Pengertian Islam

Pengertian Islam

Hubungan Antara Manusia dan Agama

Pengertian Islam – Makna, Sejarah, Karakteristik, Hadist & Sumber– DosenPendidikan.Com– Manusia adalah seorang hamba. Sebagai seorang hamba, manusia harus memiliki pedoman dan tuntunan agar hidupnya menjadi lebih sistematis. Agama adalah petunjuk bagi manusia dalam menjalani hidupnya. Agama menjadi kompas dan pengarah kehidupan manusia agar menjadi lebih baik. Agama berperan pula sebagai jembatan penghubung antara manusia dengan Tuhan.

Pengertian Islam


Dalam Islam, tujuan manusia hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan peranannya adalah mengembangkan ilmu pengetahuan agar lebih bermanfaat. Agama Islam menjadikan Al-quran dan hadits sebagai pedoman suci yang mengarahkan manusia agar menjadi makhluk yang paling sempurna yang dapat memegang amanat sebagai khalifah yang mengelola alam semesta bagi kesejahteraan bersama.


Selain itu, dalam Islam Al-quran diturunkan untuk menyempurnakan jiwa manusia, baik sebagai individu, sebagai makhluk sosial maupun sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa. Oleh karena pentingnya agama dalam kehidupan, terutama agama Islam, perlu kita memahami lebih dalam mengenai agama Islam, karakteristik agama Islam, ruang lingkup dan sejarahnya untuk bisa memaknai agama lebih dalam lalu mengamalkan ajaran – ajaran Islam agar mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat.


Manusia Menurut Agama Islam

Manusia. Ada yang mengatakan, berpikir tentang manusia adalah kegiatan kita di bumi sepanjang hayat. Melalui perenungan-perenungan dari para filsuf, ulama, dan juga pemikir-pemikir terdahulu, terdapat sejumlah teori yang mendefinisikan manusia. Pada dasarnya, pendefinisian manusia dilakukan bukan untuk mendeklarasikan penyimpangan ataupun sesat pikir, namun pendefinisian dilakukan agar membantu kehidupan manusia menjadi lebih sistematis.


Pendefinisian manusia biasanya berlandaskan pandangan ilmu pengetahuan dan prinsip yang mendasarinya. Sebagai contoh, definisi manusia menurut penganut teori psikoanalisis adalah homo volens (manusia yang berkeinginan, yaitu makhluk yang memiliki perilaku interaksi antara komponen biologis, psikologis, dan sosial, yang juga menjelaskan bahwa di dalam diri manusia terdapat unsur hewani, akal, dan nilai.


Banyak teori-teori lainnya seperi teori menurut penganut teori behaviorisme yang mendefinisikan bahwa manusia adalah homo mekanicus, penganut teori kognitif yang mendefinisikan manusia adalah homo sapiens (manusia berpikir), penganut teori humanisme yang mendefinisikan manusia adalah homo ludens (manusia bermain), dan masih banyak lainnya. Namun, pendefinisian menurut teori-teori di atas masih menjadi perdebatan antar ilmuwan, karena tidak menemui titik temu yang cocok dengan semua teori. Sedangkan di dalam Al-quran, makna kata manusia itu sendiri tidak hanya diwakili dengan satu kata, namun lima kata, yakni Basyar, Insan, An-Nas, Bani Adam, dan abdun.


Masing-masing kata tersebut memiliki konsep tersendiri. Basyar seringkali dihubungkan terhadap sifat-sifat biologis manusia. Insan dihubungkan dengan sifat psikologis dan spiritual manusia, An-Nas menunjuk pada sisi sosial manusia atau kehidupan secara kolektif, Bani Adam terhubungkan dengan aspek historis dari manusia, dan kata ‘abdun menunjuk dari aspek posisi manusia sebagai hamba Allah. Maka, berdasarkan ayat-ayat Al-quran, manusia dipandang sebagai makhluk biologis, psikologis, sosial, keturunan Adam, dan pengabdi.


Baca Juga : 10 Pengertian Mahzab Ekonomi Menurut Para Ahli


Agama dan Ruang Lingkupnya

Manusia itu sendiri memiliki tujuan untuk beribadah kepada Allah SWT (Adz-Dzariyat: 56). Sedangkan fungsi dan peranan manusia di dunia adalah untuk belajar, mengajarkan ilmu, dan membudayakan ilmu. Tujuan, fungsi dan peranan manusia di dunia memiliki kesinambungan dan tidak dapat berdiri sendiri, dibutuhkan keseimbangan antara keduanya agar manusia dapat menjalankan hidupnya dengan kualitas.


Ada beberapa ruang lingkup agama menurut kepercayaan masing-masing, Hindu-Buddha menandai ruang lingkup agama sebagai tradisi dari nenek moyang. Kristen mempercayai agama sebagai hubungan manusia dengan pencipta. Sedangkan Islam mendefinisikan agama bahwa Islam turun dari Allah, dengan ruang lingkup mencakup manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.


Hubungan Manusia dengan Agama

Agama memberikan petunjuk dan pedoman agar manusia dapat menjalani kehidupan lebih sistematis. Manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi, eksistensi agama menjadi kompas yang dapat mengarahkan manusia ke arah yang lebih baik, tidak hanya hubungan manusia secara horizontal (sesama manusia dan alam) namun juga hubungan manusia secara vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan).


Makna Agama Islam


Pengertian Agama

Agama merupakan penghubung antara manusia dengan Tuhan. Pengertian agama sendiri menurut bahasa arab adalah sakima-yaslamu-salamatun yang artinya selamat, damai dan patuh. Dalam Al-quran istilah agama dikenal sebanyak 94 kali. Secara etimologi agama berarti menguasai, ketaatan dan balasan.


Pengertian Agama Islam

Menurut DR. KH Zakky Mubarak, MA., pengertian Islam secara terminologis atau istilah agama, khususnya agama Islam adalah peraturan – peraturan Allah yang diwahyukan kepada Nabi dan Rasul-Nya sebagai petunjuk bagi umat manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Agama islam disyariaatkan Allah SWT kepada para Nabi dan Rasul-Nya berdasarkan pada satu ajaran dasar, yaitu monoteisme murni (Tauhid), dan satu tujuan, yaitu memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat (hasanah fi al-dunya wal karimah).


Baca Juga : Pengertian Riba Menurut Hukum Islam


Karakteristik Agama Islam

Sebagai agama, Islam memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dengan agama-agama besar lainnya yang dianut umat manusia di dunia. Ajaran Islam adalah ajaran yang rasional dan bisa dinalar dengan logika. Ajaran Islam tidak menyulitkan karena peraturan-peraturan yang diterapkan Islam sesuai dengan keadaan dan kemampuan manusia. Karakteristik kedua yaitu Islam agama Tauhid.


Aqidah yang diajarkan para Nabi dan Rasul tidak pernah berubah dari masa ke masa, yaitu aqidah Tauhid yakni kepercayaan dan keyakinan bahwa sesungguhnya Allah SWT itu Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Islam agama kebenaran, ajaran Islam bertujuan untuk menyejahterakan dan mencerahkan umat manusia menuju peradaban yang lebih maju. Tidak ada satu pun ajaran Islam yang bertentangan dengan akal sehat, ilmu pengetahuan dan teknologi, norma – norma etika, sosial dan kemasyarakatan tetapi justru Islam datang untuk mengukuhkan hal itu semua.


Islam sebagai agama yang universal telah mengumandangkan berbagai nilai luhur sejak alam ini diciptakan sampai tiba masa kehancuran (kiamat). Ajaran Islam adalah ajaran yang menghargai pluralitas umat beragama, inklusivitas, moderat, dan toleran terhadap perbedaan, serta merupakan petunjuk bagi seluruh manusia, bukan hanya untuk suatu kaum atau golongan. Dalam kaidah Ushul Fiqih disebutkan: “Apabila urusan sudah menjadi sempit maka boleh diperluas, apabila terlalu luas maka urusan itu menjadi dipersempit.”


Berdasarkan kaidah tersebut, kita dapat melihat elastisitas dan fleksibelitas ajaran Islam yang sesuai dengan naluri manusia. Sebagai contoh, dalam Islam ada konsep azimah (tuntutan) dan rukhsah (keringanan). Contoh azimah adalah larangan memakan bangkai, tetapi saat kondisi tertentu seperti, tidak ada makanan, maka akan timbullah rukhsah, yaitu keringanan untuk memakan bangkai karena tidak ada makanan lain. Bahkan rukhsah tersebut dapat menjadi azimah, yang tadinya dilarang tetapi justru menjadi keharusan sebab jika tidak dimakan akan mengakibatkan kematian sesorang.


Sebagai agama yang Syamil Mutakamil (integral menyeluruh dan sempurna) Islam membicarakan seluruh sisi kehidupan manusia, mulai dari masalah kecil hingga masalah besar. Islam agama yang sempurna dapat diartikan sebagai kondisi awal yang mapan dan mencakup berbagai bidang kehidupan. Walaupun Islam agama yang sempurna bukan berarti umat Islam itu stagnan (jumud), tetapi harus bersifat dinamis. Maksudnya, selalu mengikuti perkembangan zaman dan memperbaharui hal-hal yang baik.


Karakteristik agama Islam yang berikutnya adalah Islam agama seimbang. Allah SWT menyebutkan bahwa umat Islam adalah ummatan wasathan atau umat yang seimbang dalam beramal baik yang menyangkut pemenuhan terhadap kebutuhan jasmani dan akal pikiran maupun kebutuhan rohani. Ketidakseimbangan dalam hal agama akan memicu berbagai konflik, dalam soal aqidah misalnya, banyak agama yang menghendaki keberadaan Tuhan secara konkrit sehingga penganutnya membuat simbol-simbol dalam bentuk patung. Ada juga agama yang menganggap Tuhan sebagai sesuatu yang abstrak sehingga masalah ketuhanan merupakan khayalan belaka bahkan cenderung ada yang tidak percaya akan adanya Tuhan sebagaimana komunisme.


Baca Juga : Tanda-Tanda Hari Kiamat (Hari Akhir Zaman)


Karakteristik penting lainnya dari ajaran Islam adalah konsepnya yang jelas. Kejelasan konsep Islam membuat umatnya tidak bingung dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam bahkan pertanyaan umat manusia tentang Islam dapat dijawab dengan jelas bahkan apabila pertanyaan tersebut mengarah pada maksud yang merusak ajaran Islam itu sendiri.


Karakteristik terakhir adalah Islam menjunjung tinggi kemerdekaan. Kemerdekaan atau kebebasan dalam bahasa Arab disebut dengan al hurriyyah. Kata al hurr disebut satu kali dalam surah Al-Baqarah ayat 178. Dari kata ini terbentuk kata al-tahrir yang berarti pembebasan. Dalam Islam kemerdekaan adalah sesuatu yang hakiki dan bersifat fitrah. Setiap manusia yang baru dilahirkan, dengan sendirinya dalam keadaan merdeka. Tidak ada seorang pun yang berhak untuk menjadikannya budak. Kemerdekaan dalam Islam adalah kemerdekaan yang bertanggung jawab.


Artinya, beragam kemerdekaan yang diperoleh manusia tidak berarti bahwa dia boleh bertindak semau-maunya. Dengan kata lain tidak seorang pun berhak memaksakan kehendaknya atas orang lain. Pemaksaan kehendak, apalagi dengan cara-cara kekerasan, pembatasan, pengekangan dan perendahan adalah melanggar prinsip kemanusiaan itu sendiri dan dengan sendirinya juga melanggar prinsip Tauhid. Dari sinilah, maka setiap orang dituntut harus saling memberikan perlindungan, rasa aman dan penghormatan dari kemerdekaan yang dimilikinya itu.


Sumber Agama Islam

Sumber Agama Islam

Menurut hadits Mu’az bin Jabal, sumber hukum islam ada tiga, yaitu: Al-quran, As-sunnah (Al-hadits), dan Ijtihad (ra’yu).


Al-quran

Al-quran merupakan sumber ajaran yang paling utama dalam islam. Al-quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur. Dengan diturunkannya Al-quran, sebenarnya telah cukup untuk menjadi pedoman, rujukan, serta sumber hukum bagi manusia dalam menjalankan kehidupan. Menurut Dr. Kaelany HD,. MA, Al-quran memuat antara lain tentang: pokok-pokok keimanan, prinsip-prinsip syariah, janji atau kabar gembira bagi yang berbuat baik dan ancaman siksa bagi yang berbuat dosa, kisah-kisah sejarah nabi, dan dasar-dasar ilmu pengetahuan.


Menurut Dr. Kaelany HD,. MA, sebagai sumber hukum, Al-quran membahas mengenai aqidah, akhlak, dan syariah. Hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah contohnya adalah hukum-hukum yang mengatur mengenai tata pelaksanaan ibadah seperti salat,puasa, zakat, dan haji. Selain itu, di dalam Al-quran juga terdapat petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam bertingkah laku sesuai dengan aturan dan kehendak Allah.


Baca Juga : Sikap Dan Toleransi Antar Umat Beragama Di Indonesia


As-Sunnah

Dalam buku “Islam Agama Universal” karya Dr. Kaelany HD,. MA terdapat pengertian sunnah secara terminologi islam, yakni sunnah berarti perkataan, perbuatan, dan keizinan Nabi Muhammad SAW. Sunnah memiliki fungsi sebagai penafsir, pensyarah, dan penjelas mengenai hal-hal yang telah ada dalam Al-quran. Sunnah berdasarkan bentuknya terbagi menjadi tiga, yakni: Fi’li (perbuatan nabi), Qauli (perkataan nabi), dan Taqriri (persetujuan nabi).


Ijtihad

Sumber ajaran islam yang ketiga adalah ijtihad. Ijtihad berarti penggunaan rasio atau akal semaksimal mungkin guna menemukan sesuatu ketetapan hukum tertentu yang tidak ditetapkan secara tegas dalam Al-quran dan As-sunnah. Ijtihad dilakukan oleh para imam,para kepala pemerintah, para hakim, dan oleh para panglima perang untuk menemukan solusi dari permasalahan yang berkembang dikalangan mereka berdasarkan bidang mereka masing-masing. Dalam ijtihad terdapat sumber hukum lain yaitu ijma (konsensus ulama), qiyas (analogi berdasarkan sebab atau illat masalah), urf (adat kebiasaan setempat), maslahah mursalah (kepentingan umum),dan istihsan.


Ruang Lingkup Agama Islam

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa ada tiga pokok-pokok ajaran islam, yaitu Aqidah, Syari’ah, dan Akhlak.

  • Aqidah

Dalam buku “Islam Agama Universal” disebutkan definisi dari aqidah, yaitu merupakan istilah untuk menyatakan keteguhan atau kekuatan iman seorang mukmin kepada sang pencipta Allah SWT. Inti dari keimanan kepada Allah SWT adalah tauhid atau kepercayaan, pernyataan, atau sikap yang mengesakan Allah. Jika seseorang telah bertauhid, maka akan muncul sikap Tauhid Uluhiyah atau sikap yang hanya menyembah kepada Allah.


  • Syari’ah

Menurut istilah, syariah berarti aturan atau undang-undang yang diturunkan Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, mengatur hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Terdapat dua macam syaria’ah, yaitu syari’ah muamalah (amalan yang berhubungan dengan manusia) dan syari’ah ibadah (amalan yang berhubungan dengan Allah SWT). Prinsip dasar dari syari’ah muamalah adalah diperbolehkan selama tidak ada larangan yang jelas dari Allah SWT. Sedangkan prinsip dasar dari syaria’ah ibadah adalah dilarang atau haram selama tidak diatur oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.


  • Akhlak

Akhlak merupakan perilaku yang dilandaskan hati nurani. Sumber pijakan akhlak adalah Al-quran dan Sunnah, sehingga jika seseorang berperilaku yang tidak ada di dalam Al-quran atau Sunnah, maka tidak bisa dikatakan perilaku seseorang itu termasuk perilaku atau akhlak yang mulia.


Baca Juga : Apa Itu Aqidah ?? Cari Tau Pengertian Akidah Islam


Sejarah Agama Islam

Sejarah Agama Islam

  • Perkembangan Islam di Zaman Nabi

Masa kenabian diawali oleh Nabi SAW dengan mimpi-mimpi yang terbukti kebenarannya. Hal ini terjadi enam bulan sebelum kehadiran wahyu pertama. Kemudian pada bulan Ramadhan, setelah Nabi SAW berusia 40 tahun 6 bulan, beliau menyendiri di Gua Hira. Pada malam 17 Ramadhan, Malaikat Jibril menemui Muhammad SAW. Ketika itulah malaikat menyampaikan wahyu yang pertama, QS. Al-‘Alaq: 1-5.


Nabi Muhammad SAW langsung kembali ke rumah dan menceritakan pengalaman beliau pada Khadijah, istri beliau. Kemudian Khadijah dan Nabi Muhammad SAW bertemu dengan pamannya, Waraqah bin Naufal, yang merupakan penganut Agama Nasrani taat. Kemudian Rasulullah SAW menceritakan semua pengalaman yang telah dialami. Waraqah pun membenarkan bahwa yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah wahyu Allah SWT melalui Malaikat Jibril, yang pernah datang pula kepada Nabi Musa as.


Selain bukti tersebut, terdapat pula beberapa bukti yang menunjukkan bahwa yang datang kepada Rasulullah ketika itu adalah Malaikat Jibril. Karenanya, tiada lagi alasan untuk memungkiri kebenaran risalah yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.


Beberapa minggu kemudian Malaikat Jibril datang kembali dan menyampaikan wahyu (QS. Al-Qalam, 68: 1-7), dilanjutkan dengan QS. Al-Muzammil, 73 : 1-8, QS Al-Mudatstsir, 74 : 1-7, dan seterusnya. Dengan turunnya wahyu keempat mulailah Rasulullah SAW berdakwah. Pertama-tama, ia melakukannya secara diam-diam. Orang yang pertama kali masuk Islam adalah Khadijah. Kemudian menyusul Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, Zaid bin Haritsah, dan Ummu Aiman. Abu Bakar sendiri berhasil mengislamkan beberapa teman-temannya. Dakwah secara diam-diam ini menarik sebelas orang masuk Islam.


Setelah dakwah secara diam-diam, turunlah perintah agar Rasulullah SAW berdakwah secara terang-terangan. Mula-mula ia mengundang beberapa karibnya. Melalui kesempatan ini, hanya sedikit yang menerimanya. Ada yang menolak dengan lembut, ada yang menolak secara kasar seperti Abu Lahab. Kemudian Rasulullah SAW berdakwah secara besar-besaran di Bukit Safa. Reaksi masyarakat ada yang berteriak, ada juga yang mengatakan Rasulullah SAW gila. Kemudian Abu Lahab mencela Rasulullah SAW. Atas celaan Abu Lahab, turunlah wahyu QS Al-Lahab, 111 : 1-5.


Saat berziarah ke Ka’bah, orang dari Yatsrib (Madinah) tertarik dengan dakwah Rasulullah SAW. Setelah menganut Islam, mereka bersumpah untuk melindungi para muslimin dan Muhammad dari kekejaman penduduk Mekkah. Tahun berikutnya, orang Yatsrib datang lagi ke Mekkah untuk mengundang Rasulullah SAW dan pengikutnya hijrah ke Yatsrib. Tahun 622 M Rasulullah SAW hijrah ke Madinah dikarenakan Mekkah sudah tidak kondusif lagi. Suasana yang tidak kondusif ini ditandai dengan munculnya peperangan. Suatu malam di bulan Ramadhan tahun kedua hijriyah, Rasulullah keluar bersama 314 orang sahabatnya dengan 70 ekor unta. Rasulullah SAW beserta sahabat berjalan menuju Badar dan langsung mengambil posisi. Setelah orang-orang musyrik muncul, beliau berdoa kepada Allah, diikuti sahabat lainnya.


Baca Juga : Pengertian Ibadah Menurut Islam Dan Menurut KBBI


Allah pun mendukung kaum mukmin dengan bala bantuan berupa Malaikat. Akhirnya, kemenangan diraih kaum muslimin. Ada 70 musyrikin terbunuh dan 70 orang tertawan, sedangkan ada 14 orang dari kaum mukminin yang syahid. Latar belakang Perang Badar Kubra yaitu pengusiran kaum muslimin dari kota Mekkah, penindasan terhadap umat Islam hingga kota Madinah, dan memberi pelajaran kepada kaum Quraisy.


Selanjutnya Perang Uhud terjadi pada 19 Maret 625 M. Dalam Perang Uhud, pasukan tentara Islam terdiri dari 1000 orang sedangkan tentara Quraisy ada 3000 pasukan. Pasukan tentara Islam 300 diantaranya telah mundur di perjalanan. Dalam perang Uhud, pasukan tentara Islam dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW dan Kaum Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan ibni Harb. Nabi selalu menasihatkan jika satupun dari tentara Islam sangat tidak diizinkan menuruni Bukit sebelum ada perintah. Ketika kalah, tentara Quraisy segera meninggalkan tempat. Pasukan tentara Islam segera menuruni bukit. Melihat hal itu, Khalid bin Al-Walid, ketua pasukan berkuda Kaum Quraisy, melakukan serangan balik sebanyak 70 orang tentara Islam meninggal dalam pertempuran ini.


Beberapa tahun kemudian kaum Quraisy melanggar salah satu butir kesepakatan Perjanjian Hudaibyah. Suku Bani Bakr tiba-tiba menyerang Suku Khuza’ah pada malam hari bulan Sya’ban tahun 8 hijrah. Suku Khuza’ah yang tewas ada dua puluh orang. Suku Khuza’ah pun datang mengadu kepada Nabi. Dengan laporan-laporan, Rasulullah menyampaikan kompromi. Quraisy menolak kompromi yang diusulkan dan menyadari bahaya, maka mereka mengutus salah satu tokoh diantara mereka, Abu Sufyan, mertua nabi Muhammad SAW., untuk memperpanjang jangka waktu gencatan senjata yang ditandatangani di Hudaibiyah dua tahun yang lalu.


Usaha yang dilakukan sia-sia. Sementara itu, Rasul SAW memerintahkan kepada seluruh umat muslim yang ada di Madinah untuk bersiap-siap menuju Mekkah. Semuanya ikut bersama Rasul SAW. Dalam perjalanan, Rasul SAW beserta rombongan bertemu dengan Al-‘Abbas, paman Nabi SAW Beliau selalu mendukung Nabi. Rasulullah mengatur formasi. Kaum Quraisy menghimpun kekuatan diatas bukit al-Khandamah. Di bukit itulah terjadi perlawanan yang cukup besar. Quraisy kalah dalam pertempuran. Jumlah kaum musyrik yang tewas sebanyak 70 orang.


Pada pagi hari Jumat (20 Ramadhan, tahun 8 hijriah), Nabi SAW masuk Kota Mekkah. Berulang-ulang beliau membaca Surah Al-Fath. Rasulullah berthawaf di Ka’bah. Ketika itu, di sekeliling Ka’bah terdapat patung dan berhala. Rasulullah menusuk patung dan berhala tersebut. Setelah itu, masyarakat Mekkah memeluk Islam.


Baca Juga : Nama-Nama Hari Akhir


Sejarah Islam di Indonesia

Sejarah masuknya Islam ke Indonesia merupakan bidang kajian pembelajaran yang sangat menarik untuk dipelajari. Dari sejarah masuknya Islam inilah kita dapat mengambil pembelajaran tentang bagaimana kerasnya usaha para ulama dalam menyampaikan agama Islam sehingga dapat diterima oleh masyarakat Nusantara. Meskipun para ulama tak pernah memaksa masyarakat untuk memeluk agama Islam, namun dengan keluwesannya, agama Islam mampu merebut hati masyarakat luas. Datangnya Islam ke Indonesia memberi perubahan besar bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Islam telah membawa kecerdasan bagi masyarakat dan peradaban tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia. Itulah alasan mengapa sangat penting mempelajari sejarah datangnya Islam di Indonesia.


Daerah yang pertama didatangi oleh Islam ialah pesisir Sumatera, dan setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka Raja Islam pertama berada di Aceh. Para ahli sejarah umumnya berpendapat bahwa Islam dibawa dan disebarluaskan oleh para pedagang, kaum sufi dan pengamal tarekat. Terdapat dua pendapat mengenai awal mula masuknya Islam di Nusantara. N.H Krom dan Van Der Berg berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M. Lalu pernyataan itu disanggah oleh H. Agus Salim, M. Zainal Arifin Abbas, Hamka dan beberapa pakar lain. Pendapat ke-2 ini menyatakan bahwa Islam sudah masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi. Sedangkan mengenai asal tempat masuknya Islam ke Indonesia, terdapat tiga teori besar yang menjelaskannya.


  • Teori yang menyatakan Islam datang langsung dari Arab, atau tepatnya Hadralmaut, karena secara keseluruhan muslim di Nusantara bermazhab Syafi’i.
  • Teori ini mengatakan bahwa Islam datang dari India. Menurut catatan Marco Polo, orang-orang bermazhab Syafi’i dari Gujarat dan Malabar di India yang membawa Islam ke Asia Tenggara melalui jalur perdagangan.
  • Teori yang menyatakan Islam datang dari Benggali (kini Bangladesh). Teori ini muncul karena kebanyakan orang terkemuka di Pasai adalah orang Benggali dan keturunannya. Kemungkinan teori ini hanya perkiraan belaka, sebab mazhab yang dominan di Benggala berbeda dengan mazhab di Nusantara. Para pakar sejarah menetapkan setidaknya ada tiga cara penyebaran Islam di Indonesia.

  1. Perdagangan. Selain berdagang, para pedagang muslim Arab juga bertindak sebagai mubalig.
  2. Pernikahan. Para pedagang muslimyang menetap, menikah dengan penduduk setempat. Tentu mereka mengislamkan pasangannya terlebih dahulu sebelum menikah, lalu menghasilkan keturunan yang juga beragama Islam.
  3. Pembebasan budak. Pada awal masuknya Islam, perbudakan masih berlaku. Banyak budak yang di beli oleh saudagar Islam lalu dimerdekakan.

Faktor-faktor yang yang menyebabkan cepat menyebarnya Islam di Nusantara yaitu karena kesungguhan, ketekunan dan keikhlasan para ulama dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. Selain itu ajaran Islam mudah diterima oleh berbagai macam lapisan masyarakat Nusantara, baik seorang penguasa, pedagang atau bahkan budak sekalipun. Tidak ada batasan untuk mempelajari agama Islam, semua manusia berhak untuk mempelajarinya, karena di Islam tidak mengenal adanya sistem kasta, semua manusia sama di hadapan Allah SWT. Agama Islam disebarkan secara damai dan dengan cinta kasih yang ditunjukkan oleh Islamlah yang membuat masyarakat Nusantara sukarela memeluk agama Islam.


Baca Juga : Tauhid Adalah


Islam di Indonesia mempunyai peranan dalam melawan penjajahan kolonial di Indonesia dan mempunyai beberapa catatan dari abad 14 ketika kemunduran dan jatuhnya majapahit yang memulai awal berkembangnya Malaka yang beragama islam sampai perjuangan islam dalam melawan penjajahan kolonial di Indonesia. Dimulai dari tahun 1389-1520 Ketika jatuhnya kerajaan Majapahit, Malaka mulai berkembang yang beragama islam. Kemudian pada tahun 1477-1488 zaman pemerintahan Alaudin Syah merupakan puncak keberhasilan Malaka dan menguasai sebagian wilayah Sumatera.


Kemudian pada tahun 1500-1546 Timbul dan berkembangnya kesultanan Demak yang menguasai seluruh wilayah Jawa dan sebagian wilayah diluar Jawa. Perlawanan islam dalam menghadapi kolonialisme dimulai ketika Malaka melawan serangan Portugis (1511) diteruskan oleh Ternate di Maluku (Portugis berhasil dihalau sampai Timor Timur), kemudian Makasar melawan serangan Belanda (VOC), Banten melawan serangan Belanda (VOC), dan Mataram Islam juga melawan pusat kekuasaan Belanda (VOC) di Batavia (1628-1629), Banten mengadakan serangan yang hebat pada 1750-1751 namun di patahkan oleh VOC dan VOC menaklukan seluruh Lampung. Kemudian pada 1755 dibuat perjanjian Gianti. Mataram dibagi menjadi Surakarta dipegang oleh Pakubuwono III dan Yogyakarta ditangan Pakubuwono I. Setelah ada politik “Devide Et Impera” (pecah belah), satu persatu kerajaan dapat dikuasai. Meskipun demikian semangat rakyat tidak pudar melawan penjajahan kolonial.


Setelah kaum kolonial berhasil menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia, namun umat Islam bersama para ulamanya tidak berhenti melawan penjajahan. Munculah era Gerakan Sosial merata di seluruh pelosok tanah air. Ulama sebagai Elite Agama Islam memimpin umat melawan penindasan kezaliman penjajah. Pada 1811-1816 Pemerintah sementara Inggris dipimpin oleh Raffles, Paku Alam di bentuk. Sejak dari Aceh muncul perlawanan rakyat dipimpin oleh Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Nya’ Dhien. Pada 1821-1824 di Sumatera Barat muncul Perang Paderi dipimpin oleh Imam Bonjol. Pada 1825-1830 terjadilah perang jawa termasuk perang Diponegoro.


Pada 1830, Pangeran Diponegoro dibuang ke Makassar, Perang Paderi pecah kembali dan Cultuurstelsel diadakan. Pada 1845 merupakan akhir dari perang Paderi karena pada 1837 merupakan jatuhnya Imam Bonjol. 1873-1903 terjadilah Perang Aceh dan pada 1900-1905 Perlawanan Kalimantan Selatan berakhir. Sebelum memesuki era Pergerakan Nasional (setelah memasuki abad ke 20), pihak kolonial mencoba politik kemakmuran dan balasbudi. Munculah politik-politik yang dibuat oleh Christiaan Snouck Hurgronje. Kelihatannya politik itu humanis untuk kesejahteraan rakyat, namun karena landasannya tetap kolonialisme, maka tetap eksploitatif dan menindas rakyat.


Dalam perjuangan di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, maka peranan ajaran Islam dan sekaligus umat Islamnya mempunyai arti yang sangat penting dan tidak dapat dihapus dalam panggung sejarah Indonesia. Ajaran Islam yang dipeluk oleh sebagaian besar rakyat Indonesia telah memberikan kontribusi besar, serta dorongan semangat, dan sikap mental dalam perjuangan kemerdekaan.


Ketika di atas abad ke-19an Islam di Indonesia sudah mulai berkembang terutama di bidang ke organisasiannya sendiri. Organisasi Islam yang pertama kali terbentuk adalah sebuah sarekat yang diberi nama sebagai Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan pada tahun 1905 oleh Haji Samanhudi di Surakarta yang memiliki visi dalam bidang kekonomian.


Namun beberapa tahun kemudian perkumpulan ini sudah mulai memilki pemikiran untuk bergabung didalam ranah politik pada saat itu yang kemudian pada tahun 1912 berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI). Namun pada akhirnya perkumpulan ini telah disusupi paham sosialis yang merupakan cikal bakal dari paham komunisme yang membuat perkumpulan ini terpecah menjadi dua dan akhirnya berpisah. Selain itu juga terdapat beberapa partai di era sebelum reformasi yang merupakan organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, dan Masyumi.


Setelah mulai bermunculan organisasi Islam yang mulai terjun di dalam ranah perpolitikan Indonesia, mulailah muncul nilai-nilai keislaman dalam kepemerintahan republik Indonesia. Berbagai hukum di Indonesia juga mulai menerapkan sistem sistem Islam.


Ketika masyarakat mulai mengetahui Islam lewat program-program di kepemerintahan mulailah muncul berbagai organisasi Islam yang membela masyarakat dan menerapkan nilai-nilai Islam di masyarakat. Politik umat Islam pada masa orde baru, di kancah politik nasional tidak begitu nampak, karena partai-partai Islam tidak diperkenankan tumbuh pada masa itu. Namun di era reformasi umat Islam telah mengalami suatu perubahan pemikiran, khususnya dalam masalah politik.


Umat Islam dalam mengadakan gerakan tidak lagi merasa takut dengan adanya tuduhan-tuduhan sebversif seperti yang terjadi pada era orde baru, sehingga muncullah berbagai organisasi Islam di Indonesia. Namun, menurut perwakilan masyarakat bahawa terjunnya umat Islam di kancah partai politik pada era reformasi justru menghilangkan beberapa nilai-nilai Islami yang merupakan ciri khas seorang muslim yang membuatnya sedikit menyimpang. Yang pertama karena lewat politik mereka ingin menerapkan ideologi Islam di Indonesia padahal kita mengetahui kalau Indonesia beragam agama dan yang kedua mereka hanya berkedok politik Islam padahal menginginkan kekuasaan. Menurut salah satu perwakilan HMI di masa itu.


Sekian penjelasan artikel diatas tentang Pengertian Islam – Makna, Sejarah, Karakteristik, Hadist & Sumber semoga dapat bermanfaat bagi pembaca setia DosenPendidikan.Com

Send this to a friend