Manajemen Kelas

Diposting pada

Pengertian Manajemen Kelas

Manajemen Kelas – Pengertian, Tujuan, Prinsip, Masalah Dan Contoh – Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengawasan kegiatan pembelajaran guru dengan segenap penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Manajemen adalah rangkaian kegiatan atau tindakan yang dimaksud untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya pembelajaran. Manajemen kelas merupakan persyaratan penting yang menentukan terciptanya pembelajaran yang efektif.


Penciptaan kelas yang nyaman merupakan kajian dari manajemen kelas, sebab manajemen kelas merupakan serangkaian perilaku guru dalam upayanya menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan peserta  didik untuk belajar dengan baik. Keefektifan  manajemen  kelas  sangat  tergantung kepada bagaimana guru memahami berbagai aspek pelaksanaannya.


Inovasi dalam bidang pendidikan terus digalakkan guna menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam bidang pendidikan.  Inovasi dalam bidang pendidikan tersebut seperti kurikulum, metode mengajar, media pembelajaran, administrasi pendidikan, dan strategi pembelajaran. Implikasi dari inovasi dalam bidang pendidikan adalah  bahwa  ukuran  keberhasilan  proses belajar mengajar guru di kelas mengalami perubahan, tuntutan  ketertiban  kelas juga menjadi berubah.


Guru mengajar tanpa menyiapkan satuan pelajaran, tanpa media, tanpa variasi metode, keadaan kelas yang tenang tanpa aktivitas para siswa mengerjakan tugas atau melakukan kegiatan belajar demi tercapainya tujuan  belajar, bukanlah kelas yang baik, dan itu perlu dihindari. Adanya perubahan tuntutan kondisi / ketertiban kelas agar proses belajar lebih berkualitas, maka guru perlu mengetahui manajemen kelas dalam proses pembelajaran. Setiap proses pembelajaran dengan metode, media, pendekatan tertentu menuntut suasana kelas tertentu pula.


Pembelajaran yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh pembaharuan kurikulum, fasilitas yang tersedia, kepribadian guru yang simpatik, pembelajaran yang penuh kesan, wawasan pengetahuan guru yang luas tentang semua bidang, melainkan juga guru harus menguasai kiat manajemen kelas. Setiap  kegiatan  belajar mengajar mengisyaratkan tercapainya tujuan, baik tujuan instruksional maupun tujuan pengiring. Namun tidak dapat dipungkiri keadaan di kelas  sering kali tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.


Upaya guru menciptakan dan mempertahankan kondisi yang diharapkan akan efektif apabila:

  1. diketahui secara tepat faktor-faktor yang dapat menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses  belajar mengajar;
  2. diketahuinya masalah-masalah  yang  diperkirakan  dan  yang mungkin tumbuh yang dapat merusak iklim belajar mengajar; dan
  3. dikuasai berbagai pendekatan dalam manajemen kelas dan diketahui pula kapan dan untuk masalah mana satu pendekatan digunakan (Entang dan Joni, 1983:7).

    Pengajaran adalah serangkaian kegiatan yang bermaksud  memfasilitasi  peserta  didik mencapai tujuan pendidikan secara langsung. Manajemen  kelas  merupakan segenap upaya guru dalam mengelola kegiatan  pembelajaran  guna  mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Manajemen kelas menentukan keberhasilan pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa.


Baca Juga: Public Relations Adalah


Sehingga nampak jelas bahwa peran guru dalam manajemen kelas sangat menentukan keefektifan dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru  dan  siswa. Manajemen kelas berasal dari dua kata yaitu manajemen  dan  kelas. Apakah yang dimaksud dengan manajemen? Manajemen berasal dari kata manage yang berarti mengurus, memimpin, mencapai,  dan  memerintah.


Manajemen berasal dari Bahasa Latin, yaitu manus yang berarti tangan, dan agere yang berarti melakukan (Usman, 2009:5). Dua kata tersebut digabung menjadi managere, yang berarti menangani, melakukan dengan tangan. Usman (2009:5) mengemukakan managere diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, dalam bentuk kata kerja to manage, kata benda management, dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen.


  • Manajemen menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008:909-910) adalah: (1) proses pemakaian sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan; dan (2) penggunaan sumber daya secara efektif untuk  mencapai  sasaran.
  • Stoner (1995) berpendapat bahwa manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan berbagai berbagai sumber daya organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang diinginkan.
  • Hasibuan (1990) menyatakan bahwa manajemen adalah ilmu dan  seni  mengatur  proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan tertentu.
  • Sedangkan Siagian (2002) mengemukakan bahwa manajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan orang lain.

Sementara itu Brech mengemukakan management a  social  process entailing responsibility for the effective  and economical planning and  regulation  of the operations of an enterprise, in fulfillment of a given purpose or task (Williams, 2006:4).

Hal senada dikemukakan oleh Williams (2006:4) yang menyatakan management involves making plans and decisions about the future needs of the business; management is about making cost-effective use of resources through efficient organization and control; and management is about getting the best out of people to achieve objectives.


Hal senada dikemukakan oleh Herujito (2006:2) yang berpendapat bahwa manajemen adalah pengelolaan suatu pekerjaan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan dengan cara menggerakkan orang-orang lain untuk bekerja. Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah proses  penataan dengan melibatkan segenap sumber daya yang potensial, baik yang  bersifat manusia dan nonmanusia, dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.


Imron (2003:4-5) menegaskan beberapa unsur yang terdapat dalam pengertian manajemen, yaitu:

  1. adanya suatu proses,  hal  ini  menunjukkan  bahwa ada tahapan tertentu yang harus dilakukan jika seseorang melakukan kegiatan manajemen;
  2. adanya penataan, berarti makna  manajemen  sesungguhnya adalah penataan, pengelolaan, dan pengaturan;
  3. terdapatnya sumber-sumber potensial yang harus dilibatkan, baik sumber manusia dan nonmanusia, namun lebih menekankan pelibatan sumber potensial yang bersifat manusia, sebab terlibat dan tertatanya sumber-sumber potensial yang bersifat manusiawi, akan dengan sendirinya menjadikan tertatanya sumber potensial yang bersifat nonmanusia;
  4. adanya tujuan yang hendak tercapai, karena pelibatan sumber potensial yang bersifat manusia dan nonmanusia  tersebut  bukan  merupakan tujuan, melainkan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan dan misi tertentu; dan
  5. pencapaian tujuan tersebut diupayakan agar secara efektif dan efisien.

Baca Juga: “Manajemen Proyek” Pengertian & ( Fungsi – Tujuan – Ruang Lingkup – Contoh )


Selanjutnya apa yang dimaksud dengan kelas?

Kelas adalah ruang tempat belajar di sekolah (Kamus Bahasa Indonesia, 2008:669). Ketika membahas kelas, maka seseorang lazim akan mempersepsikan bahwa  kelas  merupakan  sebuah ruang berdinding, di dalamnya ada meja, kursi, papan tulis, dan perabot lainnya yang digunakan guru dan siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran. Wiyani (2013:53) menyatakan bahwa kelas merupakan bangunan yang tidak bisa digerak- gerakkan atau dipindahkan.


Pengertian tersebut merupakan pengertian sempit dari kelas. Sedangkan pengertian luas dari kelas adalah semua tempat yang dapat digunakan dan/atau diakses oleh guru dan siswa untuk melakukan pembelajaran yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Sehingga kelas memiliki cakupan yang  luas, di mana ada interaksi guru dan siswa terkait membahas ilmu pengetahuan, maka tempat tersebut dapat disebut dengan kelas. Seiring dengan perkembangan teknologi, wahana untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran pun semakin kompleks dan canggih. Pembelajaran tidak hanya dilakukan secara tatap muka, namun dapat dilakukan tanpa tatap muka, seperti pembelajaran dengan sistem e- learning.


Sementara itu Arikunto (1988) berpendapat bahwa  kelas adalah sekelompok peserta didik yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama. Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa jika ada sekelompok peserta didik yang pada  waktu  bersamaan  menerima pelajaran yang sama dari guru yang berbeda, jelas itu tidak dapat disebut kelas. Berdasarkan paparan tersebut diketahui bahwa kelas  merupakan  sekelompok  siswa yang diajar secara bersama-sama atau suatu lokasi di mana kelompok itu menjalankan aktivitas proses pembelajaran pada waktu dan tempat yang dikondisikan secara formal. Kelas adalah sekelompok siswa yang ada pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.


Nawawi yang mengartikan kelas sebagai suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah sebagai satu kesatuan diorganisasikan menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk mencapai tujuan (Rohmad, 2009:69). Sedangkan Wiyani (2013:52) mengartikan kelas sebagai unit kerja terkecil di sekolah yang digunakan sebagai tempat untuk kegiatan belajar-mengajar. Sebagai suatu unit kerja terkecil di sekolah, di dalam suatu kelas terdiri dari sekelompok peserta didik dan berbagai sarana prasarana belajar. Sekelompok peserta didik tersebut tentu tidaklah homogen, tetapi heterogen, mulai dari perbedaan jenis kelamin, tinggi badan, usia, tingkat intelegensi, bakat, minat, hingga perbedaan    tipe belajar.


Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat diketahui pada hakikatnya kelas adalah merupakan kumpulan individu yang memiliki karakteristik berbeda- beda dan merupakan wahana paling dominan bagi terselenggaranya proses pembelajaran bagi siswa. Kedudukan kelas yang  demikian  penting, mengisyaratkan bahwa agar proses pendidikan dan  pembelajaran  dapat berlangsung secara efektif dan efisien, maka dibutuhkan guru yang profesional dalam melakukan pengelolaan kelas melalui pendekatan manajemen kelas.


Agar kondisi kelas memberikan kontribusi yang positif bagi keefektifan proses pembelajaran, maka guru harus mampu menciptakan dan  merekayasa  kondisi  kelas yang dihadapinya dengan sedemikian rupa. Usaha ini akan efektif manakala guru memahami secara tepat faktor-faktor yang mendukung terciptanya kondisi belajar yang menguntungkan, seperti menginventarisasi masalah-masalah yang diperkirakan mungkin timbul sehingga dapat merusak iklim proses belajar mengajar, menguasai berbagai pendekatan manajemen kelas, mencari solusi dan alternatif yang terbaik bagi penyelesaian masalah yang dihadapinya saat berlangsungnya proses belajar mengajar, merencanakan apa yang seharusnya dilakukan dalam proses belajar mengajar.


Manajemen kelas adalah seni dan praktis kerja yang dilakukan oleh guru, baik secara individu, dengan atau melalui orang  lain  (seperti  team  teaching dengan teman sejawat atau siswa sendiri) untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Jika mengacu pada proses manajemen, maka manajemen kelas juga memiliki proses, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan (evaluasi).


Perencanaan merujuk pada perencanaan pembelajaran dan unsur-unsur penunjangnya, yang meliputi program tahunan,  program  semester,  silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, instrumen evaluasi, dan rubrik penilaian. Pelaksanaan bermakna proses pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa di  kelas. Sedangkan pengawasan yang berwujud evaluasi pembelajaran, terdiri dari jenis yaitu evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran.


Baca Juga: “Manajemen PAUD” Pengertian & ( Tujuan – Ruang Lingkup – Aplikasi )


Tujuan Manajemen Kelas

Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umu tujuan pengelolaan kelas dalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa “Djamarah dan Zain, 2010:178”.


Manajemen kelas adalah adalah usaha sadar untuk  mengatur  kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Usaha sadar itu meliputi penyiapan  bahan ajar, penyediaan sarana dan alat peraga atau media pembelajaran, mengatur ruang belajar, dan menciptakan suasana belajar yang kondusif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Guru dalam melaksanakan pengelolaan kelas harus memahami kegiatan dalam manajemen kelas atau aspek-aspek manajemen kelas. Manajemen kelas yang dilakukan guru bukan tanpa ada tujuan. Karena ada tujuan itulah guru selalu berusaha mengelola kelas, walaupun terkadang kelelahan fisik maupun pikiran dirasakan. Guru sadar tanpa mengelola kelas dengan baik, akan berdampak pada terhambatnya kegiatan belajar mengajarnya.


Hal seperti itu sama saja membiarkan jalannya pengajaran tanpa membawa hasil, yaitu adanya perubahan tingkah laku peserta didik yang menjadi lebih baik perilakunya, mengantarkan peserta didik dari tidak tahu menjadi  tahu,  dari mengerti menjadi mengerti, dan dari tidak berilmu menjadi berilmu. Tentu tidak perlu diragukan bahwa setiap kali masuk kelas,  guru  selalu  melaksanakan tugasnya mengelola kelas. Manajemen kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang  baik. Manajemen kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang  memungkinkan  siswa  berbuat sesuai dengan kemampuannya. Kemudian dengan manajemen kelas produknya harus sesuai dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai.


Tujuan manajemen kelas adalah penyedia fasilitas bagi berbagai macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap apresiasi pada siswa. Arikunto (1988:68) berpendapat bahwa tujuan manajemen kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajar secara efektif dan efesien.


Jika mengacu pada pengertian manajemen kelas, maka tujuan manajemen kelas adalah menciptakan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut dapat belajar dengan  efektif.  Beberapa  pengertian  manajemen kelas, seperti yang telah dipaparkan pada Subbab Pengertian Manajemen Kelas di atas, dapat diketahui pengertian berdasarkan konsep lama, berdasarkan konsep modern, dan berdasarkan pandangan pendekatan operasional tertentu.


Manajemen kelas menurut konsepsi lama diartikan sebagai upaya mempertahankan ketertiban kelas. Guru menurut konsepsi lama bertugas menciptakan, memperbaiki, dan memelihara sistem organisasi kelas sehingga individu dapat memanfaatkan kemampuannya, bakatnya, dan energinya pada tugas-tugas individual (Johnson dan Bany, 1970). Sedangkan manajemen kelas menurut konsepsi modern adalah proses seleksi  yang  menggunakan  alat  yang tepat terhadap problem dan situasi manajemen kelas.

Baca Juga: “Manajemen Risiko” Pengertian & ( Cara Melakukan – Langkah )


Manajemen kelas berdasarkan pandangan pendekatan operasional tertentu menurut Weber (1993) adalah:

  1. seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui penggunaan disiplin (pendekatan otoriter);
  2. seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi (pendekatan intimidasi);
  3. seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa (pendekatan permisif);
  4. seperangkat kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti petunjuk atau resep yang telah disajikan (pendekatan buku masak);
  5. seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yang bermutu dan dilaksanakan dengan baik (pendekatan instruksional);
  6. seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan (pendekatan pengubahan perilaku);
  7. seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif (pendekatan penciptaan iklim sosio-emosional); dan
  8. seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif (pendekatan sistem sosial).

Berdasarkan paparan di atas dapat diketahui bahwa tujuan  manajemen  kelas adalah untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuannya. Manajemen kelas merupakan usaha sadar yang bertujuan untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara  sistematis.  Usaha  sadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi dan  kondisi  proses  belajar mengajar, dan pengaturan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat tercapai (Dirjen Dikdasmen, 1996).


Manajemen kelas ditujukan pada kegiatan yang menciptakan dan menjaga kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar siswa, seperti membina hubungan baik antara siswa dengan guru, reinforcement, punisment,  dan  pengaturan tugas. Tujuan manajemen kelas adalah:

  1. mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan  kemampuan  semaksimal mungkin;
  2. menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran;
  3. menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa  dalam  kelas;  dan
  4. membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individunya. Kemampuan guru  memahami konsep manajemen kelas dan mampu mengimplementasinya menjadi  faktor penentu keberhasilan pembelajaran.

Manajemen kelas ditekankan pada aspek pengaturan lingkungan pembelajaran yaitu berkaitan dengan siswa dan barang/fasilitas. Kegiatan guru tersebut dapat berupa pengaturan kondisi dan fasilitas yang berada di dalam kelas yang diperlukan dalam proses pembelajaran di antaranya tempat duduk, perlengkapan dan bahan ajar, dan lingkungan kelas.


Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dalam mengelola atau mendesain kelas, yaitu menyediakan iklim yang kondusif untuk berlangsungnya  proses  pembelajaran  yang efektif dan efisien. Apabila suasana belum kondusif,  maka  seorang  guru harus berupaya seoptimal mungkin untuk menguasai, mengatur membenahi, dan menciptakan suasana kelas yang kondusif, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.


Baca Juga: “Manajemen Kualitas” Pengertian & ( Pendekatan – Kriteria )


Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas

Dalam manajemen kelas terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan sebagai prasyaratan menciptakan satu model pembelajaran yang efektif dan efisien yaitu “Muhaimin, 2002:137-144”.


  • Prinsip Kesiapan “Readiness”

Kesiapan belajar ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, inteligensi, latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.


  • Prinsip Motivasi “Motivation”

Motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Adanya motivasi pada peserta didik maka akan bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian dan rasa ingin tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar, berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut serta terus bekerja sampai tugas-tugas tersebuty terselesaikan.


  • Prinsip Perhatian

Perhatian merupakan suatu strategi kognitif yang mencakup empat keterampilan yaitu berorientasi pada suatu masalah, meninjau sepintas isi masalah, memusatkan diri pada aspek-aspek yang relevan dan mengabaikan stimuli yang tidak relevan. Dalam proses pembelajaran perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya.


  • Prinsip Persepsi

Prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam menggunakan persepsi adalah:

  1. Makin baik persepsi mengenai sesuatu makin mudah peserta didik belajar mengingat sesuatu tersebut.
  2. Dalam pembelajaran perlu dihindari persepsi yang salah karena hal ini akan memberikan pengertian yang salah pula pada peserta didik tentang apa yang dipelajari.
  3. Dalam pembelajaran perlu diupayakan berbagai sumber belajar yang dapat mendekati benda sesungguhnya sehingga peserta didik memperoleh persepsi yang lebih akurat.

  • Prinsip Retensi

Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu. Dengan retensi membuat apa yang dipelajari dapat bertahan atau tertinggal lebih lama dalam struktur kognitif dan dapat diingat kembali jika diperlukan. Karena itu retensi sangat menentukan hasil yang diperoleh peserta didik dalam proses pembelajaran.


  • Prinsip Transfer

Transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari dapat memengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dengan demikian transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari. Pengetahuan atau keterampilan yang diajarkan disekolah selalu diasumsikan atau diharapkan dapat dipakai untuk memecahkan masalah yang dialami dalam kehidupan atau dalam pekerjaan yang akan dihadapi kelak.


Baca Juga: Pengertian PT dan CV


Masalah -Masalah Dalam Manajemen Kelas

Seorang guru dalam kegiatan sehari-hari, akan menghadapi kasus-kasus dalam kelasnya. Kasus-kasus yang dijumpai guru dalam manajemen kelas antara lain seperti:

  1. Tingkat penguasaan materi oleh siswa di dalam kelas. Misalnya, materi pelajaran yang diberikan kepada siswa terlalu tinggi atau sulit, sehingga tidak bisa diikuti oleh siswa, maka di sini diperlukan penyesuaian agar siswa dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik. Apabila tidak diadakan penyesuaian, siswa-siswa tidak akan serius dan selalu menimbulkan kegaduhan.
  2. Fasilitas yang diperlukan. Misalnya alat, media, bahan, tempat, biaya, dan lain-lain, akan memungkinkan siswa belajar dengan
  3. Kondisi siswa. Misalnya, siswa yang kelihatan sudah lesu dan tidak bergairah dalam menerima pelajaran, hal ini dapat mempengaruhi situasi
  4. Teknik mengajar guru. Misalnya, dalam memberikan pengajaran kurang menggairahkan suasana kelas dan menjemukan.

Aspek Manajemen Kelas

Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas  adalah sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan selektif, dan kreatif (Johnson dan Bany, 1970). Kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan  dalam manajemen kelas sebagai aspek-aspek manajemen kelas, seperti tertuang dalam Dirjen Dikdasmen (2000) adalah:


  1. mengecek kehadiran siswa;
  2. mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, memeriksa, dan menilai hasil pekerjaan tersebut;
  3. pendistribusian bahan dan alat;
  4. mengumpulkan informasi siswa, mencatat data pemeliharaan arsip;
  5. menyampaikan materi pelajaran; dan
  6. memberikan tugas.

Sementara itu hal-hal yang perlu diperhatikan para guru, khususnya guru baru dalam pertemuan pertama dengan siswa di kelas adalah:

  1. ketika bertemu dengan siswa, guru harus: (a) bersikap tenang dan percaya diri, (b) tidak menunjukkan rasa cemas, muka masam, atau sikap  tidak  simpatik;  (c)  memberikan salam lalu memperkenalkan diri; dan (d) memberikan format isian tentang data pribadi siswa atau guru menyuruh siswa menulis riwayat hidupnya secara singkat;
  2. guru  memberikan tugas  kepada siswa dengan tertib  dan lancar;
  3. mengatur tempat duduk siswa secara tertib dan teratur;
  4. menentukan  tata cara  berbicara  dan tanya  jawab;
  5. membuat denah  kelas (tempat duduk siswa); dan
  6. bertindak disiplin, baik terhadap siswa maupun terhadap  diri  sendiri (Dirjen Dikdasmen, 1996:13).

Baca Juga: Riset Pasar


  • Inovasi Pendidikan dalam Lingkup Kelas

Inovasi kelas menyangkut upaya kepala sekolah untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan diri para guru untuk melakukan tindakan- tindakan atau usaha-usaha yang bersifat kreatif dan inovatif. Dengan demikian, kepala sekolah dan guru-guru perlu mencari atau menciptakan cara-cara kerja atau hal-hal yang baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Sekurang-kurangnya mereka diharapkan mau dan mampu memodifikasi hal-hal atau cara-cara baru yang lebih baik atau lebih efektif dan efisien. Kondisi demikian perlu diciptakan di sekolah agar pembaharuan pendidikan dapat muncul dari warga sekolah. Sebab, hal ini akan menumbuhkan sikap dan daya kreatif warga sekolah.


  • Guru

Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai. Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain: (1) penguasaan materi yang diajarkan, (2) metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, dan (3) hubungan antarindividu, baik dengan siswa maupun sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan seperti adminstrator, misalnya kepala sekolah dan tata usaha serta masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri.


  • Siswa

Sebagai objek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Siswa dalam proses belajar mengajar, dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan,sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekuen.


  • Kurikulum

Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamya, maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembaharuan pendidikan, perubahan itu hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari kedua-duanya akan berjalan searah.


  • Fasilitas

Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembahruan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembaharuan pendidikan. Oleh karena itu, jika dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu diperhatikan. Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku, atau meja.


  • Lingkup sosial masyarakat

Sekolah dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif, dalam pelaksanaan pembaharuan pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.


  • Permasalahan Kelas

Masalah manajemen kelas dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu: (1) masalah individual; dan (2) masalah kelompok (Entang dan Joni, 1983:12). Tindakan manajemen kelas yang dilakukan oleh seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang dihadapi. Munculnya masalah individu didasarkan pada anggapan dasar bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya mencapai tujuan tertentu yaitu pemenuhan kebutuhan untuk diterima oleh kelompok dan untuk mencapai harga diri. Dreikurs (2011) berpendapat bila kebutuhan-kebutuhan itu tidak lagi dapat dipenuhi melalui cara-cara yang wajar, maka individu yang bersangkutan akan berusaha untuk mencapainya dengan cara-cara lain, seperti bertindak dengan cara tidak baik.

Lebih lanjut Johnson dan Bany (1970) mengemukakan ciri-ciri kelompok dalam kelas yang sekaligus sebagai variabelnya, yaitu:


  • Kesatuan kelompok

Kesatuan kelompok memegang peranan penting dalam mempengaruhi anggota-anggotanya bertingkah laku. Kesatuan berkaitan dengan komunikasi, perubahan sikap dan pendapat, standar kelompok, dan tekanan terhadap perpecahan kelompok atau ketidaksatuan. Penggunaan dominasi yang kuat dapat meningkatkan kesatuan, tetapi pemberian peraturan oleh guru dapat menimbulkan kerusuhan. Kesatuan dapat dikembangkan dengan menolong siswa agar menyadari hubungan mereka satu sama lain sebagai alat pemersatu. Kesatuan kelompok kelas tercermin pada struktur organisasi kelas yang solid dan kompak.


  • Interaksi dan komunikasi

Interakasi terjadi dalam komunikasi, kalau beberapa orang / anggota mempunyai pendapat tertentu, maka terjadilah komunikasi dalam kelompok dan diteruskan dengan interaksi, membahas pendapat tersebut yang senang disertai dengan emosi yang memperkuat interaksi. Akan tetapi tiap kelompok akan berusaha untuk mempertahankan interaksi kelompoknya. Hal ini perlu dibantu oleh guru supaya tugas-tugas belajar dapat berlangsung secara wajar. Guru perlu mengetahui kebutuhan berkomunikasi siswa-siswanya dan memberi kebebasan kepadanya untuk berbicara. Komunikasi verbal atau nonverbal, bila tidak terselesaikan dapat membuat situasi rusak. Untuk membantu mereka, guru mengetahui latar belakang mereka.


  • Struktur kelompok

Struktur informal dalam kelompok dapat mempengaruhi struktur formal. Beberapa individu yang mungkin merupakan struktur informal, bila selalu ditempatkan pada posisi yang tinggi, hal ini dapat merusak keakraban kelompok. Tempat anggota dalam kelompok perlu sekali diusahakan agar menarik baginya. Posisi di atas bila perlu bisa dibuat berganti-ganti.


  • Tujuan-tujuan kelompok

Apabila tujuan-tujuan kelompok ditentukan bersama oleh siswa dalam hubungan tujuan pendidikan, maka anggota-anggota kelompok akan bekerja lebih produktif dalam menyelesaikan tugasnya. Dengan kata lain, siswa akan bekerja dengan baik, apabila hal itu berhubungan dengan tujuan-tujuan mereka.


  • Kontrol

Hukuman-hukuman yang diciptakan bersama bagi siswa yang melanggar, mungkin dapat memperkecil pelanggaran, akan tetapi beberapa anak tetap akan tidak dapat belajar dengan baik. Cara yang baik adalah guru harus mendiagnosis kebutuhan dan kesukaran kelompok sebelum membantu mereka. Tindakan- tindakan yang digunakan untuk mengontrol kelas dari yang paling jelek ke paling baik ialah: (1) hukuman atau ancaman; (2) pengubahan situasi atau siasat; (3) dominasi atau pengaruh; dan (4) koperasi atau partisipasi.


  • Iklim kelompok

Iklim adalah persepsi seseorang terhadap budaya organisasi. Iklim kelompok adalah hasil dari aspek-aspek yang saling berhubungan dalam kelompok atau produk semua kekuatan dalam kelompok. Iklim kelompok ditentukan oleh tingkat keakraban kelompok sebagai hasil dari aspek-aspek tersebut di atas. Keakraban yang kuat akan mengontrol perilaku anggota- anggotanya. Iklim kelompok merupakan hal yang penting dalam mengadakan perubahan dalam kelompok. Di samping masalah individu dan masalah kelompok, hal lain yang erat kaitannya dengan manajemen kelas adalah organisasi sekolah.


  • Kelas yang Nyaman dan Menyenangkan

Kelas merupakan taman belajar bagi siswa. Kelas adalah tempat bagi para siswa untuk tumbuh dan berkembangnya potensi intelektual dan emosional. Mengingat itu semuanya, kelas hendaknya dikelola sedemikian rupa sehingga benar-benar merupakan taman belajar yang nyaman dan menyenangkan. Sedangkan syarat-syarat kelas yang baik adalah: (1) rapi, bersih, sehat, tidak lembab; (2) cukup cahaya yang meneranginya; (3) sirkulasi udara cukup; (4) perabot dalam keadaan baik, cukup jumlahnya dan ditata dengan rapi; dan (5) jumlah siswa tidak lebih dari 40 orang (Dirjen Dikdasmen, 1996:17). Terdapat beberapa syarat yang perlu diupayakan agar kelas nyaman dan menyenangkan, yaitu: (1) tata ruang kelas; dan (2) menata perabot kelas.


  • Tata ruang kelas

Pada dasarnya sistem pembelajaran yang dianut di sekolah sangat tergantung pada pendekatan atau metode yang digunakan. Menceramah, sistem yang digunakan adalah sistem klasikal; sedangkan metode eksperimen, diskusi kelompok, maka sistem yang digunakan adalah nonklasikal. Dalam penataan ruang keIas, almari kelas dapat diletakan di samping papan tulis atau di samping meja guru. Almari kelas tambahan dapat diletakkan di belakang kelas. Almari tambahan tersebut akan lebih baik, bila terbuat dari kaca dan hal ini akan dipergunakan untuk menyimpan piagam, vandel, dan kepustakaan sekolah.


  • Menata perabot kelas

Perabot kelas adalah segala sesuatu perlengkapan yang harus ada dan diperlukan di kelas. Perabot kelas meliputi atau dapat berupa: (1) papan tulis dan penghapusnya; (2) meja, kursi guru; (3) meja, kursi siswa; (4) almari kelas; (5) papan jadwal pelajaran; (6) papan presensi; (7) papan daftar piket kelas; (8) kalender pendidikan; (9) gambar Presiden dan Wakil Presiden serta lambang Garuda Pancasila; (10) tempat cuci tangan dan lap tangan; (11) tempat sampah; (12) sapu lidi, sapu ijuk, dan sapu bulu ayam; (13) gambar-gambar lain/alat peraga; dan (14) kapur/spidol.


Demikianlah pembahasan mengenai Manajemen Kelas – Pengertian, Tujuan, Prinsip, Masalah Dan Contoh semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua,,terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Butuhkan