Fase Pertumbuhan Ikan

Diposting pada

Ikan merupakan salah satu bahan makanan yang sering dikonsumsi oleh manusia karena memiliki banyak kandungan gizi yang baik bagi manusia. Menurut Astawan (2004), ikan memiliki kandungan asam amino esensial yang cukup lengkap dan sangat diperlukan bagi manusia. Namun, ikan merupakan salah satu perishable food sehingga sangat mudah mengalami proses pembusukan dan menjadi rusak akibat berbagai macam faktor.

Fase-Pertumbuhan-Ikan

Untuk memperpanjang umur simpan dari ikan, perlu dilakukan penanganan yang tepat setelah ikan tersebut mati dan masuk ke fase rigor mortis. Salah satu hal yang dapat memperpanjang umur simpan adalah suhu lingkungan penyimpanan ikan. Pada suhu penyimpanan yang rendah seperti penyimpanan pada refrigerator, umur simpan ikan menjadi lebih baik. Hal ini dikarenakan pertumbuhan bakteri dan aktivitas biokimia seperti enzim menjadi terhambat dan kualitas mutu ikan dapat dipertahankan.


Pengertian Ikan

Ikan merupakan salah satu komoditas pangan yang berlimpah dan umum dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat di Indonesia. Ikan juga merupakan salah satu bahan pangan yang kaya akan protein dikarenakan absorpsi protein ikan lebih tinggi dibandingkan dengan produk hewani lainnya baik daging sapi dan ayam.

Daging ikan memiliki serat-serat protein yang lebih pendek dibandingkan pada daging sapi dan ayam. Tidak hanya itu, ikan juga kaya akan berbagai vitamin dan mineral serta asam lemak esensial seperti omega-3 dan omega-6 yang sangat bermanfaat bagi tubuh serta asam amino lengkap yang dibutuhkan oleh tubuh.

Biasanya dalam 100 gram daging ikan segar terkandung 18 gram protein sedangkan dalam 100 gram ikan kering terdapat 40 gram protein. Akan tetapi, kandungan protein dari ikan juga tergantung dari jenis ikan (Pangkey, 2011). Tentunya terdapat berbagai jenis ikan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Beberapa diantaranya adalah ikan mujair, nila dan mas.


Jenis-Jenis Ikan

Berikut adalah jenis-jenis ikan, antara lain:


  • Ikan Mujair

Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) merupakan salah satu jenis ikan air tawar bertulang belakang yang berasal dari perairan Afrika. Ikan ini merupakan ikan tropis yang menyukai perairan yang dangkal dan tergolong sebagai jenis ikan yang tahan terhadap perubahan lingkungan. Salinitas yang optimal untuk pertumbuhan ikan mujair adalah 35 ppm. Bagian kepala ikan mujair menyerupai ikan nila yaitu kerucut dan oval pada bagian depan. Mata ikan mujair berwarna kemerahan, kehitaman dan terdapat juga yang berwarna kecokelatan. Bentuk badannya pipih dan memanjang, memiliki sisik kecil, terdapat garis vertikal pada bagian tubuhnya dan garis berwarna merah pada sirip ekornya. Warna ikan mujair dipengaruhi oleh lingkungan atau habitat ikan tersebut. Suhu yang optimal untuk pertumbuhan ikan mujair adalah sekitar 20-27oC. Kandungan protein dari ikan mujair adalah sebesar 18.2% dan lemak 0.7% (Harahap, 2014).


  • Ikan Mas

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Biasanya habitat ikan ini adalah kolam-kolam air tawar tertentu, pada sawah bersamaan dengan padi, danau-danau serta perairan umum lainnya. Berbeda dengan ikan mujair dan nila, ikan mas sangatlah peka terhadap perubahan lingkungan namun ikan mas dapat bertahan hidup pada lingkungan perairan dengan kadar oksigen terlarut rendah dan juga pada situasi supersaturasi. Suhu optimum untuk pertumbuhan ikan mas adalah 25-30oC dengan salinitas 35-30 ppt (Rudiyanti dan Ekasari, 2009). Ciri-ciri dari ikan mas adalah memiliki badan memanjang dan sedikit pipih ke samping, sirip berukuran besar, ekor berbentuk cagak dan berukuran cukup besar, sisik berbentuk lingkaran dan mulut terletak di ujung tengah. Kandungan protein pada ikan mas adalah sebesar 18.3% dan lemak sebesar 5.8%.


  •  Ikan Nila

Oreochromis niloticus atau yang biasa dikenal sebagai ikan nila merupakan salah satu hasil perikanan air tawar yang diminati oleh masyarakat Indonesia. Ikan nila memiliki rasa yang spesifik, daging yang padat, mudah disajikan, jumlah duri yang sedikit, mudah didapatkan serta harganya relatif terjangkau. Rupa dari ikan nila menyerupai ikan mujair namun punggung ikan nila lebih tinggi dan tebal.

Garis-garis vertikal di sepanjang tubuh lebih jelas dibanding badan sirip ekor dan sirip punggung, mata menonjol dan relatif besar dengan tepi bagian mata berwarna putih juga menjadi salah satu ciri khas ikan nila. Kandungan protein pada daging ikan nila sebesar 17.5%, lemak 4.7% dan air 74.8%. Keunggulan lainnya dari ikan nila adalah ikan nila tergolong mudah untuk dibudidayakan, relatif tahan terhadap perubahan lingkungan serta berbagai penyakit.

Suhu pertumbuhan normal pada ikan nila sekitar 14-38oC sedangkan pada suhu dibawah 6oC dan diatas 42oC ikan nila dapat mengalami kematian. Tingkat salinitas yang cocok untuk pertumbuhan ikan nila adalah 0-28 ppt sedangkan pada salinitas diatas 29 ppt, pertumbuhannya dapat terganggu (Ardita et al., 2015).


Fase Pertumbuhan Ikan

Berikut ini adalah fase pertumbuhan ikan, antara lain:


1. Fase Luar

  1. Makanan (kualitas dan kuantitas)
  2. Kimia perairan (kekeruhan, 02, C02, pH, alkalinitas, NH3, H2S)
  3. Suhu perairan; Di daerah yang bermusim 4suhu optimum untuk pertumbuhan adalah sebelum & sesudah musim panas. Pada waktu ini disebut musimpertumbuhan. Sedangkan di daerah Tropis suhu padaumumnya optimum

2. Fase Dalam

  1. Faktor seksual, pada waktu terjadi kematangangonad pertama kali pertumbuhan menjadi lambatkarena energi digunakan untuk pembuatan sarang,pemijahan dan penjagaan keturunan.-
  2. Umur, umur ikan antara 3 -5 pertumbuhan cepat,ikan tua pertumbuhan lambat, karena energi digunakanuntuk pemeliharaan tubuh & pergerakan.
  3. Penyakit, terutama penyakit yang menyerang sistempencernaan atau organ vital, sehingga energi digunakanuntuk penyembuhan.

Menghitung Pertumbuhan Ikan


  • Berat

Wt = Wo egt

gt = In Wt/Wo

Keterangan,

Wt = Berat pada waktu t

Wo = Berat awal

G=koefisien pertumbuhan


  • Panjang

Lt = L∞ [1 – e-K(t-to)]

Lt = L∞ (1 – e-Kt) + Lo e-Kt

Keterangan,

Lt = Panjang pada waktu t

L∞ = Panjang maksimum

Lo = Panjang awal


  • Kelangsungan hidup (SR)

SR% = Nt/No x 100%

Keterangan,

SR = Kelangsungan Hidup

Nt = Jumlah ikan saat waktu t

No = Jumlah ikan saat waktu 0


  • Pertumbuhan Spesifik

SGR = (W B/Bo – 1) x 100%

Keterangan,

SGR = Laju pertumbuhan

W     = Waktu yang dibutuhkan

B     = Berat tubuh akhir (gr)

Bo = Berat tubuh awal (gr)


Faktor-Faktor Mempengaruhi Terjadinya Penetasan

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penetasan yakni keberadaan oksigen, temperature dan cahaya.
Dalam beberapa percobaan menunjukkan bahwa akibat kekurangan oksigen mampu menstimulasi aktivitas pernapasan dari embrio dan nampaknya ada keterkaitan antara aktivitas pernapasan embrio dan penetasan. Temperature juga merupakan faktor lingkungan yang penting dalam proses penetasan.

Dalam peningkatan temperature juga dapat menstimulasi sekresi enzim penetasan. Sekali enzim diekskresi maka pencernaan karion menjadi lebih cepat pada temperatur yang tinggi dibandingkan dengan temperatur rendah, menyebabkan penetasan lebih cepat. Untuk faktor lingkungan lain yang di duga mempengaruhi penetasan ialah cahaya. Pada faktor ini nampak bahwa sekresi enzim penetasan dikontrol oleh stimulasi fotoreseptor “mata dan atau kelenjar pineal”, mungkin melalui sistem saraf pusat.

Beberapa faktor lain yang mempengaruhi sekresi enzim penetasan pada ikan. Efinefrin dan MS-222 dengan konsentrasi rendah mampu mempercepat sekresi enzim penetasan pada embrio fundulus sedangkan tobocurarine, atropine dan MS-222 dengan konsentrasi tinggi mampu menghambat sekresi.


Faktor yang Mempengaruhi Kerusakan pada Ikan

Kandungan nutrisi yang tinggi pada ikan menyebabkan ikan tergolong sebagai bahan pangan yang bersifat high risk. Daging ikan lebih cepat mengalami kerusakan dibandingkan daging mamalia dan unggas dikarenakan jumlah tendon yang sedikit didalam tubuh ikan sehingga sangat mudah dicerna oleh enzim yang terdapat secara alami pada ikan yang dapat menyebabkan autolisis.

Oleh karena itu, proses pembusukan pada ikan menjadi lebih cepat dibandingkan jenis daging lainnya. Selain itu, kandungan asam lemak tidak jenuh yang cukup tinggi pada ikan menyebabkan ikan mudah sekali mengalami oksidasi dan mengakibatkan adanya bau tengik.

Peranan kontaminasi mikroorganisme dalam ikan juga perlu diperhatikan karena dapat membuat ikan cepat mengalami pembusukan. Kadar air yang tinggi sangat mengundang mikroorganisme untuk tumbuh. Mikroorganisme yang tumbuh antara lain adalah Pseudomonas sp., Salmonella sp., dan sebagainya.

Penyimpanan ikan setelah ditangkap juga sangat penting. Ikan harus disimpan dalam kondisi yang tepat agar tidak cepat mengalami pembusukan. Kondisi penyimpanan seperti kelembaban dan suhu harus diperhatikan. Ikan yang disimpan dalam kondisi suhu yang rendah akan mempengaruhi umur simpan nya. Hal ini dikarenakan suhu rendah dapat menghambat aktivitas mikroorganisme dan enzim.


Demikianlah pembahasan mengenai Fase Pertumbuhan Ikan: Pengertian, Jenis, Menghitung dan Faktor semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂


Baca Juga:

Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Butuhkan