Pengertian Bercerita Menurut Para Ahli

Diposting pada

Dalam hal ini, bercerita merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat produktif, artinya dalam bercerita seseorang melibatkan pikiran, kesiapan mental, keberanian, perkataan yang jelas sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Yuk mari lanjut ke materi selanjutnya yang lengkap tentang Bercerita, dibawah ini:

Pengertian-Bercerita-Menurut-Para-Ahli

Pengertian Bercerita

Bercerita adalah salah satu kebiasaan masyarakat sejak dahulu sampai sekarang. Hampir setiap siswa yang telah menikmati suatu cerita akan selalu siap untuk menceritakannya kembali, terutama jika cerita tersebut mengesankan bagi siswa.


Pengertian Bercerita Menurut Para Ahli

Adapun bercerita beberapa para ahli memberikan definisi yang diantaranya yaitu:


  1. Menurut Burhan Nurgiyantoro “2001:278”

Ada beberapa bentuk tugas kegiatan berbicara yang dapat dilatih untuk meningkatkan dan mengembangkan keterampilan bercerita pada siswa yaitu:

  • Bercerita berdasarkan gambar,
  • Wawancara,
  • Bercakap-cakap,
  • Berpidato,
  • Berdiskusi.

Bercerita merupakan salah satu kebiasaan masyarakat sejak dahulu sampai sekarang. Hampir setiap siswa yang telah menikmati suatu cerita akan selalu siap untuk menceritakannya kembali, terutama jika cerita tersebut mengesankan bagi siswa.


  1. Menurut Burhan Nurgiyantoro “2001:289”

Bercerita merupakan salah satu bentuk tugas kemampuan berbicara yang bertujuan untuk mengungkapkan kemampuan berbicara yang bersifat pragmatis. Ada dua unsur penting yang harus dikuasai siswa dalam bercerita yaitu linguistik dan unsur apa yang diceritakan. Ketepatan ucapan, tata bahasa, kosakata, kefasihan dan kelancaran, menggambarkan bahwa siswa memiliki kemampuan berbicara yang baik.


  1. Menurut Tarigan “1981:35”

Menyatakan bahwa bercerita merupakan salah satu ketarmpilan berbicara yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada orang lain. Dikatakan demikian karena berbicara termasuk dalam situasi informatif yang ingin membuat pengertian-pengertian atau makna-makna menjadi jelas. Dengan bercerita seseorang dapat menyampaikan berbagai macam cerita, ungkapan berbagai perasaan sesuai dengan apa yang dialami, dirasakan, dilihat, dibaca dan ungkapan kemauan dan keinginan membagikan pengalaman yang diperolehnya.


  1. Menurut Echols “Dalam Aliyah, 2011”

Storytelling terdiri atas dua kata yaitu story berarti cerita dan telling berarti penceritaan, Penggabungan dua kata storytelling berarti penceritaan cerita atau menceritakan cerita. Selain itu, storytelling disebut juga bercerita atau mendongeng seperti yang dikemukan oleh Malan, mendongeng ialah bercerita berdasarkan tradisui lisan. Storytelling merupakan usaha yang dilakukan oleh pendongeng dalam menyampaikan isi perasaan, buah pikiran atau sebuah cerita kepada anak-anak serta lisan.


  1. Menurut Loban “Dalam Aliyah, 2011”

Menyatakan bahwa storytelling dapat menjadi motivasi untuk mengembangkan daya kesadaran, memperluas imajinasi anak, orangtua atau menggiatkan kegiatan storytelling pada berbagai kesempatan seperti ketika anak-anak sedang bermain, anak menjelang tidur atau guru yang sedang membahas tema digunakan metode storytelling.


  1. Menurut Pellowski “Dalam Nurcahyani, 2010”

Mendefinisikan storytelling sebagai sebuah seni atau seni dari sebuah keterampilan bernarasi dari cerita-cerita dalam bentuk syair atau prosa yang dipertunjukkan atau dipimpin oleh satu orang dihadapan audience secara langsung dimana cerita tersebut dapat dinarasikan dengan cara diceritakan atau dinyanyikan dengan atau tanpa musik, gambar ataupun dengan iringan lain yang mungkin dapat dipelajari secara lisan, baik melalui sumber tercetak atau[un melalui sumber rekaman mekanik.


  1. Menurut Dhieni, “2008:6.3”

Bercerita ialah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang secara lisan kepada orang lain dengan alat atau tanpa alat tentang apa yang harus disampaikan dalam bentuk pesan, informasi atau hanya sebuah dongeng yang untuk didengarkan dengan rasa menyenangkan oleh karena itu orang yang menyajikkan cerita tersebut menyampaikannya dengan menarik.


  1. Menurut Bachir “2005:10”

Becerita ialah menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan atau sesuatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan tujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain.


  1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “2003:210”

Cerita merupakan tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal atau peristiwa atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman kebahagiaan atau penderitaan orang, kejadian tersebut sungguh-sungguh atau rekaan.


  1. Menurut Musfiroh et al, “2005:59”

Berdasarkan pengertian di atas maka cerita anak dapat didefinisikan “tuturan lisan, karya bentuk tulis atau pementasan tentang suatu kejadian, peristiwa dan sebagainya yang terjadi diseputar dunia anak.


Jenis-Jenis Bercerita

Menurut Asfandiyar “2007” berdasarkan isinya bercerita dapat digolongkan ke dalam berbagai jenis, namun dalam hal ini peneliti membatasi jenis tersebut dalam:

  • Bercerita Pendidikan
    Dongeng pendidikan ialah dongeng yang diciptakan dengan suatumisi pendidikan bagi dunia anak-anak, misalnya menggugah sikap hormat kepada orang tua.


  • Fabel
    Fabel ialah dongeng tentang kehidupan binatang yang digambarkan dapat bicara seperti manusia. Cerita-cerita fabel sangat luwes digunakan untuk menyindir perilaku manusia tanpa membuat manusia tersinggung, misalnya dongeng kancil, kelinci dan kura-kura.

Manfaat Bercerita

Bebicara mengenai bercerita sungguh banyak manfaatnya, tak hanya bagi anak-anak tetapi juga bagi orang yang mendongengkannya. Menurut Hibana “Dalam Kusmiadi, 2008”, manfaat dari kegiatan mendongeng ini antara lain ialah:

  1. Mengembangkan fantasi, empati dan berbagai jenis perasaan lain.
  2. Menumbuhkan minat baca.
  3. Membangun kedekatan dan keharmonisan.
  4. Media pembelajaran.
  5. Dan lain-lain

Tujuan Bercerita

Metode ini bertujuan untuk memberi pengalaman pelajaran agar anak memperoleh penguasaan isi cerita yang disampaikan lebih baik, melalui bercerita anak menyerap pesan-pesan yang dituturkan melalui kegiatan bercerita. Penuturan cerita yang sarat informasi atau nilai-nilai itu dihayati anak dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Teknik Bercerita

Sebelum bercerita, pendidik harus memahami terlebih dahulu tentang cerita apa yang hendak disampaikannya, tentu saja disesuaikan dengan karakteristik anak-anak usia dini. Agar dapat bercerita dengan tepat, pendidik harus mempertimbangkan materi ceritanya. Pemilihan cerita antara lain ditentukan oleh :


  • Pemilihan Tema dan judul yang tepat

Bagaimana cara memilih tema cerita yang tepat berdasarkan usia anak? Seorang pakar psikologi pendidikan bernama Charles Buhler mengatakan bahwa anak hidup dalam alam khayal. Anak-anak menyukai hal-hal yang fantastis, aneh, yang membuat imajinasinya “menari-nari”. Bagi anak-anak, hal-hal yang menarik, berbeda pada setiap tingkat usia, misalnya;

  1. Sampai ada usia 4 tahun, anak menyukai dongeng fabel dan horor, seperti: Si wortel, Tomat yang Hebat, Anak ayam yang Manja, kambing Gunung dan Kambing Gibas, anak nakal tersesat di hutan rimba, cerita nenek sihir, orang jahat, raksasa yang menyeramkan dan sebagainya.
  2. Pada usia 4-8 tahun, anak-anak menyukai dongeng jenaka, tokoh pahlawan/hero dan kisah tentang kecerdikan, seperti; Perjalanan ke planet Biru, Robot pintar, Anak yang rakus dan sebagainya
  3. Pada usia 8-12 tahun, anak-anak menyukai dongeng petualangan fantastis rasional (sage), seperti: Persahabatan si Pintar dan si Pikun, Karni Juara menyanyi dan sebagainya

  • Waktu Penyajian

Dengan mempertimbangkan daya pikir, kemampuan bahasa, rentang konsentrasi dan daya tangkap anak, maka para ahli dongeng menyimpulkan sebagai berikut;

  • Sampai usia 4 tahun, waktu cerita hingga 7 menit
  • Usia 4-8 tahun, waktu cerita hingga 10 -15 menit
  • Usia 8-12 tahun, waktu cerita hingga 25 menit

Namun tidak menutup kemungkinan waktu bercerita menjadi lebih panjang, apabila tingkat konsentrasi dan daya tangkap anak dirangsang oleh penampilan pencerita yang sangat baik, atraktif, komunikatif dan humoris.


  • Suasana (situasi dan kondisi)

Suasana disesuaikan dengan acara/peristiwa yang sedang atau akan berlangsung, seperti acara kegiatan keagamaan, hari besar nasional, ulang tahun, pisah sambut anak didik, peluncuran produk, pengenalan profesi, program sosial dan lain-lain, akan berbeda jenis dan materi ceritanya. Pendidik dituntut untuk memperkaya diri dengan materi cerita yang disesuaikan dengan suasana. Jadi selaras materi cerita dengan acara yang diselenggarakan, bukan satu atau beberapa cerita untuk segala suasana.


Contoh Bercerita

Botak

Oleh Aning Panca A

Hari ini vila megah itu dibersihkan. Sudah lama tidak ada penghuninya.

Ayahku bertugas mengurusi vila itu. Kata Ayah, villa itu milik seorang pengusaha kaya di Jakarta. Minggu depan anak bungsu pemilik vila itu akan tinggal di sana untuk beberapa saat. Itu sebabnya vila itu harus dibersihkan.

Sore ini ibu memintaku untuk membantu membawa barang-barang dari warung. Setelah sampai rumah, kuletakkan barang bawaan ibu di dapur. Aku pun segera mandi sebab aku ingin ikut ayah pergi ke kota. Ada beberapa barang yang harus dibeli.

“Ayah, siapa nama anak pemilik vila itu?” tanyaku sepulang dari kota.

“Namanya Non Bunga. Dia nanti ditemani kakeknya,” jelas Ayah. “Kalau tidak salah, Non Bunga itu sebaya kamu,” kata Ayah lagi.

“Jadi, sekarang dia kelas VII SMP juga?” tanyaku lagi. Ayah mengangguk.
Sabtu siang. Penghuni baru vila itu telah datang. Suasana di vila yang sunyi itu tiba-tiba menjadi agak ramai.

Namun, aku belum melihat anak perempuan yang bernama Bunga.

“Wah, mobil itu mewah sekali,” kataku sambil melihat-lihat ke dalam mobil.

“Kapan ya bisa naik mobil seperti ini?” seruku.

Karena terlalu asyik mengamati mobil itu, aku tidak tahu kalau ada mata yang melihat aku dari tadi. Seorang kakek bermata ramah.

“Sekarang juga bisa. Kakek bisa mengantarmu jalan-jalan nanti sore. Kamu Budi, kan?” tanya Kakek itu. Senyumnya ramah juga.

“Dari mana Kakek tahu?”

“Kakek kenal bapakmu sejak hari pertama dia bekerja di vila ini. Waktu itu kamu masih kecil, lincah sekali. Kakek sampai kewalahan menggendongmu.”

“Wah, berarti…berarti Kakek ini kakeknya Bunga ya?” tanyaku gembira.

“Benar. Kakek akan tinggal di sini menemani Bunga. Ayah Bunga sibuk dengan urusan kantornya, jadi tidak bisa menemani Bunga di sini,” jelasnya.

“Katanya Bunga sakit ya, Kek?” tanyaku penasaran.

“Iya. Sejak kecil Bunga memang sering jatuh sakit. Ia jarang bertemu orang.

Akibatnya, Bunga tidak punya banyak teman.”

“Saya mau jadi temannya.”

“Ayo, kenalan dengan Bunga sekarang,” ajak Kakek bersemangat.

Aku dan Kakek lalu masuk ke ruangan tengah vila. Di situ tampak seorang anak dengan kepala plontos. Ia duduk di atas koper memunggungi kami. Tak mungkin itu Bunga, pikirku, sebab Bunga anak perempuan, bukan laki-laki.

Tidak mungkin anak botak itu Bunga!

“Bunga….ada teman yang mau kenalan denganmu sayang,” Kakek memegang bahu anak botak itu. Astaga, ternyata dia memang Bunga!

“Waaah… botak!” celetukku tiba-tiba. Aku sendiri kaget dengan katakataku.

Seketika itu muka Bunga merah padam. Kakek juga kaget. Mata Bunga berkaca-kaca. Boneka yang didekapnya dilempar ke arahku. Kena ke mukaku.

Aku hanya bisa berlari keluar ruangan. Malu sekali rasanya. Tak kusangka aku telah berbuat yang tidak sopan.

Bagaimana kalau kakek Bunga marah padaku? Kalau Ayah dipecat gara-gara aku? Aku terus berlari.

Lalu sebuah tangan memegang bahuku dari belakang. Ternyata kakek Bunga. Aku tidak mau dianggap anak yang tidak sopan. Aku segera minta maaf.

“Maafkan Budi, Kek! Budi tidak bermaksud untuk tidak sopan. Tadi betulbetul tidak sengaja.”

“Tenang saja…” kata Kakek. “Kakek tahu kamu tidak punya niat seperti itu. Tapi bagaimanapun kamu harus minta maaf pada Bunga. Kamu sudah menyinggung perasaannya.”

“Saya akan minta maaf, Kek” kataku “Tapi, apa Bunga akan memaafkan saya?
Saya khawatir dia tidak akan memaafkan saya,Kek.”

“Kalau belum dicoba, kamu tidak bisa bilang seperti itu.”

Tiba-tiba aku mendapat ide. Menurutku, Bunga akan memaafkan aku jika aku melakukan suatu hal. Menurut Kakek, ideku itu bagus. Jadi, aku harus minta izin orang tua.

Aku pun bergegas lari pulang. Kuceritakan ideku pada ibu. Menurut ibu aku harus bertanggung jawab atas semua perbuatanku. Ibu mengizinkan aku melaksanakan ideku.

Kakek lalu mengantarku ke kota. Aku dan Kakek baru tiba di vila pada sore hari. Aku segera menemui Bunga.

“Bunga… aku mau minta maaf atas kejadian tadi siang, ” kataku sambil tertunduk. Aku bisa merasakan Bunga menatapku tajam. “Karena itu…

sebagai tanda permintaan maafku yang tulus… aku membotaki kepalaku…” kataku sambil melepas topi. “Maafkan aku yaaa…” kataku memelas.

Tiba-tiba Bunga tertawa lepas sambil berkata, “Hahaha… lucu, kamu lucu sekali…”
Aku lega. Ternyata Bunga memaafkan aku.

“Aku minta maaf ya, tadi melempar kamu dengan boneka,” katanya sambil mengulurkan tangan.

Sejak saat itu, kami bersahabat. Teman-teman sekelas sering bermain bersama kami di vila Bunga. Kami pun membentuk kelompok yang disebut “B” yang berarti Botak. Walaupun yang botak hanya aku dan Bunga.


Demikianlah pembahasan mengenai 10 Pengertian Bercerita Menurut Para Ahli – Jenis, Tujuan, Manfaat, Teknik & Contoh semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.