Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Hikayat

Diposting pada

Hikayat memiliki kesamaan dengan novel. Keduanya sama-sama karangan prosa dengan bentuknya yang panjang. Perbedaannya, novel merupakan karya sastra yang berkembang pada zaman sekarang, sedangkan hikayat berkembang pada zaman Melayu klasik. Selain itu, novel bertemakan kehidupan sehari-hari, sedangkan hikayat banyak berbicara tentang kehidupan kerajaan ataupun kepahlawanan pada masa lampau.

Pengertian-Hikayat


Pengertian Hikayat

Secara etimologi, istilah “hikayat” berasal dari bahasa Arab, yakni ‘haka’, yang berarti menceritakan atau bercerita. Hikayat kemudian diartikan sebagai karya sastra kasik yang pada umumnya mengisahkan kehebatan dan kepahlawanan seseorang lengkap dengan keajaiban, kesaktian, serta mukjizat tokoh utama.


Ciri-Ciri Hikayat

Berdasarkan pengertian dan contoh-contoh yang ada, hikayat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Contoh Hikayat


a. Ceritanya berbentuk prosa

Hikayat merupakan karya sastra yang pada umumnya berbentuk prosa (cerita naratif). Selain hikayat, ada pula:

  1. Cerita rakyat, seperti Hikayat si Miskin dan Hikayat Malim Dewa;
  2. Epos dari India, seperti Hikayat Sri Rama;
  3. Dongeng-dongeng dari Jawa, seperti Hikayat Pandazva Lima dan Hikayat Panji Semirang;
  4. Cerita-cerita Islam, seperti Hikayat Nabi Bercukur dan Hikayat Raja Khaibar,
  5. Sejarah dan biografi, misalnya Hikayat Raja-Raja Pasai dan Hikayat Abdullah;
  6. Cerita berbingkai, misalnya Hikayat Bakhtiar dan Hikayat Maharaja Ali.

b. Berupa cerita rekaan

Rekaan merupakan ciri hikayat yang sangat menonjol. Unsur dan komposisi yang “direka-reka” dalam hikayat sangat dipengaruhi oleh ke- hidupan sosial dan budaya masyarakatnya. Dalam hikayat, banyak dipenuhi oleh cerita-cerita semacam mite, legenda, dongeng, kepercayaan terhadap makhluk gaib, makhluk raksasa, azimat, dan sejenisnya.


Masuknya agama Hindu dan Islam, membawa perubahan yang berarti bagi “perekaan” tema hikayat. Pengaruh agama Hindu membuat cerita rekaan itu berkisah sekitar kehidupan para dewa dan bidadari. Pengaruh agama Islam menyebabkan timbulnya cerita rekaan yang bernapaskan keislaman, yakni seperti cerita para nabi, cerita hari kiamat, dan sejenisnya.


c. Berupa citra karya klasik

Rekaan ataupun khayalan merupakan unsur utama hikayat. Akan tetapi, tidak berarti semua karya sastra yang mengandung unsur rekaan itu dapat dikatakan sebagai hikayat. Karya-karya prosa bergaya baru (modem), tidaklah layak jika disebut hikayat.


Istilah “hikayat” tidak dapat dilepas- kan dari citra kemasalaluan. Judul-judul karya yang berlabelkan “hikayat” hanya layak diberikan kepada karya-karya yang lahir pada zaman Melayu klasik. Hikayat tidak bisa dilepaskan dari keseluruhan unsur kebudayaan masyarakat Melayu klasik.


d. Sebagai karya tulis

Pengertian bahwa hikayat itu adalah cerita memang masih tidak jelas. Tidak setiap karya klasik yang berupa cerita (prosa) dikatakan sebagai hikayat. Sastra klasik yang masih berupa sastra lisan, yang dalam hal ini umumnya berupa cerita-cerita rakyat, tidaklah dikatakan sebagai hikayat.


Pengertian hikayat hanya terbatas pada sastra-sastra tulis yang telah dibu- kukan. Umumnya, cerita-cerita tulis tersebut adalah sastra yang tumbuh dan berkembang di lingkungan-lingkungan kerajaan/ istana. Temanya pun sebagian besar berkisar tentang kehidupan kerajaan/ istana.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : 22 Contoh Paragraf Narasi


Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsik Hikayat

Karya sastra disusun oleh dua unsur yang menyusunnya.  Dua unsur yang dimaksud ialah unsur intrinsik dan ekstrinsik.  Unsur intrinsik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra,  seperti : tema,  tokoh dan penokohan,  alur dan pengaluran,  latae dan pelataran,  dan pusat pengisahan.  Sedangkan unsur ekstrinsik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari luarnya menyangkut aspek sosiologi,  psikologi,  dan lain-lain.


1. Unsur Intrinsik Hikayat

Berikut ini terdapat beberapa unsur intrinsik hikayat, terdiri atas:


a. Alur (Plot)

Alur disebut juga plot,  yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu bulat dan utuh.  Alur terdiri atas beberapa bagian :

  • Awal,  yaitu pengarang mulai memperkenalkan tokoh-tokohnya.
  • Tikaian,  yaitu terjadi konflik di antara tokoh-tokoh pelaku.
  • Gawatan atau rumitan,  yaitu konflik tokoh-tokoh semakin seru.
  • Puncak,  yaitu saat puncak konflik di antara tokoh-tokohnya.
  • Leraian,  yaitu saat peristiwa konflik semakin reda dan perkembangan alur mulai terungkap.
  • Akhir,  yaitu seluruh peristiwa atau konflik telah terselesaikan.

Pengaluran,  yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur.  Menurut kualitasnya,  pengaluran dibedakan menjadi alur erat dan alur longggar.  Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan cerita.  Alur longgar adalah alur yang memungkinkan adanya pencabangan cerita.  Menurut kualitasnya,  pengaluran dibedakan menjadi alur tunggal dan alur ganda.


Alur tunggal ialah alur yang hanya satu dalam karya sastra.  Alur ganda ialah alur yang lebih dari satu dalam karya sastra.  Dari segi urutan waktu,  pengaluran dibedakan kedalam alur lurus dan tidak lurus.  Alur lurus ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai akhir cerita.  Alur tidak lurus ialah alur yang melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita.  Alur tidak lurus bisa menggunakan gerak balik (backtracking),  sorot balik (flashback),  atau campauran keduanya.


b. Tema dan Amanat

Tema ialah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra.  Tema mayor ialah tema yang sangat menonjol dan menjadi persoalan.  Tema minor ialah tema yang tidak menonjol.


Amanat ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya sastra.  Amanat biasa disebut makna.  Makna dibedakan menjadi makna niatan dan makna muatan.  Makna niatan ialah makna yang diniatkan oleh pengarang bagi karya sastra yang ditulisnya.  Makna muatan ialah makana yang termuat dalam karya sastra tersebut.


c. Tokoh Penokohan

Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra.  Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh,  namun biasanya hanya ada satu tokoh utama.  Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra.  Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character).


Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi,  misalny6a baik saja atau buruk saja.  Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat.  Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya,  kelebihan dan kelemahannya.  Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini.  Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert.


Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya.  Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya.  Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis.  Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.  Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Cerita Rakyat Adalah


Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh.  Ada beberapa cara menampilkan tokoh.  Cara analitik,  ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang.  Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung.  Cara dramatik,  ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan,  perbuatan,  dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.


Dialog ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh.  Dualog ialah cakapan antara dua tokoh saja.  Monolog ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang terjadi.  Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi.


d. Sudut Pandang (Point Of View)

Adalah posisi pengarang dalam mem- bawakan cerita. Posisi pengarang ini terdiri atas dua macam :

  1. Berperan langsung sebagai orang pertama, atau sebagai tokoh yang terlihat dalam cerita yang bersangkutan.
  2. Hanya sebagai orang ketiga yang berperan sebagai pengamat.

e. Latar dan Pelataran (Setting)

Latar disebut juga setting,  yaitu tempat atau waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra.  Latar atau setting dibedakan menjadi latar material dan sosial.  Latar material ialah lukisan latar belakang alam atau lingkungan di mana tokoh tersebut berada.  Latar sosial,  ialah lukisan tatakrama tingkah laku,  adat dan pandangan hidup.  Sedangkan pelataran ialah teknik atau cara-cara menampilkan latar.


f. Pusat Pengisahan

Pusat pengisahan ialah dari mana suatu cerita dikisahkan oleh pencerita.  Pencerita di sini adalah privbadi yang diciptakan pengarang untuk menyampaikan cerita.  Paling tidak ada dua pusat pengisahan yaitu pencerita sebagai orang pertama dan pencerita sebagai orang ketiga.  Sebagai orang pertama,  pencerita duduk dan terlibat dalam cerita tersebut,  biasanya sebagai aku dalam tokoh cerita.  Sebagai orang ketiga,  pencerita tidak terlibat dalam cerita tersebut tetapi ia duduk sebagai seorang pengamat atau dalang yang serba tahu.


Unsur Ekstrinsik Hikayat

Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom,  tetapi selalu pasti berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra,  dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra,  kebudayaan lingkungan,  pembaca sastra,  serta kejiwaan mereka.  Dengan demikian,  dapat dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri.  Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik,  diperlukan bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi,  psikologi,  filsafat,  dan lain-lain.


Contoh Hikayat Beserta Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsik

Berikut ini terdapat beberapa contoh hikayat beserta unsur intrinsik dan ekstrinsik, terdiri atas:


HIKAYAT SRI RAMA

Pada suatu hari, Sri Rama dan Laksamana pergi mencari Sita Dewi. Mereka berjalan menelusuri hutan rimba belantara namun tak juga mendapat kabar keberadaan Sita Dewi.


Saat Sri Rama dan Laksamana berjalan di dalam hutan, mereka bertemu dengan seekor burung jantan dan empat ekor burung betina. Lalu Sri Rama bertanya pada burung jantan tentang keberadaan Sita Dewi yang diculik orang. Burung jantan mengatakan bahwa Sri Rama tak bisa menjaga istrinya dengan baik, tak seperti dia yang memiliki empat istri namun bisa menjaganya. Tersinggunglah Sri Rama mendengar perkataan burung itu. Kemudian, Sri Rama memohon pada Dewata Mulia Raya agar memgutuk burung itu menjadi buta hingga tak dapat melihat istri-istrinya lagi. Seketika burung itu buta atas takdir Dewata Mulia Raya.


Malam tlah berganti siang. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor bangau yang sedang minum di tepi danau. Bertanyalah Sri Rama pada bangau itu. Bangau mengatakan bahwa ia melihat bayang-bayang seorang wanita dibawa oleh Maharaja Rawana. Sri Rama merasa senang karena mendapat petunjuk dari cerita bangau itu. Sebagai balas budi, Sri Rama memohon pada Dewata Mulia Raya untuk membuat leher bangau menjadi lebih panjang sesuai dengan keinginan bangau. Namun, Sri Rama khawatir jika leher bangau terlalu panjang maka dapat dijerat orang.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Kebudayaan adalah


Setelah Sri Rama memohon doa, ia kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian datanglah seorang anak yang hendak mengail. Tetapi, anak itu melihat bangau yang sedang minum kemudian menjerat lehernya untuk dijual ke pasar. Sri Rama dan Laksamana bertemu dengan anak itu dan membebaskan bangau dengan memberi anak itu sebuah cincin.


Ketika dalam perjalanan, Sri Rama merasa haus dan menyuruh Laksamana untuk mencarikannya air. Sri Rama menyuruh Laksamana untuk mengikuti jatunya anak panah agar dapat menemukan sumber air. Setelah berhasil mendapatkan air itu, Laksamana membawanya pada Sri Rama. Saat Sri Rama meminum air itu, ternyata air itu busuk. Sri Rama meminta Laksamana untuk mengantarnya ke tempat sumber air dimana Laksamana memperolehnya. Sesampai di tempat itu, dilihatnya air itu berlinang-linang. Sri Rama mengatakan bahwa dulu pernah ada binatang besar yang mati di hulu sungai itu. Kemudian, Sri Rama dan Laksamana memutuskan untuk mengikuti jalan ke hulu sungai itu.


Mereka bertemu dengan seekor burung besar bernama Jentayu yang tertambat sayapnya dan yang sebelah rebah. Sri Rama bertanya padanya mengapa sampai Jentayu seperti itu. Jentayu menceritakan semuanya pada Sri Rama tentang pertarungannya melawan Maharaja Rawana. Setelah Jentayu selesai bercerita, ia lalu memberikan cincin yang dilontarkan Sita Dewi saat Jentayu gugur ke bumi saat berperang dengan Maharaja Rawana. Kemudian, cincin itu diambil oleh Sri Rama. Bahagialah Sri Rama melihat cincin itu memang benar cincin istrinya, Sita Dewi.


Jentayu berpesan pada Sri Rama jika akan pergi menyeberang ke negeri Langka Puri, Sri Rama tidak boleh singgah ke tepi laut karena di sana terdapat gunung bernama Gendara Wanam. Di dalam bukit tersebut ada saudara Jentayu yang bernama Dasampani sedang bertapa. Jentayu tak ingin saudaranya itu mengetahui bahwa dirinya akan segera mati. Setelah Jentayu selesai berpesan, ia pun mati.


Sri Rama menyuruh Laksamana  mencari tempat yang tidak terdapat manusia dengan memberinya sebuah tongkat. Tetapi, Laksamana tidak berhasil menemukan tempat itu. Lalu ia kembali pada Sri Rama. Laksamana mengatakan pada Sri Rama bahwa ia tidak dapat menemukan tempat sesuai perintah Sri Rama. Kemudian, Sri Rama menyuruh Laksamana untuk menghimpun semua kayu api dan meletakkannya di tanagn Sri Rama. Lalu diletakkannya bangkai Jentayu di atas kayu api itu dan di bakar oleh Laksamana. Beberapa lama kemudian, api itu padam. Laksamana heran melihat kesaktian Sri Rama yang tangannya tidak terluka bakar sedikitpun. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat itu.


Unsur-unsur intrinsik Hikayat Sri Rama:

Tema: Kesetiaan dan pengorbanan

  • bukti: Para patik Sri Rama berani berkorban nyawa demi membantu Sri Rama yang sedang kesulitan mencari Sita Dewi. Mereka bakti akan perintah Sri Rama dengan menunujukkan kesetiaan mereka pada Sri Rama.

Alur: Maju

  • bukti: Sri Rama mencari Sita Dewi yang dibawa lari oleh Maharaja Rawana. Dia berhasil menemukan petunjuk tentang keberadaan Sita Dewi saat bertemu dengan Jentayu. Namun, Jentayu mati setelah menceritakan tentang pertarungannya melawan Maharaja rawana. Mayat Jentayu dibakar di atas tangan Sri Rama.

Penokohan: diceritakan secara dramatik (tidak langsung).


Tokoh:

    1. Tokoh utama: Sri Rama
    2. Tokoh tambahan: Laksamana, Sita Dewi, Maharaja Rawana, Jentayu, Dasampani, burung jantan, dan bangau.

Setting/latar cerita

  • Latar waktu: siang hari

bukti: pada paragraf enam kalimat pertama pada hikayat


  • Latar tempat: di hutan rimba belantara

bukti: pada paragraf pertama kalimat kedua


  1. Latar suasana: bahagia, mengharukan

bukti: Sri Rama terharu melihat kesetiaan Jentayu atas pengabdiannya menolong Sita Dewi.

Sudut pandang: menggunakan orang ketiga sebagai pelaku utama.


Amanat: hargailah pengorbanan seseorang yang telah rela mati demi menbantu kita.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Deskripsi Adalah


PENGEMBARA YANG LAPAR

Tersebutlah kisah tiga orang sahabat, Kendi, Buyung dan Awang yang sedang mengembara. Mereka membawa bekalan makanan seperti beras, daging, susu dan buah-buahan. Apabila penat berjalan mereka berhenti dan memasak makanan. Jika bertemu kampung, mereka akan singgah membeli makanan untuk dibuat bekal dalam perjalanan.


Pada suatu hari, mereka tiba di kawasan hutan tebal. Di kawasan itu mereka tidak bertemu dusun atau kampung. Mereka berhenti dan berehat di bawah sebatang pokok ara yang rendang. Bekalan makanan pula telah habis. Ketiga-tiga sahabat ini berasa sangat lapar,


“Hai, kalau ada nasi sekawah, aku akan habiskan seorang,” tiba-tiba Kendi mengeluh. Dia mengurut-ngurut perutnya yang lapar. Badannya disandarkan ke perdu pokok ara.


“Kalau lapar begini, ayam panggang sepuluh ekor pun sanggup aku habiskan,” kata Buyung pula.


“Janganlah kamu berdua tamak sangat dan bercakap besar pula. Aku pun lapar juga. Bagi aku, kalau ada nasi sepinggan sudah cukup,” Awang bersuara.


Kendi dan Buyung tertawa mendengar kata-kata Awang.


“Dengan nasi sepinggan, mana boleh kenyang? Perut kita tersangatlah lapar!” ejek Kendi. Buyung mengangguk tanda bersetuju dengan pendapat Kendi.


Perbualan mereka didengar oleh pokok ara. Pokok itu bersimpati apabila mendengar keluhan ketiga-tiga pengembara tersebut lalu menggugurkan tiga helai daun.


Bubb! Kendi, Buyung dan Awang terdengar bunyi seperti benda terjatuh. Mereka segera mencari benda tersebut dicelah-celah semak. Masing-masing menuju ke arah yang berlainan.


“Eh,ada nasi sekawah!” Kendi menjerit kehairanan. Dia menghadap sekawah nasi yang masih berwap. Tanpa berfikir panjang lalu dia menyuap nasi itu dengan lahapnya.


“Ayam panggang sepuluh ekor! Wah, sedapnya!” tiba-tiba Buyung pula melaung dari arah timur. Serta-merta meleleh air liurnya. Seleranya terbuka. Dengan pantas dia mengambil ayam yang paling besar lalu makan dengan gelojoh.


Melihatkan Kendi dan Buyung telah mendapat makanan, Awang semakin pantas meredah semak. Ketika Awang menyelak daun kelembak, dia ternampak sepinggan nasi berlauk yang terhidang. Awang tersenyum dan mengucapkan syukur kerana mendapat rezeki. Dia makan dengan tenang.


Selepas makan, Awang rasa segar. Dia berehat semula di bawah pokok ara sambil memerhatikan Kendi dan Buyung yang sedang meratah makanannya.


“Urgh!” Kendi sendawa. Perutnya amat kenyang. Nasi di dalam kawah masih banyak. Dia tidak mampu menghabiskan nasi itu. “Kenapa kamu tidak habiskan kami?” tiba-tiba nasi di dalam kawah itu bertanya kepada Kendi.


“Aku sudah kenyang,” jawab Kendi.


“Bukankah kamu telah berjanji akan menghabiskan kami sekawah?” Tanya nasi itu lagi.


“Tapi perut aku sudah kenyang,” jawab Kendi.


Tiba-tiba nasi itu berkumpul dan mengejar Kendi. Kawah itu menyerkup kepala Kendi dan nasi-nasi itu menggigit tubuh Kendi. Kendi menjerit meminta tolong.


Buyung juga kekenyangan. Dia cuma dapat menghabiskan seekor ayam sahaja. Sembilan ekor ayam lagi terbiar di tempat pemanggang. Oleh kerana terlalu banyak makan, tekaknya berasa loya. Melihat baki ayam-ayam panggang itu, dia berasa muak dan hendak muntah. Buyung segera mencampakkan ayam-ayam itu ke dalam semak.


“Kenapa kamu tidak habiskan kami?” tiba-tiba tanya ayam-ayam panggang itu.


“Aku sudah kenyang,” kata Buyung. “Makan sekor pun perut aku sudah muak,” katanya lagi.


Tiba-tiba muncul sembilan ekor ayam jantan dari celah-celah semak di kawasan itu. Mereka meluru ke arah Buyung.


Ayam-ayam itu mematuk dan menggeletek tubuh Buyung. Buyung melompat-lompat sambil meminta tolong.


Awang bagaikan bermimpi melihat gelagat rakan-rakannya. Kendi terpekik dan terlolong. Buyung pula melompat-lompat dan berguling-guling di atas tanah. Awang tidak dapat berbuat apa-apa. Dia seperti terpukau melihat kejadian itu.


Akhirnya Kendi dan Buyung mati. Tinggallah Awang seorang diri. Dia meneruskan semula perjalanannya.


Sebelum berangkat, Awang mengambil pinggan nasi yang telah bersih. Sebutir nasi pun tidak berbaki di dalam pinggan itu.


“Pinggan ini akan mengingatkan aku supaya jangan sombong dan tamak. Makan biarlah berpada-pada dan tidak membazir,” kata Awang lalu beredar meninggalkan tempat itu.

***

Terjemahan (Penceritaan Ulang)   :

Diceritakan kisah tiga orang sahabat yaitu Kendi, Buyung, dan Awang yang sedang mengembara. Mereka membawa bekalan makanan seperti beras, daging, susu, dan buah-buahan. Biasanya, apabila mereka kelelahan, mereka berhenti untuk sekedar beristirahat atau hanya menggenyangkan perut. Jika dalam perjalanan mereka bertemu sebuah desa, biasanya mereka akan singgah membeli makanan untuk bekal perjalanan.


Pada suatu hari, mereka tiba dikawasan hutan belantara. Di kawasan tersebut, mereka tidak menemukan desa atau kampung dalam perjalanan. Mereka berhenti dan beristirahat di bawah sebatang pohon tua yang yang sangat besar dan sangat rindang. Perbekalan makanan mereka sudah habis tak menyisa. Dan ketiga sahabat itu mulai kelaparan.


“Hei, jika ada nasi yang sebanyak kawah pun, aku akan menghabiskannya seorang diri,” tiba-tiba Kendi mengeluh. Dia memegangi perutnya yang sedari tadi belum diisinya. Dan badannya ia sandarkan pada pohon tua yang sangat besar itu.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Karya Sastra Melayu Klasik


“Jika aku kelaparan seperti ini, ayam panggang sepuluh ekor pun akan aku habiskan,” kata Buyung pula.


“Kalian tidak boleh berlaku tamak dan membual seperti itu. Aku pun juga kelaparan. Bagiku, nasi sepingan pun sudah cukup untuk mengatasi kelaparanku ini, “ Kata Awang.


Kendi dan Buyung tertawa mendengar kata-kata yang diucapkan Awang barusan.


“Hanya dengan nasi sepinggan saja, bagaimana bisa perutmu itu bisa kenyang? Padahal kau juga merasakan kelaparan yang sama seperti yang kami derita!”


Dari kejauhan ternyata perbualan mereka tadi didengar oleh pohon tua besar itu. Setelah mendengar keluhan ketiga pengembara tersebut, pohon yang merasa kasihan terhadap mereka itu lalu menggugurkan tiga helai daun miliknya.


Bubb! Terdengar bunyi seperti benda yang terjatuh ditelinga Kendi, Awang, dan Buyung. Mereka langsung mencari-cari asal suara tersebut di dicelah-celah semak. Mereka mencari-cari suara tersebut dari arah yang berlawan-lawanan.


“Wah, ada nasi sekawah!” kata Kendi heran dan menjerit karena ia kaget melihatnya. Dia menghampiri nasi sekawah yang masih beruwap itu. Tanpa berfikir lebih lama, ia memakan nasi tersebut dengan lahapnya.


“Ayam panggang sepuluh ekor! Wah, enaknya!” teriak Buyung dari arah timur. Tiba-tiba air liurnya menetes. Selera makannya muncul seketika. Dengan pasti ia mngambil ayam yang paling besar lalu memakannya dengan lahap.


Melihat Kendi dan Buyung yang telah mendapatkan makanan, Awang berjalan semakin dalam ke arah semak-semak tersebut. Ketika Awang melewati daun kelembak, tampak olehnya sepinggan nasi berlauk terhidang di hadapannya. Awang tersenyum, dan mengucap syukur karena telah mendapat rezeki. Ia memakan nasi sepingan itu dengan tenang.


Selepas makan, Awang merasa kenyang. Ia beristirahat ditempat semula, di bawah pohon tua besar sambil memperhatikan Kendi dan Buyung yang sedang makan dengan lahapnya.


“Urgh!” Kendi bersendawa. Perutnya sangatlah kenyang. Nasi di dalam kawah itu masih tersisa banyak. Ia tidak mampu lagi menghabiskan semua nasi tersebut. “kenapa kamu tidak menghabiskan kami?” tiba-tiba nasi di dalam kawah itu bertanya pada Kendi.


“Aku sudah kenyang,” jawab Kendi


“Bukankah kamu berjanji akan menghabiskan kami sekawah?” tanya nasi itu lagi.


“Tapi perutku sudah kenyang,” jawab Kendi.


Tiba-tiba nasi itu berkumpul dan mengejar Kendi. Kawah itu menyekap kepala Kendi dan nasi-nasi itu menggerogoti tubuh Kendi. Kendi menjerit meminta tolong.


Buyung juga kekenyangan. Ia hanya dapat menghabiskan seekor ayam saja. Sembilan ekor ayam lagi tersisa di tempat pemanggang. Kerena terlalu banyak makan, perutnya berasa mual. Melihat baki ayam-ayam panggang itu saja, ia meresa muak dan hendak muntah. Buyung segera pergi meninggalkan ayam-ayam itu ke dalam semak.


“Kenapa kamu tidak menghabiskan kami?” tiba tiba ayam panggang itu berbicara.


“Aku sundah nenyang.” Kata Buyung. “makan seekorpun aku sudah muak,” katanya lagi


Tiba-tiba muncul Sembilan ekor ayam jantan dari celah-celah semak di tempat itu. Mereka berlari ke arah Buyung.


Ayam-ayam itu mematuk dan mengoyak tubuh Buyung. Buyung melompat-lompat sambil meminta tolong.


Awang bagaikan bermimpi melihat teman-temannya. Kendi terpekik dan terlolong. Buyung melompat-lompat dan berguling-guling di atas tanah. Awang tidak dapat berbuat apa-apa. Ia seperti terpukau melihat kejadian itu.


Akhirnya Kendi dan Buyung mati. Tinggallah Awang seorang diri. Ia meneruskan semua perjalanannya.


Sebelum berangkat, Awang mengambil sepinggan nasi yang telah habis. Sebutir pun tidak menyisa di dalam pinggan itu.


“Pinggan ini akan mengingatkan aku supaya tidak berlaku sombong dan tamak. Makan itu secukupnya jangan berlebihan agar tidak mubazir,” kata Awang lalu ia pergi meninggalkan tempat tersebut.

***


Sinopsis :

Hiduplah 3 orang sahabat yang selalu berkelana. Mereka adalah Kendi, Buyung, dan Awang. Suatu ketika mereka beristirahat di bawah pohon besar untuk melepas peluh dan penat perjalanan. Keadaan mereka sangat payah, kelapar dan kehausan. Buyng dan Kendi yang tidak menerima keadaan tersebut berkeluh kesah, dengan tamaknya mereka berhayal tentang makanan dan berjaji dengan sombongnya akan menghabiskan seluruh makanan tersebut. Awang melerai dan menasihati mereka untuk tidak sombong dan tamak namun mereka menghiraukan nasihat Awang dan malah memaki Awang.


Ternyata sedari tadi pohon yang mereka singgahi mendengarnya. Dengan belas kasihan pohon tua tersebut mengabulkan khayalan mereka. Buyung diberi 10 ayam yang sangat besar, Kendi diberi sekawah nasi, sedangkan Awang diberi sepingan nasi. Mereka memakannya dengan lahap, namun Awang memakannya dengan tenang. Awang menghabiskan seluruh makanannya tanpa sisa, namun Kendi dan Buyung tidak sanggup untuk menghabiskan seluruh makananya. Buyung dan Kendi yang tidak menghabiskan makanananya dikeroyok oleh makanan yang tidak mereka habiskan hingga mereka mati. Buyung dan Kendi mendapat buah pahit akibat perbuatannya mereka yang tamak, somong, dan memubazir makanan. Mengetahui kedaan teman-temannya yang sudah tewas, akhirnya Awang melanjutkan perjalanannya.


Unsur Intrinsik

Tema : Balasan atas Perilaku Buruk


Tokoh dan Penokohan   :

  1. Buyung (Antagonis) : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji, tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka mengeluh
  2. Kendi (Antagonis)  : Berprilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji, tidak mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, suka mengeluh.
  3. Awang (Protagonis) : Berprilaku baik, tidak sombong, menepati janji, mensyukuri takdir dan pemberian dari tuhan, bersifat baik.
  4. Pohon tua (Tirtagonis) : Suka berbelas kasih pada semua makhluk, bersifat baik.

Latar  (Setting) :

  • Tempat : Di hutan.
  • Waktu : –
  • Suasana : Kelaparan

Alur (Plot) : Maju.

  1. Perkenalan : Paragraf  1
  2. Penanjakan : Paragraf  2 – 7
  3. Klimaks : Paragraf  8 – 13
  4. Puncak klimaks : Paragraf  14 – 23
  5. Anti klimaks : Paragraf  24 – 27

Sudut Pandang (POV) : Orang ketiga diluar cerita/orang ketiga serba tau.


Amanat :

Janganlah membuat janji yang tidak dapat kau tepati apalagi dengan sombongnya kau lontarkan janji tersebut seolah-olah kau dapat menepatinya namun kenyataannya kau tidak dapat menepatinya.


Pesan Moral :

Setiap kata-kata yang terucap harus dapat dikontrol, kita juga tidak di benarkan untuk berkata sombong apalagi berjanji denagn janji yang tidak mungkin dapat kau tepati. Janganlah juga kau menjadi orang yang tamak, karena suatu saat nanti pasti akan ada balasan bagi orang-orang yang memiliki sifat yang buruk.


Unsur Ekstrinsik

  1. Nilai Budaya : Terlihat bahwa dari jaman dulu kita diharuskan dan diajarkan untuk memiliki sifat dan berprilaku baik.
  2. Nilai Sosial : Terlihat pada sikap Awang yang sedang menasehati teman-temannya agar tidak berprilaku tamak dan sombong . Berikut
  3. kutipannya : “Janganlah kamu berdua tamak sangat dan bercakap besar pula. Aku pun lapar juga. Bagi aku, kalau ada nasi sepinggan sudah cukup,” bagian terjemahan : “Kalian tidak boleh berlaku tamak dan membual seperti itu. Aku pun juga kelaparan. Bagiku, nasi sepingan pun sudah cukup untuk mengatasi kelaparanku ini, “

Demikianlah pembahasan mengenai Pengertian Hikayat – Ciri, Contoh, Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂