Klasifikasi Vitamin

Diposting pada

12 Klasifikasi Vitamin – Pengertian, Sejarah, Fungsi & Struktur – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Vitamin yang dimana dalam hal ini meliputi pengertian, sejarah, fungsi, klasifikasi dan struktur, nah agar dapat lebih memahami dan dimengerti simak ulasan selengkapnya dibawah ini.

Klasifikasi-Vitamin

Pengertian Vitamin

Vitamin adalah sekelompok  senyawa organik amina yang sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh tubuh, karena vitamin berfungsi untuk membantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh (vitamin mempunyai peran sangat penting dalam metabolisme tubuh), karena vitamin tidak dapat dihasilkan oleh tubuh. Jika manusia, hewan dan ataupun makhluk hidup lain tanpa asupan vitamin tidak akan dapat melakukan aktivitas hidup dengan baik, kekurangan vitamin menyebabkan tubuh kita mudah terkena penyakit.


Nama Vitamin sendiri berasal dari gabungan kata bahasa Latin yaitu vita yang artinya “hidup” dan amina (amine) yang mengacu pada suatu gugus organik yang memiliki atom nitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian. Kelak diketahui bahwa banyak vitamin yang sama sekali tidak memiliki atom N. Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin adalah kofaktor dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini digunakan tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara normal.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Penjelasan Peran Vitamin Dalam Enzim


Sejarah Vitamin

Sebelum abad ke 20, karbohidrat, lemak, protein, dan beberapa zat mineral telah dianggap sebagai zat-zat makanan yang dibutuhkan untuk fungsi tubuh normal. Akan tetapi berabad-abad sebelumnya, berbagai pengamatan menduga bahwa senyawa-senyawa organik lainnya adalah esensial untuk menjaga kesehatan. Sebagai misal telah diketahui selama 300 tahun, bahwa dengan makan buah-buahan dan sayur-sayuran segar ternyata berguna untuk pencegahan atau pengobatan scorbut (sariawan). Juga telah diakui, bahwa rakhitis dapat disembuhkan dengan minum minyak ikan. Pengamatan-pengamatan tersebut menimbulkan dugaan, bahwa ada senyawa-senyawa zat makanan lain diperlukan untuk menjaga kesehatan di samping karbohidrat, lemak atau protein.


Era pertama dimulai pada sekitar tahun 1500-1570 sebelum masehi.  Pada masa itu, banyak ahli pengobatan dari berbagai bangsa, seperti Mesir, Cina, Jepang, Yunani, Roma, Persia, dan Arab, telah menggunakan ekstrak senyawa (diduga vitamin) dari hati yang kemudian digunakan untuk menyembuhkan penyakit kerabunan pada malam hari.


Penyakit ini kemudian diketahui disebabkan oleh defisiensi vitamin A. Walau pada masa tersebut ekstrak hati tersebut banyak digunakan, para ahli pengobatan masih belum dapat mengidentifikasi senyawa yang dapat menyembuhkan penyakit kerabunan tersebut. Oleh karena itu, era ini dikenal dengan era penyembuhan empiris (berdasarkan pengalaman).


Perkembangan besar berikutnya mengenai vitamin baru kembali muncul pada tahun 1890-an. Penemuan ini diprakarsai oleh Lunin dan Christiaan Eijkman yang melakukan penelitian mengenai penyakit defisiensi pada hewan. Penemuan inilah yang kemudian memulai era kedua dari lima garis besar sejarah vitamin di dunia. Penelitian mereka terfokus pada pengamatan penyakit akibat defisiensi senyawa tertentu. Beberapa tahun berselang, ilmuwan Sir Frederick G. Hopkins yang sedang melakukan analisis penyakit beri-beri pada hewan menemukan bahwa hal ini disebabkan oleh kekurangan suatu senyawa faktor pertumbuhan (growth factor).


Pada tahun 1911, seorang ilmuwan kelahiran Amerika bernama Dr. Casimir Funk berhasil mengisolasi suatu senyawa yang telah dibuktikan dapat mencegah peradangan saraf (neuritis) untuk pertama kalinya. Dr. Casimir juga berhasil mengisolasi senyawa aktif dari sekam beras yang diyakini memiliki aktivitas antiberi-beri pada tahun berikutnya.


Pada saat itulah (dan untuk pertama kalinya), Dr Funk mempublikasikan senyawa aktif hasil temuannya tersebut dengan istilah vitamine (vital dan amines). Pemberian nama amines pada senyawa vitamin ini karena diduga semua jenis senyawa aktif ini memiliki gugus amina (amine). Hal tersebut kemudian segera disanggah dan diganti menjadi vitamin (dengan penghilangan akhiran huruf “e”) pada tahun 1920 vitamin tidak dapat diproduksi mamusia.


Era ketiga sejarah vitamin terjadi beberapa dekade berikutnya. Pada masa tersebut, terjadi banyak penemuan besar mengenai vitamin itu sendiri, meliputi penemuan vitamin jenis baru, metode penapisan yang diperbahurui, penggambaran struktur lengkap vitamin, dan síntesis vitamin B12. Oleh karena hal tersebutlah, era ketiga dari garis besar sejarah vitamin ini dikenal dengan masa keemasan (golden age). Banyak penelti yang mendapatkan hadiah nobel atas penemuannya di bidang vitamin ini.


Sir Walter N. Hawort mendapatkan nobel di bidang kimia atas penemuan vitamin C pada tahun 1937. Hadiah nobel lainnya diperoleh oleh Carl Peter Henrik Dam di bidang Fisiologi – Pengobatan pada tahun 1943 atas penemuannya terhadap vitamin K. Fritz A Litmann juga turut memenangkan nobel atas dedikasinya dibidang penelitian mengenai penemuan koenzim A dan perannya di dalam metabolisme tubuh.


Era keempat ditandai dengan banyaknya penemuan mengenai fungsi biokimia vitamin di dalam tubuh, perannya dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari, dan produksi komersial vitamin untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pada tahun 1930-an, para peneliti menemukan bahwa vitamin B2 merupakan bagian dari “enzim kuning”. Vitamin B2 ini sendiri diperoleh dari ekstrak ragi. Melalui penelitian ini juga, kelompok vitamin B diketahui berperan sebagai koenzim yang penting di dalam tubuh manusia.


Produksi masal vitamin untuk pertama kalinya juga terjadi pada era ini. Dikomersilkan pertama kali oleh Tadeus Reichstein pada tahun 1933, vitamin C telah dijual kepada masyarakat luas dengan harga yang relatif murah sehingga terjangkau bagi khalayak ramai. Vitamin C yang juga dikenal dengan istilah asam askorbat ini kemudian banyak dipakai sebagai suplemen makanan, penelitian, dan gizi tambahan bagi hewan ternak. Atas hasil penemuan ini, Tadeus Reichstein mendapatkan nobel di bidang Fisiologi – Pengobatan pada tahun 1950.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : 101 Pengertian Molekul Organik Serta Contohnya Lengkap


Hanya dalam waktu 1 dekade berikutnya setelah era vitamin keempat, perkembangan ilmu pengetahuan telah membawa vitamin keera berikutnya, yaitu era kelima dimana banyak ditemukan nilai kesehatan dari masing-masing jenis vitamin dan penemuan baru mengenai fungsi biokimia vitamin bagi tubuh.


Masa ini dimulai pada tahun 1955 ketika Rudolf Altschul menemukan bahwa niasin (vitamin B3) dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Peranan kesehatan ini terlepas dari efek defisiensi vitamin B3 itu sendiri maupun perannya sebagai koenzim dalam metabolisme tubuh.


Fungsi Vitamin Secara Umum

Ada banyak untuk jenis-jenis vitamin yang memiliki fungsi-fungsi tersendiri, untuk kali akan memberikan fungsi vitamin secara umum. Untuk fungsi vitamin secara umum antar lain sebagai berikut:

  1. Untuk mengatur zat dalam tubuh.
  2. Berfungsi menguatkan gigi dan tulang.
  3. Dapat mempercepat pertumbuhan.
  4. Untuk memperkuat daya tahan tubuh terhadap penyakit.
  5. Untuk mempercepat proses dalam penyembuhan penyakit.
  6. Menjaga dan meningkatkan kebugaran tubuh.
  7. Dapat memperlambat dalam proses penuan.
  8. Untuk membangun pada sistem kekebalan tubuh atau sistem imun.
  9. Dapat menjaga tubuh tetap segar dan menghilangkan rasa capek.
  10. Vitamin juga diperkirakan berfungsi sebagai katalisator dalam reaksi biokimia tubuh.

Vitamin yang berdasarkan kelarutannya di dalam air yaitu:

  • Vitamin yang larut di dalam air yaitu vitamin B dan vitamin C.
  • Vitamin yang tidak larut di dalam air yaitu vitamin A, D, E dan K atau disingkat vitamin ADEK.

Fungsi Vitamin

Vitamin memiliki peranan spesifik di dalam tubuh dan dapat pula memberikan manfaat kesehatan. Bila kadar senyawa ini tidak mencukupi, tubuh dapat mengalami suatu penyakit. Tubuh hanya memerlukan vitamin dalam jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan ini diabaikan maka metabolisme di dalam tubuh kita akan terganggu karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain.


Gangguan kesehatan ini dikenal dengan istilah avitaminosis. Contohnya adalah bila kita kekurangan vitamin A maka kita akan mengalami kerabunan. Di samping itu, asupan vitamin juga tidak boleh berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan metabolisme pada tubuh.


Fungsi Vitamin secara umum berhubungan  sangat erat  dengan fungsi enzim, terutama vitamin –vitamin kelompok  B.


Suatu enzim terdiri atas komponen protein yang dihasilkan oleh sel disebut “APOENZIM” Vitamin merupakan suatu senyawa yg telah lama dikenal oleh peradaban manusia. Sudah sejak ribuan tahun lalu manusia telah  mengenal vitamin sebagai salah satu senyawa yang dapat memberikan efek kesehatan bagi tubuh. Vitamin diperkirakan berperan sebagai katalisator dalam reaksi biokimia  tubuh. Vitamin  dapat berperan secara bersama–sama dalam mengatur fungsi tubuh, misalnya  memacu dan memelihara pertumbuhan, reproduksi, kesehatan dan kekuatan tubuh, stabilitas sistem syaraf, selera makan, pencernaan, penggunaan zat-zat makanan lainnya. Selain itu vitamin berperan sebagai antioksidan, yakni zat untuk menghindari terjadinya  radikal bebas (free radikal bebas).


  • Vitamin A

Vitamin A atau yang biasa juga disebut sebagai retinol merupakan vitamin yang memiliki fungsi yang sangat banyak untuk tubuh. Beberapa fungsi vitamin A di antaranya adalah; anti aging, anti malaria, meningkatkan daya tahan tubuh. Vitamin A juga sangat bermanfaat untuk ibu hamil karena mampu mengoptimalkan perkembangan janin. Vitamin A itu sendiri bisa didapatkan pada minyak ikan, hati, susu, daging, sayuran, dan buah-buahan yang berwarna oranye. Akibat jika seseorang kekurangan asupan vitamin A adalah: katarak, rabun senja, kulit tidak sehat, serta daya tahan tubuh yang menurun.


  • Vitamin B1

Vitamin B1 biasa juga disebut dengan thiamin. Vitamin B1 sangat berguna untuk tubuh. Beberapa fungsi vitamin B1 untuk tubuh di antaranya: membantu proses oksidasi di dalam tubuh tujuannya adalah untuk mendapatkan energi. Vitamin B1 bisa didapatkan di dalam roti, daging, kulit besar, sayuran, dan kacang hijau. Sedangkan efek jika Anda kekurangan vitamin B1 adalah kulit Anda menjadi kering serta bersisik.


  • Vitamin B2

Vitamin B2 juga dikenal dengan sebutan Riboflavin. Vitamin B2 ini berfungsi untuk menjaga keutuhan sistem jaringan syaraf serta mempercepat perpindahan rangsang sinar ke syaraf mata. Vitamin B2 bisa didapatkan pada hati, susu, telur, dan ragi. Kekurangan vitamin B2 bisa mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh serta menyebabkan berbagai macam penyakit, seperti bibir pecah-pecah, sariawan.


  • Vitamin B3

Vitamin B3 dikenal juga dengan sebutan niasin. Fungsinya untuk tubuh adalah untuk menguraikan energi dari makanan serta sintesis asam lemak. Jika kekurangan vitamin B3, maka akan mengakibatkan badan mudah lemas, insomnia, otot mudah kejang, sistem pencernaan yang terganggu, serta mudah mual.


  • Vitamin B5

Vitamin B5 dikenal juga dengan sebutan asam pantotenat. Fungsi vitamin ini untuk tubuh adalah membantu memperlancar metabolisme di dalam tubuh. Selain itu, vitamin B5 juga bisa memperlancar karbohidrat, protein, dan lemak di dalam tubuh. Jika seseorang kekurangan vitamin B5, akan mengakibatkan insomnia, gangguan emosi, mengalami kram. Vitamin B5 bisa didapatkan dengan mengonsumsi susu sayur hijau, daging, hati, ginjal, dan kacang hijau.


  • Vitamin B6

Vitamin B6 memiliki nama lain yaitu pridoksin. Vitamin ini memiliki fungsi untuk tubuh, di antaranya mampu membantu proses pencernaan protein serta resipasi seluler. Jika seseorang kekurangan asupan vitamin B6 dapat berakibat keram otot, kulit pecah-pecah, insomnia. Vitamin ini bisa diperoleh dengan mengonsumsi kubis, kentang, telur, dan daging.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Pengertian Protein Hewani Dan Nabati Serta Perbedaannya


  • Vitamin B12

Vitamin B12 dikenal juga dengan sebutan kobalamin. Sangat berguna dalam membantu pembentukan sel darah merah, pembelahan sel, dan sintesis asam. Seseorang yang kekurangan Vitamin B12 akan mengakibatkan terkena penyakit anemia dan mudah lelah. Vitamin B12 itu sendiri bisa diperoleh dengan mengonsumsi makanan seperti susu, daging, ragi, telur, dan hati, atau makanan-makanan hasil fermentasi.


  • Vitamin C

Vitamin selanjutnya dari berbagai macam-macam vitamin dan fungsinya untuk tubuh kita yaitu vitamin C. Vitamin C disebut juga dengan sebutan Asam Askorbat. Vitamin C sangat berfungsi untuk menurunkan kolesterol, mencegah penyakit kanker, mencegah penyakit jantung, diabetes mellitus, hipertensi, serta mampu untuk menjaga daya tahan tubuh agar terhindar dari infeksi racun. Vitamin C bisa didapatkan dengan mengonsumsi buah-buahan sepatu jeruk dan/atau tomat, serta berbagai jenis sayuran.


  • Vitamin D

Vitamin D disebut juga dengan Kalsiferol. Vitamin ini memiliki fungsi yang mengarah pada tulang dan gigi. Fungsi vitamin D yaitu membantu meningkatkan penyerapan kalsium dan fosfor bagi tulang dan gigi.


  • Vitamin E

Vitamin E atau yang biasa juga disebut sebagai tokoferol memiliki peran yang sangat penting dalam proses reproduksi dan mencegah penyakit kanker paru-paru.


  • Vitamin K

Vitamin K atau yang biasa juga disebut dengan Koagulasi merupakan vitamin yang memiliki fungsi sebagai pembeku darah. Selain itu, vitamin K juga berfungsi mencegah keguguran.


Klasifikasi Vitamin

Secara garis besar, vitamin dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. Hanya terdapat 2 vitamin yang larut dalam air, yaitu B dan C, sedangkan vitamin lainnya, yaitu vitamin A, D, E, dan K bersifat larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan di dalam jaringan adiposa (lemak) dan di dalam hati. Vitamin ini kemudian akan dikeluarkan dan diedarkan ke seluruh tubuh saat dibutuhkan. Beberapa jenis vitamin hanya dapat disimpan beberapa hari saja di dalam tubuh, sedangkan jenis vitamin lain dapat bertahan hingga 6 bulan lamanya di dalam tubuh.


Berbeda dengan vitamin yang larut dalam lemak, jenis vitamin larut dalam air hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera dibuang tubuh bersama urin. Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan asupan vitamin larut air secara terus-menerus.


  1. Vitamin A

Vitamin A, yang juga dikenal dengan nama retinol, merupakan vitamin yang berperan dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik, terutama di malam hari, dan sebagai salah satu komponen penyusun pigmen mata di retina. Selain itu, vitamin ini juga berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan imunitas tubuh. Vitamin ini bersifat mudah rusak oleh paparan panas, cahaya matahari, dan udara. Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin A, antara lain susu, ikan, sayur-sayuran (terutama yang berwarna hijau dan kuning), dan juga buah-buahan (terutama yang berwarna merah dan kuning, seperti cabai merah, wortel, pisang, dan pepaya).


Apabila terjadi defisiensi vitamin A, penderita akan mengalami rabun senja dan katarak. Selain itu, penderita defisiensi vitamin A ini juga dapat mengalami infeksi saluran pernafasan, menurunnya daya tahan tubuh, dan kondisi kulit yang kurang sehat. Kelebihan asupan vitamin A dapat menyebabkan keracunan pada tubuh. Penyakit yang dapat ditimbulkan antara lain pusing-pusing, kerontokan rambut, kulit kering bersisik, dan pingsan.


Selain itu, bila sudah dalam kondisi akut, kelebihan vitamin A di dalam tubuh juga dapat menyebabkan kerabunan, terhambatnya pertumbuhan tubuh, pembengkakan hati, dan iritasi kulit. Sayur-sayuran hijau dan kacang-kacangan sebagai sumber vitamin A dan vitamin B yang tinggi.


  1. Vitamin B

Secara umum, golongan vitamin B berperan penting dalam metabolisme di dalam tubuh, terutama dalam hal pelepasan energi saat beraktivitas. Hal ini terkait dengan peranannya di dalam tubuh, yaitu sebagai senyawa koenzim yang dapat meningkatkan laju reaksi metabolisme tubuh terhadap berbagai jenis sumber energi. Beberapa jenis vitamin yang tergolong dalam kelompok vitamin B ini juga berperan dalam pembentukan sel darah merah (eritrosit). Sumber utama vitamin B berasal dari susu, gandum, ikan, dan sayur-sayuran hijau.


  1. Vitamin B1

Vitamin B1, yang dikenal juga dengan nama tiamin, merupakan salah satu jenis vitamin yang memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan membantu mengkonversi karbohidrat menjadi energi yang diperlukan tubuh untuk rutinitas sehari-hari. Di samping itu, vitamin B1 juga membantu proses metabolisme protein dan lemak. Bila terjadi defisiensi vitamin B1, kulit akan mengalami berbagai gangguan, seperti kulit kering dan bersisik.


Tubuh juga dapat mengalami beri-beri, gangguan saluran pencernaan, jantung, dan sistem saraf. Untuk mencegah hal tersebut, kita perlu banyak mengkonsumsi banyak gandum, nasi, daging, susu, telur, dan tanaman kacang-kacangan. Bahan makanan inilah yang telah terbukti banyak mengandung vitamin B1. Beri-beri, penyakit yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B1.


  1. Vitamin B2

Vitamin B2 (riboflavin) banyak berperan penting dalam metabolisme di tubuh manusia. Di dalam tubuh, vitamin B2 berperan sebagai salah satu kompenen koenzim flavin mononukleotida (flavin mononucleotide, FMN) dan flavin adenine dinukleotida (adenine dinucleotide, FAD). Kedua enzim ini berperan penting dalam regenerasi energi bagi tubuh melalui proses respirasi. Vitamin ini juga berperan dalam pembentukan molekul steroid, sel darah merah, dan glikogen, serta menyokong pertumbuhan berbagai organ tubuh, seperti kulit, rambut, dan kuku. Sumber vitamin B2 banyak ditemukan pada sayur-sayuran segar, kacang kedelai, kuning telur, dan susu. Defisiensinya dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh, kulit kering bersisik, mulut kering, bibir pecah-pecah, dan sariawan.


  1. Vitamin B3

Vitamin B3 juga dikenal dengan istilah niasin. Vitamin ini berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi, metabolisme lemak, dan protein. Di dalam tubuh, vitamin B3 memiliki peranan besar dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah tinggi, penyembuhan migrain, dan vertigo. Berbagai jenis senyawa racun dapat dinetralisir dengan bantuan vitamin ini.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Sistem Pencernaan Manusia


Vitamin B3 termasuk salah satu jenis vitamin yang banyak ditemukan pada makanan hewani, seperti ragi, hati, ginjal, daging unggas, dan ikan. Akan tetapi, terdapat beberapa sumber pangan lainnya yang juga mengandung vitamin ini dalam kadar tinggi, antara lain gandum dan kentang manis. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan tubuh mengalami kekejangan, keram otot, gangguan sistem pencernaan, muntah-muntah, dan mual.


  1. Vitamin B5

Vitamin B5 (asam pantotenat) banyak terlibat dalam reaksi enzimatik di dalam tubuh. Hal ini menyebabkan vitamin B5 berperan besar dalam berbagai jenis metabolisme, seperti dalam reaksi pemecahan nutrisi makanan, terutama lemak. Peranan lain vitamin ini adalah menjaga komunikasi yang baik antara sistem saraf pusat dan otak dan memproduksi senyawa asam lemak, sterol, neurotransmiter, dan hormon tubuh.


Vitamin B5 dapat ditemukan dalam berbagai jenis variasi makanan hewani, mulai dari daging, susu, ginjal, dan hati hingga makanan nabati, seperti sayuran hijau dan kacang hijau. Seperti halnya vitamin B1 dan B2, defisiensi vitamin B5 dapat menyebabkan kulit pecah-pecah dan bersisik. Selain itu, gangguan lain yang akan diderita adalah keram otot serta kesulitan untuk tidur.


  1. Vitamin B6

Vitamin B6, atau dikenal juga dengan istilah piridoksin, merupakan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan tubuh. Vitamin ini berperan sebagai salah satu senyawa koenzim A yang digunakan tubuh untuk menghasilkan energi melalui jalur sintesis asam lemak, seperti spingolipid dan fosfolipid. Selain itu, vitamin ini juga berperan dalam metabolisme nutrisi dan memproduksi antibodi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap antigen atau senyawa asing yang berbahaya bagi tubuh.


Vitamin ini merupakan salah satu jenis vitamin yang mudah didapatkan karena vitamin ini banyak terdapat di dalam beras, jagung, kacang-kacangan, daging, dan ikan. Kekurangan vitamin dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kulit pecah-pecah, keram otot, dan insomnia.


  1. Vitamin B12

Vitamin B12 atau sianokobalamin merupakan jenis vitamin yang hanya khusus diproduksi oleh hewan dan tidak ditemukan pada tanaman. Oleh karena itu, vegetarian sering kali mengalami gangguan kesehatan tubuh akibat kekurangan vitamin ini. Vitamin ini banyak berperan dalam metabolisme energi di dalam tubuh.


Vitamin B12 juga termasuk dalam salah satu jenis vitamin yang berperan dalam pemeliharaan kesehatan sel saraf, pembentukkan molekul DNA dan RNA, pembentukkan platelet darah. Telur, hati, dan daging merupakan sumber makanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12. Kekurangan vitamin ini akan menyebabkan anemia (kekurangan darah), mudah lelah lesu, dan iritasi kulit.


  1. Vitamin C

Buah jeruk, terkenal atas kandungan vitamin C-nya yang tinggi. Vitamin C (asam askorbat) banyak memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Di dalam tubuh, vitamin C juga berperan sebagai senyawa pembentuk kolagen yang merupakan protein penting penyusun jaringan kulit, sendi, tulang, dan jaringan penyokong lainnya. Vitamin C merupakan senyawa antioksidan alami yang dapat menangkal berbagai radikal bebas dari polusi di sekitar lingkungan kita.


Terkait dengan sifatnya yang mampu menangkal radikal bebas, vitamin C dapat membantu menurunkan laju mutasi dalam tubuh sehingga risiko timbulnya berbagai penyakit degenaratif, seperti kanker, dapat diturunkan. Selain itu, vitamin C berperan dalam menjaga bentuk dan struktur dari berbagai jaringan di dalam tubuh, seperti otot. Vitamin ini juga berperan dalam penutupan luka saat terjadi pendarahan dan memberikan perlindungan lebih dari infeksi mikroorganisme patogen.


Melalui mekanisme inilah vitamin C berperan dalam menjaga kebugaran tubuh dan membantu mencegah berbagai jenis penyakit. Defisiensi vitamin C juga dapat menyebabkan gusi berdarah dan nyeri pada persendian. Akumulasi vitamin C yang berlebihan di dalam tubuh dapat menyebabkan batu ginjal, gangguan saluran pencernaan, dan rusaknya sel darah merah.


  1. Vitamin D

Vitamin D juga merupakan salah satu jenis vitamin yang banyak ditemukan pada makanan hewani, antara lain ikan, telur, susu, serta produk olahannya, seperti keju. Bagian tubuh yang paling banyak dipengaruhi oleh vitamin ini adalah tulang. Vitamin D ini dapat membantu metabolisme kalsium dan mineralisasi tulang. Sel kulit akan segera memproduksi vitamin D saat terkena cahaya matahari (sinar ultraviolet).


Bila kadar vitamin D rendah maka tubuh akan mengalami pertumbuhan kaki yang tidak normal, dimana betis kaki akan membentuk huruf O dan X. Di samping itu, gigi akan mudah mengalami kerusakan dan otot pun akan mengalami kekejangan. Penyakit lainnya adalah osteomalasia, yaitu hilangnya unsur kalsium dan fosfor secara berlebihan di dalam tulang.


Penyakit ini biasanya ditemukan pada remaja, sedangkan pada manula, penyakit yang dapat ditimbulkan adalah osteoporosis, yaitu kerapuhan tulang akibatnya berkurangnya kepadatan tulang. Kelebihan vitamin D dapat menyebabkan tubuh mengalami diare, berkurangnya berat badan, muntah-muntah, dan dehidrasi berlebihan.


  1. Vitamin E

Struktur molekul vitamin E.  Vitamin E berperan dalam menjaga kesehatan berbagai jaringan di dalam tubuh, mulai dari jaringan kulit, mata, sel darah merah hingga hati. Selain itu, vitamin ini juga dapat melindungi paru-paru manusia dari polusi udara. Nilai kesehatan ini terkait dengan kerja vitamin E di dalam tubuh sebagai senyawa antioksidan alami.


Vitamin E banyak ditemukan pada ikan, ayam, kuning telur, ragi, dan minyak tumbuh-tumbuhan. Walaupun hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit, kekurangan vitamin E dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang fatal bagi tubuh, antara lain kemandulan baik bagi pria maupun wanita. Selain itu, saraf dan otot akan mengalami gangguan yang berkepanjangan.


  1. Vitamin K

Vitamin K banyak berperan dalam pembentukan sistem peredaran darah yang baik dan penutupan luka. Defisiensi vitamin ini akan berakibat pada pendarahan di dalam tubuh dan kesulitan pembekuan darah saat terjadi luka atau pendarahan. Selain itu, vitamin K juga berperan sebagai kofaktor enzim untuk mengkatalis reaksi karboksilasi asam amino asam glutamat. Oleh karena itu, kita perlu banyak mengkonsumsi susu, kuning telur, dan sayuran segar yang merupakan sumber vitamin K yang baik bagi pemenuhan kebutuhan di dalam tubuh.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Pengertian Serat Larut Serta Fungsinya Dalam Biologi


Struktur Vitamin

Berikut ini terdapat beberapa struktur vitamin, terdiri atas:


  • Vitamin A

Molekul vitamin A berisi atom karbon dan hidrogen yang berikatan dengan gugus hidroksil (OH) menjadi struktur yang kompleks. Stuktur yang demikian ini menyebabkan vitamin disebut sebagai retinol. Komposisi retinol haya tedapat dalam bahan pangan hewani, sedangkan dalam pangan nabati terdaat zat warna karotenoid. Senyawa karoten akan dirubah menjadi vitamin A dalam usus halus. Struktur kimiawi beta karoten serupa dengan dua molekul retinol.


Berikut gambar struktur vitamin A :

Vitamin A
C20H32O  Molar mass 286,4 g/mo

  • Vitamin D

Vitamin D bersifat larut dalam lemak dan tidak larut dalam air. Vitamin D banyak ditemukan dalam minyak hati ikan. Ada dua macam vitamin D, yaitu vitamin D3 atau kholekalsiferol, terdapat dalam minyak hati ikan, sangat cocok untuk anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Vitamin D2 atau kalsiferol berasal dari ergosterol yang telah mengalami radiasi oleh sinar ultraviolet.


kalsiferol (D2)
C23H44O Molar mass 369,7 g/mol

Vitamin D3
C27H44O Molar mass 369,7 g/mol

  • Vitamin E

Vitamin E diketahui sebagai zat gizi esensiel yaitu setelah dilakukan percobaan dengan tikus. Kekurangan vitamin E mengakibatkan kemandulan pada tikus jantan sedangkan pada tikus betina terjadi keguguran pada saat bunting. Zat gizi esensiel tersebut dikenal sebagai tokoferol atau vitamin E. Ada empat macam tokoferol yaitu alpha, beta, gamma, dan delta tokoferol.


Alpha tokoferol mempunyai aktivitas sebagai vitamin E sedangkan gamma dan delta tokoferol mempunyai aktivitas yang besar sebagai antioksidan. Kekurangan vitamin E mengakibatkan terjadinya oksidasi asam lemak berikatan rangkap membentuk peroksida dan hidrogen peroksida, yang bersifat meracuni sel dan mengakibatkan keracunan sel. Konsumsi vitamin E yang tinggi dianjurkan untuk mencegah penyakit kronis dan usia lanjut. Vitamin juga mencegah kanker prostat dan melindungi kulit.

Vitamin E


  • Vitamin K

Vitamin K disebut juga dengan phylloquinone, merupakan salah satu vitamin larut dalam lemak yang diperlukan untuk penutupan luka dan sangat penting untuk menghentikan darah terus keluar saat terluka. Vitamin K juga terlibat dalam metabolisme protein tulang dan diperlukan untuk pertumbuhan tulang pada anak-anak dan remaja.

Vitamin K
C31H16O2 Molar mass 450,7 g/mol

  • Vitamin B1

Vitamin B1 merupakan vitamin yang larut dalam air. Dengan demikian vitamin ini banyak mengalami penurunan pada saat dilakukan persiapan pengolahan seperti pencucian. Vitamin B1 disebut juga anti neuritis karena dapat menyembuhkan radang saraf tertentu. Vitamin B1 atau tiamin banyak terdapat dalam kulit ari butir beras ataupun gandum. Roti putih tidak banyak mengandung tiamin. Demikian pula beras giling kurang mengandung tiamin. Tiamin merupakan komponen enzim Tiamin Piro Fosfat (TPP) yang berperanan dalam metabolisme karbohidrat. Kekurangan tiamin atau TPP akan mengakibatkan tertimbunnya asam piruvat dalarn sel.

Vitamin B1


  • Vitamin B2

Vitamin B2 disebut riboflavin, atau sering pula disebut laktoflavin atau hepatoflavin, ovoflavin, dan renoflavin sesuai dengan sumber vitamin tersebut yaitu berasal dari susu, hati, telur maupun ginjal. Riboflavin berasal dari kata latin flavus yang berarti kuning. Riboflavin bersifat stabil terhadap pemanasan kecuali pada kondisi alkalis. Riboflavin dapat menglami kerusakan karena sinar. Riboflavin merupakan komponen Flavin Adenin Dinukleotida (FAD) dan Flavin Mono Nukieotida (FMN). FAD dan FMN berperanan pada reaksi oksidasi reduksi pada metabolisme karbohidrat dan protein.

Vitamin B2


  • Vitamin B3

Vitamin B3 atau sering disebut juga niacin juga merupakan salah satu vitamin yang larut dalam air. Istilah niacin meliputi nicotinic acid dan nicotinamide, dimana merupakan bagian reaktif dari co-enzim NAD dan NADP. Niacin sebenarnya bukan vitamin murni karena dapat dibentuk di dalam tubuh dari asam amino tryptophan. Namun demikian, suplai asupan tryptophan yang cukup diperlukan untuk menjamin tersedianya niacin secara cukup guna fungsi esensial dalam metabolisme dan untuk memperbaiki DNA.

Vitamin B3


  • Vitamin B5

Vitamin B5 dikenal juga sebagai asam pantotenat. Ditemukan pada semua makhluk hidup dan memiliki peran esensial dalam metabolisme energy semua jaringan tubuh. Pantothenic acid juga berperan penting dalam penyembuhan luka dan diperlukan untuk menjaga kesehatan rambut dan kulit.

Vitamin B5


  • Vitamin B6

Vitamin B6 adalah vitamin larut air yang terdiri dari sebuah group dengan enam komponen terkait: pyridoxal, pyridoxine, pyridoxamine, dan 5′-phasphates (PLP, PNP, PMP: komponen komponen ini saling berubah dari satu menjadi lainnya melalui reaksi metabolik). Seperti halnya vitamin B lainnya, vitamin B6 juga menjadi faktor esensial pada berbagai reaksi biokimia metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Vitamin B6 juga penting dalam menurunkan level homosistein darah sehingga membantu mencegah penyakit jantung dan penyakit Alzheimer’s.

Vitamin B6


  • Vitamin B12

Vitamin B12 (cobalamin) adalah vitamin larut air yang esensial untuk kesehatan darah dan fungsi syaraf. Hanya mikroorganisme yang mampu menghasilkan vitamin B12 termasuk diantaranya algae, bakteri dan jamur, sehingga dengan demikian vitamin B12 hanya terdapat pada pangan hewani. Seperti halnya vitamin B6, vitamin B12 juga dapat membantu menurunkan resiko penyakit jantung dan penyakit Alzheimer’s. Beberapa kelompok yang beresiko terkena defisiensi vitamin B12 antara lain vegetarian dan lanjut usia.

Vitamin B12

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Penjelasan Enzim Pencerna Makanan Di Dalam Organ Pencernaan


  • Vitamin c

Vitamin C atau asam askorbat merupakan salah satu vitamin yang bersifat larut dalam air, tidak dapat disintesis dalam tubuh manusia, kera ataupun kelelawar pemakan buah-buahan. Peranan vitamin C yang banyak dikenal yaitu dapat mencegah dan mengobati penyakit sariawan. Penyakit-penyakit yang ditimbulkan karena kekurangan vitamin C meliputi juga nyeri pada tulang, otot-otot sakit, udema, lemah, anemia dan hiperkeratosis.

Vitamin c


Daftar Pustaka:

  1. Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. UI-Press, Jakarta.
  2. Sirajuddin,S. 2009. Penuntun Praktikum Biokimia. Laboratorium    Terpadu Kesehatan Masyarakat AIPTKMI Regional Indonesia Timur UNHAS, Makassar.
  3. Tim Dosen Biokimia. 2011. Penuntun Praktikum Biokimia. Universitas Tadulaku, palu.
  4. Winarno, F.G. 2004. Vitamin. PT. Gramedia Pustaka utama, Jakarta.

Demikianlah pembahasan mengenai 12 Klasifikasi Vitamin – Pengertian, Sejarah, Fungsi & Struktur semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Butuhkan