Sampah adalah

Diposting pada

Sampah adalah – Pengertian, Jenis, Komposisi, Sumber, Dampak, Cara & Hasil Olahan – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Sampah yang dimana dalam hal ini meliputi pengertian, perkembangan, jenis, komposisi, sumber, dampak, cara dan hasil olahan, untuk lebih memahami dan mengerti simak ulasan dibawah ini.

Sampah-adalah

Pengertian Sampah

Sampah adalah bahan sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah diklasifikai oleh manusia menurut derajat kegunaanya, dalam proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, hanya produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam berlangsung. Namun, karena dalam kehidupan manusia, lingkungan didefinisikan konsep limbah dapat dibagi menurut jenis.


Jenis-Jenis Sampah

Berikut ini terdapat beberapa jenis-jenis sampah, terdiri atas:


1. Berdasarkan Sumbernya

terdiri atas:


  1. Human erecta

Human erecta merupakan istilah bagi bahan buangan yang dikeluarkan oleh tubuh manusia sebagai hasil pencernaan.Tinja ( faeces ) dan air seni ( urine ) adalah hasilnya. Sampah manusia ini dapat berbahaya bagi kesehatan karena bias menjadi vektor penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup


  1. Sewage

Air limbah buangan rumah tangga maupun pabrik termasuk dalam sewage. Limbah cair rumah tangga umumnya dialirkan ke got tanpa proses penyaringan, seperti sisa air mandi, bekas cucian, dan limbah dapur. Sementara itu, limbah pabrik perlu diolah secara khusus sebelum dilepas kea lam bebas agar lebih aman. Namun, tidak jarang limbah berbahaya ini disalurkan ke sungai atau laut tanpa penyaringan.


  1. Refuse

Refuse diartikan sebagai bahan sisa proses industri atau hasil sampingan kegiatan rumah tangga. Refuse inilah yang popular disebut sampah dalam pengertian masyarakat sehari-hari. Sampah ini dibagi menjadi garbage ( sampah lapuk ) dan rubbish ( sampah tidak lapuk dan tidak mudah lapuk ).


Sampah lapuk ialah sampah sisa- sisa pengolahan rumah tangga atau hasil sampingan kegiatan pasar bahan makanan, seperti sayuran. Sementara itu, sampah tidak lapuk merupakan jenis sampah yang tidak bias lapuk sama sekali, seperti mika, kaca, dan plastik. Sampah tidak mudah lapuk merupakan sampah yang sangat sulit terurai, tetapi bisa hancur secara alami dalam jangka waktu lama. Sampah jenis ini ada yang dapat terbakar ( kertas dan kayu ) dan tidak terbakar ( kaleng dan kawat ).


  1. Industrial waste

Industrial waste ini umumnya dihasilkan dalam skala besar dan merupakan bahan-bahan buangan dari sisa-sisa proses industri.


2. Berdasarkan Sifatnya

terdiri atas:


  • Sampah organik

Sampah organik berasal dari makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Sampah organik sendiri dibagi menjadi sampah basah dan sampah kering.


  • Sampah anorganik

Sampah anorganik bukan berasal dari makhluk hidup. Sampah ini bisa berasal dari bahan yang bisa diperbarui dan bahan yang berbahaya serta beracun.


  • Sampah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya)

Sampah B3 merupakan jenis sampah yang dikategorikan beracun dan berbahaya bagi manusia. Umumnya, sampah jenis ini mengandung merkuri seperti kaleng bekas cat semprot atau minyak wangi. Namun, tidak menutup kemungkinan sampah yang mengandung jenis racun lain yang berbahaya.


3. Berdasarkan Bentuk

Sampah adalah bahan baik padat atau cair yang tidak lagi digunakan dan dibuang. Menurut bentuk limbah dapat dibagi sebagai:


  1. Limbah padat

Limbah padat adalah bahan limbah selain kotoran manusia, urine dan limbah cair. Mungkin termasuk limbah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, logam, kaca dan lain-lain.


  1. Sampah cair

Limbah hitam: (kotoran manusia) adalah istilah yang digunakan untuk hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Kotoran manusia dapat menjadi bahaya serius bagi kesehatan karena dapat digunakan sebagai vektor (sarana pengembangan) penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri.

Salah satu perkembangan utama dalam dialektika manusia adalah pengurangan penularan penyakit melalui kotoran manusia dengan cara higienis hidup dan sanitasi. Termasuk pengembangan teori pipa distribusi (pipa). Kotoran manusia dapat dikurangi dan digunakan kembali misalnya melalui sistem urinoir tanpa air.


  1. Sampah Konsumsi

Sampah sampah konsumsi yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata lain, adalah sampah dibuang ke tempat sampah. Ini adalah tempat sampah orang biasa. Namun demikian, jumlah sampah kategori ini masih jauh lebih kecil dari limbah yang dihasilkan dari pertambangan dan proses industri.


  1. Limbah radioaktif

Limbah nuklir merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir uranium dan thorium menghasilkan sangat berbahaya bagi lingkungan hidupdan manusia.


Oleh karena itu, limbah nuklir disimpan dalam tempat yang tidak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang ditunjuk tempat biasanya bekas tambang garam atau dasar laut (meskipun jarang, tapi kadang-kadang masih melakukannya).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Rantai Makanan Dan Jaring Makanan


Komposisi Sampah

Dalam kehidupan manusia, sebagian besar jumlah sampah berasal dari aktivitas industri, seperti konsumsi, pertambangan, dan manufaktur. Seiring waktu berjalan, hampir semua produk industri akan menjadi sampah. Jenis sampah yang banyak dijumpai dalam jumlah besar pun beragam. Sampah berupa kemasan makanan atau minuman yang terbuat dari kertas, alimunium, ataupun plastik berlapis semakin mendominasi. Demikian pula sampah elektronik, termasuk sampah jenis baru, semakin marak di tempat pembuangan sampah.


Volume tumpukan sampah memiliki nilai sebanding dengan tingkat konsumsi masyarakat terhadap material yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Output  jenis sampah sendiri sangat tergantung pada jenis material yang dikonsumsi. Secara umum dapat ditarik benang merah bahwa peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup masyarakat akan sangat berpengaruh terhadap volume sampah serta komposisinya.


Di Indonesia, sekitar 60-70 % dari total volume sampah yang dihasilkan merupakan sampah basah dengan kadar air antara 65-75 %. Sumber sampah terbanyak berasal dari pasar tradisional dan pemukiman. Sampah pasar tradisional, seperti pasar lauk-pauk dan sayur- mayur membuang hampir 95 % sampah organik. Jika ditinjau dari pengolahannya, sampah di daerah pemukiman jah lebih beragam. Namun, minimal 75 % dari total sampah tersebut temasuk sampah organik dan sisanya termasuk sampah anorganik.


Sampah organik mampu terurai secara alami dialam dengan bantuan mikroba. Selain itu, sampah jenis ini telah lama diolah secara sederhana oleh masyarakat sebagai pakan ternak atau bahan pupuk. Selain sampah organik, beberapa bahan anorganik dapat pula terurai secara alami walaupun dalam kurun waktu cukup lama. Proses ini disebabkan oleh tingkat penguraian (degradibilitas) tiap bahan berbeda. berikut urutan tingkat kemudahan sampah dalam penguraiannya.


Tabel 1.Tingkat Degrabilitas Komponen Bahan Sampah

No.Komponen SampahDegradibilitas (%)
1.Selulosa dari kertas karton90
2.Hemiselulosa70
1.Karbohidrat70
4.Selulosa dari kertas bungkus50
5.Bambu50
6.Lemak50
7.Protein50
8.Ranting5
9.Lignin0
10.Plasik0

Sumber : Sudrajad dkk., 1987 dalam Sudrajat, R., 2006


Sumber Sampah

Sampah selalu timbul menjadi persoalan rumit dalam masyarakat yang kurang memiliki kepekaan terhadap lingkungan. Ketidakdisipinan mengenai kebersihan dapat menciptakan suasana semrawut akibat timbunan sampah. Begitu banyak kondisi tidak menyenangkan akan muncul. Bau tidak sedap, lalat berterbangan, dan gangguan berbagai penyakit siap menghadang di depan mata. Tidak cuma itu, peluang pencemaran lingkungan disertai penurunaan kualitas estetika pun akan menjadi santapan sehari-hari bagi masyarakat.


Pada musim hujan, sampah terlantar ini menjadi momok paling menakutkan. Tumpukan sampah yang tidak tertangani dengan baik bisa menyumbat saluran drainase. Pembuangan sampah di sembarang tempat, terutama sungai, akan menghambat laju air hujan dipermukaan sehingga aliran hanya terfokus pada satu titik saja. Ketika curah hujan tinggi, kondisi semacam ini bisa mengakibatkan banjir. Bahkan, Jakarta sebagai ibukota negara pun tidak pernah lepas dari kondisi tersebut. Hampir setiap tahun kota impian para pendatang ini dikunjungi banjir.


Ketakutan hadir tidak hanya kala banjir melanda, tetapi juga ketika iringan situasi pasca banjir tiba. Kelaparan, penyakit, pengangguran, dan masalah sosial lainnya menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Walaupun telah ’ berpengalaman’ menghadapi situasi sama setiap tahun, tampaknya inti masalah akibat sampah ini belum pula memperoleh penyelesaian terbaik.


Sampah memang bukan perkara mudah. Tidak hanya di perkotaan padat penduduk, pedesaan, atau lokasi lain pun tidak terlepas dari persoalan ini. Sumber permasalahan sampah selalu hadir, baik di tempat pembuangan sementara(TPS), tempat pembuangan air(TPA), maupun saat pendistribusiaannya.Berikut beberapa faktor penyebab penumpukan sampah:

  • Volume sampah sangat besar dan tidak diimbangi oleh daya tamping TPA sehingga melebihi kapasitasnya.
  • Lahan TPA semakin menyempit akibat tergusur oleh pengunaan lain.
  • Jarak TPA dan pusat sampah relatif jauh hingga waktu untuk menganggut sampah kurang efektif.
  • Fasilitas pengakutan sampah terbatas dan tidak mampu menganggut seluruh sampah.
  • Teknologi pengolaan sampah tidak optimal sehingga lambat membusuk.
  • Sampah yang telah matang dan berubah menjadi kompos tidak segera dikelurkan dari tempat penampugan sehingga semakin mengulung.
  • Tidak semua lingkungan memiliki lokasi penampungan sampah. Masyarakat sering membuang sampah disembarang tempat sebagai jalan pintas.
  • Kurangnya sosialisai dan dukungan pemeritah mengenai pengelolaan dan pengolalahan sampah serta produknya.
  • Minimnya edukasi dan manajemen diri yang baik mengenai pengolahan sampah secara tepat.
  • Manajemen sampah tidak efektif. Hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman terutama bagi masyarakat sekitar.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Sumber Daya Alam Non Hayati


Dampak Sampah

Sudah kita sadari bahwa pencemaran lingkungan akibat perindustrian maupun rumah tangga sangat merugikan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui kegiatan perindustrian dan teknologi diharapkan kualitas kehidupan dapat lebih ditingkatkan. Namun seringkali peningkatan teknologi juga menyebabkan dampak negatif yang tidak sedikit.


1. Dampak Bagi Kesehatan

Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menimbulkan penyakit.


Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:

  1. Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.
  2. Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).
  3. Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernakan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah
  4. Sampah beracun: Telah dilaporkan bahwa di Jepang kira-kira 40.000 orang meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi oleh raksa (Hg). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut oleh pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator.

2. Dampak Terhadap Lingkungan

Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah yang dibuang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas-cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat meledak.


  1. Dampak Terhadap Keadaan Social Dan Ekonomi

Terdiri atas:

  1. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat: bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana-mana.
  2. Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan.
  3. Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal penting di sini adalah meningkatnya pembiayaan secara langsung (untuk mengobati orang sakit) dan pembiayaan secara tidak langsung (tidak masuk kerja, rendahnya produktivitas).
  4. Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan, jembatan, drainase, dan lain-lain.
  5. Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan jalan perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.

Cara Mengatasi Sampah

Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif pengolahan yang benar. Teknologi landfill yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah lingkungan akibat sampah, justru memberikan permasalahan lingkungan yang baru. Kerusakan tanah, air tanah, dan air permukaan sekitar akibat air lindi, sudah mencapai tahap yang membahayakan kesehatan masyarakat, khususnya dari segi sanitasi lingkungan.


Gambaran yang paling mendasar dari penerapan teknologi lahan urug saniter (sanitary landfill) adalah kebutuhan lahan dalam jumlah yang cukup luas untuk tiap satuan volume sampah yang akan diolah. Teknologi ini memang direncanakan untuk suatu kota yang memiliki lahan dalam jumlah yang luas dan murah. Pada kenyataannya, lahan di berbagai kota besar di Indonesia dapat dikatakan sangat terbatas dan dengan harga yang tinggi pula. Dalam hal ini, penerapan lahan urug saniter sangatlah tidak sesuai.


Berdasarkan pertimbangan di atas, dapat diperkirakan bahwa teknologi yang paling tepat untuk pemecahan masalah di atas, adalah teknologi pemusnahan sampah yang hemat dalam penggunaan lahan. Konsep utama dalam pemusnahan sampah selaku buangan padat adalah reduksi volume secara maksimum. Salah satu teknologi yang dapat menjawab tantangan tersebut adalah teknologi pembakaran yang terkontrol atau insinerasi, dengan menggunakan insinerator.


Teknologi insinerasi membutuhkan luas lahan yang lebih hemat, dan disertai dengan reduksi volume residu yang tersisa ( fly ash dan bottom ash ) dibandingkan dengan volume sampah semula.


Ternyata pelaksanaan teknologi ini justru lebih banyak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan berupa pencemaran udara. Produk pembakaran yang terbentuk berupa gas buang COx, NOx, SOx, partikulat, dioksin, furan, dan logam berat yang dilepaskan ke atmosfer harus dipertimbangkan. Selain itu proses insinerator menghasilakan Dioxin yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, misalnya kanker, sistem kekebalan, reproduksi, dan masalah pertumbuhan.


Global Anti-Incenatot Alliance (GAIA) juga menyebutkan bahwa insinerator juga merupakan sumber utama pencemaran Merkuri. Merkuri merupakan racun saraf yang sangat kuat, yang mengganggu sistem motorik, sistem panca indera dan kerja sistem kesadaran.


Belajar dari kegagalan program pengolahan sampah di atas, maka paradigma penanganan sampah sebagai suatu produk yang tidak lagi bermanfaat dan cenderung untuk dibuang begitu saja harus diubah. Produksi Bersih (Clean Production) merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologis.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Hygiene Dan Sanitasi


Hasil Olahan Sampah

Kompos, pupuk cair, media tanam, pakan ternak, batako, briket, dan biogas merupakan beberapa produk daur ulang hasil pengolahan sampah yang dapat dibanggakan dan mudah diaplikasikan. Produk tersebut cukup mendapat tempat di masyarakat dan telah diperjualkan secara komersil. Dari sisi finansial, keuntungan yang diperoleh cukup menggiurkan dan mampu menningkatkan kesejahteraan pengolahnya. Peluang usaha produk berbahan baku sampah sangat terbuka lebar dengaan berbagai harapan menjanjikan di masa depan.


Dampak negatif sampah mungkin tidak bisa dihilangkan secara tuntas sampai ke akarnya. Namun, usaha pengelolaan dan pengolahan sampah yang telah dilakukan berbagai pihak turut memberikan kontribusi guna menanggulangi problematika sampah. Kerja keras pemerintah tentu tidak akan berbjalan mulus tanpa partisipasi dan respon langsung masyarakat, salah satu peran nyata masyarakat bisa tersalurkan melalui penggunaan produk berbahan baku sampah maupun hasil daur ulangnya di kehidupan sehari – hari. Berikut rangkuman sederhana mengenai pengolahan beberapa produk sampah, terutama sampah organik, dari barang tidak bermanfaat menjadi barang bernilai ekonomi cukup tinggi.


  1. Kompos

Di masa mendatang, penggunaaan kompos sebagai sumber nutrisi tanaman akan sangat berarti dan memiliki prospek bisnis yang cerah. Kompos tidak hanya mengandung unsur hara makro ( N, P, dan K ), unsur hara mikro ( Fe, B, S, dan Ca ) pun terkandung lengkap di dalamnya walaupun diakui kandungan haranya lebih sedikit dibanding pupuk kimia. Namun, bahan baku penyusun kompos melimpah ruah dan cara pembuatannya cukup sederhana. Sayangnya, penggunaan kompos sebagai pupuk alami tidak selalu berjalan mulus. Banyak kendala yang harus dihadapi terutama dari segi pemasaran. Selain kualitas kompos tidak merata, persaingan dagang dengan pupuk kimia menjadi halangan utama. Selain lebih praktis, respon pupuk kimia dalam menunjukkan hasil nyata lebih cepat dibanding kompos. Murahnya harga jual pupuk kimia dan diperlukan sertifikat sah dari Lembaga Sertifikasi Nasional/Internasional dalam menjual produk pertanian organik turut menambah lemahnya penjualan kompos.


  1. Prinsip dasar membuat kompos

Secara gamblang, kompos bisa diartikan sebagai pupuk alami yang terbuat dari bahan  – bahan hijau dan bahan organik lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan. Pengolahan sampah menjadi kompos merupakan proses mikrobiologi dan berjalan secara aerobik dan anaerobik yang saling menunjang pada kondisi lingkungan tertentu sesuai hasil rekayasa. Saat pengomposan terjadi perombakan bahan organik menjadi komponen lebih sederhana dan stabil dalam larutan berbentuk ionik dan mudah diserap oleh tumbuhan. Proses pengomposan ini secara  garis besar disebut  dekomposisi dan terbentuk dalam kurun waktu 30 – 90 hari.

Tidak semua jenis sampah bisa dijadikan bahan dalam pembuatan kompos. Jenis yang dipakai ialah sampah organik yang   mudah sekali busuk atau garbage. Pemilahan dan penyeleksian sampah pun menjadi tahap penting dalam pengolahan sampah menjadi kompos. Penyeleksian bahan kompos dilakukan dua tahap, yaitu pemilahan sampah organik dan anorganik. Selanjutnya, pemilahan sampah organik yang dapat didaur ulang  melalui pengomposan aerobik atau anaerobik.

Dengan bahan organik  pilihan, proses serta produk hasil pengomposan akan optimal. Penyeleksian pun dilakukan untuk meminimalisir terjadinya risiko dalam pengomposan, yaitu sebagai berikut:

  • Jangka waktu proses pengomposan lama.
  • Kemungkinan kompos terkontaminasi oleh zat beracun atau zat kimia dan penyakit tanaman sehingga mikroorganisme kompos dan tanaman mati.
  • Timbulnya bau busuk, kerumunan serangga, daan masalah lingkungan lain di tempat pengomposan.

Sebelum dimasukkan dalam wadah atau bak pengomposan, sebaiknya bahan-bahan terpilah dirajang terlebih secara manual atau menggunakan mesin perajang hingga mencapai ukuran 1 – 7, 5 cm. perajang ini bertujuan untuk mempercepat proses pengomposan dan menghasilkan produk kompos yang halus.


  1. Membuat kompos

Proses membuat kompos sangat mudah dan dapat dilakukan beragam cara. Setiap proses pengomposan cukup mudah diaplikasikan dan dapat diterapkan oleh siapapun. Berikut beberapa alternatif pengolahan sampah menjadi kompos melalui proses aerobik.


Salah satu jenis kompos adalah kompos siap pakai. Pembuatan kompos ini dinilai paling mudah, murah, sederhana, dan tidak memerlukan proses panjang pengomposan lagi. Sampah yang dibutuhkan pun telah mengalami proses pembusukan, penghancuran, dan pengomposan alami di alam terbuka dalam jangka waktu lama.


Bahan dan alat :

  • 50 – 100 g belerang per 1 kg tanah
  • Ayakan pasir
  • Sekop atau cangkul

Cara membuat :

  • Pilihlah tumpukan sampah yang didominasi sampah organik dan telah mengalami penimbunan lebih dari setahun. Timbunan sampah yang telah ‘jadi’ ini akan membentuk tanah di bagian bawah permukaannya. Tanah tersebut berwarna agak kehitaman ( membentuk humus alami ).
  • Gali dan pisahkan tanah tersebut dari sampah – sampah lain yang tidak lapuk, seperti gelas, plastik, mika, atau kaca.
  • Jemur tanah hingga kering selama beberapa hari, lalu ayak hingga membentuk tanah remah.
  • Tambahkan 50 – 100 gr belerang setiap satu kilogram tanah.
  • Aduk merata bahan kompos dan belerang.
  • Pupuk kompos siap dipakai ataau dikemas sesuai kebutuhan.

Kompos yang telah jadi dapat digunakan sebagai pupuk berbagai tanaman hias atau tanaman komoditas pertanian, seperti jagung, cengkih, dan padi. Bahkan, proses pembuatan kompos seperti ini telah diaplikasikan secara komersial oleh sebuah pabrik pupuk kompos di Medan, Sumatera Utara.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Peredaran Darah Dalam Tubuh Manusia


  1. Pupuk Cair

Selain kompos, sampah terutam limbah got bisa dibuat pupuk  cair. Pupuk jenis ini memiliki banyak kelebihan dibanding kompos padat. Selain mengandung konsentrasi unsur hara lebih tinggi, pupuk cair mudah diaplikasikan, cukup disemprot atau disiram pada media tanam.


Pupuk cair dibuat dengan mencampurkan air dengan cairan ekstrak bahan organik yang dibusukkan dalam kondisi anaerobik. Dibandingkan dengan kompos, pembuatan pupuk cair membutuhkan waktu yang lebih singkat dan harga jualnya lebih tinggi. Dalam pemprosesannya, pupuk cair dibuat dari air got yang telah diendapkan materinya.


Bahan dan alat :

  • 000 liter air got yang telah diendapkan materinya
  • 5 liter mollase atau tetes tebu atau larutan gula merah
  • 10 liter bioaktivator semai cair
  • 2 buah tangki berkapasitas 500 liter
  • Ember
  • Pengaduk

Cara membuat :

  1. Masukkan bahan-bahan ke dalam tangki, lalu aduk hinggga merata.
  2. Tutup rapat tangki selama 3 hari.
  3. Aduk rata semua bahan dalam tangki setiap hari sekali mulai hari ke- 4 hingga hari ke- 7.
  4. Tutup rapat tangki pada hari ke- 8 lalu diamkan hingga hari ke- 14.
  5. Campuran telah menjadi pupuk cair yang siap dikemas dan dipasarkan.

Dalam pengaplikasiannya, 1 liter konsentrat pupuk dicairkan dengan 1.000 liter air, lalu disemprotkan pada permukaan media tanam. Interval pemberiannya ialah 1 – 2 minggu sekali terhadap semua jenis tanaman. Hasil olahan pupuk cair yang berasal dari cairan limbah got akan berwarnaa cokelat kehitaman, aromanya cenderung keasaman, berbentuk cair, dan sedikit kental pekat. Namun, pupuk ini ramah lingkungan.


  1. Briket

Kini, harga bahan bakar minyak bumi yang telah menjadi tombak hidup masyarakat semakin tidak terjangkau. Kenaikan harga ini sebagian besar merupakan dampak naiknya harga minyak dunia. Kebijaksanaan pemerintah dengan mensubsidi bahan bakar minyak (BBM) tampaknya sudah menjadi senjata terakhir. Salah satu upaya mengatasi ketergantungan terhadap pemakaian bahan bakar minyak ialah melalui bahan bakar alternatif, seperti briket. Briket adalah padatan yang umumnya berasal dari limbah pertanian. Sifat fisik briket tidak kompak, tidak padat, seperti serbuk gergaji dan sekam tanpa melewati proses pembakaran (pengarangan).


Dalam aplikasi produk  beragam jenis briket, yaitu briket arang selasah, briket, briket serbuk gergaji dan serkam, dan briket kotoran sapi. Setiap jenis briket memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Berikut beberapa cara pengolahan limbah menjadi briket.


  1. Briket Arang Selasah

bahan dan alat :

  • Sarasah daunan kering (termasuk jerami dan daun bambu), ranting, atau pecahan kecil dahan.
  • Air dan lem kanji secukupnya.
  • Alat cetak dari potongan bambu atau pipa PVC berdiameter sekitar 5 cm dan tinggi 5-8 cm
  • Bilah kayu bulat berukuran sama dengan garis tengah bambu atau pipa PVC dengan panjang 15-18 cm
  • Tong kecil atau wadah lain

Cara kerja :

  • Kelompokan bahan berdasarkan jenisnya
  • Bakar masing-masing bahan hingga menjadi arang ( jangan sampai menjadi abu)
  • Setelah semua bahan habis, siram dengan air.
  • Campurkan semua bahan, lalu hancurkan arang dengan cara dipukul-pukul.
  • Tambahkan lem kanji agar masing-masing bahan dapat digumpalkan.
  • Masukan bahan gumpalan ke dalam batang kayu, lalu tekan keras-keras hingga padat.
  • Dorong bahan keluar dari cetakan.
  • Jemur bahan dibawah sinar matahari sampai kering.
  • Briket siap digunakan seperti arang biasa atau dikemas dan siap dipasarkan.

Pada pembuatan briket arang, lem kanji bisa juga digantikan dengan perekat daun (daun tanaman yang masih basah) yang telah dilumatkan atau tanpa menggunakan perekat sama sekali.

  1. Briket Serbuk gergaji

Bahan dan alat :

  • Serkam atau sebuk gergaji kering
  • Lem kanji cair secukupnya
  • Serasah dedaunan kering (termasuk jerami, daun bambu, serta daun dedaunan lainnya) sebagai bahan tambahan
  • Alat cetak dari potongan bambu atau pipa PVC berdimeter sekitar 5 cm dan tinggi 5-8 cm
  • Bilah kayu bulat berukuran sama dengan garis tengah bambu atau pipa PVC dengan panjang sekitar 15-18 cm

Cara membuat :

  • Hancurkan bahhan tambahan (serasah dengan) dengan cara dipukul-pukul.
  • Campurkan serasah hancur dan sekam atau sebuk gergaji dengan perbandingan 4:6.
  • Tambahkan lem kanji pada campuran mudah digumpalkan.
  • Masukan gumpalan ke dalam cetakan sampai penuh, kemudian tekan keras-keras sepadat mungkin dengan batang kayu.
  • Dorong adonan yang telah jadi keluar dari cetakan.
  • Jemur adoanan dibawah sanar matahari sampai kering.
  • Briket siap digunakan sampai arang biasa.

  1. Briket Kotoran Sapi

Bahan dan alat :

  • Kotoran sapi yang sehat
  • Air secukupnya
  • Kayu pengaduk
  • Alas plastik tebal atau lantai jemuran

Cara membuat :

  • Masukan kotoran kedalam wadah, lalu tambahkan air.
  • Aduk-aduk sampai konsistensinya halus dan lembut.
  • Ambil sedikit demi sedikit sebesar telapak tangan dan letakan pada alas penjemur.
  • Jemur adonan dibawah sinar matahari sampai karing.
  • Briket siap dipasarkan atau langsung dimanfaatkan.

Jenis briketkelebihankekurangan
Briket arang salasahMudah dibuat, murah, praktis, dan mudah digunakan, ringan, mudah diangkut, serta relatif aman.Berasap sehingga lebih baik digunakan diruangan terbuka, tidak dapat dimatikan dengan cepat, pijar api tidak mudah terlihat.
Briket sebuk gergaji atau sekamMudah dibuat, murah, mudah penggunaannya, praktis,  dan relatif aman digunakan.Berasap sehingga lebih baik digunakan diruangan terbuka, tidak dimatikan dengan cepat, pijar api tidak mudah terlihat.
Briket kotoran sapiNyala apinya bagus,mudah dibuat, praktis, mudah digunakan, aman, dan ringan sehingga memudahkan dalam transportasiAdanya kendala budaya dan pandangan negatif pada kotoran sapi di beberapa daerah.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Bakteri Yang Menguntungkan


  1. Biogas

Sampah yang membusuk akan mengeluarkan biogas. Biogas merupakan hasil samping pembuatan kompos secara anaerob atau kotoran ternak. Sebagian besar biogas terdiri dari campuran gas metana sebnyak 50-60% dengan gas-gas lain,CO dan H2S. Ditilik dari jumlah sampah yang ada, potensi produksi biogas sangatlah besar.


Karena sumber  energi, biogas dapat dimanfaatakan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan pembangkit listrik (skala besar). Bahan bakar terbaik membuat biogas ialah kotoran ternak (sapi dan kerbau). Kotoran ternak banyak berbentuk selulosa sehingga akan mudah dicerna bakteri. Bakteri anerob bekerja optimal pada kisaran pH 6,8 – 8 sehingga derajat kesamaan difermentasikan harus netral.


Sebelum dilakukan pemrosesan biogas, dibutuhkan perangkat alat pemroses biogas, perangkat ini terdiri atas pipa pemasukan bahan, pipa pengeluaran bahan, tangki pencerna, tangki penyekat, tangki pengumpul, dan pipa saluran gas.


Bahan dan alat :

  • 2 buah drum berkapasitas 200 liter dan 1 buah berkapasitas 120 liter
  • 2 batang pipa baja 2 inci sepanjang 50 cm
  • 1 batang pipa baja 0,5 inci sepanjang 50 cm
  • Pelat seng ukuran 50 cm x 30 cm
  • Kertas pola ukuran 50 cm x 30 cm
  • 1 buah kran
  • 1 buah selang sepanjang kebutuhan
  • Kawat elektroda
  • Gergaji besi
  • Gunting seng
  • Martil
  • Pahat
  • Tang pembuat uliran
  • Peralatan las
  • Alat pengaduk
  • Ember

Cara membuat :

  1. Pipa pemasukan bahan
  • Lipat kertas pola menjadi dua bagian
  • Tempelkan pola pada pelat sang, lalu gunting mengikuti pola.
  • Kedua sisinya hingga menyerupai corong, kemudian las.
  • Potong kedua ujung pipa berdiameter 2 inci dengan kemiringan 45 derajat
  • Tempelkan ujung corong pada salah satu ujung pipa.

  1. Pipa pengeluaran bahan

Potong kedua ujung pada pipa berdiameter 2 inci dengan kemiringan 45 derajat


  1. Pembuatan pipa gas
  • Potong pipa berdiameter 0,5 inci menjadi 3 bagian (25 cm).
  • Bentuk uliran pada salah satu ujung pipa pada 2 buah pipa.
  • Rangkaian bagian pipa berulir dengan mata keran.
  • Eratkan sambungan dengan isolasi untuk menghindari kebocoran gas.
  • Ulangi tahapan perangkaian keran untuk tangki pengumpul.

  1. Pembuatan tangki pencerna
  • Siapkan drum berkapasitas 200 liter
  • Buat lubang yang diberi jarak 5 cm dari pinggir drum di bagian alas dan tutupnya.
  • Lubangi bagian tengah drum untuk tempat pipa gas 0,5 inci.
  • Pasang pipa masuk dan keluar pada alas dan tutup drum, lalu las.
  • Sambungkan pipa gas berkeran pada bagian tengah drum, kemudian las.
  • Pasangkan besi penyangga sebagai penyambung untuk kekuatan pipa.

  1. Pembuatan tangki penyekat

Proses pembuatannya sangat mudah, yaitu dengan membuang tutup drum.

  1. Pembuatan tangki pengumpul
    • Buat 2 lubang pada alas drum berkapasitas 120 liter. Jarak lubang 10 cm dari pinggir drum.
    • Masukan pipa gas (berkeran) dan pipa 0,5 sepanjang 50 cm pada tiap lubang, lalu las.
  2. Pembuatan Biogas

Bahan dan alat :

  • 50 kg kotoran sapi atau kerbau
  • 50 liter air bersih
  • Perangkat alat pemroses biogas
  • Ember
  • Alat pengaduk

Cara kerja :

  • Campurkan kotoran ternak dengan air secara bertahap, lalu aduk merata.
  • Bersihkan adoanan dari campuran padatan yang terkandung di dalamnya.
  • Masukam adonan ‘jadi’ kedalam tangki pencerna.
  • Isi tangki penyekat dengan air hingga setinggi 85 cm. Air berfungsi sebagai parameter udara dalam tangki.
  • Tempatkan tangki pengumpul dalam tangki penyekat.
  • Rangkai komponen alat dengan menggunakan selang sebagai penghubung. Rekatkan ujung selang maupun ujung pipa dengan kawat untuk mencegah kebocoran.
  • Pipa keluaran gas dapat dihubungkan dengan kompor biogas dengan selang dan langsung digunakan.

  1. Batako

Di antara materi yang dihasilkan pada limbah got adalah pasir. Kualitas batako berbahan limbah got memiliki kualitas tidak kalah baik dengan batako yang beredar di pasaran. Karakteristik batako yang dibuat dari limbah got adalah bentuknya padat dan keras, tidak berbau, dan bentuk fisiknya tidak berbeda dengan produk yang ada. Selain itu, pori-pori batako tampak lebih padat, tidak mudah rapuh atau pecah, tidak berbahaya bagi lingkungan, serta dapat digunakan untuk bangunan rumah, kantor, dan jenis bangunan lainnya.


Bahan dan alat :

  • 500 kg pasir dari limbah got
  • 6 sak semen
  • 3 botol @ 1.000 ml cairan pengeras
  • 3 botol @ 1.000 ml bioaktivator semai cair
  • Cangkul, sekop, sendok semen, alat tumbuk/pres, alat cetak batako/paving blok, saringan limbah got, dan selang plastik
  • Lahan untuk area pembuatan batako minimal 40m2

Cara membuat :

  1. Ampurkan semua bahan secara manual hingga membentuk adonan.
  2. Cetak adonan dengan menggunakan alat cetak, penekanan adonan di lakukan tidak terlalu keras.
  3. Keringkan batako yang telah dicetak di bawah sinar matahari.
  4. Siram batako yang sudah jadi dengan air keseluruh permukaannya agar tidak retak.
  5. Batako siap dipasarkan dan digunakan sesuai kebutuhan.

  1. Daur Ulang Kertas


Bahan :

  • Kertas bekas
  • Lem kayu/kertas
  • Pewarna kertas (dari bahan alami,jika perlu)
  • Air

Alat :

  • Sceen sablon (ukuran sesuai keinginan )
  • Gunting
  • Blender
  • Papan kayu/tripleks

Proses pembuatan bubur kertas

  1. Kertas bekas dipotong-potong kecil.
  2. Potongan direndam kurang lebih 3 jam dalam air, agar mudah dilembutkan.
  3. Adonan kertas diblender hingga menjadi bubur kertas, lalu tambahkan lem.
  4. Siapkan bak rendam dan isi dengan air.
  5. Masukan campuran bubur kertas didalamnya dan aduk adonan bubur tersebut hingga merata, dan siap diacak.
  6. Siapkan sceen sablon, masukan kedalam bak rendam yang berisi bubur kertas.
  7. Angkat secara perlahan-lahan hingga bubur kertas menempel.
  8. Tiriskan sebentar.
  9. Setelah tiris, letakan dengan hati-hati di atas tripleks, kemudian angkat sceen.
  10. Kemudian dijemur hingga kering.

  1. Peralatan Bungkus Kemasan Minuman, Makanan Kecil, Minyak Goreng, dan Deterjen


Peralatan :

  • Gunting
  • Kain lap
  • Jarum pentul
  • Mesin jahit

Bahan :

  • Bungkus kemasan minuman, makanan kecil, minyak goreng, detergen, dll.
  • Kain pelapis (kantong gandum/blaco)
  • Handle
  • Benang
  • Bisban

Proses pembuatan :

  1. Kumpulkan bungkus kemasan makanan, minuman, minyak goreng, deterjen yang menarik, kuat, tebal dan berwarna-warni.
  2. Pilih, rapikan dan bersihkan. Rangkai bungkus kemasan satu per satu dengan bantuan jarum pentul hingga menjadi lembaran siap jahit.
  3. Jahit lembaran-lembaran dengan mesin jahit pakaian sesuai desain. Lapisi bagian dalam dengan kain blaco dan bisban bagian tepinya.
  4. Bungkus kemasan dapat dibuat aneka kerajinan seperti : dompet, tas, topi, tempat hp, tas sekolah, tas punggung,dll.

  1. Pemanfaatan dan Daur Ulang Gabus Styrofoam


Cara membuat :

  1. Siapkan styrofoam bekas dan potong kecil-kecil.
  2. Haluskan gabus styrofoam dengan mesin/parut menjadi butiran kecil.
  3. Butiran styrofoam ditambung didalam air hingga basah.
  4. Campur 1 semen : 3 pasir : 3 styrofoam dan air secukupnya serta aduk hingga mera
  5. Campuran semen, pasir dan butiran styrofoam dapat dicetak menjadi batako/bata.

Campuran semen, pasir dan styrofoam dapat dicetak menjadi pot bunga, genteng,dll.


Demikian Pembahasan Tentang Sampah adalah – Pengertian, Jenis, Komposisi, Sumber, Dampak, Cara & Hasil Olahan Semoga Bermanfaat Buat Para Sahabat Setia Dosenpendidikan.Com … 😀