Kolonialisme Adalah

Diposting pada

Kolonialisme Adalah

Kolonialisme Adalah – Pengertian, Tujuan, Perbedaan & Contohnya – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai kolonialisme yang dimana dalam hal ini meliputi pengertian, tujuan, macam dan dampak. Nah agar lebih untuk memahami dan dimengerti kalau begitu simak saja ulasan dibawah ini.

"Kolonialisme" Pengertian & ( Tujuan - Macam - Dampak )


Latar Belakang

Revolusi Industri yang memberikan pengaruh terhadap perekonomian, khususnya di kawasan Eropa telah mendorong Negara negara Barat untuk melakukan penjelajahan samudera. Penjelajahan ini bertujuan untuk mencari daerah yang akan dijadikan jajahan. Di daerah-daerah yang telah berhasil dikuasai, para penjelajah melakukan eksploitasi besarbesaran terhadap sumber daya alam dan memasarkan hasil industri dari negaranya. Pada awal kedatangannya, para penjelajah yang menemukan daerah baru dan mendarat di suatu tempat, memperkenalkan dirinya sebagai pedagang. Mereka melakukan interaksi perdagangan dengan penduduk pribumi, bahkan di antara mereka ada pula yang mendirikan pemukiman (koloni).


Pada perkembangan selanjutnya, tanpa disadari oleh penduduk pribumi daerah itu oleh mereka dianggap sebagai daerah miliknya. Dengan leluasa mereka mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan yang ada di daerah baru itu. Dalam sistem politik, pendudukan, dan penguasaan suatu daerah oleh Negara lain disebut penjajahan atau istilah populernya disebut kolonialisme.


Baca Juga: Isi Trikora – Tujuan, Latar Belakang, Tokoh dan Dampak


Tujuan Utama Kolonialisme

Tujuan utama kolonialisme adalah kepentingan ekonomi. Kebanyakan koloni yang yang dijajah adalah wilayah yang kaya akan bahan mentah. Istilah kolonialisme bermaksud memaksakan satu bentuk pemerintahan atas sebuah wilayah atau negeri lain (tanah jajahan) atau satu usaha untuk mendapatkan sebuah wilayah baik melalui paksaan atau dengan cara damai. Penaklukan atas sebuah wilayah bisa dilakukan secara damai atau paksaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Negara yang menjajah menggariskan panduan tertentu atas wilayah jajahannya, meliputi aspek kehidupan sosial, pemerintahan, undang-undang dan sebagainya.


Pengertian Kolonialisme

Kolonialisme berasal dari kata colunus (colonia) yang berarti suatu usaha untuk untuk mengembangkan kekuasaan suatu negara diluar wilayah negara tersebut. Kolonialisme pada umumnya bertujuan untuk mencapai dominasi ekonomi atas sumber daya, manusia, dan perdagangan di suatu wilayah. Wilayah koloni umumnya adalah daerah-daerah yang kaya akan bahan mentah untuk keperluan negara yang melakukan kolonialisme.


Kedatangan Bangsa Eropa di Indonesia

Hubungan perdagangan antara Asia – Eropa yang berlangsung selama berabad-abad mengalami gangguan dengan adanya Perang Salib ( 1096 – 1291 M ), puncaknya terjadi setelah kota Konstantinopel dikuasai oleh Turki Usmani tahun 1453 yang berakibat hubungan perdagangan tersebut terputus total. Akibatnya bangsa Eropa terpaksa mencari jalan sendiri menuju ke daerah penghasil rempah-rempah yaitu Hindia ( Indonesia ), sehingga dimulailah
“ Jaman Penjelajahan Samudera”.


Faktor-faktor yang mendorong terjadinya penjelajahan Samudera antara lain :

  1. Reconguesta, yaitu semangat pembalasan bangsa Eropa terhadap kekuasaan Islam di manapun dijumpai, sebagai tindak lanjut dari Perang Salib.
  2. Gold, yaitu semangat untuk mencari kekayaan/emas.
  3. Glory, yaitu semangat memperoleh kejayaan negara atau daerah jajahan.
  4. Gospel, yaitu semangat untuk menyebarkan agama Nasrani.
  5. Adanya penemuan baru seperti kompas, teropong, mesiu, dan peta yang menggambarkan secara lengkap dan akurat garis pantai, terusan, dan pelabuhan.
  6. Adanya teori Heliosentris oleh Copernicus yang menyatakan pusat tata surya adalah
    matahari dan bentuk bumi bulat sehingga mendorong orang untuk membuktikannya.


Baca Juga: Perang Ambarawa


Negara Eropa yang mempelopori penjelajahan samudera adalah Portugis dan Spanyol, yang kemudian diikuti oleh Inggris, Perancis dan Belanda.

Adapun tokoh-tokoh penjelajah samudera yang terkenal adalah sebagai berikut :

  • Portugis : Bartholomeus Diaz, Vasco da Gama, Alfonso d’ Albuquerque.
  • Spanyol : Christoper Columbus, Ferdinand Magelhaez, Juan Sebastian Del Cano.
  • Inggris : Sir Francis Drake, Sir James Lancaster, James Cook.
  • Belanda : Cornelis de Houtman, Jacob van Neck, Abel Jan Tasman.

Terbentuknya Kekuasaan Kolonial Eropa di Indonesia

Awalnya hubungan antara kerajaan/bangsa Indonesia dengan bangsa Eropa berjalan setara, mereka saling menghormati dan bekerja sama dalam perdagangan. Namun dalam perkembangannya nampak tujuan asli bangsa Eropa yang akan memonopoli perdagangan rempah-rempah serta menguasai wilayah penghasil rempah-rempah tersebut.


Kekuasaan Portugis

Pada tahun 1511 Portugis berhasil menguasai Malaka, dan selanjutnya tahun 1512 ekspedisi diarahkan ke timur menuju Maluku. Ternyata hampir bersamaan dari arah utara Spanyol juga sampai di Maluku ( 1521 ), akibatnya terjadi persaingan antar kedua negara tersebut dalam menguasai Maluku. Perselisihan berakhir dengan Perjanjian Saragosa tahun 1529 yang menetapkan bahwa Portugis tetap berkuasa di Maluku sedangkan Spanyol harus kembali ke Philipina. Sejak itulah Portugis berkuasa secara mutlak di Maluku.


Kekuasaan Belanda

Kedatangan Belanda pertama kali ke Indonesia mereka mendarat di Banten tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman, namun karena sikapnya yang kasar mereka diusir kembali ke negaranya. Pada tahun 1598 datang rombongan dagang berikutnya di bawah pimpinan Jacob van Neck yang bersikap lebih terbuka sehingga bisa diterima dengan baik. Selanjutnya berbondong bondong ekspedisi dagang dari Belanda datang ke Indonesia. Untuk menghindari persaingan sesama pedagang Belanda, mereka mendirikan kongsi dagang yang diberi nama VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie ) pada tanggal 20 Maret 1602. Karena keuntungan yang diperoleh sangat besar sehingga mereka tidak hanya memonopoli perdagangan saja tetapi dengan taktik Devide et Impera mereka menguasai satu persatu wilayah Indonesia. Namun pada akhir abad ke-18, VOC bangkrut dan dibubarkan, sehingga kekuasaan di Indonesia diambil alih langsung oleh Kerajaan Belanda.


Kekuasaan Inggris

Pada tahun 1811 Inggris menyerang Indonesia dan berhasil mengalahkan Belanda dengan penyerahan kekuasaan dalam Kapitulasi Tuntang. Sejak itu Inggris berkuasa di Indonesia di bawah Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles.Namun kekuasaan Inggris tidak bertahan lama karena terjadi kesepakatan yang disebut Konvensi London tahun 1814 yang isinya Belanda memperoleh kembali jajahannya yang semula direbut Inggris. Penyerahan secara resmi berlangsung di Batavia tanggal 19 Agustus 1816, sehingga sejak saat itu Hindia Belanda ( Indonesia ) kembali dikuasai Kerajaan Belanda sampai kedatangan Jepang tahun 1942 yang menggantikan kedudukan mereka.


Baca Juga: Sejarah, Latar Belakang Dan Penyebab Perang Dunia Ke I


Kebijakan Kolonial Yang Menyebabkan Penderitaan Rakyat

  • Portugis

Portugis berkuasa di Maluku cukup lama yaitu dari tahun 1512 sampai tahun 1641, selama berkuasa mereka menerapkan kebijakan-kebijakan yang sangat berpengaruh bagi rakyat di daerah Maluku, yaitu :

  1. Berusaha menanamkan pengaruh kekuasaannya di Maluku.
  2. Menyebarkan agama Katolik di daerah-daerah yang dikuasai.
  3. Mengembangkan bahasa dan seni musik keroncong Portugis.
  4. Sistem monopoli perdagangan cengkih dan pala di Ternate.

Akibat dari kebijakan tersebut menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan rakyat, yang selanjutnya menumbuhkan benih-benih kebencian dan perlawanan terhadap Portugis.

  • VOC di Indonesia

VOC dibentuk pada tanggal 20 Maret 1602 di Ambon, Maluku dengan tujuan untuk menghindari persaingan di antara perusahaan dagang Belanda dan memperkuat diri agar dapat bersaing dengan perusahaan dagang negara lain. Oleh pemerintah Kerajaan Belanda, VOC diberi hak-hak istimewa yang dikenal dengan nama “ hak oktroi”, seperti:

  • hak monopoli perdagangan,
  • hak untuk membuat uang sendiri,
  • hak untuk mendirikan benteng pertahanan,
  • hak untuk membentuk tentara,
  • hak untuk melaksanakan perjanjian dengan kerajaan di Indonesia.

Berikut ini disajikan secara singkat kebijakan-kebijakan yang diterapkan pada masa VOC dan pengaruhnya bagi bangsa Indonesia :

  1. Menguasai pelabuhan-pelabuhan dan mendirikan benteng untuk melaksanakan monopoli perdagangan.
  2. Melaksanakan politik devide et impera (memecah belah dan menguasai) dalam rangka untuk menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia.
  3. Membangun pangkalan/markas VOC yang semula di Ambon, dipindah ke Batavia.
  4. Melaksanakan pelayaran Hongi (Hongi tochten) untuk mengawasi perdagangan gelap penyelundupan rempah-rempah di Maluku.
  5. Adanya hak ekstirpasi, yaitu hak untuk membinasakan tanaman rempah-rempah yang melebihi ketentuan.

Adapun pengaruh yang dirasakan oleh bangsa Indonesia antara lain :

  • Kekuasaan raja menjadi berkurang atau bahkan didominasi secara keseluruhan oleh VOC.
  • Wilayah kerajaan terpecah-belah dengan melahirkan kerajaan dan penguasa baru di bawah kendali VOC
  • Hak oktroi VOC, membuat masyarakat Indonesia menjadi miskin, dan menderita.
  • Rakyat Indonesia mengenal ekonomi uang, mengenal sistem benteng pertahanan , etika perjanjian, dan senjata modern (senjata api dan meriam).
  • Pelayaran Hongi, dapat dikatakan sebagai suatu perampasan, perampokan, perbudakan, dan pembunuhan.
  • Hak ekstirpasi bagi rakyat merupakan ancaman matinya suatu harapan atau sumber penghasilan yang harusnya bisa berlebih.

Baca Juga: Sejarah, Latar Belakan Dan Penyebab Terjadinya Perang Dunia Ke II


Akibat salah urus dan terjadinya korupsi oleh para pegawainya, akhirnya VOC mengalami kebangkrutan dan akhirnya dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799.


Pemerintahan Hindia Belanda ( Republik Bataafsche)

Kekuasaan di Indonesia diambilalih langsung oleh kerajaan Belanda yang saat itu ada di bawah kekuasaan Perancis ( Republik Bataafche ). Untuk memerintah Hindia Belanda

( Indonesia), diangkatlah Gubernur Jendral Herman Williem Daendels (1808 – 1811 ). Tugas utama yang diemban adalah mempertahankan Pulau Jawa dari ancaman serangan Inggris. Untuk mencapai tujuan tersebut, Daendels menerapkan kebijakan seperti :

  1. Semua pegawai pemerintah menerima gaji tetap dan mereka dilarang melakukan kegiatan perdagangan.
  2. Melaksanakan contingenten yaitu pajak dengan penyerahan berupa hasil bumi.
  3. Menetapkan verplichte leverentie, kewajiban menjual hasil bumi hanya kepada pemerintah
  4. Belanda dengan harga yang telah ditetapkan.
  5. Menerapkan sistem kerja paksa (rodi) dan membentuk tentara dengan melatih pribumi.
  6. Membangun jalan pos dari Anyer sampai Panarukan ( 1.000 km ) untuk kepentingan pertahanan.
  7. Mewajibkan Prianger stelsel, yaitu kewajiban bagi rakyat Priangan untuk menanam kopi.
  8. Melakukan penjualan tanah milik negara kepada pihak swasta (asing).

Akibat kebijakan yang diterapkannya tersebut menimbulkan pengaruh bagi rakyat, yaitu :

  • Kebencian yang mendalam baik dari kalangan penguasa daerah maupun rakyat,
  • Munculnya tanah-tanah partikelir yang dikelola oleh pengusaha swasta,
  • Perlawanan oleh para penguasa maupun rakyat,
  • Kemiskinan dan penderitaan yang berkepanjangan.

Selama berkuasa Daendels dikenal sebagai seorang yang kejam, disiplin dan bertangan besi, oleh karena dipandang sangat otoriter maka Daendels ditarik kembali dan kedudukannya digantikan oleh Gubernur Jendral Janssen tahun 1811. Namun dia tidak setangguh Daendels, sehingga harus mengakui kekuasaan Inggris dengan menandatangani Perjanjian/Kapitulasi Tuntang pada tanggal 17 September 1811 dan sejak itu Indonesia jatuh ke tangan Inggris.


Baca Juga: 3 Pengertian Dan Sejarah Peradaban Zaman Romawi Kuno


Kebijakan Pemerintah Kolonial Inggris

Sebagai Gubernur Jendral diangkat Thomas Stamford Raffles ( 1811 – 1816 ), selama berkuasa dia menetapkan kebijakan sebagai berikut :

  1. Menerapkan sistem sewa tanah atau Landrent, dimana para petani harus membayar pajak sebagai uang sewa tanah, karena tanah dianggap milik negara.
  2. Membagi Pulau Jawa menjadi 16 karesidenan, dengan maksud untuk mempermudah koordinasi dan pengawasan atas daerah kekuasaan.
  3. Memperbaharui sistem peradilan dengan mengadopsi sistem yang berlaku di Inggris.
  4. Merintis pembangunan Kebun Raya Bogor dan menemukan bunga Rafflesia arnoldi.
  5. Menulis buku sejarah Jawa yang berjudul “ History of Java “.
  6. Masa kekuasaan Inggris di Indonesia tidak berlangsung lama, karena terjadi perubahan politik di Eropa seiring jatuhnya
    Napoleon Bonaparte ( Perancis ) sehingga dalam Konvensi London tahun 1814 status Hindia Belanda dikembalikan seperti sebelum perang yaitu kembali menjadi milik Kerajaan Belanda. Penyerahan kekuasaan dilakukan di Batavia pada tanggal 19 Agustus 1816.

Kebijakan Pemerintah Hindia Belanda

Setelah penyerahan kekuasaan tersebut, maka Hindia Belanda kembali dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda yang menunjuk Van der Capellen sebagai Komisaris Jendral ( 1817-1830 ) yang beraliran liberal (menghendaki urusan ekonomi diserahkan kepada swasta). Tugasnya sangat berat dalam menutup hutang-hutang pemerintah Belanda yang dipakai untuk membiayai perang. Terjadi penentangan oleh golongan konservatif yang menghendaki urusan ekonomi dipegang langsung oleh pemerintah.


Situasi perekonomian Belanda yang tidak kunjung membaik menyebabkan golongan liberal kalah, sehingga golongan konservatif mengambilalih kekuasaan. Dalam perkembangannya kedua golongan tersebut silih berganti berkuasa, sehingga kebijakan yang diterapkan di Hindia Belanda juga berubah-ubah. Adapun kebijakan yang diterapkan antara lain : Sistem Tanam Paksa/Cultuur Stelsel ( 1830 – 1870 )


Rakyat dipaksa untuk menanam tanaman ekspor yang saat itu sangat laku dalam perdagangan internasional seperti kopi, teh, kina, dan tembakau ( disebut tanaman wajib ).

Secara singkat pokok-pokok aturan Tanam Paksa adalah sebagai berikut :

  • Rakyat wajib menyiapkan 1/5 dari lahan garapan untuk ditanami tanaman wajib.
  • Lahan tanaman wajib bebas pajak, karena hasil yang disetor dianggap sebagai pajak
  • Setiap kelebihan hasil panen dari jumlah pajak akan dikembalikan.
  • Tenaga dan waktu yang diperlukan untuk menggarap tanaman wajib, tidak boleh melebihi waktu yang diperlukan untuk menanam padi.
  • Rakyat yang tidak memiliki tanah, wajib bekerja selama 66 hari dalam setahun di perkebunan atau pabrik milik pemerintah.
  • Jika terjadi kerusakan atau gagal panen, menjadi tanggung jawab pemerintah.

Baca Juga: “Romusha” Arti, Pengertian & ( Kerja Paksa Pada Zaman Jepang )


Kekejaman Kolonialisme terhadap Hak Azasi Rakyat Indonesia

Penjajahan yang dialami bangsa Indonesia selama berabad – abad telah mendatangkan berbagai penderitaan bagi bangsa Indonesia. Siapapun penjajahnya, baik Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris maupun Jepang, tetap saja mereka memperlakukan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terjajah dangan tanpa peri kemanusiaan. Sebagai bangsa yang terjajah, maka tidak ada lagi kemerdekaan, kebebasan dan kedaulatan dinikmati oleh bangsa Indonesia. Yang dapat dirasakan hanyalah pemaksaan, penindasan, eksploitasi tenaga manusia, eksploitasi kekayaan tanah air, yang semuanya hanya untuk kepentingan bangsa penjajah.


Keuntungan yang diperoleh bangsa Indonesia dari penjajahan hanya sedikit sekali dan tidak sebanding dengan penderitaan yang dirasakan. Ketika pertama kali bangsa Portugis menguasai Indonesia, maka mulailah penderitaan itu. Bergantinya penjajahan dari Portugis ke Belanda tidaklah bertambah baik, bahkan bertambah buruk. Bahkan Belanda jauh lebih lama dalam melakukan penjajahannya terhadap Indonesia, sehingga dengan demikian deretan penderitaan bangsa Indonesia itu di bawah penjajahan Belanda berlangsung lama, selama penjajahan itu berlangsung.


Semua janji dan kata manis kolonial dilanggar. Pertama, bukan 1/5 dari tanah petani yang ditanami, tetapi 1/4, 1.3, bahkan setengah dari tanah milik petani digunakan untuk tanaman ekspor. Bahkan penanaman tersebut memilih tanah-tanah yang dubur. Kedua, tanah yang dipakai untuk keperluan penanaman tanaman ekspor tersebut tetap dikenakan pajak. Ketiga, para petani harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengerjakan tanaman pemerintah, sehingga tidak ada waktu untuk menggarap sawahnya sendiri. Keempat, para kepala daerah merasa tergiur dengan cultuur procenten, akibatnya mereka mulai berlomba-lomba mengusahakan daerahnya agar memberikan hasil sebanyak mungkin. Ulah mereka itu mengakibatkan rakyat semakin menderita. Kelima, kegagalan panen akibat hama atau banjir pada kenyataannya menjadi beban petani. Keenam, bukan 65 hari lamanya rakyat harus bekerja rodi, melainkan menurut keperluan pemerintah.


Rakyat sangat menderita, kelaparan terjadi dimana-mana akibatnya jumlah kematian meningkat. Orang yang menentang kerja paksa disiksa. Demikianlah penderiataan rakyat pulau Jawa akibat tanam paksa yang diciptakan oleh Van den Bosch. Belanda memperoleh keuntungan besar, sedangkan keuangannya menjadi normal kembali. Pembangunan di negeri Belanda dibiayai dari hasil tanam paksa. Tanam paksa dengan cara sewenang-wenang itu berjalan hampir setengah abad dari tahun 1830 sampai 1870. Dapat kita bayangkan betapa besar kesengsaraan yang diderita rakyat, tertama di Jawa Barat, dan Jawa Tengah.


Baca Juga: Penjelasan Akhir Kekuasaan Jepang Di Indonesia Secara Lengkap


Meskipun tanam paksa sudah menyimpang dari teori yang diciptakan Van den Bosch, pemerintah Belanda tidak mau peduli sebab tanam paksa telah memberikan keuntungan yang sangat besar. Namun ketika belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, rakyat Indonesia semula menaruh harapan bahwa penderitaannya selama dijajah bangsa Barat akan berakhir dan berganti kearah kehidupan yang lebih baik. Harapan itu ternyata sia – sia, karena sepak terjang Jepang tidak sesuai dengan janji – janji muluknya. Jepang yang semula seakan mau membantu melepaskan penderitaannya akhibat penjajahan Barat, ternyata malah menambah kesengsaraan rakyat Indonesia.


Jepang pada akhirnya juga melakukan tindakan penjajahan terhadap Indonesia dengan kekejaman di luar batas perikemanusiaan. Pada masa pendudukan jepang para petani dipaksa untuk menyerahkan hasil padinya dan hasil pertanian lainnya kepada pihak Jepang. Semua hasil pertanian diangkut untuk kepentingan Jepang dalam menghadapi perang. Keadaan ekonomi itu memang sangat parah, karena semua hasil produksi disedot untuk kepentingan perang. Semua sumber kekayaan rakyat dikuras habis sampai ke akar – akarnya. Hal ini menyebabkan rakyak Indonesia di berbagai tempat mengalami kemelaratan dan kelaparan, sehingga banyak harus makan jagung, bonggol pisang, dan sebagainya. Penyakit kekurangan gizi merajalela. Sementara itu rakyat pun banyak tidak mampu memiliki pakaian yang layak. Mereka banyak yang terpaksa harus memakai pakaian dari karung goni atau baju karet.


Penderitaan rakyat pada Jaman Jepang terutama dialami oleh mereka yang terjadi romusha (pekerja ). Pada mulanya romusha dilakukan secara sukarela untuk membantu Jepang atas dasar sikap simpati rakyat terhadap Jepang. Namun kemudian, karena Jepang memerlukan jumlah tenaga romusha yang banyak. Akhirnya romusha berubah menjadi paksaan. Tenaga romusha itu antara lain untuk membangun jalan raya, kubu pertahan, lapangan udara, pekerja kasar di pabrik atau pelabuhan, dan lain – lain. Ribuan romusha dari Jawa banyak dikirim ke luar Jawa, bahkan ke luar negeri misalnya ke Thailand, Birma, Malaya, dan Vietnam. Tenaga – tenaga romusha itu pada umunya diambil dari para pemuda desa, sehingga mempunyai pengaruh terhadap kehidupan ekonomi desa.


Kehidupan romusha ditempat kerjanya sangat tidak manusiawi. Mereka diperlakukan dengan sangat buruk oleh Jepang. Mereka dipaksa bekerja dari pagi hari sampai petang hari, tanpa istirahat dan makanan serta perawatan yang cukup. Mereka pun diawasi secara ketat oleh tentara jepang, hanya pada malam hari saja mereka dapat istirahat. Sementara itu mereka pun sangat mudah untuk terjangkit penyakit, karena kondisi kesehatan dan lingkungannya tidak terpelihara. Banyak sekali romusha yang akhirnya meninggal di tempat kerjanya. Hal ini terutama disebabkan karena pekerja yang terlalu berat, kesehatan yang tidak terjamin dan makanan yang tidak cukup.


Baca Juga: “Sistem Penyerahan Wajib Oleh VOC” Sejarah & ( Definisi )


Tujuan Kolonialisme

Umumnya kolonialisme memiliki tujuan untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, perdagangan di wilayah tersebut. Umumnya wilayah koloni ialah wilayah yang memiliki bahan mentah yang banyak untuk memenuhi keperluan negara yang melakukan kolonialisme.


Kolonialisme ini bertujuan untuk menguras habis sumber daya alam atau kekayaan alam dari negara yang dijadikannya sebagai tempat koloni untuk diangkut ke negara induk.


Macam-Macam Kolonialisme

Adapun macam-macam kolonialisme yaitu:

  • Koloni domisili merupakan penduduk suatu negara menduduki daerah koloni (asimilasi dan pendudukan).
  • Koloni libensraum merupakan terjadi ledakan penduduk di negara induk, sehingga sejumlah orang mencari ruang hidup di wilayah baru.
  • Koloni deportasi merupakan daerah koloni digunakan untuk menempatkan tahanan politik.
  • Koloni eksploitasi merupakan daerah koloni dieksploitasi SDA dan SDM nya untuk keuntungan financial.
  • Koloni defensi merupakan daerah koloni berupa pulau-pulau untuk kepentingan pertahanan.
  • Koloni netral merupakan pendudukan sebuah wilayahnya untuk tempat tinggal tanpa ada prestasi lain.

Dampak Kolonialisme

Adapun dampak kolonialisme diantaranya yaitu:


Dampak Negatif

  • Mengakibatkan penderitaan psikis dan kesengsaraan fisik.
  • Adanya pengambilan hak penduduk di Indonesia secara paksa.
  • Hilangnya harta benda dan jiwa akibat adanya paksaan untuk bekerja dan menyerahkan harta penduduk pada saat itu.
  • Perampasan kekayaan sumber daya alam terutama sumber daya alam yang berupa rempah-rempah.
  • Munculnya kemerosotan dalam bidang sosial ekonomi, politik dan lain-lain.

Baca Juga : Penjelasan Kebijakan Kolonial VOC Di Indonesia Beserta Kemundurannya


Dampak Positif

  • Mendapat kata-kata serapan baru dari negara-negara yang menjajah Indonesia.
  • Terdapat beberapa bangunan yang merupakan bentuk peninggalan dari negara-negara yang pernah menjajah Indonesia berupa sarana dan prasarana seperti pabrik gula, jalan raya, benteng dan lain-lain.
  • Adanya reformasi dalam bidang pendidikan lokal yang disebabkan oleh adanya interaksi antara sarjana-sarjana Belanda yang tidak memiliki kepentingan dengan penjajahan.
  • Meninggalkan peraturan perundang-undangan.
  • Munculnya pemikiran baru mengenai cara menanam tumbuhan yang lebih modern.

Demikianlah pembahasan mengenai Kolonialisme Adalah – Pengertian, Tujuan, Perbedaan & Contohnya semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.