Macam-Macam Najis

Diposting pada

Macam-Macam Najis – Pengertian, Hukum, Cara Mensucikan & Najis yang Dimaafkan Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Najis yang dimana dalam hal ini meliputi pengertian, hukum, cara mensucikan dan najis yang dimaafkan, untuk lebih memahami dan mengerti simak ulasan dibawah ini.

Macam-Macam Najis

Pengertian Najis

Najis adalah suatu benda yang kotor menurut syara‟, misalnya :

  1. Bangkai, kecuali manusia, ikan dan
  2. Darah
  3. Nanah
  4. Segala sesuatu yang keluar dari kubul dan
  5. Anjing dan
  6. Minuman keras seperti arak dan
  7. Bagaimana anggota badan bintang yang terpisah karena dipotong dan sebagainya selagi masih

Najis adalah suatu kotoran, jika kotoran tersebut menempel pada pakaian atau tempat, maka pakaian atau tempat tersebut tidak dapat digunakan untuk beribadah (semisal shalat) sebelum kotoran tersebut disucikan dengan cara-cara tertentu sesuai dengan tingkatan najis tersebut. (Ust.H. Faktur R, 34).


Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

 “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mesucikan diri.” (Al-Baqarah: 222).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Syarat Wajib Haji


Hukum Bersuci dari Najis

Najis adalah kotoran yang harus dibersihkan oleh orang muslim dan mengharuskannya untuk mencuci segala sesuatu yang dikenainya. Allah berfirman :

“dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatstsir (74):4).


“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah (2) : 22).


Adapun yang berasal dari as-Sunnnh adalah beberapa hadist yang cukup banyak. Diantaranya :

Barangsiapa berwudhu hendaklah ia meratakan air. Dan barangsiapa cebok,hendaklah mengganjilkan siraman.” (Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam).


Macam-Macam Najis

Najis itu dapat dibagi 3 bagian :


  1. Najis Mukhaffafah (ringan)

Najis Mukhaffafah adalah najis ringan yang berupa air kencing bayi laki-laki yang belu berumur 2 tahun dan belum pernah makan sesuatu kecuali air susu ibunya.


  1. Najis Mughallazhah (berat)

Najis Mughallazhah adalah najis brerat yang berupa najis anjing dan babi dan keturunannya.


  1. Najis Mutawassithah (sedang)

Najis Mutawassithah adalah najis yang selain dari dua najis tersebut diatas, seperti segala sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur manusia dan binatang, kecuali air mani, barang cair yang memabukkan, susu hewan yang tidak halal dimakan, bangkai, juga tulang dan bulunta, kecuali bangkai- bangakai manusia dan ikan serta belalang.


Najis Mutawassithah dibagi menjadi dua :

  • Najisainiyah ; adalah ajis yang berujud, yakni yang nampak dapat dilihat.
  • Najis hukmiyah ; adalah najis yang tidak kelihatan bendanya, seperti bekas kencing, atau arak yang sudah kering dan sebagainya.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Perbedaan Nabi dan Rasul


Benda-Benda Yang Termasuk Najis

Berikut ini terdapat beberapa benda-benda yang termasuk najis, terdiri atas:


  1. Bangkai binatang darat yang berdarah selain dari mayat manusia

Adapun bangkai binatang laut seperti ikan dan bangkai binatang darat yang tidak berdarah ketika masih hidupnya seperti belalang serta mayat manusia, semuanya suci.


Firman Allah Swt:

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai.” (Al-Maidah: 3).


Adapun bangkai ikan dan binatang darat yang tidak berdarah, begitu juga mayat manusia, tidak masuk dalam arti bangkai yang umum dalam ayat tersebut karena ada keterangan lain. Bagian bangkai, seperti daging, kulit, tulang, urat, bulu, dan lemaknya semuanya itu najis menurut madzab syafi’i. Menurut madzab Hanafi, yang najis hanya bagian-bagian yang mengandung roh(bagian-bagian yang bernama) saja, seperti daging dan kulit.


Bagian-bagian yang tidak bernyawa, seperti buku, tulang, tanduk, dan bulu, semuanya itu suci. Bagian-bagian yang tak bernyawa dari anjing dan babi tidak termasuk najis.


  1. Darah

Segala macam darah itu najis, selain hati dan limpa. Firman Allah Swt.

Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, dan daging babi.” (Al-Maidah: 3).


Sabda Rasulullah Saw:

Telah dihalalkan kita dua macam bangkai dan dua macam darah: ikan dan belalang, hati dan limpa.” (Riwayat Ibnu Majah).


Dikecualikan juga darah yang tertinggal di dalam daging binatang yang sudah disembelih, begitu juga darah ikan. Kedua macam darah ini suci atau dimaafkan, artinya diperbolehkan atau dihalalkan.


  1. Nanah

Segala macam nanah itu najis, baik yang kental maupun yang cair, karena nanah itu merupakan darah yang sudah busuk.


  1. Segala benda cair yang keluar dari dua pintu

Semua itu najis selain dari mani, baik yang biasa seperti tinja, air kencing ataupun yang tidak biasa, seperti mazi, baik dari hewan yang halal dimakan ataupun yang tidak halal dimakan.


  1. Arak (setiap minuman keras yang memabukan)

Sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji. , termasuk perbuatan setan.”(Al-Maidah 90).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Pengertian, Jenis Dan Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa (Saum)


  1. Anjing dan Babi

Semua hewan suci, kecuali Anjing dan Babi.


Sabda Rasulullah Saw:

طَهُورُاِنَاءِاَحَدِكُم اِذَاوَلَغ فِيْه الكلْبُ اَنْ يغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ اُولاَ هُنَّ بِا لتُّرَابِ (رواه مسلم)

Cara mencuci bejana seseorang dari kamu apabila dijilat anjing, hendaklah dibasuh tujuh kali, salah satunya hendaklah dicampur dengan tanah.” (HR. Muslim).


  1. Bagian badan binatang yang diambil dari tubuhnya selagi hidup.

Hukum bagian-bagian badan binatang yang diambil selagi hidup ialah seperti bangkainya. Maksudnya, kalau bangkainya najis, maka yang dipotong itu juga najis, seperti babi dan kambing. Kalau bangkainya suci, yang dipotong selagi hidupnya sewaktu hidupnya pun suci pula, seperti yang diambil dari ikan hidup. Dikecualikan bulu hewan yang halal dimakan, hukumnya suci.


  1. Kotoran dan Kencing Hewan Yang Haram Dimakan Dagingnya

Setiap binatang yang tidak boleh (haram) dimakan dagingnya menurut syari’at islam seperti keledai, maka semua yang keluar dari binatang-binatang tersebut adalah najis, baik itu kotoran maupun kencingnya.


  1. Hewan Jalalah (Liar)

Jalalah adalah hewan liar yang memakan kotoran, baik kotoran unta, sapi, kamping, ayam, angsa, dan lain-lainnya, sehingga hewan tersebut berubah baunya.


  1. Khamr

Khamr menurut jumhur ulama, dihukumi najis.


  1. Wadi

Wadi adalah cairan kental yang biasanya keluar setelah seseorang selesai dari buang air kecilnya (kencing). Wadi ini dihukumi najis dan harus disucikan seperti halnya kencing, tetapi tidak wajib mandi.


  1. Madzi

Madzi adalah cairan bening sedikit kental yang keluar dari saluran kencing ketika bercumbu atau nafsu syahwat mulai terangsang. Terkadang tidak merasakan akan proses keluarnya. Hal itu sama-sama dialami oleh laki-laki dan juga wanita, akan tetapi jumlahnya lebih banyak.


  1. Kencing dan Muntah Manusia

Menurut kesepakatan para ulama, keduanya adalah najis.


  1. Darah

Yang dimaksud dengan darah di sini adalah haid, pendarahan yang dialami oleh seseorang wanita yang tengah hamil, nifas maupun darah yang mengalir, misalnya darah yang mengalir dari hewan yang disembelih.


  1. Mani

Mengenai mani, terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama, yang mana sebagian dari mereka menganggapnya najis. Yang jelas ia tetap suci.


  1. Bangkai

Yang dimaksud dengan bingkai di sini adalah setiap hewan yang mati tanpa melalui proses penyembelihan yang disyari’atkan oleh islam dan juga potongan tubuh dari hewan yang dipotong atau terpotong dalam keadaan masih hidup. Pengecualian bangkai, diantaranya: Bangkai ikan dan belalang, Bangkai yang tidak memiliki darah mengalir (semut, lebah), Tulang, tanduk dan bulu bangkai, kesemuanya itu adalah suci.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Iman Kepada Qada dan Qadar


Istinja’

Apabila keluar kotoran dari salah satu dua pintu tempat keluar kotoran, wajib istinja’ dengan air atau dengan tiga buah batu. Yang lebih baik, mula-mula dengan batu atau lainnya, kemudian dengan air. Dalam beristinja’ dengan batu, hendaklah dengan tiga batu (ganjil), atau satu batu bersegi tiga. Adapun istinja’ menggunakan benda licin seperti kaca tidak disahkan. Demikian pula dengan benda yang dihormati, seperti makanan (mubazir).


Syarat istinja’ dengan batu dan sejenisnya hendaklah dilakukan sebelum kotoran kering, dan kotoran itu tidak mengenai tempat lain selain tempat keluarnya. Jika kotoran itu sudah kering atau mengenai tempat lain selain tempat keluarnya, maka tidak sah lagi istinja’ dengan batu tetapi wajib dengan air.


Najis yang Dimaafkan (Ma’fu)

Najis yang dimaafkan artinya tak usah dibasuh / dicuci, misalnya najis bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya, darah atau nanah yang sedikit, debu dan air lorong-lorong yang memercik sedikit yang sukar menghindarkannya.


Adapun tikus atau cicak yang jatuh kedalam minyak atau makanan yang beku, dan ia mati didalamnya, maka makanan yang wajib dibuang itu atau minyak yang wajib dibuang itu, ialah makanan atau minyak yang dikenai itu saja. Sedang yang lain boleh dipakai kembali. Bila minyak atau makanan yang dihinggapinya itu cair, maka semua makanan atau minyak itu hukumnya najis. Karena yang demikian itu tidak dapat dibedakan mana yang kena najis dan mana yang tidak.


Cara Mensucikan Barang yang Terkena Najis

Berikut ini terdapat beberapa cara mensucikan barang yang terkena najis, terdiri atas:


  1. Pakaaian atau Anggota Badan yang Terkena Najis

Pakaian atau anggota badan yang terkena najis, wajib dicuci dengan air bersih(air yang suci dan mensucikan), sedemikian rupa sehingga zat najis itu hilang warnanya, baunya dan rasanya. Jika, setelah cukup dicuci, masih juga ada sedikit warna atau bau yang sukar dihilangkan, hal itu dimaafkan.


  1. Zat Najis yang Tidak Tampak

Bila zat najis itu tidak tampak; seperti kencing yang sudah lama kering, sehingga telah hilang tanda-tandanya atau sifat-sifatnya, cukup mengalirkan air diatasnya, walaupun hanya satu kali saja.


  1. Bejana yang Terkena Jilatan Anjing

Bejana (tempat makan, tempat minum atau alat memasak seperti piring, gelas dan periuk) yang bagian dalamnya terkena jilatan anjing, dibasuh tujuh kali, yang pertama atau salah satunya dicampur dengan tanah. Boleh juga menggantikan tanah dengan sabun, atau pembersih lain yang kuat.


Benda-benda selain bejana, demikian pula anggota badan seseorang atau pakainannya, jika tersentuh anjing, wajib mencucinya sampai benar-benar bersih, walaupun hanya satu kali saja jika dengan itu dapat menjadi bersih kembali.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Iman Kepada Hari Akhir


  1. Benda yang Tersentuh Babi

Untuk menyucikan sesuatu yang tersentuh babi, cukup dengan membasuhnya satu kali saja dengan air, tanpa tanah, apabila sudah dianggap cukup bersih kembali(sama seperti najis-najis lainnya).


  1. Cara Menyucikan Kencing Bayi

Kencing bayi (laki-laki atau perempuan) berusia dibawah dua tahun dan tidak makan makanan selain air susu manusia (baik dari ibinya sendiri atau ataupun seorang wanita lainnya), cukup diperciki air bersih diatasnya dan sedikit lagi dibawahnya.


  1. Tanah yang Terkena Najis

Untuk menyucikan tanah yang terkena najis, cukup dengan menuangkan air diatasnya, sehingga meliputi tempat najis tersebut.


  1. Mentega yang Terkena Najis

Mentega, minyak yang bekudan yang serupa dengan itu, apabila terkena zat najis(misalnya kejatuhan bangkai cicak dan lainnya) cukup dibuang bagian yang terkena najis tersebut dan sekitarnya saja. Akan tetapi,  jika najis itu menyentuh bahan makanan yang cair, seperti minyak goreng misalnya, maka semuanya manjadi najis.


  1. Kaca, Pisau dan Keramik

Untuk membersihkan kaca, pisau, pedang keramik dan segala benda yang permukaannya licin seperti itu, apabila terkena najis, cukup dengan mengusapnya sehingga hilang bekas-bekas najis tersebut.


  1. Sepatu dan Sandal

Bagian bawah sepatu, sandal dan sebagainya, apabila terkena najis, cukup dibersihkan dengan cara menggosoknya ketanah sehingga hilang zat dari najisnya.


  1. Tali Jemuran

Tali jemuran yang pernah digunakan untuk menjemur pakaian yang terkena najis, dapat dianggap suci kembali jika telah mengering, baik karena panas matahari atau hembusan angin.


  1. Tetesan Air yang Meragukan

Apabila seseorang terkena tetesan air atau percikan air yang tidak jelas najis atau tidaknya, maka tidak wajib menanyakan hal itu dan menyucinya. Akan tetapi jika ia telah diberitahu oleh orang terpercaya bahwa air itu adalah najis, maka wajib manyucinya.


  1. Pakaian yang Terkena Lumpur Jalanan

Pakaian yang terkena lumpur jalanan, tidak harus dicuci walaupun jalanan tersebut biasanya terkena najis. Kecuali jika ia yakin bahwa yang mengotorinya itu zat najis.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Nama-Nama Surga dan Neraka


  1. Melihat Najis di Pakaian Setelah Selesai Shalat

Jika seseorang telah menyelesaikan shalatnya, lalu melihat najis di pakaian atau tubuhnya, sedangkan sebelum itu ia tidak mengetahuinya, atau telah mengetahui tetrapi terlupa maka ia hanya wajib mengulangi shalatnya yang terakhir saja. Yakni sebelum mengetahui adanya najis tersebut.


  1. Najis yang Tidak Dikenali Tempatnya

Jika seseorang mengetahui adanya najis pada pakaiannya tetapi kini ia tidak tahu lagi di bagian manakah najis tersebut, wajiblah ia mencuci semuanya, karena hanya dengan begitu ia dapat meyakini kesuciannya.


  1. Menyamak Kulit Bangkai

Kulit bangkai, selain anjing dan babi, dapat menjadi suci setelah melalui proses penyamakan.


  1. Menggunakan Alat-Alat Makan-Minum Orang-Orang Non-Muslim

Dirawikan bahwa abu Tsa’labah Al-Khusyani pernah bertanya, “Ya Rasulullah, adakalanya kami berada di negeri Ahl’l-Kitab. Bolehkah kami makan dengan menggunakan alat-alat makan-minum mereka?


Najis yang Berlaku Khusus bagi Perempuan

Berikut ini terdapat beberapa najis yang berlaku khusus bagi perempuan, terdiri atas:

  • Darah Haid adalah darah yang keluar dari kemaluan perempuan ketika dalam kondisi sehat, bukan karena penyakit maupun akibat
  • Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita pada saat melahirkan atau setelahnya jika bayi lahir prematur.
  • Istihadhah adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita karena adanya suatu penyakit, diluar masa haid dan nifas. Salah satu cirinya adalah ia tidak berbau anyir. (Fiqh Ibadah, 126).

Demikianlah pembahasan mengenai Macam-Macam Najis – Pengertian, Hukum, Cara Mensucikan & Najis yang Dimaafkan semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Butuhkan