Jaringan Sklerenkim

Jaringan Sklerenkim

Jaringan Sklerenkim – Ciri, Letak, Jenis dan Struktur – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Jaringan Sklerenkim yang dimana dalam hal ini meliputi ciri, letak, jenis dan struktur, untuk lebih memahami dan mengerti simak ulasan dibawah ini.

Jaringan Sklerenkim

Jaringan Sklerenkim

Kata sklerenkim berasal dari bahasa Yunani : sclerous (keras) dan enchyma (seduhan/infusi), jadi jaringan sklerenkim adalah jaringan yang tersusun dari sel-sel dengan dinding sel berpenebalan sekunder, berlignin atau tidak.


Fungsi utama dari jaringan sklerenkim adalah sebagai penguat atau penyokong dan kadang-kadang sebagai pelindung pada tanaman.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Pengetahuan Tentang Jaringan Tumbuhan


Ciri-Ciri Jaringan Sklerenkim

Berikut ini terdapat beberapa ciri-ciri jaringan sklerenkim, diantaranya adalah:

  1. Memiliki dinding sel yang tebal dan keras
  2. Dinding sel kenyal (elastis), bersifat primer, sekunder bahkan tertier
  3. Sel-sel dewasa mati dan tidak mengandung protoplas
  4. Mengandung lignin
  5. Kadar air rendah
  6. Terdapat di berbagai tempat dalam tubuh tumbuhan

Letak jaringan sklerenkim

Jaringan sklerenkim terdiri atas sel-sel yang bersifat mati dan seluruh bagian dinding selnya mengalami penebalan. Letaknya adalah di bagian korteks, perisikel, serta di antara xilem dan floem. Jaringan sklerenkim pada bagian keras biji dan buah berupa sklereida.


Sklereid juga terdapat di berbagai bagian tubuh. Sel-selnya membentuk jaringan yang keras, misalnya pada tempurung kelapa, kulit biji dan mesofil daun. Serabut berbentuk pita dengan anyaman menurut pola yang khas. Serabut sklerenkim banyak menyusun jaringan pengangkut.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Jaringan Kolenkim


Sklerenkim ada dua jenis, yaitu berbentuk fiber (serat) misalnya rami, dan slereida pada kulit kacang atau kulit biji. Fungsi jaringan sklerenkim adalah sebagai alat penyokong dan pelindung.


Jenis-Jenis Jaringan Sklerenkim

Jenis-Jenis Jaringan Sklerenkim

Berikut ini terdapat beberapa jenis-jenis jaringan sklerenkim, diantaranya adalah:


A. Serabut

Secara ontogeni, serabut berkembang dari meristem yang berbeda-beda, misalnya prokambium, kambium, meristem dasar, bahkan pada spesies tertentu dari Gramineae dan Cyperaceae, serabut berkembang dari protoderm.


Serabut mungkin juga berkembang dari sel parenkima, misalnya pada protofloem banyak tumbuhan dikotil. Serabut yang dibentuk oleh kambium berasal dari inisial fusiform dan dalam perkembangannya hanya memanjang sedikit atau tidak memanjang sama sekali.


Serabut sklerenkim biasanya sangat panjang dan sempit dengan ujung runcing dan kadang-kadang bercabang. Pada Cannabis sativa (hemp) panjang serabutnya 0,5-5,5 cm, pada Linum usitatissimum (flax) panjangnya 0,8-6,9 cm dan pada rami (Boehmeria nivea) menurut Aldaba yang mendapatkan serabut rami dengan maserasi khusus didapat serabut yang panjangnya mencapai 55 cm.


Serabut rami tersebut termaksud diantara sel-sel terpanjang pada tumbuhan tinggi (Setjo, dkk: 2004).


1. Bentuk dan pola serabut

Serabut terdapat pada bagian tubuh tumbuhan. Serabut mungkin tampil tunggal sebagai idioblas, yaitu sel yang berbeda dalam ukuran atau isinya dengan sel sel sekitarnya (misalnya pada anak daun Cycas), namun yang lebih sering serabut tampil sebagai pita, membentuk jaring-jaring, atau membangun bentuk silinder yang utuh.


Serabut paling umum terdapat pada jaringan vasikuler, meskipun demikian pada banyak tumbuhan serabut juga berkembang dengan baik di jaringan dasar. Pada batang tumbuhan dikotil dan monokotil serabut teratur dalam beberapa pola yang khas.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Tumbuhan Monokotil


Pada banyak Gramineae serabut membentuk suatu sistem yang mempunyai bangun silindris berusuk, yang rusuknya berhubungan dengan epidermis.


Serabut mungkin mencolok pada daun monokotil, seabut ini membentuk selubung yang menutupi berkas vaskular, atau berupa berkas-berkas yang terbentang antara epidermis dan berkas vaskular, atau berkas-berkas subepidermis yang tidak berhubungan dengan berkas vaskular.


Pada batang tumbuhan dikotil, serabut sering terdapat pada bagian terluar floem primer, yang membentuk berkas-berkas saling tumpang tindih (anastomosis) yang ekstensif atau lempeng-lempeng tangensial.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Tumbuhan Dikotil – Ciri, Klasifikasi, Struktur dan Contohnya


Pada beberapa tumbuhan tidak ada serabut selain serabut periferal (serabut floem primer) yang ada di floem (Nerium, Linum, Betula, Alnus). Tumbuhan lainnya mempunyai serabut pada floem skunder, ada yang sedikit (Nicotiana, Boehmeria, Ulmus) atau banyak (Tilia, Vitis, Clematis, Magnolia, Juglans).


Beberapa tumbuhan dikotil mempunyai silinder serabut yang penuh, mungkin dekat dengan jaringan vaskular (Geranium, Pelargonium) atau berjarak dari jaringan vaskular, namun tetap di sisi dalam dari lapisan terdalam korteks (Aristolochia, Curcubita).


Pada batang tumbuhan dikotil yang tidak mengalami pertumbuhan skunder berkas vaskular yang terisolasi mungkin diiringi oleh berkas-berkas serabut disebelah luar maupun dalam (Polygonum, Rheum). Tumbuhan yang memiliki floem dalam mungkin mempunyai serabut yang menyertai floem dalam (Nicotiana).


Letak yang sangat khas bagi serabut tumbuhan biji tetutup ialah xilem primer dan sekunder dengan tatanan yang bervariasi. Akar memperlihatkan penyebaran serabut sama dengan yang terdapat pada batang dan mungkin mempuyai serabut pada tubuh primer dan tubuh sekunder.


Tumbuhan biji terbuka biasanya tidak mempunyai serabut pada floem primer, tetapi banyak diantaranya mempunyai serabut pada floem sekunder. Serabut korteks kadang-kadang dijumpai pada batang.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Jaringan Epidermis


2. Klasifikasi serabut

Menurut Susetyoadi Setjo (2004), serabut dibedakan menjadi dua tipe dasar berdasarkan letak dalam tubuh tumbuhan yaitu, serabut silar dan serabut ekstrasilar. Serabut silar adalah serabut yang terdapat didalam xilem sedangkan serabut ekstrasilar ialah serabut yang terdapat diluar xilem.


Serabut silar berkembang dari jaringan meristematik yang sama dengan asal-usul sel-sel xilem lainnya dan menjadi bagian integral xilem.


Serabut silar dibagi lebih lanjut menjadi dua kategori utama yaitu, serabut trakeid dan serabut libriform; perbedaan kedua tipe serabut ini berdasarkan ketebalan dinding dan tipe serta jumlah noktah yang dimiliki.


Serabut libriform (liber = pepagan dalam) mirip serabut floem, biasanya lebih panjang dari pada trakeid tumbuhan tempat serabut libriform ini berada, berdinding sangat tebal dari pada trakeid.


Serabut trakeid adalah bentuk transisi antara trakeida dan serabut libriform. Noktah pada serabut trakeid adalah noktah berhalaman tetapi ruang noktahnya lebih sempit daripada yang dimiliki noktah trakeida.


Selain serabut libriform dan serabut trakeid, ada lagi tipe serabut lain yang terdapat pada xilem sekunder tumbuhan dikotil, yaitu serabut lendir atau serabut gelatinus.


Pada serabut lendir lapisan terdalam dinding sekundernya mengandung banyak alfa selulose dan sedikit lignin. Lapisan ini disebut lapisan-G, menyerap banyak air dan dapat membengkak sehingga mengisi seluruh lumen serabut.


Pada saat kekeringan lapisan ini mengkeriput secara irreversibel. Lapisan-G relatif berpori dan kurang rapi dibandingkan lapisan luar dekatnya.

Klasifikasi serabut

Serabut silar adalah serabut dari xilem dan serabut ekstrasilar adalah serabut yang berlokasi diluar xilem. Diantara serabut ekstasilar ada serabut phloem.


Serabut phloem banyak terdapat di batang. Pada batang rami (Linum usitatissium) hanya mempunyai satu pita serabut, beberapa lapisan didalam, terletak di sekeliling sebelah luar dari silinder vasikular.


Serabut ini mula-mula berada pada bagian dari phloem primer (protophloem) namun, menjadi seperti serabut setelah bagian dari phloem berhenti untuk berkordinasi (Evert: 1965).

Bagian transverse pada batang rami


3. Protoplas serabut

Protoplas dalam serabut sekunder yang berkembang biasanya mempunyai inti tunggal. Pada serabut dewasa protoplas hidup dan intinya hanya didapatkan pada serabut floem dan serabut bersekat.


Serabut libriform kadang-kadang tetap terisi oleh protoplas meskipun dinding sekundernya telah menebal dan berlignin, sehingga dianggap sel ini berfungsi sebagai penyimpanan cadangan makanan selain sebagai jaringan penguat.


Sekarang telah ditemukan protoplas hidup dan inti pada serabut libroform banyak spesies bahkan juga pada serabut trakeid (Setjo, dkk: 2004).


4. Struktur dan kegunaan serabut

Serabut adalah sel sklerenkim yang panjang, sel meruncing yang struktural mendukung jaringan vasikuler di beberapa batang dan daun.


Mereka fleksibel dan memutar, namun menolak peregangan. Kita menggunakan serebut dari beberapa tamanan dalam pembuatan kain, tali, kertas dan produk kosmetik. (Starr, dkk: 2011).


Menurut Susetyoadi Setjo, dkk (2004) serabut komersial dibagi menjadi dua tipe, yaitu serabut keras dan serabut lunak. Serabut keras adalah serabut yang dinding selnya mengandung lignin banyak dan bertekstur kaku, diperoleh dari tumbuhan monokotil.


Serabut lunak mungkin mengandung lignin, mungkin juga tidak, serabut ini fleksibel dan elastis, serta berasal dari tumbuhan dikotil. Serabut juga diklasifikasikan menurut kegunaannya, yaitu:

  • Serabut tekstil, yaitu yang digunakan untuk industri pabrik.
  • Serabut tali
  • Serabut sikat, digunakan untuk industri sikat dan sapu

Serabut pengisi, seperti yang digunakan sebagai pengisi pembalut, matras, sabuk pengaman, dempul (tong terbuat dari kayu, pipa/tangki air) dan penguat (pelapis dinding, plastik).


B. Sklereid

Sklereid

Sklereid dapat berasal dari parenkim atau jaringan meristematik. Sklereid terjadi dari sel parenkim biasa yang mengalami sklerosis (sklerosis sekunder) atau dari sel-sel yang sejak awal adalah primordia sklereid.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Jaringan Parenkim – Ciri, Fungsi, Struktur, Jenis dan Bentuk


Di jaringan vaskular, sklereid berkembang dari sel-sel prokambium dan kambium. Banyak sklereid berdiferensiasi dari sel parenkim dasar atau sel meristem dasar. Pada beberapa daun, sel parenkim yang berkembang menjadi sklereid adalah bagian mesofil spons.


Umumnya sklereid digambarkan sebagai sel yang mati pada waktu dewasa tetapi telah ditemukan ada protoplas yang tetap mampu bertahan sepanjang hidup organ tempat sklereid berada. (Setjo, dkk: 2004).


Klasifikasi Sklereid

Sklereid terdapat di berbagai tempat dalam tumbuhan. Sklereid berhimpun menjadi kelompok sel keras diantara sel parenkim sekelilingnya, misal pada parenkim korteks, empulur batang dan tangkai daun, parenkim akar, mesofil daun, daging buah dan kulit biji.


Letak sklereid dalam jaringan dapat tersebar di sembarang tempat atau pada kedudukan tertentu, misalnya di ujung-ujung urat daun (sklereid terminal) atau di tepi daun. Sklereid umumnya berbentuk lebih pendek dibanding serabut sklerenkim.


Tipe bentuk sklereid :


  • Brakhisklereida (sel batu)

Brakhisklereida (sel batu)

Bentuknya membulat seperti sel parenkim. Biasanya terdapat di floem, korteks dan kulit batang serta daging buah beberapa tumbuhan.

contoh : pada daging buah Pyrus communis


  • Makrosklereida (sel tongkat)

Makrosklereida (sel tongkat)

Bentuknya memanjang, silindris. Sel tongkat menyusun jaringan seperti pagar pada beberapa macam biji buah dan daun xerofit.

contoh : kulit biji Phaseolus vulgaris


  • Osteosklereida (sel tulang)

Osteosklereida (sel tulang)

Bentuknya memanjang dengan bagian ujungnya membesar seperti tulang paha. Sel tulang terdapat pada lapisan hipodermal beberapa kulit biji, buah, dan daun xerofit.

contoh : kulit biji Phaseolus vulgaris


  • Asterosklereida (sel bintang)

Asterosklereida (sel bintang)

Bentuknya bercabang-cabang atau seperti bintang, Umumnya ditemukan pada ruas antar sel daun dan batang xerofit

contoh : pada tangkai dan mesofil daun Camellia sinensis


  • Trikosklereida

Trikosklereida

Bentuk bercabang-cabang sangat panjang, berujung runcing dengan jari-jari yang masuk dalam ruang antar sel seperti trikoma. Terdapat pada daun, akar, batang tumbuhan hidrofit.

contoh : tangkai daun Camellia sinensis


Struktur Sklereid

Dinding sel sklereid bervariasi dalam hal ketebalannya dan secara khas berlignin. Apabila dinding relative tipis, sklereid tidak dapat di bedakan secara nyata dengan parenkim sklerotik, sedangkan sklereid yang berdinding tebal sangat jauh berbeda dengan sel parenkim.


Pada banyak sklereida, lumen hampir penuh dengan timbunan dinding yang massive dan dinding sekunder memperlihatkan noktah-noktah yang mencolok, sering dengan ruang-ruang seperti saluran yang bercabang.


Noktah biasanya sederhana , namun kadang dinding sekunder sedikit memayungi ruang noktah kecil. Pada spesies tertentu terdapat kristal yang terbenam pada dinding sekunder sklereid.


Pada beberapa sklereid penimbunan dinding sekunder tidak merata, sebagai contoh makrosklereida kulit biji leguminoceae sebagian besar timbunan sekunder terletak pada dinding lateral di ujung sel yang membelok ke arah permukaan biji.


Penebalan dinding sekunder ini diletakan dalam bentuk rusuk-rusuk yang teratur secara vertical atau spiral dan yang membagi lumen sel sedemikian sehingga lumen tampak berbentuk bintang pada irisan melintang tegak lurus terhadap sumbu sel.


Asal dan Perkembangan Sklereida

Sklereida terjadi dari sel parenkim biasa yang kemudian mengalami sklerosis atau dari sel-sel yang sejak awal adalah primordia sklereida. Sklerefikasi sel-sel pada floem dapat terjadi setelah jaringan berhenti fungsinya.


Sklereida daun Camellia mulai perkembangannya selama tingkat akhir perluasan daun. Trikosklereida akar udara Monstera berkembang dari sel-sel hasil pembelahan tak imbang pada meristem rusuk korteks.


Di jaringan vaskular, sklereida berkembang dari sel-sel prokambium dan cambium. Sel batu yang ada pada jaringan gabus berasal dari felogen. Makrosklereida kulit biji berasal dari protoderm.


Banyak sklereida berdiferensiasi dari sel parenkim dasar atau sel meristem dasar. Pada beberapa daun sel parenkim yang berkembang menjadi sklereid adalah bagian dari mesofil spons.


Brakisklereida berkembang dari sel parenkim melalui penebalan sekunder dinding sel nya. Dinding sel nya sangat tebal berlapis-lapis dan biasanya terdapat noktah yang bercabang-cabang.


Selama proses penebalan dinding, permukaan dinding sebelah dalam berkurang dan noktah mulai berkembang dari sisi luar dinding sekunder secara bersama.


Bentuk khusus osteosklereida pada kulit biji Pisum sativum ialah selama awal perkembangan osteosklereida ini bagian dinding lateral nya menjadi sangat tebal untuk mencegah pelebaran berlanjut. Ujung sel dindingnya tetap tipis dan melajutkan pelebaran sehinggamenimbulkan struktur khusus bentuk tulang.


Struktur histogenik sklereida yang bercabang-cabang yang terdapat pada daun Nymphaea odorata menunjukan bahwa sklereida berkembang dari sel inisial yang berdinding tipis.


Sel inisial dapat dibedakan dengan sel tetangga pertama kali dari inti dan nukleolusnya yang lebih besar. Sesudah perkembangan awal sel inisial mulai bercabang-cabang membentuk sklereida seperti bentuk dewasanya.


Umumnya sklereida digambarkan sebagai sel mati pada waktu dewasa tapi telah ditemukan protoplas yang mampu bertahan sepanjang hidup organ tempat sklereida berada. Protoplas dalam sel batu buah pir tetap hidup dalam waktu yang relative lama.


Sel kolenkim seringkali mengalami sklerefikasi selama pemasakan organ tempat kolenkim berada. Berbagai bentuk variasi serabut yang luas dan keberadaan bentuk-bentk transisinya memberikan jalan untuk mempelajari evolusi elemen-elemen serabut atau bagian-bagiannya evolusi noktah.


Serabut libiform dan serabut trskeid sampai saat ini biasanya diuraikan sebagai sel-sel mati yang tidak mengandung protoplas dan dihubungkan dengan fungsi mekanik saja, atau kebanyakan memainkan sedikit peran dalam konduksi air dalam membantu unsure-unsur trakeal.


Adanya protoplas hidup dalam serabut libriform dan serabut trskeida menunjukan contoh lebih jauh dari adanya ketidak terbatasan antara berbagai elemen yang membentuk jaringan yang berdiferensiasi tinggi pada tubuh tumbuhan tinggi.


Adanya sklereida idioblastikdi dalam daun tumbuhan pada kelompok taksonomikdan ekologis yang berbeda menimbulkan kesulitan dalam pemahaman makna sklereida tersebut secara evolusioner dan fungsional.


Daftar Pustaka:

  • Anonim.http://175.106.19.29/diknas/file.php/1/PENGETAHUAN%20UMUM/edukasinet/www.e-dukasi.net/mapok/mp_fullf09d.html?id=303&fname=materi08.html pada 27 Februari 2011 pukul 9:44
  • Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : ITB
  • Husen. http://hayubelajar.blogspot.com/2010/12/jaringan-tumbuhan-dan-hewan-bagia-lima.html pada 27 Februari 2011 pukul 9:52
  • Setjo, Susetyoadi., dkk. 2004. Anatomi Tumbuhan. Malang : JICA, Universitas Negeri Malang
  • Dwidjoseputro. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Demikianlah pembahasan mengenai Jaringan Sklerenkim – Ciri, Letak, Jenis dan Struktur semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

Send this to a friend