Stratifikasi Sosial

Stratifikasi Sosial

Stratifikasi Sosial – Pengertian, Fungsi, Sifat dan Contoh – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Stratifikasi Sosial yang dimana dalam hal ini meliputi pengertian, fungsi, sifat dan contoh, nah agar dapat lebih memahami dan dimengerti simak ulasan selengkapnya dibawah ini.

Stratifikasi Sosial

Pengertian Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial adalah pengelompokan anggota masyarakat ke dalam lapisan sosial yang bertingkat. Pengertian lainnya dari stratifikasi sosial merupakan pengelompokan anggota masyarakat atas dasar status sosial yang dimilikinya.


Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial sudah dikenal sejak manusia menjalankan kehidupan. Stratifikasi sosial terbentuk akibat dari kebiasaan manusia dalam hal berkomunikasi, berhubungan atau bersosialisasi satu sama lainnya dengan teratur atau tersusun, baik itu secara sendiri-sendiri maupun berkelompok.


Akan tetapi pada akhirnya apapun bentuknya dalam kehidupan bermasyarakat sangat membutuhkan penataan dan juga organisasi, oleh karena itu dalam rangka menata kehidupan inilah yang pada akhirnya akan terbentuk sedikiy demi sedikit stratifikasi sosial.

Loading...

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Struktur Sosial Adalah


Pengertian Stratifikasi Sosial Menurut Para Ahli

Berikut ini terdapat beberapa pengertian stratifikasi sosial menurut para ahli, terdiri atas:


  1. Pitirim A. Sorokin

Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarki).


  1. Max Weber

Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarki menurut dimensi kekuasaan, previllege dan prestise.


  1. Cuber

Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai suatu pola yang ditempatkan di atas kategori dari hak-hak yang berbeda.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Perubahan Sosial – Pengertian, Faktor, Teori, Bentuk, Ciri Dan Contohnya


Fungsi Stratifikasi Sosial

Adapun fungsi stratifikasi sosial yaitu:

  • Distribusi hak-hak istimewa yang obyektif, seperti menentukan penghasilan,tingkat kekayaan, keselamatan dan wewenang pada jabatan/pangkat/ kedudukan seseorang.
  • Sistem pertanggaan (tingkatan) pada strata yang diciptakan masyarakat yang menyangkut prestise dan penghargaan, misalnya pada seseorang yangmenerima anugerah penghargaan/ gelar/ kebangsawanan, dan sebagainya.
  • Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah didapat melalui kualitas pribadi,keanggotaan kelompok, kerabat tertentu, kepemilikan, wewenang atau kekuasaan.
  • Penentu lambang-lambang (simbol status) atau kedudukan, seperti tingkah\ laku, cara berpakaian dan bentuk rumah.
  • Tingkat mudah tidaknya bertukar kedudukan.
  • Alat solidaritas diantara individu-individu atau kelompok yang menduduki sistem sosial yang sama dalam masyarakat.

Penyebab Terjadinya Stratifikasi Sosial

Setiap masyarakat mempunyai sesuatu yang dihargai, bisa berupa kepandaian, kekayaan, kekuasaan, profesi, keaslian keanggotaan masyarakat dan sebagainya. Selama manusia membeda-bedakan penghargaan terhadap sesuatu yang dimiliki tersebut, pasti akan menimbulkan lapisan-lapisan dalam masyarakat.


Semakin banyak kepemilikan, kecakapan masyarakat/seseorang terhadap sesuatu yang dihargai, semakin tinggi kedudukan atau lapisannya. Sebaliknya bagi mereka yang hanya mempunyai sedikit atau bahkan tidak memiliki sama sekali, maka mereka mempunyai kedudukan dan lapisan yang rendah.


Seseorang yang mempunyai tugas sebagai pejabat/ketua atau pemimpin pasti menempati lapisan yang tinggi daripada sebagai anggota masyarakat yang tidak mempunyai tugas apa-apa. Karena penghargaan terhadap jasa atau pengabdiannya seseorang bisa pula ditempatkan pada posisi yang tinggi, misalnya pahlawan, pelopor, penemu, dan sebagainya.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Pengertian Perbedaan Sosial Beserta Kriterianya


Dapat juga karena keahlian dan ketrampilan seseorang dalam pekerjaan tertentu dia menduduki posisi tinggi jika dibandingkan dengan pekerja yang tidak mempunyai ketrampilan apapun.


Proses Terjadinya Stratifikasi Sosial

Adapun proses terjadinya stratifikasi sosial yaitu:


  • Terjadi Dengan Sendirinya Atau Otomatis

Faktor ini terjadi dikarenakan telah ada sejak seseorang itu lahir atau proses ini dapat terjadi sebab pertumbuhan masyarakat. Seseorang individu menempati lapisan tertentu yang bukan karena disengaja yang dibuat oleh masyarakat atau dirinya sendiri akan tetapi terjadi dengan sendirinya atau otomatis, misalnya karena keturunan.


  • Terjadi Dengan Cara Disengaja

Faktor ini dapat terjadi secara sengaja dengan maksud untuk kepentingan atau tujuan bersama. Sistem ini telah ditentukan dengan terdapatnya wewenang dan juga kekuasaan yang diberikan oleh seseorang atau organisasi. Contohnya seperti diberikan oleh perusahaan tempat bekerja, partai politik, pemerintah dan lain sebagainya.


Sifat Stratifikasi Sosial

Menurut Soerjono Soekanto, dilihat dari sifatnya, pelapisan sosial dibedakan menjadi:


  1. Stratifikasi Sosial Tertutup (Closed Social Stratification)

Stratifikasi ini adalah stratifikasi dimana anggota dari setiap strata sulit mengadakan mobilitas (perpindahan) dari satu lapisan ke lapisan sosial yang lain. Dalam sistem ini, satu-satunya kemungkinan untuk masuk pada status tinggi dan terhormat dalam masyarakat adalah karena kelahiran atau keturunan.


Contoh:

  • Sistem kasta di India. Kaum Sudra tidak bisa pindah posisi naik di lapisan Brahmana.
  • Kulit hitam (negro) yang dianggap di posisi rendah tidak bisa pindah kedudukan di posisi kulit putih.

  1. Stratifikasi Sosial Terbuka (Opened Social Stratification)

Stratifikasi ini bersifat dinamis karena mobilitasnya sangat besar. Setiap anggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal.Setiap orang memiliki kesempatan berusaha untuk menaikkan, menurunkan, maupun menstabilkan statusnya.


Contoh:

  • Seorang miskin karena usahanya bisa menjadi kaya, atau
  • Seorang yang rendah tingkat pendidikannya dapat memperoleh pendidikan yang lebih tinggi dengan usaha yang

  1. Stratifikasi Sosial Campuran

Stratifikasi sosial campuran merupakan kombinasi antara stratifikasi tertutup dan terbuka. Misalnya, seorang Bali berkasta Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah ke Jakarta menjadi buruh, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.


Unsur Unsur Stratifiksi Sosial

Stratifikasi sosial terdiri dari dua unsur, yaitu kedudukan (status) dan peranan (role). Kedudukan dan peranan merupakan dua unsur yang memiliki arti penting bagi sistem sosial.


1. Kedudukan (Status)

Status sosial menurut Ralph Linton adalah sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya. Orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkandengan orang yang status sosialnya rendah.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Pengertian Dan Penyebab Terjadinya Konflik Dalam Bermasyarakat


Ada tiga macam status sosial dalam masyarakat:

a) Ascribed Status

Ascribed status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya. Misalnya, kedudukan seorang anak bangsawan adalah bangsawan pula, seorang kasta Brahmana juga akan memperolah kedudukan yang sama. Contoh lainnya yaitu kedudukan laki-laki yang lebih tinggi daripada perempuan dalam suatu keluarga.


b) Achieved Status

Achieved status adalah status sosial yang didapat seseorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. Status pekerjaan, misalnya sebagai dokter, dosen, buruh, dll, sangat menentukan status seseorang dalam masyarakat.


Begitu juga dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuh seseorang. Seorang sarjana tentu dipandang lebih tinggi statusnya dari pada orang yang hanya lulus sekolah dasar. Hal itu merupakan hasil dari usaha keras yang telah dilakukannya.


c) Assigned Status

Assigned status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya. Dalam hal ini, kesalehan seseorang dalam beragama termasuk di dalamnya. Jika seseorang memiliki pengetahuan agama yang dalam, maka ia akan memiliki status yang lebih tinggi di masyarakat.


2. Peranan (Role)

Sedangkan peran sosial merupakan aspek yang lebih dinamis dibandingkan dengan kedudukan. Status sosial merupakan unsur statis yang menunjukkan tempat individu dalam organisasi masyarakat. Peran lebih menjurus pada fungsi seseorang dalam masyarakat. Meskipun demikian, keduanya tak dapat dipisahkan karena satu dengan yang lainnya saling berhubungan.


Berdasarkan cara memperolehnya, peranan dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Peranan bawaan (ascribed roles), yaitu peranan yang diperoleh secara otomatis, bukan karena usaha, misalnya peranan sebagai nenek, anak, ketua RT, dan
  2. Peranan pilihan  (achieve  roles),   yaitu   peranan   yang diperoleh atas keputusannya  sendiri,  misalnya  seseorang  memutuskan untuk  memilih Fakultas FISIP Ilmu Komunikasi Di Universitas MUHAMMADIYAH

Berdasarkan pelaksanaannya, peranan sosial dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

  • Peranan yang diharapkan (expected roles), yaitu cara ideal dalam pelaksanaan peranan menurut penilaian masyarakat. Masyarakat menghendaki peranan tersebut dilaksanakan secernat-cermatnya dan tidak dapat ditawar dan harus dilaksanakan seperti yang telah ditentukan. Misalnya, peranan hakim, diplomatik, dan sebagainya.
  • Peranan yang disesuaikan (actual roles), yaitu cara bagaimana sebenarnya peranan tersebut dijalankan. Peranan ini pelaksanaannya lebih dinamis, dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi

Suatu peranan dapat membimbing seseorang dalam berperilaku, karena peran dapat berfungsi sebagai, pertama, memberi arah pada proses sosialisasi. Kedua, pewarisan tradisi, kepercayaan, nilai, norma, dan pengetahuan. Ketiga, dapat mempersatukan kelompok atau masyarakat. Keempat, menghidupkan sistem pengendali dan kontrol sehingga dapat melestarikan kehidupan masyarakat.


Faktor-Faktor Yang Menjadi Penyebab Terjadinya Stratifikasi Sosial

Adapun faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya stratifikasi sosial yang diantaranya:

  • Kekayaan, seseorang akan menempati urutan paling atas apabila dia mempunyai kekayaan yang lebih.
  • Kehormatan, seseorang yang sangat dihormati umumnya selalu menempati lapisan paling tinggi sering kita ditemui di masyarakat, contohnya seperti seseorang yang berjasa besar.
  • Kekuasaan, ukuran dari suatu kekuasaan seseorang pun bisa menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya, stratifikasi sosial dan umumnya seseorang yang memiliki kekuasaan selalu menempati lapisan paling tinggi, contohnya seperti bupati, gubernur, presiden dan lain sebagainya.
  • Berpengetahuan luas atau berilmu tinggi, seseorang yang mempunyai ilmu pengetahuan yang luas akan menempati urutan paling atas dalam stratifikasi sosial.

Jenis Stratifikasi Sosial

Adapun jenis stratifikasi sosial yang diantaranya yaitu:


  1. Hierarki Kelas (Class Hierarchies)

Hierarki Kelas (Class Hierarchies), yaitu stratifikasi yang didasarkan pada penguasaan barang atau jasa. Di Indonesia, masyarakat digolongkan menjadi beberapa kategori yaitu kategori kaya, menengah, dan miskin. Hal tersebut mengacu pada kriteria yang ditetapkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS).


BPS selalu mengeluarkan batasan perbedaan pendapatan per kapita per tahun, dan dibedakan anatara wilayah pedesaan dengan perkotaan. Menurut BPS, kemiskinan adalah ketidakmampuan untuk memenuhi standar tertentu dari kebutuhan dasar, baik makanan maupun non makanan.


Standar tersebut disebut dengan garis kemiskinan. Di Jawa Timur misalnya, pada tahun 2003 jumlah penduduk miskin tercatat meningkat dari 19,53% (6,8 juta jiwa) menjadi 20,34% (7,1 juta jiwa).


  1. Hierarki Kekuasaan (Power Hierarchies)

Hierarki Kekuasaan (Power Hierarchies), yaitu stratifikasi yang didasarkan pada kekuasaan seseorang dalam suatu masyarakat. Yang dimaksud dengan kekuasaan adalah kemampuan untuk mepengaruhi individu-individu lain dan mepengaruhi pmbuatan keputusan kolektif.


Menurut Gaetano Mosca, di dalam suatu masyarakat selalu terdapat dua kelas penduduk yaitu kelas yang menguasai dan kelas yang dikuasai. Kelas pertama yang jumlahnya selalu lebih kecil bertugas menjalankan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan dan menikmati keuntungan yang diberikan oleh kekuasaan tersebut. Sedangkan kelas kedua yang jumlahnya jauh lebih besar, diatur dan dikendalikan oleh kelas yang pertama.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Kelompok Sosial


  1. Hierarki Status (Status Hierarchies)

Hierarki Status (Status Hierarchies), yaitu stratifikasi yang didasarkan pada pembagian kehormatan dan status sosial. Stratifikasi dalam bentuk ini membagi masyarakat ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok masyarakat yang disegani atau terhormat dan kelompok masyarakat biasa. Kelompok masyarakat yang menduduki posisi terhormat biasanya memiliki gaya hidup yang eksklusif.


Biasanya diwujudkan dalam bentuk pembatasan terhadap pergaulan erat dengan orang yang statusnya lebih rendah. Di lingkungan kerajaan yang berdarah biru lazimnya menganggap suatu hal yang menyimpang bila ada anggota keluarganya yang menikah dengan orang biasa.


Di Inggris pernah terjadi polemik ketika Pangeran Charles yang mewarisi tahta kerajaan Inggris memilih menikah dengan Putri Diana yang berasal dari kalangan rakyat biasa.


Hubungan Pendidikan Dengan Stratifikasi Sosial

Terdiri atas:


  1. Golongan Sosial dan Tingkat Pendidikan

Menurut penelitian, terdapat korelasi yang tinggi antara kedudukan sosial seseorang dengan tingkat pendidikan yang ditempuhnya. Meskipun tingkat pendidikan sosial seseorang tidak bisa sepenuhnya diramalkan melalui kedudukan sosialnya, namun pendidikan sosial yang tinggi sejalan dengan kedudukan sosial yang tinggi pula.


Anak golongan rendah kebanyakan tidak melanjutkan studinya hingga ke perguruan tinggi. Sedangkan orang golongan tinggi cenderung menginginkan anaknya untuk menyelesaikan pendidikan tinggi. Hal tersebut terjadi karena faktor biaya pendidikan yang tergolong mahal.


  1. Golongan Sosial dan Jenis Pendidikan

Golongan sosial juga menentukan jenis pendidikan yang dipilih oleh orang tua siswa. Umumnya, anak-anak yang orang tuanya mampu, cenderung menyekolahkan anaknya di sekolah menengah umum sebagai persiapan studi di universitas.


Sedangkan orang tua yang memiliki keterbatasan keuangan, cenderung memilih sekolah kejuruan bagi anaknya. Dapat diduga bahwa sekolah kejuruan lebih banyak menampung siswa golongan rendah daripada golongan tinggi. Karena itulah dapat timbul pendapat bahwasanya status sekolah umum lebih tinggi daripada sekolah kejuruan. Siswa sendiri cenderung lebih memilih sekolah menengah umum daripada sekolah kejuruan.


Sekalipun sekolah kejuruan dapat memberikan jaminan yang lebih baik untuk langsung terjun di lapangan pekerjaan.


  1. Mobilitas Sosial dan Pendidikan

Dalam sistem stratifikasi sosial terbuka (opened social stratification), seseorang dapat melakukan perpindahan dari status rendah ke status tinggi maupun sebaliknya.


Perpindahan status ini disebut dengan mobilitas sosial. Pendidikan merupakan salah satu jalan untuk melakukan mobilitas sosial tersebut.


Pendidikan dipandang sebagai sebuah kesempatan untuk beralih dari suatu golongan ke golongan yang lebih tinggi. Pendidikan secara merata memberi kesamaan dasar pendidikan dan mengurangi perbedaan antara golongan tinggi dan rendah.


Menurut Beteille, pendidikan merupakan sesuatu hal yang sangat berharga karena dapat memberikan akses untuk jabatan dengan bayaran yang lebih baik. Banyak contoh yang dapat diamati tentang seseorang yang statusnya meningkat berkat pendidikan yang ditempuhnya. Pada jaman penjajahan Belanda misalnya, orang yang mampu menyelesaikan pendidikannya di HIS (Hollands-Indlandsche School) mempunyai harapan untuk menjadi pegawai dan mendapat kedudukan sosial yang terhormat.


Terlebih  jika  ia   berhasil   lulus   MULO (Meer Uitgebreid Lager   Oderwijs), AMS (Algemene Middlebare School), atau perguruan tinggi, maka semakin besar peluangnya mendapatkan kedudukan yang baik dan masuk golongan sosial menengah atas.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Pengertian Dan Faktor Pendorong Serta Penghalang Terjadinya Asimilasi


Di samping itu, ada juga beberapa faktor lain yang mempengaruhi mobilitas sosial di bidang pendidikan.

  • Faktor guru. Para guru dapat mendorong anak didiknya untuk meningkatkan status sosialnya melalui prestasi yang Guru tersebut juga dapat menjadi model mobilitas sosial berkat usahanya belajar sungguh-sungguh sehingga kedudukannya meningkat. Sebaliknya, guru juga dapat menghambat proses mobilitas sosial apabila guru memandang rendah dan tidak yakin akan kemampuan anak-anak golongan bawah.
  • Faktor sekolah. Sekolah dapat membuka kesempatan untuk meningkatkan status sosial anak-anak golongan bawah. Di sekolah memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang sama, mempelajari buku yang sama, diajar oleh guru yang sama, bahkan berpakaian seragam yang sama dengan anak golongan tinggi.

Contoh Stratifikasi Sosial

Belakangan ini penegak hukum indonesia dirasa kurang tegas dalam mengambil keputusan terutama pada kasus korupsi. Mungkin ada ketidak beresan pada sistemnya atau mungkin pada pelaku penegak hukumnya sendiri. Karena sangat terlihat jelas ketika mengambil keputusan atas hukuman yang diberikan pada pelaku tindak korupsi. Tetapi ketika dihadapkan dengan kasus-kasus kecil atau kasus yang dilakukan oleh masyarakat kalangan bawah.


Contohnya kasus pencurian yang sangat sepele seperti kasus nenek Asyani yang dituduh mencuri kayu  tetapi mendapat hukuman yang berat, bahkan lebih berat dari pada hukuman yang diberikan pada kasus korupsi. Hal ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, tetapi berkali-kali. Hampir setiap ada kasus korupsi selalu seperti itu, bahkan ketika dihadapkan dengan kasus semacam ini hukum di Indonesia akan tampak tak berdaya.


Analisa

Keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu, entah itu orang kaya atau miskin, petani, nelayan ataupun pejabat. Indonesia harus segera bangkit dari keterpurukan ini. Mau sampai kapankah terus seperti ini.Negara yang bersih dari korupsi, bersih dari stratifikasi sosial, bersih dari segala macam kejahatan harus diwujudkan.


Ketika terjadi kasus seperti ini berarti telah menyimpang dari cita-cita bangsa karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Dan itu semua harus dihilangkan dan jangan terus menerus dilakukan.Kesadaran diri dari para pelaksana hukum dan penegak hukum harus dilaksanakan jangan hanya tau teori saja tetapi yang lebih penting adalah praktiknya.


Demikianlah pembahasan mengenai Stratifikasi Sosial – Pengertian, Fungsi, Sifat dan Contoh semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Send this to a friend