Platyhelminthes adalah

Diposting pada

Klasifikasi Platyhelminthes – Pengertian, Ciri, Struktur Tubuh & Peranan – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Kerangka Karangan yang dimana dalam hal ini meliputi klasifikasi, pengertian, ciri, struktur tubuh dan peranan, nah agar dapat lebih memahami dan dimengerti simak ulasan selengkapnya dibawah ini.

Klasifikasi-Platyhelminthes

Pengertian Platyhelminthes

Platyhelminthes berasal dari Bahasa Yunani, dari kata Platy = pipih dan helminthes = cacing. Sehingga dapat diartikan bahwa Platyhelminthes adalah cacing bertubuh pipih. Platyhelminthes dikelompokkan dalam;

  1. Domain : Eukarya
  2. Kingdom : Animalia
  3. Subkingdom : Eumetazoa
  4. Super phylum : Platyzoa
  5. Phylum : Platyhelminthes

Tubuh Platyhelminthes memiliki tiga lapisan sel (triploblastik), yaitu ektoderm,mesoderm, dan endoderm. Platyhelminthes merupakan cacing yang mempunyai bentuk tubuh simetri bilateral, dan tubuhnya pipih secara dorsoventral. Platyheminthes tidak memiliki rongga tubuh (aselom), sehingga mereka disebut hewan aselomata. Tubuhnya tidak bersegmen-segmen. Bentuk tubuhnya bervariasi, dari yang berbentuk pipih memanjang, pita, hingga menyerupai daun. Ukuran tubuh bervariasi mulai yang tampak mikroskopis beberapa milimeter hingga berukuran panjang 25 meter (Taeniarhynchus saginatus).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Hewan Avertebrata (Invertebrata)


Sebagian besar cacing pipih berwarna putih atau tidak berwarna. Sementara yang hidup bebas ada yang berwarna cokelat, abu-abu, hitam,atau berwarna cerah.


Ujung anterior tubuh berupa kepala. Pada bagian ventral terdapat mulut dan lubang genital. Mulut dan lubang genital tampak jelas pada kelas Turbellaria, tetapi tidak tampak jelas pada kelas Trematoda dan Cestoda. Ada organ yang menghasilkan sekresi (alat cengkeram dan penghisap) yang bersifat perekat untuk menempel dan melekat, misalnya ‘oral sucker’ dan ‘ventral sucker’ pada Trematoda.


Filum Platyhelminthes terdiri dari sekitar 13,000 species, terbagi menjadi tiga kelas; dua yang bersifat parasit dan satu hidup bebas. Planaria dan kerabatnya dikelompokkan sebagai kelas Turbellaria. Cacing hati adalah parasit eksternal atau internal dari Kelas Trematoda. Cacing pita adalah parasit internal dari kelas Cestoda. Umumnya, golongan cacing pipih hidup di sungai, danau,laut, atau sebagai parasit di dalam tubuh organisme lain. Platyhelminthes yang hidup bebas adalah di air tawar, laut, dan tempat-tempat yang lembab, sedangkan Platyhelminthes yang parasit hidup di dalam tubuh inangnya (endoparasit) pada siput air, sapi, babi, atau manusia.


Cacing golongan ini sangat sensitif terhadap cahaya. Beberapa contoh Platyhelminthes adalah Planaria yang sering ditemukan di balik batuan (panjang 2-3 cm), Bipalium yang hidup di balik lumut lembab (panjang mencapai 60 cm), Clonorchis sinensis, cacing hati, dan cacing pita.


Struktur Tubuh Platyhelminthes

Struktur Tubuh Platyhelminthes

Berikut ini terdapat beberapa struktur tubuh dari platyhelmintes, terdiri atas:


  • Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan Platyhelmintes ( cacing pipih ) ialah gastrovaskuler dimana peredaran makanan tidak melalui darah tetapi oleh usus. Sistem pencernaan Platyhelmintes ( cacing pipih ) dimulai dari mulut faring dan ke kerongkongan. Pada bagian belakang kerongkongan terdapat ususyang bercabang ke seluruh tubuh. Sehingga usus tidak hanya mencerna makanan tapi usus juga mengedarkan makanan ke seluruh tubuh.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Makalah Kingdom Animalia


  • Sistem Syaraf

Dalam sistem syaraf terdapat beberapa macam sistem saraf pada Platyhelmintes ( cacing pipih ) antara lain sebagai berikut :

  1. Sistem syaraf tangga tali ialah sistem syaraf yang paling sederhana. Pada sistem tersebut pusat susunan syaraf disebut dengan ganglion otak terdapat pada bagian kepala dan jumlah sepasang, dari kedua ganglion otak tersebut keluar tali syaraf sisi yang memanjang di bagian kiri dan kanan tubuh yang dihubungkan dengan serabut syaraf melintang.
  2. Pada cacing pipih lebih tinggi tingkatannya sistem saraf dapat tersusun dari sel saraf ( neuron ) yang dibedakan menjadi sel saraf sensori ( sel pembawa sinyal dari indera ke otak ), sel saraf motor ( sel pembawa dari otak ke efektor dan sel asosiasi ( perantara ).

  • Sistem Indera

Dari beberapa jenis Platyhelmintes ( cacing pipih ) memiliki sistem penginderaan berupa oseli yaitu bintik mata yang mengandung pigmen peka terhadap cahaya. Bintik mata tersebut biasanya berjumlah sepasang dan terdapat dibagian anterior ( kepala ). Seluruh cacing pipih ini memiliki indra meraba dan sel kemoresptor diseluruh tubuhnya. Beberapa spesies juga mempunyai indra tambahan berupa aurikula ( telinga ), statosista ( pengatur keseimbangan ) dan reoreseptor ( organ untuk mengetahui arah aliran sungai ). Pada umumnya Platyhelmintes ( cacing pipih ) memiliki sistem osmoregulasi yang disebut dengan protonefridia. Sistem ini terdiri dari saluran pengeluaran cairan yang dimilikinya disebut protonefridiofor yang berjumlah sepasang atau lebih. Sedangkan sisa metabolism tubuhnya dikeluarkan secara difusi melalui dinding sel.


  • Sistem Reproduksi

Meskipun Platyhelmintes ( cacing pipih ) merupakan hewan hemafrodit beberapa cacing tidak dapat melakukan perkawinan secara individu. Reproduksi dilakukan secara aseksual dan seksual. Reproduksi seksual ialah dengan menghasilkan gamet, Fertilisasi ovum terjadi didalam tubuh. Fertilisasi dapat dilakukan sendiri atau dengan pasangan lain.


Ciri-Ciri Platyhelmintes

Platyhelmintes ( cacing pipih ) memiliki beberapa ciri-ciri / karakteristik umum antara lain sebagai berikut :

  1. Memiliki bentuk tubuh pipih, simetris dan tidak bersegmen
  2. Memiliki ukuran tubuh mikroskopis dan ada juga yang memiliki panjang tubuh 20 cm yaitu cacing pita.
  3. Memiliki satu lubang yaitu dimulut tanpa dubur.
  4. Memiliki daya regenerasi yang tinggi dan bersifat hermafodit ( dua kelamin ).
  5. Hidup parasit dan ada juga yang hidup bebas.
  6. Habitat di air tawar, air laut, tempat lembab atau dalam tubuh organism lain.
  7. Melakukan perkembanganbiakan ( bereproduksi ) secara generative dengan perkawinan silang dan berproduksi secara vegetatif yaitu membelah diri.
  8. Sensitive dengan cahaya.
  9. Dan lain-lain.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Penjelasan Klasifikasi Hewan Invertebrata Beserta Ciri-Cirinya


Klasifikasi Platyhelmintes

Platyhelmintes ( cacing pipih ) dibedakan menjadi 3 kelas antara lain sebagai berikut :


  • Turbellaria (Cacing Rambut Getar)

Turbellaria (Cacing Rambut Getar)

Turbellaria adalah Platyhelminthes yang memiliki silia (rambut getar) pada permukaan tubuhnya yang berfungsi sebagai alat gerak. Pada lapisan epidermis terdapat banyak sel kelenjar yang disebut rhabdoid yang berfungsi untuk melekat, membungkus mangsa, dan sebagai jejak lendir pada waktu merayap. Dibawah epidermis terdapat serabut-serabut otot melingkar, longitudinal, diagonal, dan dorsoventral sehingga Turbelaria mudah memutar dan meliuk-liuk.


Hewan dari kelas Turbellaria memiliki tubuh bentuk tongkat atau bentuk rabdit (Yunani : rabdit = tongkat). Hewan ini biasanya hidup di air tawar yang jernih, air laut atau tempat lembab dan jarang sebagai parasit. Tubuh memiliki dua mata dan tanpa alat hisap. Hewan ini mempunyai kemampuan yang besar untuk beregenerasi dengan cara memotong tubuhnya. Keberadaannya sekitar 4000+ spesies di seluruh dunia; hidup di batu dan permukaan sedimen di air, di tanah basah, dan di bawah batang kayu.


Hampir semua Turbellaria hidup bebas (bukan parasit) dan sebagian besar adalah hewan laut. Kebanyakan turbellaria berwarna bening, hitam, atau abu-abu. Namun, beberapa spesies laut, khususnya di terumbu karang, memiliki corak warna lebih cerah. Panjang mulai kurang dari 1 mm hingga 50 cm. Contoh Turbellaria antara lain Planaria dengan ukuran tubuh kira-kira 0,5 – 1,0 cm dan Bipalium yang mempunyai panjang tubuh sampai 60 cm dan hanya keluar di malam hari.


  • Trematoda (Cacing Isap)

Trematoda (Cacing Isap)

Keberadaan trematoda berjumlah sekitar 12000 spesies di seluruh dunia; hidup di dalam atau pada tubuh hewan lain. Semua cacing hisap adalah parasit, berbentuk silinder atau seperti daun. Panjang berkisar 1 cm hingga 6 cm. Cacing ini memiliki penghisap untuk menempelkan diri ke organ internal atau permukaan luar inangnya, dan semacam kulit keras yang membantu melindungi parasit itu. Organ reproduksinya mengisi hampir keseluruhan bagian interior cacing hisap.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Penjelasan Klasifikasi Annelida Beserta Contoh Dan Cirinya


Sebagai suatu kelompok, cacing trematoda memparasiti banyak sekali jenis inang, dan sebagian besar spesies memiliki siklus hidup yang kompleks dengan adanya pergiliran tahap seksual dan aseksual. Banyak trematoda memerlukan suatu inang perantara atau intermediet tempat larva akan berkembang sebelum menginfeksi inang terakhirnya (umumnya vertebrata), tempat cacing dewasa hidup. Sebagai contoh, trematoda yang memparasati manusia menghabiskan sebagian dari sejarah hidupnya di dalam bekicot.


Trematoda dewasa pada umumnya hidup di dalam hati, usus, paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah vertebrata. Trematoda berlindung di dalam tubuh inangnya dengan melapisi permukaan tubuhnya dengan kutikula dan permukaan tubuhnya tidak memiliki silia.Trematoda tidak mempunyai rongga badan dan semua organ berada di dalam jaringan parenkim.


Tubuh biasanya pipih dorsoventral, dan biasanya tidak bersegmen dan seperti daun. Mereka mempunyai dua alat penghisap, satu mengelilingi mulut dan yang lain berada di dekat pertengahan tubuh atau pada ujung posterior. Alat penghisap yang kedua disebut asetabulum karena bentuknya mirip dengan mangkuk cuka.


Dinding luar atau tegumen trematoda adalah kutikula yang kadang-kadang mengandung duri atau sisik. Sistem pencernaan makanan sangat sederhana. Terdapat mulut pada ujung anterior, yang dikelilingi oleh sebuah alat penghisap. Makanan dari mulut melalui farings yang berotot ke esofagus dan kemudian ke usus, yang terbagi menjadi dua sekum yang buntu. Sekum ini kadang-kadang bercabang, dan percabangan ini kadang-kadang sedikit rumit.


Kebanyakan trematoda tidak mempunyai anus, dengan demikian sisa bahan makanan harus diregurgitasikan. Sistem saraf adalah sederhana. Cincin dari serabut saraf dan ganglia mengelilingi esofagus, dan dari sini saraf berjalan ke depan dan belakang. Biasanya, sebatang saraf berjalan kebelakang pada setiap sisi, dan saraf-saraf bertolak dari sini menuju ke berbagai organ.


Trematoda tidak mempunyai sistem peredaran darah. Sistem ekskresi tersusun dari sebuah kandung kemih posterior. Sebuah sistem percabangan dari tabung pengumpul yang masuk ke dalam kandung kemih, dan sebuah sistem sel-sel ekskresi yang terbuka ke dalam saluran pengumpul tersebut. Tidak terdapat organ ekskresi yang terlepas, sel-sel ekskresi ditempatkan secara strategis di seluruh tubuh.


Sel ekskresi terdiri dari sebuah sitoplasma basal yang berisi inti dan sebuah vakuola berisi seberkas silia ynag terbuka secara tetap ke dalam saluran pengumpul. Sistem reproduksinya kompleks. Sebagian besar dari trematoda adalah hermafrodit, mempunyai organ jantan dan betina. Tetapi pembuahan silang merupakan hal yang biasa, dan pembuahan sendiri tidak umum. Pembuahan biasanya uterus, sperma melewati sirus dari satu cacing ke uterus cacing lain.


  • Cestoda (Cacing Pita)

Cestoda (Cacing Pita)

Keberadaannya berjumlah sekitar 3500 spesies di seluruh dunia; hidup sebagai parasit dalam tubuh hewan. Cacing pita (Cestoda) memiliki tubuh bentuk pipih, panjang antara 2 – 3m dan terdiri dari bagian kepala (skoleks) dan tubuh (strobila). Kepala (skoleks) dilengkapi dengan lebih dari dua alat pengisap. Sedangkan setiap segmen yang menyusun strobila mengandung alat perkembangbiakan. Tubuhnya satu strobila tertutup oleh cuticula yang tebal; tidak berpigmen; tidak mempunyai tractus digestivus atau alat indera dalam bentuk dewasanya. Makin ke posterior segmen makin melebar dan setiap segmen (proglotid) merupakan satu individu dan bersifat hermafrodit.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : 102 Sistem Pernapasan Pada Hewan Invertebrata Lengkap


Contoh cacing pita adalah Taenia solium dan Taenia saginata yang parasit pada orang. Taenia terdiri dari sebuah kepala bulat yang disebut scolexsejumlah ruas, yang sama disebut disebut proglotid. Pada kepala terdapat alat hisap dan jenis Taenia solium mempunyai kait (rostellum) yang sangat tajam yang mengunci cacing itu ke lapisan intestinal inang. Di belakang scolex terdapat leher kecil yang selalu tumbuh yang akan menghasilkan proglotid baru yang mula-mula kecil tumbuh menjadi besar. Panjang tubuh cacing pita mencapai 2 m.


Setiap proglotid mengandung organ kelamin jantan (testis) dan organ kelamin betina (ovarium).Tiap proglotid dapat terjadi fertilisasi sendiri. Proglotid yang dibuahi terdapat di bagian posterior tubuh cacing. Proglotid dapat melepaskan diri (strobilasi) dan keluar dari tubuh inang utama bersama dengan tinja dengan membawa ribuan telur. Jika termakan hewan lain, telur akan berkembang dan memulai siklus hidup barunya. Cacing pita tidak memiliki saluran pencernaan. Cacing pita menyerap makanan yang telah dicerna terlebih dahulu oleh inang.


Cestoda bersifat parasit karena menyerap sari makan dari usus halus inangnya. Sari makanan diserap langsung oleh seluruh permukaan tubuhnya karena cacing ini tidak memiliki mulut dan pencernaan (usus). Manusia dapat terinfeksi Cestoda saat memakan daging hewan yang dimasak tidak sempurna. Inang perantara Cestoda adalah sapi pada Taenia saginata dan babi pada taenia solium. Cacing pita tidak mempunyai saluran pencernaan dan sitem peredaran darah. Makanan langsung melalui dinding tubuh. Sistem ekskresi yaitu berupa sel api.


Sistem saraf tersusun dari beberapa ganglion pada skoleks, dengan komisura melintang diantaranya. Dan tiga batang saraf longitudinal setiap sisi tubuh (sebuah batang besar disebelah lateral dan yang kecil disebelah ventral), satu ganglion kecil disetiap segmen pada masing-masing dari enam batang tersebut, dan komisura pada setiap segmen menghubungkan ganglion-ganglion ini. Cestoda adalah hermafrodit, yang mempunyai organ jantan dan betina. Organ jantan terdiri dari testis (menghasilkan spermatozoa), vas deferen, seminal vesicle, penis, dan lubang kelamin. Sedangkan organ bertina terdiri dari ovarium, oviduk, seminal uterus, vagina, dan lubang kelamin.


Peranan Platyhelminthes

1. Planaria menjadi salah satu makanan bagi organisme lain.

2. Cacing hati maupun cacing pita merupakan parasit pada manusia

  1. Schistosoma sp, dapat menyebabkan skistosomiasis penyakit parasit yang ditularkan melalui siput air tawar pada manusia. Apabila cacing tersebut berkembang di tubuh manusia, dapat terjadi kerusakan jaringan dan organ seperti kandung kemih, ureter, hati, limpa, dan ginjal manusia.Kerusakan tersebut disebabkan perkembangbiakan cacing schistosoma di dalam tubuh.
  2. Clonorchis sinensis yang menyebabkan infeksi cacing hati pada manusia dan hewan mamalia lainnya, spesies ini dapat menghisap darah manusia.
  3. Paragonimus sp, parasit pada paru-paru manusia. dapat menyebabkan gejala gangguan pernafasan yaitu sesak bila bernafas, batuk kronis, dahak/sputum becampur darah yang berwarna coklat (ada telur cacing).
  4. Fasciolisis sp, parasit di dalam saluran pencernaan. Terjadinya radang di daerah gigitan, menyebabkan hipersekresi dari lapisan mukosa usus sehingga menyebabkan hambatan makanan yang lewat. Sebagai akibatnya adalah ulserasi, haemoragik dan absces pada dinding usus. Terjadi gejala diare kronis.
  5. aeniasis, penyakit yang disebabkan oleh Taenia sp. Cacing ini menghisap sari-sari makanan di usus manusia.
  6. Fascioliasis, disebabkan oleh Fasciola hepatica. Merupakan penyakit parasit yang menyerang semua jenis ternak. Hewan terserang ditandai dengan nafsu makan turun, kurus, selaput lendir mata pucat dan diare.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Amfibi adalah


Daftar Pustaka:

  1. Campbell, Reece, Mitcheli, Biologi Edisi Kelima Jilid 2, Jakarta: Erlangga, 2003.
  2. Djarubito, Brotowidjoyo. M. Zoologi Dasar, Jakarta: Erlangga, 1994.
  3. George H. Fried & George J. Hademenos, Biologi Edisi Kedua, Jakarta: Erlangga, 2006.
  4. Jasir, Maskoeri, Sistematik Hewan, Surabaya: Sinar Wijaya, 1984.
  5. John, W. Kimball, Biologi Edisi Kelima Jilid 3, Jakarta: Erlangga, 1999.
  6. Levine, Norman. D, Parasitologi Veteriner, Yogyakarta: gajah mada university press, 1994.

Demikianlah pembahasan mengenai Klasifikasi Platyhelminthes – Pengertian, Ciri, Struktur Tubuh & Peranan semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Butuhkan