Kerangka Karangan adalah

Diposting pada

7 Contoh Kerangka Karangan – Pengertian, Fungsi, Manfaat, Kriteria, Bentuk, Pola, Langkah & Syarat – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Kerangka Karangan yang dimana dalam hal ini meliputi contoh, pengertian, fungsi, manfaat, kriteria, bentuk, pola langkah dan syarat, nah agar dapat lebih memahami dan dimengerti simak ulasan selengkapnya dibawah ini.

Contoh-Kerangka-Karangan

Pengertian Kerangka Karangan

Kerangka karangan adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Kerangka karangan yang belum final di sebut outline sementara sedangkan kerangka karangan yang sudah tersusun rapi dan lengkap disebut outline final.


Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas,susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan.


Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas, susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan, atau dapat juga didefinisikan sebagai satu metode dalam pembuatan karangan yang mana topiknya dipecah kedalam sub-sub topik dan mungkin dipecah lagi kedalam sub-sub topik yang lebih terperinci.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : “Abstrak ( Karya Ilmiah )” Pengertian & ( Ciri – Hal Yang Diperhatikan – Contoh )


Fungsi Kerangka Karangan

Berikut ini terdapat beberapa fungsi kerangka karangan, terdiri atas:

  1. Memudahkan pengendalian variabel,
  2. Memperlihatkan pokok bahasan, sub-subbahasan karangan dan memberi kemungkinan perluasan bahasan tersebut sehingga memungkinkan penulis menciptakan suasana kreatif sesuai dengan variasi yang diinginkan.
  3. Mencegah pembahasan keluar dari sasaran yang sudah dirumuskan dalam topik, judul, masalah, tujuan, dan kalimat tesis,
  4. Memudahkan  penulis menyusun karangan secara menyeluruh,
  5. Mencegah ketidaklengkapkan bahasan,
  6. Mencegah pengulangan pembahasaan ide

Manfaat Kerangka Karangan

Mengapa metode ini sangat dianjurkan kepada para penulis, terutama kepada mereka yang baru mulai menulis?
Karena metode ini akan membantu setiap penulis untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu dilakukan. Atau secara terperinci dapat dikatakan bahwa outlie atau kerangka karangan dapat membantu penulis dalam hal-hal berikut:


  • Untuk menyusun karangan secara teratur

Kerangka karangan membantu penulis untuk melihat wujud gagasan- gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan- gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.


Dengan kata lain, apakah tesis atau pengungkapan maksud sudah diperinci secara maksimal dan urutannya sudah disusun dalam pola teratur atau tidak. Demikian seterusnya, apakah setiap gagasan bawahan sudah diperinci pula secara maksimal dan telah diurutkan pula dengan baik.


  • Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda

Setiap tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai klimaks dari seluruh karangan itu, terdapat sejumlah bagian yang berbeda-beda. kepentingannya terhadap klimaks utama tadi. Tiap bagian juga mempunyai kilrnaks tersendiri dalam bagiannya.


Supaya pembaca dapat terpikat secara terus-menerus menuju kepada klimaks utama, maka susunan bagian-bagian harus diatur pula sedemikian sehingga iercipta klimaks yang berbeda-beda yang dapat memikat perhatian pembaca.


  • Menghindari penggarapan sebuah topik sampai dua kali atau lebih

Ada kemungkinan suatu bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai dengan kebutuhan tiap bagian, dan karangan itu. Namun penggarapan suatu topik sampai dua kali atau lebih tidak perlu. Karena hal itu hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan misalnya: bila penulis tidak sadar betul maka pendapatnya mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu lain, sedangkan pada bagian kemudian bertentangan dengan terdahulu.


Hal ini tidak dapat diterima, bahwa dalam satu karangan yang ssama terdapat pendapat yang bertentangan satu sama lain. Di pihak lain menggarap suatu topik lebih dan satu kali hanya membuangwaktu, tenagadan materi. Kalau memang tidak dapat dihindari maka penuiis harus menetapkan pada bagian mana topik tadi harus diuraikan, sedangkan bagian yang lain cukup dengan menunjuk kembali kepada bagian yang fain tadi (lihat selanjutnya Catatan Kaki).


  • Memudahkan penulis untuk mencari materi pembantu

Dengan mernpergunakan perincian-perincian dalam kerangka karangan penuiis dengan mudah akan mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendapatnya. Atau data dan fakta-fakta yang telah dikumpulkan akan dipergunakan untuk bagian-bagian mana dari karangannya itu.


Bila seorang pembaca kelak menghadapi karangan yang telah siap, ia dapat menyusutkannya kembali kepada kerangka karangan yang hakikatnya sama dengan apa yang telah dibuai pengarangnya. Dengan penyusutan ini pembaca akan melihat wujud, gagasan, struktur, serta nilai umum dari karangan itu.


Kerangka karangan merupakan miniatur atau prototipe dari sebuah karangan. Dalam bentuk miniatur ini karangan tersebut dapat diteliti, dianaiisa, dan dipertimbangkan secara menyeluruh, bukan secara terlepas- lepas. Dengan demikian: tesis/pengungkapan maksud = kerangka karangan = karangan -ringkasan.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Karya Tulis Ilmiah


Kriteria Karangka Karangan

Untuk menyusun kerangka karangan yang baik, penulis perlu memperhatikan kriteria berikut :

  1. Menggunakan bentuk kerangka standar,
  2. Menggunakan inden atau liurus secara konsisten, dan tidak mengombinasikan bentuk-bentuk tersebut secara bersamaan dalam sebuah kerangka karangan,
  3. Menggunakan pnomoran secara konsisten(angka desimal, angka romawi, kombinasi angka romawi, huruf dan angka arab ),
  4. Setiap judul bab diberi nomor secara konsisten,
  5. Setiap subbab diberi nomor secara konsisten,
  6. Setiap unsur subbab diberi nomor secara konsisten,
  7. Setiap detail unsur diberi nomor secara konsisten,
  8. Penomoran tidak melebihi empat angka(digit), dan
  9. Kerangka karangan tidak sama dengan daftar isi.

Bentuk-Bentuk Kerangka Karangan

Berikut ini terdapat beberapa bentuk-bentuk kerangka karangan, terdiri atas:


1. Berdasarkan Perumusan Teksnya

Terdiri atas:


  1. Kerangka kalimat

Kerangka kalimat mempergunakan kalimat deklaratif ( berita) yang lengkap untuk merumuskan setiap topik, sub topik, maupun sub-sub topik.


Manfaat kerangka kaimat meliputi:

  • Ia memaksa penulis untuk merumuskan dengan tepat topik yang akan diuraikan, serta perincian-rincian tentang topik itu.
  • Perumusan topik-topik dalam tiap unit akan tetap jelas, walaupun telah lewat bertahun-tahun.Penulis masih sanggup mengikuti rencana aslinya, walaupun baru digarap bertahun-tahu kemudian.
  • Kalimat yang dirumuskan dengan baik dan cermat akan jelas bagi siapapun, seperti bagi pengarangnya sendiri.

  1. Kerangka topik

Kerangka topik  dimulai dengan perumusan tesis dalam sebuah kalimat yang lengkap. Sesudah itu semua pokok,. baik pokok-pokok utama maupun pokok-pokok bawahan, dirumuskan dengan mencantumkan topiknya saja, dengan tidak mempergunakan kalimat yang lengkap. Kerangka topik dirumuskan dengan mempergunakan kata atau frasa. Sebab itu kerangaka topik tidak begitu jelas dan cermat seperti kerangka kalimat. Kerangka topik manfaatnya kurang bila dibandingkan dangan kerangka kalimat, terutama jika tenggang waktu antara perencanaan antara kerangka karangan itu dengan penggarapannya cukup lama.


  1. Gabungan antara kerangka kalimat dan kerangka topik

Kerangka karangan yang menggabungkan antara kerangka kalimat dan kerangka topik. Kerangka karangan yang mencakup kalimat berita dan dan sub-sub bagian maupun pokok-pokok utama dan pokok-pokok bawahan.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Membaca Ekstensif adalah


2. Berdasarkan Bentuk Karangan

Terdiri atas:


Bentuk karangan seperti ini banyak di jumpai dalam berbagai betuk karangan, misalnya novel, cerpen , laporan atau berita. Deskripsi adalah Tulisan yang menggambarkan bentuk objek pengamatan, rupa, sifat, rasa atau corak yang melukiskan perasaan.


Sebuah deskripsi di buat untuk membantu pembaca membayangkan suasana mengenal ciri orang, dan untuk memahami suat sensasi atau perasaan melalui ungkapan bahasa. Oleh karenanya dalam membuat deskripsi harus berdasar pada pengamatan yang cermat dan penyusunan kalimat yang tepat yang harus diawali dengan sebuah gambaran yang umum, yang berupa kalimat atau frasa.


Ada berbagai jenis deskripsi yang berupa deskripsi penampilan, kesopanan perilaku, sifat, suara, cara bicara, dan sikap dan ada pula deskripsi melalui pencerapan salah satu pancaindera kita yang harus disusun secara kronologis dan logis.


Secara sederhana di kenal sebagai cerita, peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu yang ada pula tokoh yang menghadapi suat konflik yang berisi fakta atau fiksi.


Tulisan yang memberikan informasi, penjelasan, keterangan atau pemahaman kepada pembaca yang dapat di temui pada tulisan edotorial, esai, petunjuk penggunaan atau ulasan yang didasarkan pada perincian yang khusus dan cermat, penalaran, dan penggunaan contoh.


Karangan yang bertjuan untuk meyakinkan orang, membuktikan pendapat atau pendirian pribadi atau membujuk pihak lain agar sebuah pendapat pribadi di terima yang dibuat dengan menyusun alasan atau pembuktian untuk menunjang kalimat topik dengan memberikan penjelasan dan fakta yang tepat.


Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu.


3. Berdasarkan Rinciannya

Terdiri atas:


  1. Kerangka Karangan Sementara

Kerangka karangan sementara atau non formal merupakan suatu alat bantu, sebuah  penuntun bagi suatu tulisan yang terarah. Sekaligus ia menjadi dasar untuk penelitiaan kembali guna mengadakan perombakan-perombakan yang dianggap perlu. Karena kerangka karangan ini bersifat sementara, maka tidak  perlu disusun secara terperinci. Tetapi karena ia juga merupakan sebuah kerangka karangan maka ia harus memungkinkan pengarangnya untuk menggarap persoalannya secara dinamis, sehingga perhatian  harus dicurahkan sepenuhnya pada penyusunan-penyusunan kalimat-kalimat, alenia-alenia, atau bagian-bagian tanpa memepersoalkan lagi bagaimana susunan karangannya, atau bagaimana susunan bagian-bagiannya.


Perencanaan kerangka karangan sementara dilakukan sesuai dengan prosedur. Mula-mula penulis merumuskan tesis berdsarkan topik dan maksud utama dari karangan itu. Kemudian dibawah tesis itu dibuat perinciaan berupa pencatatan semua hal yang mungkin dijadikan pokok-pokok utama atau pokok-pokok tambahan bagi tesis tadi. Pokok-pokok yang mempunyai hubungan satu sama lain atua mempunyain hubungan logis di hubung-hubungkan dengan tanda panah, atau pokok yang tidak mempunyai hubungan dengan tesis dicoret. Pokok-pokok yang diterima sebagai perinciaan dari tesis lalu diurutkan sesuai dengan pola susunan yang dipilih, dengan diberi nomor-nomor urut sesuai dengan pola susunan.


Kerangka karangan non-formal biasanya terdiri dari tesis dan pokok-pokok utama, paling tinggi dua tingkat perincian. Alasan untuk menggarap sebuah kerangka karangan sementara dapat berupa topik yang tidak kompleks atau karena penulis segera menggarap karangan itu.


  1. Kerangka Karangan Formal

Kerangka karangan formal biasanya timbul dari penimbanga bahwa topik yang akan digarap bersifat sangat kompleks, atau suatu topik yang sederhana tetapi penulis tidak bermaksud untuk segera menggarapnya.


Proses perencanaan sebuah karangan formal mengikuti prosedur yang sama seperti kerangka non-formal. Tesisnya dirumuskan dengan cermat dan tepat, kemudian dipecah-pecah menjadi bagian-bagian bawahan (sub-ordinasi) yang dikembangkan untuk menjelaskan gagasan sentralnya. Setiap sub-bagian dapat diperinci lebih lanjut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sejauh diperlukan untuk menguraikan persoalan itu sejelas-jelasnya. Dengan perincian yang sekian banyak, sebuah kerangka karangan dapat mencapai lima atau enam tingkat perincian. Suatu tesis yang diperinci minimal atas tiga tingkat perincian sudah dapat disebut kerangka formal.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Pengertian Catatan Kaki Menurut Ahli Penulis Buku


Pola Penyusunan Kerangka Karangan

Untuk memperoleh suatu susunan kerangka karangan yang teratur biasanya digunakan beberapa tipe susunan, terdiri atas:


1. Pola Alamiah

Pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam, sebab itu susunan alamiah itu didasarkan pada ketiga atau keempat dimensi dalam kehidupan manusia : atas – bawah, melintang – menyebrang, sekarang – nanti, ,dulu – sekarang, timur – barat, dan sebagainya. Oleh sebab itu susunan alamiah dapat dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu :


  • Urutan waktu atau urutan kronologis

Urutan yang di dasarkan pada runtunan peristiwa atau tahap-tahap kejadian. Biasanya tulisan seperti ini kurang menarik minat pembaca.


Contohnya : Topik (riwayat hidup seorang penulis)

  1. asal usul penulis
  2. pendidikan si penulis
  3. kondisi kehidupan penulis
  4. keinginan penulis
  5. karir penulis

  • Urutan ruang (sposial)

Landasan yang paling penting, bila topik yang di uraikan mempunyai pertalian yang sangat erat dengan ruang atau tempat . Urutan ini biasanya di gunakan dalam tulisan–tulisan yang bersifat deskriptif .


Contohnya : Topik (hutan yang sering mengalami kebakaran)

  1. Di daerah Kalimantan
  2. Di daerah Sulawesi
  3. Di daerah Sumatra

  • Topik yang ada

Suatu pola peralihan yang dapat di masukkan dalam pola alamiah adalah urutan berdasarkan topik yang ada . Suatu peristiwa sudah di kenal dengan bagian–bagian tertentu . Untuk menggambarkan hal tersebut secara lengkap, mau tidak mau bagian-bagian itu harus di jelaskan berturut–turut dalam karangan itu, tanpa mempersoalkan bagian mana lebih penting dari lainnya, tanpa memberi tanggapan atas bagian–bagiannya itu.


2. Pola Logis

Manusia mempunyai suatu kesanggupan dimana manusia lebih sempurna dari makhluk yang lain, yaitu sanggup menghadapi segala sesuatu yang berada di sekitarnya dengan kemampuan akal budinya. Urutan logis sama sekali tidak ada hubungannya dengan suatu ciri yang intern dalam materinya, tetapi kiat dengan tanggapan penulis.


Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan landasan bagi setiap persoalan, mampu di tuang dalam suatu susunan atau urutan logis. Urutan logis sama sekali tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang intern dalam materinya, tetapi erat dengan tanggapan penulis.


Dinamakan pola logis karena memakai pendekatan berdasarkan jalan pikir atau cara pikir manusia yang selalu mengamati sesuatu berdasarkan logika.


Macam-macam, urutan logis yang dikenal adalah :


  1. Urutan klimaks dan anti klimaks

Urutan ini timbul sebagai tanggapan penulis yang berpendirian bahwa posisi tertentu dari suatu rangkaian merupakan posisi yang paling tinggi kedudukannya atau yang paling menonjol.


Contoh : Topik (turunnya Suharto)

  • Keresahan masyarakat
  • Merajalela nya praktek KKN
  • Keresahan masyarakat
  • Kerusuhan social
  • Tuntutan reformasi menggema

  1. Urutan kausal

Mencakup dua pola yaitu urutan dari sebab ke akibat dan urutan akibat ke sebab . Pada pola pertama suatu masalah di anggap sebagai sebab, yang kemudian di lanjutkan dengan perincian–perincian yang menelusuri akibat-akibat yang mungkin terjadi. Urutan ini sangat efektif dalam penulisan sejarah atau dalam membicarakan persoalan-persoalan yang di hadapi umat manusia pada umumnya.


Contoh : Topik (krisis moneter melanda tanah air)

  • Tingginya harga bahan pangan
  • Penyebab krisis moneter
  • Dampak terjadi krisis moneter
  • Solusi pemecahan masalah krisis moneter

  1. Urutan pemisahan masalah

Di mulai dari suatu masalah tertentu, kemudian bergerak menuju kesimpulan umum atau pemecahan atas masalah tersebut . Sekurang-kurangnya uraian yang mempergunakan landasan pemecahan masalah terdiri dari tiga bagian utama, yaitu deskripsi mengenai peristiwa atau persoalan tadi, dan akhirnya alternatif–alternatif untuk jalan keluar dari masalah yang di hadapi tersebut.


Contoh : Topik (virus flu babi / H1N1 dan upaya penanggulangannya)

  • Apa itu virusH1N1
  • Bahaya virus H1N1
  • Cara penanggulangannya

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Fiksi adalah


  1. Urutan umum-khusus

Dimulai dari pembahasan topik secara menyeluruh (umum), lalu di ikuti dengan pembahasan secara terperinci (khusus).


Contoh : Topik (pengaruh internet)

  • Para pangguna internet
  1. Anak-anak
  2. Remaja
  3. Dewasa

  • Manfaat internet
  1. Media informasi
  2. Bisnis
  3. Jaringan social

  1. Urutan familitas

Urutan familiaritas dimulai dengan mengemukakan sesuatu yang sudah di kenal, kemudian berangsur–angsur pindah kepada hal-hal yang kurang di kenal atau belum di kenal. Dalam keadaan–keadaan tertentu cara ini misalnya di terapkan dengan mempergunakan analogi.


  1. Urutan akseptabilitas

Urutan akseptabilitas mirip dengan urutan familiaritas. Bila urutan familiaritas mempersoalkan apakah suatu barang atau hal sudah dikenal atau tidak oleh pembaca, maka urutan akseptabilitas mempersoalkan apakah suatu gagasan di terima atau tidak oleh para pembaca, apakah suatu pendapat di setujui atau tidak oleh para pembaca


Pada dasarnya, untuk menyusun karangan dibutuhkan langkah-langkah awal untuk membentuk kebiasaan teratur dan sistematis yang memudahkan kita dalam mengembangkan karangan.


Langkah-Langkah Menyusun Kerangka Karangan

Berikut ini terdapat beberapa langkah-langkah menyusun kerangka karangan, terdiri atas:


1. Menentukan tema dan judul

Sebelum anda mau melangkah, pertama kali dipikirkan adalah mau kemana kita berjalan? lalu bila menulis, apa yang akan kita tulis?


  • Tema

Tema adalah pokok persoalan, permasalahan, atau pokok pembicaraan yang mendasari suatu karangan. Sedangkan yang dimaksud dengan judul adalah kepala karangan. Kalau tema cakupannya lebih besar dan menyangkut pada persoalan yang diangkat sedangkan judul lebih pada penjelasan awal (penunjuk singkat) isi karangan yang akan ditulis.


Tema sangat terpengaruh terhadap wawasan penulis. Semakin banyak penulis membiasakan membaca buku, semakin banyak aktifitas menulis akan memperlancar penulis memperoleh tema. Namun, bagi pemula perlu memperhatikan beberapa hal penting agar tema yang diangkat mudah dikembangkan. diantaranya :

  1. Jangan mengambil tema yang bahasannya terlalu luas.
  2. Pilih tema yang kita sukai dan kita yakini dapat kita kembangkan.
  3. Pilih tema yang sumber atau bahan-bahannya dapat dengan mudah kita peroleh.

Terkadang memang dalam menentukan tema tidak selamanya selalu sesuai dengan syarat-syarat diatas. Contohnya saat lomba mengarang, tema sudah disediakan sebelumnya dan kita hanya bisa memakainya.Ketika tema sudah didapatkan, perlu diuraikan atau membahas tema menjadi suatu bentuk karangan yang terarah dan sistematis. Salah satu caranya dengan menentukan judul karangan. Judul yang baik adalah judul yang dapat menyiratkan isi keseluruhan karangan kita.


  • Judul

  1. Ada dua cara pembatasan topik  ? judul karangan.
  2. masalah apa, mengapa, bagaimana, di mana, dan kapan.
  3. Judul adalah perincian atau penjabaran dari topik.
  4. Judul lebih spesifik dan sering telah menyiratkan permasalahan atau

variabel yang akan dibahas.

  • Judul tidak harus sama dengan topik.
  • Jika topik sekaligus menjadi judul, biasanya karangan akan bersifat umum dan ruang lingkupnya sangat luas.
  • Judul dibuat setelah selesai menggarap tema, sehingga bisa terjamin bahwa judul itu cocok dengan temanya.
  • Sebuah judul yang baik akan merangsang perhatian pembaca dan akan cocok dengan temanya.
  • Judul hanya menyebut ciri-ciri yang utama atau yang terpenting dari karya itu, sehingga pembaca sudah dapat membayangkan apa yang akan diuraikan dalam karya itu.
  • Ada judul yang mengungkapkan maksud pengarang, misalnya dalam sebuah laporan eksposisi, contohnya : “Suatu Penelitian tentang Korelasi antara Kejahatan Anak-anak dan Tempat Kediaman yang Tidak Memadai”.

Syarat judul yang baik

  • harus relevan, judul harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau dengan beberapa bagian yang penting dari tema tersebut.
  • judul harus dapat menimbulkan keingintahuan pembaca terhadap isi buku atau karangan.
  • harus singkat, tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Bila harus membuat judul yang panjang, ciptakanlah judul utama yang singkat dengan judul tambahan yang panjang.
  • tidak provokatif.
    Judul karangan sedapat-dapatnya :
    singkat dan padat,
    B. menarik perhatian, serta
    C. menggambarkan garis besar (inti) pembahasan.

Contoh : Upaya menurunkan risiko bahaya letusan gunung Penanggulangan krisis air di Jakarta

Tujuan perlu dirumuskan dengan gamblang agar jelas apa yang akan dicapai oleh tulisan ini. Tujuan dapat diungkapkan dengan kata operasional :

  1. Menanggulangi
  2. Mengurangi
  3. Menemukan
  4. Meningkatkan
  5. Mengoptimalkan
  6. Mengevaluasi
  7. Mengendalikan

2. Mengumpulkan bahan

Setelah punya tujuan, dan mau melangkah, lalu apa bekal anda? Sebelum melanjutkan menulis, perlu ada bahan yang menjadi bekal dalam menunjukkan eksistensi tulisan. Bagaimana ide, dan inovasi dapat diperhatikan kalau tidak ada hal yang menjadi bahan ide tersebut muncul. Buat apa ide muluk-muluk kalau tidak diperlukan. Perlu ada dasar bekal dalam melanjutkan penulisan.


Untuk membiasakan, kumpulkanlah kliping-kliping masalah tertentu (biasanya yang menarik penulis) dalam berbagai bidang dengan rapi. Hal ini perlu dibiasakan calon penulis agar ketika dibutuhkan dalam tulisan, penulis dapat membuka kembali kliping yang tersimpan sesuai bidangnya. Banyak cara mengumpulkannya, masing-masing penulis mempunyai cara sesuai juga dengan tujuan tulisannya.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Kosakata adalah


  1. Menyeleksi Bahasa

Setelah ada bekal, dan mulai berjalan, tapi bekal mana yang akan dibawa? agar tidak terlalu bias dan abstrak, perlu dipilih bahan-bahan yang sesuai dengan tema pembahasan. Polanya melalui klarifikasi tingkat urgensi bahan yang telah dikumpulkan dengan teliti dan sistematis. berikut ini petunjuk-petunjuknya:

  • Catat hal penting semampunya.
  • Jadikan membaca sebagai kebutuhan.
  • Banyak diskusi, dan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah.

  1. Membuat Kerangka

Bekal ada, terpilih lagi, terus melangkah yang mana dulu? Perlu kita susun selangkah demi selangkah agar tujuan awal kita dalam menulis tidak hilang atau melebar ditengah jalan. Kerangkakarangan menguraikan tiap topik atau masalah menjadi beberapa bahasan yang lebih fokus dan terukur.


Kerangka karangan belum tentu sama dengan daftar isi, atau uraian per bab. Kerangka ini merupakan catatan kecil yang sewaktu-waktu dapat berubah dengan tujuan untuk mencapai tahap yang sempurna.


  1. Mengembangkan Kerangka Karangan

Proses pengembangan karangan tergantung sepenuhnya pada penguasaan kita terhadap materi yang hendak kita tulis. Jika benar-benar memahami materi dengan baik, permasalahan dapat diangkat dengan kreatif, mengalir dan nyata. Terbukti pula kekuatan bahan materi yang kita kumpulkan dalam menyediakan wawasan untuk mengembangkan karangan.


Pengembangan karangan juga jangan sampai menumpuk dengan pokok permasalahan yang lain. Untuk itu pengembangannya harus sistematis, dan terarah. Alur pengembangan juga harus disusun secara teliti dan cermat. Semakin sistematis, logis dan relevan pada tema yang ditentukan, semakin berbobot pula tulisan yang dihasilkan.


Tahapan dalam menyusun kerangka karangan :

  1. Mencatat gagasan. Alat yang mudah digunakan adalah pohon pikiran (diagram yang menjelaskan gagasan2 yang timbul)
  2. Mengatur urutan gagasan.
  3. Memeriksa kembali yang telah diatur dalam bab dan subbab
  4. Membuat kerangka yang terperinci dan lengkap

Merangka karangan yang baik adalahkerangka yang urut dan logis. Bila terdapat ide yang bersilangan, akan mempersulit proses pengembangan karangan. (karangan tidak mengalir).


Syarat Kerangka Karangan yang Baik

Berikut ini terdapat beberapa syarat kerangka karangan yang baik, terdiri atas:

  1. Tesis atau pengungkapan maksud harus jelas. Pilihlah topik yang merupakan hal yang khas, kemudian tentukan tujuan yang Jelas. Lalu buatlah tesi atau pengungkapan masksud.
  2. Tiap unit hanya mengandung satu gagasan.Bila satu unit terdapat lebih dari satu gagasan, maka unit tersbut harus dirinci.
  3. Pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis, sehingga rangkaian ide atau pikiran itu tergambar jelas.
  4. Harus menggunakan simbol yang konsisten. Pada dasarnya untuk menyusun karangan dibutuhkan langkah-langkah awal untuk membentuk kebiasaan teratur dan sistematis yang memudahkan kita dalam mengembangkan karangan. kali ini kita coba tinjau terlebih dahulu langkah-langkah menyusun karangan satu per satu.

Contoh Kerangka Karangan

Berikut ini terdapat beberapa contoh kerangka karangan, terdiri atas:


  1. Kerangka sistem lekuk, dengan angka romawi, huruf kapital, dan angka arab.

Upaya Meningkatkan Kreativitas Baru Mahasiswa dalam Kewirausahaan

I. Pendahuluaan


II. Potensi Akademik Mahasiswa

  1. Potensi Kecerdasan
  2. Keahlian Bidang Studi
  3. Tenaga Kerja Intelektual

III.  Paradigma Kewirausahaan

  1. Potensi Kewirausahaan
  2. Sumber Kreativitas Baru
  3. Budaya Kewirausahaan

IV. Strategi Berwirausahaan

A. Strtegi Awal

  1. Konsep
  2. Modal
  3. Produk
  4. Pasar

B. Evaluasi Perencanaan dan pengembangan

C. Perencanaan Awal,

D. Pengembangan Semester Pertama

E. Evaluasi dan Pengembangan Semester Kedua

F. Evaluasi, Perencanaan dan Pengembangan Tahun Kedua


  1. Kerangka Sistem Lekuk dengan Angka desimal

Upaya Meningkatkan Kreativitas Baru Mahasiswa dalam Kewirausahaan

  1. Pendahuluan
  2. Potensi Akademik Mahasiswa

2.1     Potensi Kecerdasan

2.2     Keahlian Bidang Studi

2.3     Tenaga Kerja Intelektual

  1. Paradigma Kewirausahaan

3.1     Potensi Kewirausahaan

3.2     Sumber Kreatif Baru

3.3     Budaya Kewirausahaan

  1. Strategi Berwirausaha

4.1     Strategi Awal

4.1.1     Konsep

4.1.2     Modal

4.1.3     Produk

4.1.4     Pasar

4.2  Evaluasi Strategi Awal,

4.3  Perencanaan dan Pengembangan Tahun Pertama

4.4  Evaluasi, Perencanaan, dan Pengembangan Tahun Kedua

  1. Kesimpulan

  1. Kerangka Sistem Lurus dengan Angka Romawi dan Desimal

BAB I    PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

1.2   Masalah

1.3  Tujuan Penelitian

1.4  Pembatasan Masalah

1.5  Manfaat Pnelitian


BAB II  KERANGKA TEORI

2.1 Deskripsi Teori,

2.1.1 Deskripsi teoetik variabel pertama (definisi, gambaran, konsep)

2.1.2 Deskripsi teoritik variabel kedua (definisi, gambaran, konsep)

2.2 Kerangka berfikir

2.3 Rumusan Hipotesis


BAB III METODE PENELIIAN

  1. Metode penelitian
  2. Populasi dan sampel
  3. Variabel
  4. Instrumen
  5. Prosedur Pengukuran
  6. Teknik Analisis

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1  Deskripsi Data

4.2  Pengujian data

4.3  Hasil penguji


BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan (interpretasi atas hasil penelitian)

5.2  Saran


  1. Kerangka Karangan dengan romawi lurus model kerangka penelitian kualitatif

BAB I    Pendahuluan

BAB II   Teori Acuan

BAB III  Metodologi Penelitian

BAB IV  Hasil Penelitian

BAB V  Pembahasan

BAB VI  Kesimpulan, Implikasi (saran)


  1. Kerangka karangan dengan kombinasi romawi desimal lurus model kerangka penelitian kualitatif, contoh model kajian teoritik

BAB I  Pendahuluan

1.1  Latar belakang

1.2  Masalah

1.3  Tujuan

1.4  Manfaat


BAB II  Kajian Pustaka

2.1 Deskripsi teori

2.2 Analisis

2.3 Sintetis


BAB III  HASIL PENELITIAN

3.1 Interpretasi

3.2 Implikasi


BAB IV  KESIMPULAN

(Tindak lanjut)


  1. Kerangka karangan dengan romawi lurus model kerangka penelitian kualitatif, untuk penulisan artikel

Pola penilaian: Sari tema – kekuatan – kelemahan – intregitas

I Sari tema

II Deskripsi umum

III Kekuatan / keunggulan pertama

IV Kekuatan / keunggulan kedua

V Kelemahan pertama dan solusi

VI Kelemahan kedua dan solusi

VII Intregitas (induktif)


  1. Kerangka karangan dengan romawi dan desimal lurus model kerangka penelitian kualitatif untuk penulisan makalah

I  PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang dan masalah

1.2 Pentingnya pembahasan masalah

1.3 Sudut pandang dan pendekatan

1.4 Pembatasan masalah


II  PEMBAHASAN

2.1 Masalah yang dihadapi

2.2 Cara pemecahan masalah

2.3 Dukungan

2.4 Hambatan


III  PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran


Daftar Pustaka:

  1. Budi Karyanto,umum.2009. Bahasa Indonesia untuk perguruan tinggi Pekalongan: STAINPekalongan Press.
  2. Keraf, Gorys ke.1997.  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa. jakarta: Nusa indah.
  3. Rahardi, Kunjana. 2009. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.Jakarta:Erlangga.
  4. Widjono. 2005. bahasa indonesia. jakarta: PT Grasindo.
  5. Departemen Pendidikan Nasional. 2011. Bahasa Indonesia Non Kependidikan. Serang: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Demikianlah pembahasan mengenai 7 Contoh Kerangka Karangan – Pengertian, Fungsi, Manfaat, Kriteria, Bentuk, Pola, Langkah & Syarat semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂