aksiologi Ilmu Pendidikan (Nilai Kegunaan Praktis)

Konsep-konsep yang dihasilkan oleh ilmu pendidikan dapat memberi pedoman dasar kerja pendidikan/pengelola pendidikan dalam melaksanakan tugasnya. Konsep-konsep yang dikembangkan ilmu pendidikan, berkenaan dengan bagaimana proses pengelolaan dan pelaksanaan praktek pendidikan terselenggara. Dengan demikian konsep-konsep tersebut merupakan prinsip-prinsip tentang praktek-praktek pengelolaan dan kegiatan pendidikan (mendidik).


Hasil penelitian Arora Kamla sebagaimana dikutip Mudyahardjo (2004:196) menyatakan bahwa karakteristik profesional yang sangat mempengaruhi efektivitas guru mengajar adalah berkenaan dengan kemampuan-kemampuan: 1) menerangkan dengan jelas topik-topik yang menjadi bahan ajaran, 2) menyajikan dengan jelas tentang mata pelajaran, 3) mengorganisasikan secara sistematis tentang mata pelajaran, 4) berekspresi, 5) membangkitkan minat dan dorongan siswa untuk belajar, dan 6) menyusun rencana dan persiapan mengajar. Penguasaan keenam kemampuan tersebut merupakan awal dan sangat mempengaruhi efektivitas guru mengajar.


  • Aliran atau Mazhab-Mazhab dari Filsafat Pendidikan

Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, maka filsafat pendidikan memiliki berbagai aliran atau mazhab, di antaranya :

  • Filsafat pendidikan idealisme.

Idealisme berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide  yang sifatnyarohani atau intelegensi. Termasuk dalam paham idealisme adalah spiritualisme,rasionalisme, dan supernaturalisme. Tentang teori pengetahuan, idealismemengemukakan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui indera tidak pasti dan tidak lengkap karena dunia hanyalah merupakan tiruan belaka, sifatnya maya yangmenyimpang dari kenyataan sebenarnya.


Selain itu, menurut pandangan idealisme, nilaiadalah absolut. Apa yang dikatakan baik, benar, salah, cantik atau jelek secarafundamental tidak berubah, melainkan tetap dan tidak diciptakan manusia. Idealismememiliki tujuan pendidikan yang pasti dan abadi, di mana tujuan itu berada di luarkehidupan manusia, yaitu manusia yang mampu mencapai dunia cita, manusia yangmampu mencapai dan menikmati kehidupan abadi yang berasal dari Tuhan.


  • Filsafat pendidikan realisme.
  1. Aliran ini berpendapat bahwa dunia rohani dan dunia materi merupakan hakikatyang asli dan abadi. Kneller membagi realisme menjadi dua :

  2. Realisme rasional, memandang bahwa dunia materi adalah nyata dan berada diluar pikiran yang mengamatinya, terdiri dari realisme klasik dan realismereligius.

  3. Realisme natural ilmiah, memandang bahwa dunia yang kita amati bukan hasilkreasi akal manusia, melainkan dunia sebagaimana adanya, dan substansialitas,sebab akibat, serta aturan-aturan alam merupakan suatu penampakan dari duniaitu sendiri. Selain realisme rasional dan realisme natural ilmiah, ada pula pandangan lain mengenai realisme, yaitu neo-realisme dan realisme kritis. Neo-realisme adalah pandangan dariFrederick Breed mengenai filsafat pendidikan yang hendaknya harmoni dengan prinsip-prinsip demokrasi, yaitu menghormati hak-hak individu. Sedangkan realisme kritis didasarkan atas pemikiran Immanuel Kant yang mensintesiskan pandangan berbedaan antara empirisme dan rasionalisme, skeptimisme dan absolutisme, serta eudaemonisme dengan prutanisme untuk filsafat yang kuat.


Baca Juga : 23 Pengertian Konstitusi Menurut Para Ahli


  • Filsafat pendidikan materialisme.

Materialisme berpandangan bahwa realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual, atau supernatural. Cabang materialisme yang banyak dijadikan landasan berpikir adalah positivisme yang menganggap jika sesuatu itu memang ada, maka adanya itu adalah jumlah yang dapat diamati dan diukur. Oleh karena itu, positivisme hanya mempelajari yang  berdasarkan fakta atau data yang  nyata.


  • Filsafat pendidikan pragmatisme.

Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak,tidak doktriner, tetapi relatif atau tergantung pada kemampuan manusia. Dalampragmatisme, makna segala sesuatu dilihat dari hubungannya dengan apa yang dapatdilakukan, atau benar tidaknya suatu ucapan, dalil, dan teori, semata-mata bergantungpada manusia dalam bertindak. Menurut pragmatisme, pendidikan bukan merupakanproses pembentukan dari luar dan juga bukan pemerkahan kekuatan laten dengansendirinya, melainkan proses reorganisasi dan rekonstruksi dari pengalaman individu.


  • Filsafat pendidikan eksistensialisme.

Eksistensialisme adalah aliran yang menekankan pilihan kreatif, subjektivitaspengalaman manusia, dan tindakan konkret dari keberadaan manusia atas setiap skemarasional. setiap skemarasional untuk hakekat manusia atau realitas. Menurut eksistensialisme, pengetahuanmanusia tergantung pada pemahamannya tentang realitas, interpretasinya terhadaprealitas, dan pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan, tetapi untuk alat pekembangan dan pemenuhan diri secarapribadi.


  • Filsafat pendidikan progresivisme.

Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraanpendidikan di sekolah berpusat pada anak,sebagai reaksi terhadap pelaksanaanpendidikan yang masih berpusat pada guru atau bahan pelajaran yang didasari olehfilosofi realisme religius dan humanisme. Progresivisme berpendapat tidak ada teorirealita yang umum, pengalaman bersifat dinamis dan temporal sehingga nilai pun terusberkembang.


  • Filsafat pendidikan esensialisme.

Esensialisme dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotesskeptisisme dan sinisme dari progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalamwarisan budaya/sosial. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslahberasaskan nilai yang telah teruji keteguhan dan kekuatannya sepanjang masa. Gerakanini bertumpu pada mazhab idealisme dan realisme.


  • Filsafat pendidikan perenialisme.

Perenialisme adalah aliran yang berorientasi dari neo-thomisme dan memandang bahwa nilai universal itu ada, pendidikan hendaknya dijadikan suatu pencarian dan penanaman kebenaran nilai tersebut. Berikut adalah beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan :

  1. Plato : “Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanyanafsu, kemauan, dan akal.”

  2. Aristoteles : “Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikandengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya.

  3. Thomas Aquina : “Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata.”

  4. Filsafat pendidikan rekonstruksionisme.

Rekonstruksionisme adalah paham yang memandang pendidikan sebagairekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup. Rekonstruksionisme dapat dibedakan menjadi rekonstruksionisme individual dari JohnDewey dan rekonstruksionisme sosial dari George S. Counts yang keduanya adalahbersumber pada pragmatisme.


Sekian pejelasan artikel diatas tentang Aliran Filsafat – Pengertian, Macam, Pola, Cabang, Contoh, Jenis semoga bisa bermanfaat bagi pembaca setia kami