Ergonomi adalah

Diposting pada

Ergonomi adalah – Prinsip, Sejarah, Tujuan, Metode & Aplikasi – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Ergonomi yang dimana dalam hal ini meliputi prinsip, sejarah, tujuan, metode dan aplikasi, nah agar dapat lebih memahami dan dimengerti simak ulasan selengkapnya dibawah ini.

Ergonomi adalah

Pengertian Ergonomi

Ergonomi (ergonomics) berasal dari kata Yunani yaitu ergo yang berarti kerja dan nomos yang berarti hukum, dimana ergonomi sebagai disiplin keilmuan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya. Istilah ergonomi lebih populer digunakan oleh beberapa negara Eropa Barat, dan di Amerika istilah ini lebih dikenal sebagai Human Faktors Engineerings atau Human Engineering (Wignjosoebroto, 2003).


Istilah ergonomi didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, engineering, manajemen dan desain peralatan (Nurmianto, 2003).


Dari survei pendahuluan yang dilakukan pekerja mengalami gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh sikap kerja yang tidak ergonomis. Keluhan yang dialami antara lain: sakit pada pinggang, lelah seluruh badan, nyeri lutut dan kaki, keluhan pada lengan dan tangan, dan nyeri bahu dan punggung (Manuaba, 2000).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : “Keselamatan Kesehatan Kerja ( K3 )” Pengertian & ( Tujuan – Aspek – Faktor – Prinsip )


Prinsip Kerja Ergonomi

Beberapa prinsip kerja secara ergonomis agar terhindar dari cedera antara lain:

  1. Gunakan tenaga seefisien mungkin, beban yang tidak perlu harus dikurangi atau dihilangkan, perhitungkan gaya berat yang mengacu pada berat badan dan bila perlu gunakan pengungkit sebagai alat bantu.
  2. Sikap tubuh berdiri, duduk dan jongkok hendaknya disesuaikan dengan prinsip-prinsip ergonomi.
  3. Panca indera dapat dimanfaatkan sebagai alat kontrol, bila susah harus istirahat (jangan dipaksa) dan bila lapar atau haus harus makan /minum (jangan ditahan).
  4. Jantung digunakan sebagai parameter yang diukur lebih dari jumlah maksimum yang diperbolehkan (Wignjosoebroto, 2003).

Prinsip Ergonomi

Dibawah ini dikemukakan beberapa prinsip ergonomi sebagai pegangan, antara lain : (Suma’mur, 1996):

  1. Sikap tubuh dalam pekerjaan sangat dipengaruhi oleh bentuk, susunan, ukuran dan penempatan mesin-mesin, penempatan alat-alat penunjuk, cara-cara harus melayani mesin (macam, gerak, arah dan kekuatan).
  2. Dari sudut otot sikap duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk. Sedangkan dari sudut tulang duduk yang baik adalah duduk tegak agar punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak lemas. Maka dianjurkan memilih sikap duduk yang tegak yang diselingi istirahat dan sedikit membungkuk.
  3. Pekerjaan berdiri sedapat mungkin dirubah menjadi pekerjaan duduk. Dalam hal tidak mungkin kepada pekerja diberi tempat dan kesempatan untuk duduk.
  4. Arah penglihatan untuk pekerjaan berdiri adalah 23-37o kebawah. Arah penglihatan ini sesuai dengan sikap kepala yang istirahat (relaxed).
  5. Ruang gerak lengan ditentukan oleh punggung lengan seluruhnya dan lengan bawah. Pegangan-pegangan harus diletakkan, lebih-lebih bila sikap tubuh tidak berubah.
  6. Macam gerakan yang kontinu dan berirama lebih diutamakan, sedangkan gerakan yang sekonyong-konyong pada permulaan dan berhenti dengan paksa sangat melelahkan. Gerakan ke atas harus dihindarkan, berilah papan penyokong pada sikap lengan yang melelahkan. Hindarkan getaran-getaran kuat pada kaki dan lengan.
  7. Pembebanan sebaiknya dipilih yang optimum, yaitu beban yang dapat dikerjakan dengan pengerahan tenaga paling efisien. Beban fisik maksimum telah ditentukan oleh ILO sebesar 50kg. Cara mengangkat dan menolak hendaknya memperhatikan hukum-hukum ilmu gaya dan dihindarkan penggunaan tenaga yang tidak perlu. Beban hendaknya menekan langsung pada pinggul yang mendukungnya.
  8. Kemampuan seseorang bekerja seharinya adalah 8-10 jam, lebih dari itu efisien dan kualitas kerja sangat menurun.

Dalam ergonomi akan dipelajari cara-cara penyesuaian pekerjaan, alat kerja dan lingkungan kerja dengan manusia, dengan memperhatikan kemampuan dan keterbatasan manusia itu sehingga tercapai suatu keserasian antara manusia dan pekerjaannya yang akan meningkatkan kenyamanan kerja dan produktifitas kerja.


Sejarah Ergonomi

Ergonomi mulai dicetuskan pada tahun 1949, akan tetapi aktivitas yang berkenaan dengannya telah bermunculan puluhan tahun sebelumnya. Beberapa kejadian penting diilustrasikan sebagai berikut: (Suma’mur, 1996):


  • T. Thackrah, England, 1831

Trackrah adalah seorang dokter dari Inggris/England yang meneruskan pekerjaan dari seorang Italia bernama Ramazzini, dalam serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan kerja yang tidak nyaman yang dirasakan oleh para operator di tempat kerjanya.


Ia mengamati postur tubuh pada saat bekerja sebagai bagian dari masalah kesehatan. Pada saat itu Trackrah mengamati seorang penjahit yang bekerja dengan posisi dan dimensi kursi-meja yang kurang sesuai secara antropometri, serta pencahayaan yang tidak ergonomis sehingga mengakibatkan menbungkuknya badan dan iritasi indera penglihatan.


  • W. Taylor, U.S.A., 1989

Frederick W. Taylor adalah seorang insinyur Amerika yang menerapkan metoda ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan suatu pekerjaan.


  • B. Gilbreth, U.S.A., 1911

Gilbreth juga mengamati dan mengoptimasi metoda kerja, dalam hal ini lebih mendetail dalam Analisa Gerakan dibandingkan dengan Taylor. Dalam bukunya Motion Study yang diterbitkan pada tahun 1911 ia menunjukkan bagaimana postur membungkuk dapat diatasi dengan mendesain suatu sistem meja yang dapat diatur turun-naik (adjustable).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Pengertian Kewirausahaan Menurut Para Ahli


  • Badan Penelitian untuk Kelelahan Industri (Industrial Fatique Research Board), England, 1918

Badan ini didirikan sebagai penyelesaian masalah yang terjadi di pabrik amunisi pada Perang Dunia Pertama. Mereka menunjukkan bagaimana output setiap harinya meningkat dengan jam kerja per hari-nya yang menurun.


  • Mayo dan teman-temannya, U.S.A., 1933

Elton Mayo seorang warga negara Australia, memulai beberapa studi di suatu Perusahaan Listrik. Tujuan studinya adalah untuk mengkuantifikasi pengaruh dari variabel fisik seperti pencahayaan dan lamanya waktu istirahat terhadap faktor efisiensi dari para operator kerja pada unit perakitan.


  • Perang Dunia Kedua, England dan U.S.A

Masalah operasional yang terjadi pada peralatan militer yang berkembang secara cepat (seperti misalnya pesawat terbang). Masalah yang ada pada saat itu adalah penempatan dan identifikasi utnuk pengendali pesawat terbang, efektivitas alat peraga (display), handel pembuka, ketidak-nyamanan karena terlalu panas atau terlalu dingin, desain pakaian untuk suasana kerja yang terlalu panas atau terlalu dingin dan pengaruhnya pada kinerja operator.


  • Pembentukan Kelompok Ergonomi

Pembentukan Masyarakat Peneliti Ergonomi (the Ergonomics Research Society) di England pada tahun 1949 melibatkan beberapa profesional yang telah banyak berkecimpung dalam bidang ini. Hal ini menghasilkan jurnal (majalah ilmiah) pertama dalam bidang Ergonomi pada November 1957.


Perkumpulan Ergonomi Internasional (The International Ergonomics Association) terbentuk pada 1957, dan The Human Factors Society di Amerika pada tahun yang sama.


Diketahui pula bahwa Konferensi Ergonomi Australia yang pertama diselenggarakan pada tahun 1964, dan hal ini mencetuskan terbentuknya Masyarakat Ergonomi Australia dan New Zealand (The Ergonomics Society of Australian and New Zealand).


Tujuan Ergonomi

Pelaksanaan dan penerapan ergonomi di tempat kerja di mulai dari yang sederhana dan pada tingkat individual terlebih dahulu. Rancangan ergonomi akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja, serta dapat menciptakan sistem serta lingkungan yang cocok, aman, nyaman dan sehat (Nurmianto, 2003).


Secara umun tujuan dari penerapan Ergonomi adalah: (Nurmianto, 2003)

  • Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
  • Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.
  • Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan hidup yang tinggi.

Metode-Metode Ergonomi

  1. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks (Nurmianto, 2003).

  2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja (Nurmianto, 2003).

  3. Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan , sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain (Nurmianto, 2003).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Tipografi adalah


Aplikasi Ergonomi di Tempat Kerja

Terdapat beberapa aplikasi / penerapan dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Aplikasi / penerapan tersebut antara lain:


1. Sikap Kerja

Sikap kerja diartikan sebagai kecenderungan pikiran dan perasaan puas atau tidak puas terhadap pekerjaannya. Kemudian pada saat bekerja perlu diperhatikan postur tubuh dalam keadaan seimbang agar dapat bekerja dengan nyaman dan tahan lama. Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat dikatakan sikap kerja adalah proses kerja yang sesuai ditentukan oleh anatomi tubuh dan ukuran peralatan yang digunakan pada saat bekerja (Darlis, 2009).


Sikap tubuh dalam bekerja berhubungan dengan tempat duduk, meja kerja dan luas pandangan. Untuk merencanakan tempat kerja dan perlengkapannya diperlukan ukuran-ukuran tubuh yang menjamin sikap tubuh paling alamiah dan memungkinkan dilakukannya gerakan-gerakan yang dibutuhkan (Nurmianto, 2003).


Dikenal dua sikap kerja, yaitu sikap duduk dan sikap berdiri.


  • Sikap Duduk

Sikap Duduk

Pekerjaan sejauh mungkin harus dilakukan sambil duduk karena sikap kerja duduk merupakan sikap kerja dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Duduk memerlukan lebih sedikit energi daripada berdiri karena hal itu dapat mengurangi banyaknya beban otot statis pada kaki. Kegiatan bekerja sambil duduk harus dilakukan secara ergonomi sehingga dapat memberikan kenyamanan dalam bekerja (Ardana, 2005).


Sikap duduk yang paling baik yaitu tanpa pengaruh buruk terhadap sikap badan dan tulang belakang adalah sikap duduk dengan sedikit lordosa (sikap tulang punggung ke depan) pada pinggang dan sedikit mungkin kifosa (sikap duduk ke belakang) pada punggung. Sikap demikian dapat dicapai dengan kursi dan sandaran punggung yang tepat. Dengan begitu otot punggung terasa enak (Santoso, 2004).


Sikap duduk yang benar yaitu sebaiknya duduk dengan punggung lurus dan bahu berada dibelakang serta bokong menyentuh belakang kursi. Caranya, duduk diujung kursi dan bungkukkan badan seolah terbentuk huruf C. Setelah itu tegakkan badan buatlah lengkungan tubuh sebisa mungkin.


Tahan untuk beberapa detik kemudian lepaskan posisi tersebut secara ringan (sekitar 10 derajat). Posisi duduk seperti inilah yang terbaik. Duduklah dengan lutut tetap setinggi atau sedikit lebih tinggi panggul (gunakan penyangga kaki) dan sebaiknya kedua tungkai tidak saling menyilang. Jaga agar kedua kaki tidak menggantung dan hindari duduk dengan posisi yang sama lebih dari 20-30 menit. Selama duduk, istirahatkan siku dan lengan pada kursi, jaga bahu tetap rileks (Nurmianto, 2003; Darlis, 2009).


Keuntungan kerja sambil duduk adalah ; (1) Kurangnya kelelahan, (2) Berkurangnya pemakaian energi, dan (3) Berkurangnya sikap keperluan sirkulasi darah. Namun begitu terdapat pula kerugian-kerugian sebagai akibat kerja sambil duduk antara lain (1) Melembekkan otot-otot perut, (2) Melengkungkan punggung dan (3) Tidak baik bagi alat tubuh bagian dalam, khususnya peralatan pencernaan, jika posisi dilakukan secara membungkuk (Suma’mur, 1996).


Sikap duduk yang keliru merupakan penyebab adanya masalah-masalah punggung. Hal ini dapat terjadi karena tekanan pada bagian tulang belakang akan meningkat pada saat duduk dibandingkan dengan saat berdiri ataupun berbaring.


Jika diasumsikan tekanan tersebut sekitar 100% ; maka cara duduk yang tegang atau kaku (erect posture) dapat menyebabkan tekanan tersebut mencapai 140% dan cara duduk yang dilakukan dengan membungkuk ke depan menyebabkan tekanan tersebut sampai 190% (Nurmianto, 2003).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Efektivitas Adalah


Keterbatasan gerak akan akan membiasakan bekerja dengan sikap tubuh yang salah. Postural/sikap posisi pekerjaan secara salah dan dilakukan menahun akan menyebabkan keluhan yang dikenal sengan Low back pain (LBP) yaitu otot-otot pingang menjadi lelah (fatique) menimbulkan ketidakstabilan dari tulang belakang sehingga timbul proses degeberasi yang dapat menimbulkan keluhan sakit/pegal di daerah pinggang.


Apabila hal ini tidak dikoreksi, maka gangguan kesehatan tersebut akan menyebabkan penyakit/kelainan dan akhirnya menurunkan kemampuan melakukan aktivitas (Abeysekera, 2002).


Sikap dan sistem kerja yang ergonomis memungkinkan peningkatan produktivitas. Sikap tubuh dalam bekerja selalu diusahakan dilaksanakan dengan duduk atau dalam sikap duduk dan sikap berdiri secara bergantian. Duduk lama dengan posisi yang salah akan menyebabkan otot-otot pinggang menjadi tegang dan dapat merusak jaringan lunak sekitarnya.


Dan bila ini berlanjut terus akan menyebabkan penekanan pada hernia nucleus polposus. Hernia polposus yaitu saraf tulang belakang sehingga menyebabkan nyeri pinggang dan kesemutan yang menjalar ketungkai sampai kaki (Abeysekera, 2002).


Sikap duduk ini sangat dipengaruhi oleh pemakaian kursi. Penerapan ergonomi dalam pembuatan kursi dimaksudkan untuk mendapatkan sikap tubuh yang ergonomi dalam bekerja. Dengan sikap yang ergonomi ini diharapkan efisiensi kerja dan produktivitas meningkat.


Tempat duduk (kursi) harus dibuat sedimikian rupa sehingga memberikan relaksasi pada otot-otot yang sedang dipakai untuk bekerja dan tidak menimbulkan penekanan pada bagian tubuh yang dapat mengganggu sirkulasi darah dan sensibilitas bagian-bagian tersebut (Sarmauly, 2009).


Pembuatan bangku dan meja kerja yang buruk atau mesin merupakan penyebab kerja otot statis dan posisi tubuh yang tidak alamiah. Maka syarat-syarat bangku kerja yang benar adalah sebagai berikut  (Manuaba, 2000):

  1. Tinggi area kerja harus sesuai sehingga pekerjaan dapat dilihat dengan mudah dengan jarak optimal dan sikap duduk yang enak. Makin kecil ukuran benda, makin dekat jarak lihat optimal dan makin tinggi area kerja.
  2. Pegangan, handel, peralatan dan alat-alat pembantu kerja lainnya harus ditempatkan sedemikian pada meja atau bangku kerja, agar gerakan-gerakan yang paling sering dilakukan dalam keadaan fleksi.
  3. Kerja otot statis dapat dihilangkan atau sangat berkurang dengan pemberian penunjang siku, lengan bagian bawah, atau tangan. Topangan-topangan tersebut harus diberi bahan lembut dan dapat di sesuaikan, sehingga sesuai bagi pemakainya.

Kriteria dan ukuran kursi yang ergonomi berdasarkan antropometri orang Indonesia adalah :

  • Tinggi alas duduk

Diukur dari lantai sampai pada permukaan atas dari bagian depan alas duduk. Ukuran yang dianjurkan 38-48 cm. Tinggi alas duduk harus sedikit lebih pendek dari jarak antara lekuk lutut dan telapak kaki (Nurmianto, 2003).


  • Panjang alas duduk

Diukur dari pertemuan garis proyeksi permukaan depan sandaran duduk pada permukaan atas alas duduk sampai kebagian depan alas duduk. Ukuran yang dianjurkan adalah 36 cm. Panjang alas duduk harus lebih pendek dari jarak antara lekuk lutut dan garis punggung(Nurmianto, 2003).


  • Lebar alas duduk

Diukur pada garis tengah alas duduk melintang. Lebar alas duduk harus lebih besar dari lebar pinggul. Ukuran yang diusulkan adalah 44- 48 cm (Nurmianto, 2003).


  • Sandaran pinggang

Bagian atas dari sandaran pinggang tidak melebihi tepi bawah ujung tulang belikat, dan bagian bawahnya setinggi garis pinggul (Nurmianto, 2003).


  • Sandaran tangan

Jarak antara tepi dalam kedua sandaran tangan (harus lebih lebar dari pinggul dan tidak melebihi lebar bahu) (Nurmianto, 2003).


  • Tinggi Sandaran adalah setinggi siku

Panjang sandaran tangan: sepanjang lengan bawah. Ukuran yang dianjurkan adalah jarak tepi dalam kedua sandaran tangan: 46-48 cm. Tinggi sandaran tangan adalah 20 cm dari alas duduk. Panjang sandaran tangan : 21 cm (Nurmianto, 2003).


  • Sudut alas duduk

Alas duduk harus sedemikian rupa sehingga memberikan kemudahan bagi pekerja untuk menentukan pemilihan gerakan dan posisi. Alas duduk hendaknya dibuat horisontal. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang tidak memerlukan sikap sedikit membungkuk ke depan, alas duduk dapat dibuat ke belakang (3-5 derajat). Bila keadaan memungkinkan, dianjurkan penyediaan tempat duduk yang dapat diatur (Nurmianto, 2003).


  • Sikap Berdiri

Selain sikap kerja duduk, sikap kerja berdiri juga banyak ditemukan di perusahaan. Sikap kerja berdiri merupakan sikap kerja yang posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki. Sikap kerja berdiri dapat menimbulkan keluhan subjektif dan juga kelelahan bila sikap kerja ini tidak dilakukan bergantian dengan sikap kerja duduk (Darlis, 2009).


Ukuran tubuh yang penting dalam bekerja dengan posisi berdiri adalah tinggi badan berdiri, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi pinggul, panjang lengan. Bekerja dengan posisi berdiri terus menerus sangat mungkin akan mengakibatkan penumpukan darah dan beragai cairan tubuh pada kaki dan ini akan membuat bertambahnya biola berbagai bentuk dan ukuran sepatu yang tidak sesuai, seperti pembersih (clerks), dokter gigi, penjaga tiket, tukang cukur pasti memerlukan sepatu ketika bekerja (Santoso, 2004).


Apabila sepatu tidak pas maka sangat mungkin akan sobek dan terjadi bengkak pada jari kaki, mata kaki, dan bagian sekitar telapak kaki. Sepatu yang baik adalah yang dapat manahan kaki (tubuh) dan kaki tidak direpotkan untuk menahan sepatu, desain sepatu harus lebih longgar dari ukuran telapak kaki dan apabila bagian sepatu dikaki terjadi penahanan yang kuat pada tali sendi (ligaments) pergelangan kaki, dan itu terjadi dalam waktu yang lama, maka otot rangka akan mudah mengalami kelelahan (Santoso, 2004).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Storyboard adalah


Beberapa penelitian telah berusaha untuk mengurangi kelelahan pada tenaga kerja dengan posisi berdiri, contohnya yaitu seperti yang diungkapkan Granjean (dalam Santoso, 2004) merekomendasikan bahwa untuk jenis pekerjaan teliti, letak tinggi meja diatur 10 cm di atas siku. Untuk jenis pekerjaan ringan, letak tinggi meja diatur sejajar dengan tinggi siku, dan untuk pekerjaan berat, letak tinggi meja diatur 10 cm di bawah tinggi siku (Santoso, 2004).


  • Proses Kerja

Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur (Wignjosoebroto, 2003).


Istilah anthropometri berasal dari kata anthro yang berarti manusia dan metri yang berarti ukuran. Anthropometri dapat didefinisikan sebagai satu studi yang berkaitan dengan ukuran dimensi tubuh manusia. Data anthropometri sangat penting dalam menentukan alat dan cara mengoperasikannya.


Kesesuaian hubungan antara anthropometri pekerja dengan alat yang digunakan sangat berpengaruh pada sikap kerja, tingkat kelelahan, kemampuan kerja dan produktivitas kerja. Anthropometri juga dapat ditentukan dalam seleksi penerimaan tenaga kerja, misalnya orang gemuk tidak cocok ditempat pekerjaan yang bersuhu tinggi, pekerjaan yang memerlukan kelincahan, dll.


Data anthropometri dapat digunakan untuk mendesai pakaian, tempat kerja, lingkungan kerja, mesin, alat kerja dan sarana kerja serta produk-produk untuk konsumer (Nurmianto, 2003).


Menurut Nurmianto (2003) dalam mengukur data anthropometri banyak ditemui perbedaan-perbedaan atau sumber validitas yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran yang pada akhirnya akan digunakan dalam perancangan suatu produk.


Adapun faktor-faktor yang turut mempengaruhi dimensi tubuh manusia yang menyebabkan timbulnya perbedaan antar populasi yaitu jenis kelamin, usia, jenis pekerjaan, dan faktor kehamilan pada wanita (Nurmianto, 2003).


  • Tata Letak Tempat Kerja

Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata (Manuaba, 2000).


  • Mengangkat Beban

Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan, punggung dan sebagainya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan (Wignjosoebroto, 2003).


Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan mengangkat dan mengangkut adalah sebagai berikut : (Wignjosoebroto, 2003)

  1. Beban yang diperkenakan, jarak angkut dan intensitas pembebanan.
  2. Kondisi lingkungan kerja yaitu keadaan medan yang licin, kasar, naik turun dll.
  3. Keterampilan bekerja
  4. Peralatan kerja beserta keamanannya

Harus diperhatikan juga cara mengangkut beban. Cara-cara mengangkut dan mengangkat yang baik harus memenuhi 2 prinsip kinetis yaitu : (Wignjosoebroto, 2003)

  • Beban diusahakan menekan pada otot tungkai yang keluar dan sebanyak mungkin otot tulang belakang yang lebih lemah dibebaskan dari pembebanan.
  • Momentum gerak badan dimanfaatkan untuk mengawali gerakan.

Ergonomi dalam Lingkungan Kerja

Hal ini dimaksudkan dalam pencapaian ergonomi di lingkungan kerja (Mashud, 2008).


  • Mouse

Mouse ini merupakan alat untuk menggerakkan kursor. Mouse harus pada ketinggian di mana lengan, pergelangan tangan, dan tangan sejajar. Penggunaan mouse dilakukan dengan menggerakkan bahu dan lengan atas, bukan pergerakan pergelangan tangan. Tempatkan mouse sedemikian rupa sehingga tidak perlu menggapai terlalu jauh dari jangkauan tangan (dekat ke keyboard adalah yang terbaik) (Mashud, 2008).

Mouse

Pegang mouse dengan posisi pergelangan tangan dan jari sejajar dengan lengan bawah. Hal ini dapat menghindari terjadinya kekakuan otot dan tendon (Sweere, 2005).

Cara Memegang Mouse


  • Keyboard

Keyboard adalah peralatan untuk input. Data atau perintah dapat dimasukkan ke dalam komputer melalui keyboard. Jadi, keyboard merupakan penghubung antara manusia dan komputer. Jenis keyboard ada beberapa macam, tetapi yang paling sering digunakan adalah jenis qwerty (Mashud, 2008).


Sejak awal keyboard qwerty diciptakan belum terlalu memperhatikan masalah ergonomi, sehingga sangat memungkinkan timbulnya gangguan atau keluhan terhadap tubuh manusia. Keyboard Qwerty ternyata belum memberikan beban yang sama untuk jari- jari tangan kiri dan tangan kanan (Mashud, 2008).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Tarian Daerah 34 Provinsi Beserta Gambar dan Asal Daerahnya


Pengguanaan keyboard adalah dengan meletakkan pergelangan tangan dan jari segaris dengan lengan bawah, untuk memberikan rileks pada otot dan tendon yang ada di tempat tersebut (Sweere, 2005).

Cara Menggunakan Keyboard


  • Layar/Monitor

Layar komputer atau monitor adalah peralatan untuk menampilkan obyek yang akan ditampilkan. Obyek tersebut bisa tulisan, angka, ataupun gambar. Bentuk layar komputer juga terus mengalami perubahan. Monitor harus sejangkauan lengan atau lebih jauh dari mata.


Kebijakan ergonomi konvensional umumnya menyarankan bahwa pusat layar monitor seharusnya pada titik di mana tatapan mata jatuh secara alamiah dan monitor harus agak miring untuk menyesuaikan dengan sudut pandang seseorang. Penyangga monitor yang dapat disesuaikan akan membantu membuat penyesuaian (Ankrum, 2004).


Agar dapat bekerja dengan nyaman, monitor komputer dirancang berpijak pada poros yang bisa digerakkan ke segala arah, sehingga posisi dan jarak serta sudut kemiringannya dapat diatur. Pekerjaan komputer merupakan jenis pekerjaan dekat yang berbeda dengan jenis pekerjaan dekat lain dimana dilakukan sambil menatap menyudut ke bawah tetapi, pekerjaan komputer harus menatap pada sudut horizontal pandangan ergonomis merekomendasikan adaptasi pekerja dengan lingkungan kerja atau menyesuaikan lingkungan kerja dengan pekerjanya (Abeysekera, 2002).


Monitor komputer harus berada tepat di hadapan operator, karena tampilan di layar perlu dicermati. Pekerjaan terampil dan cermat hanya bisa dilakukan sambil duduk, maka monitor harus sejajar dengan garis pandang mata operator sehingga paling tepat posisinya di atas meja (Yale University, 2005). Rekomendasi tinggi layar monitor komputer berada sejajar atau sedikit di bawah (antara 2,5-5 cm) garis mata operator saat duduk rileks dan nyaman (Sweere, 2005).


Posisi monitor yang diatur adalah: a. tinggi dari permukaan lantai; b. sudut kemiringan permukaan horizontal dan vertikal; serta c. jarak dengan operator. (Cornell University, 2004; FEOSH, 2005; Ankrum 2005).


  • Tinggi dari permukaan lantai

Bagian atas minimal sejajar dengan garis mata operator, karena posisi istirahat melakukan fokus sekitar 5-76 cm di bawah garis mata (Cornell University, 2004). Rekomendasi tinggi monitor sejajar atau sedikit di bawah garis mata saat duduk rilaks, Kecuali pada pemakai kaca mata dengan lensa ganda ketinggian monitor harus diatas garis mata. (Sweere 2005).


  • Sudut kemiringan permukaan horizontal dan vertikal

Kemiringan permukaan monitor antara 10 – 200 cukup ideal, tergantung ukurannya. Kemiringan tesebut dimaksudkan agar silau bisa berkurang (McCormik & Sanders, 1987; Sweere, 2005). Sudut horizontal diatur agar memungkinkan operator memperoleh sudut pandang terbaik. Bidang pandang adalah 15-500 di bawah garis pandang horizontal mata, atau 10 – 200 agar kenyamanan tidak terganggu tetapi antara 15-350 (Ankrum, 2005).


Hal ini juga direkomendasikan oleh FEOSH, 2005. Berdasarkan penemuan yang sudah dikonfirmasikan, berupa permukaan strees pada otot punggung dan leher menggunakan elektromyalgram sudah menjadi ketetapan ISO 9241-5.


  • Jarak dengan operator

Jarak jarak pandang adalah bervariasi “ garis pandang normal”, karena melihat objek jauh sangat nyaman dengan pandangan lurus dan datar (Ankrum, 2005). Mata melihat kebawah agar mudah melakukan akomodasi dan pemusatan , jarak sebaiknya 76,2 cm atau lebih (Ankrum, 2005; Sweere, 2005). Pabrik menetapkan lebih besar dari 40 cm, jarak pandang optimum posisi duduk 60 cm.


FEOSH (2005) menyatakan kebanyakan operator memilih jarak pandang 45-75 cm, lainnya lebih senang 50,8-66cm, rekomendasi jarak pandang 45,7-71,1cm sudah diakui standar ergonomic (Sweere, 2005). VDU harus tetap pada fokus yang tepat, maka ditempatkan jauh dan lebih tinggi dari ketentuan jarak membaca (McDowell, 2005). Maksudnya agar bagian permukaan terlihat, tanpa mengubah posisi kepala sehingga teks kecil diatasi dengan memperbesar ukuran atau bidang gambar daripada mendekatkannya (Ankrum, 2005).

Posisi Tubuh Terhadap Monitor


  • Meja Komputer

Beberapa persyaratan yang dibutuhkan untuk sebuah meja komputer ergonomis adalah : (Mashud, 2008)

  1. Meja dibuat dekat dengan pengguna agar terhindar dari penjangkauan yang terlalu jauh.
  2. Permukaannya harus dibuat sedemikian rupa agar tidak memancarkan cahaya silau.
  3. Memiliki tempat pergerakan kaki yang cukup.
  4. Tinggi permukaan kerja untuk keyboard dibedakan dengan tinggi untuk monitor komputer.
  5. Mempunyai jarak yang cukup antara kursi dan monitor komputer.
  6. Cukup untuk ruang dari peralatan yang digunakan.

Konstruksi dan ukuran dari meja/ kursi harus disesuaikan dengan ukuran dari tubuh manusia (antropometri) yang akan menggunakannya. Kesesuaian ini akan menciptakan kenyamanan dan efisiensi dalam bekerja. Ukuran yang sesuai dengan antropometri orang Indonesia adalah sebagai berikut : (Mashud, 2005).


  • Tinggi meja

Tinggi permukaan atas dari meja kerja dibuat setinggi siku dan disesuaikan dengan sikap tubuh pada waktu bekerja. Untuk sikap duduk, tinggi meja yang diusulkan adalah 64 – 74 cm yang diukur dari permukaan daun meja sampai ke lantai.


  • Tebal daun meja

Tebal daun meja dibuat sedemikian rupa sehingga dapat memberikan kebebasan bergerak pada kaki. Jarak antara permukaan bawah daun meja dengan permukaan atas alas duduk > 15 cm.


  • Permukaan meja

Permukaan meja harus rata dan tidak menyilaukan.


  • Lebar meja

Lebar meja tidak melebihi jarak jangkauan tangan pekerja. Ukuran yang diusulkan adalah kurang dari 80 cm (Laurensia, 2004).


  • Kursi Komputer

Kursi yang ergonomis dapat membantu mengatur posisi tulang belakang pada postur yang optimal dengan memberikan pendukung yang tepat. Kursi komputer disini memiliki syarat dan ketentuan pembuatan sesuai dengan kursi kerja lainnya sebagaimana telah dijelaskan pada poin sebelumnya.


Masalah Akibat Lingkungan Kerja yang Tidak Ergonomi

Masalah terbesar yang dihadapi para pekerja setelah melakukan pekerjaannya adalah kelelahan. Menurut Tarwaka (2004) kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemuliham setelah istirahat.


Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Pembebanan otot secara statispun (static muscular loading) jika dipertahankan dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition Strain Injuries), yaitu nyeri otot, tulang, tendon, dan lain-lain yang diakibatkan oleh jenis pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive) (Nurmianto, 2003).


Sebab-sebab kelelahan yang utama adalah pekerjaan yang monoton, beban dan lama kerja terlalu berat, lingkungan pekerjaan, sakit dan gizi yang buruk, dan kurangnya waktu istirahat (Nurmianto, 2003).


Lamanya pekerja dalam sehari yang baik pada umumnya 6-8 jam sisanya untuk istirahat atau kehidupan dalam keluarga dan masyarakat. Dalam hal lamanya kerja melebihi ketentuan-ketentuan yang ada, perlu diatur istirahat khusus dengan mengadakan organisasi kerja secara khusus pula.pengaturan kerja demikian bertujuan agar kemampuan kerja dan kesegaran jasmani serta rohani dapat dipertahankan (Nurmianto, 2003).


Dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan jenis kelelahannya, beberapa ahli membedakan/membaginya sebagai berikut :


  • Kelelahan fisik

Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat dikompensasi dan diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau tidak terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat dan tidur yang cukup (Manuaba, 2000).


  • Kelelahan yang patologis

Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya muncul tiba-tiba dan berat gejalanya (Manuaba, 2000).


  • Psikologis dan emotional fatique

Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan sejenis “mekanisme melarikan diri dari kenyataan” pada penderita psikosomatik. Semangat yang baik dan motivasi kerja akan mengurangi angka kejadiannya di tempat kerja (Manuaba, 2000).


Gejala klinis dari kelelahan adalah perasaan lesu, ngantuk, dan pusing, sulit tidur, kurang atau tidak mampu berkonsentrasi, menurunnya tingkat kewaspadaan, persepsi yang buruk dan lambat, tidak ada atau berkurangnya keinginan untuk bekerja, dan menurunnya kesegaran jasmani dan rohani (Manuaba, 2000).


Jika kelelahan yang terjadi sudah dalam batas waktu kronis, maka gejala yang ditimbulkan adalah meningkatnya ketidaksatbilan jiwa, depresi, dan meningkatnya sejumlah penyakit fisik (Manuaba, 2000).


Upaya penanggulangan Kelelahan

Upaya kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahan, meskipun seseorang mempunyai batas ketahanan, akan tetapi beberapa hal dibawah ini akan mengurangi kelelahan yang tidak seharusnya terjadi : (Manuaba, 2000; Nurmianto, 2003)

  1. Lingkungan harus bersih dari zat-zat kimia. Pencahayaan dan ventilasi harus memadai dan tidak ada gangguan bising,
  2. Jam kerja sehari diberikan waktu istirahat sejenak dan istirahat yang cukup saat makan siang.,
  3. Kesehatan pekerja harus tetap dimonitor,
  4. Tempo kegiatan tidak harus terus menerus,
  5. Waktu perjalanan dari dan ke tempat kerja harus sesingkat mungkin, kalau memungkinkan,
  6. Secara aktif mengidentifikasi sejumlah pekerja dalam peningkatan semangat kerja,
  7. Fasilitas rekreasi dan istirahat harus disediakan di tempat kerja,
  8. Waktu untuk liburan harus diberikan pada semua pekerja,
  9. Kelompok pekerja yang rentan harus lebih diawasi misalnya;

  • Pekerja remaja dan usia tua
  • Wanita hamil dan menyusui
  • Pekerja shift
  • Para pekerja yang mempunyai kebiasaan pada alkohol dan zat stimulan atau zat addiktif lainnya perlu diawasi

Demikianlah pembahasan mengenai Ergonomi adalah – Prinsip, Sejarah, Tujuan, Metode & Aplikasi semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Butuhkan