Perang Diponegoro

Perang Diponegoro

Perang Diponegoro – Latar Belakang, Penyebab Dan Makamnya– DosenPendidikan.Com – Dijawa Tengah dan sebagian Jawa Timur pada tahun 1825-1830 dilanda perang besar yang hampir meruntuhkan kekuasaan imperialis Belanda di Indonesia. Dalam peperangan tersebut dipimpin seorang yang bernaman Pangeran Diponegoro yakni yang merupakan seorang bangsawan kesultanan Yogyakarta. Lalu bagaimana timbulnya perang besar tersebut simak ulasanya dibawah ini.

Peta mataram setelah perang Diponegoro


Latar Belakang Perang

Perang Jawa juga terkenal dengan sebutan perang diponegoro. Perang melawan penjajahan di Jawa Tengah dan Timur yang berlangsung antara tahun 1825 sampai dengan 1830. Perjuangan ini ditujukan pada kekuasaan asing, yaitu penguasa Hindia Belanda yang selalu ikut campur dalam urusan pemerintah Yogyakarta, yang menjadi pemimpin peperangan adalah putra Sultan Hamengku Buwono III dari selirnya yang bernama Pangeran Diponegoro.


Munculnya Yogyakarta sebagai suatu kekuasaan baru merupakan hasil perjanjian Gianti (1755) antara Raja Mataram dengan pihak VOC. Hubungan yang berlangsung antara kekuasaan kerajaan Mataram di Jawa Tengah dengan kekuasaan VOC, membawa akibat makin merosotnya kekuasaan bumiputra tersebut. Daerah-daerah pantai wilayah negara berangsur-angsur dianeksasi oleh Belanda, seperti: Krawang, Semarang (1677), Cirebon, Rembang, Jepara, Surabaya, Pasuruan, dan Madura(1743). Oleh karenanya pusat negara makin dipisahkan dari pantai.


Kerajaan Mataram kembali ke dalam kegiatan agraris dan mulai melepaskan tradisi perdagangan-pelayaran. Kekuasaan raja yang kuat seperti pada masa Sultan Agung (1623-1645), sejak masa pemerintahan penggantinya (Amangkurat I, 1645-1677), terus-menerus berkurang. Sebaliknya wilayah kekuasaan kompeni Belanda semakin luas, sedangkan di bidang politik pengaruhnya pada Mataram juga semakin besar.


Makin sempitnya wilayah Mataram dan berkurangnya kekuasaan raja membawa akibat makin sempitnya orientasi politik penguasa kerajaan. Selain di bidang politik, di bidang ekonomi pun pengaruh Belanda cukup besar. Makin meluasnya pengaruh Belanda dalam urusan tata pemerintahan Mataram, sebenarnya tidak terlepas dari faktor intern dalam negara Mataram sendiri, yaitu adanya gejala pertentangan antar-bangsawan.


Terpecahnya wilayah negara setelah Perjanjian Gianti pada tahun 1755 menjadi Surakarta dan Yogyakarta, kemudian pada tahun 1757 dengan perjanjian Salatiga ditambah dengan munculnya kekuasaan Mangkunegara dan akhirnya pada tahun 1813 dengan munculnya kekuasaan Pakualam, lebih mempermudah pihak Belanda untuk mengawasi dan mempengaruhi negara-negara yang terpecah-pecah itu. Dengan demikian sejak tahun 1755 nama kerajaan Mataram sudah tidak ada lagi.


Pada awalnya, perang ini hanya bersumber dari persoalan intern keraton. Pada Juli, 1825, Patih Danureja IV yang merupakan antek Belanda yang setia, telah memerintah para pejabat Kesultanan Yogyakarta untuk membuat jalan. Pembuatan jalan tersebut ternyata menembus tanah milik Diponegoro, yang juga masih kerabat Kesultanan Yogyakarta, dan neneknya di Tegalrejo. Bahkan, tanpa sepengetahuannya, pembuatan jalan tersebut sampai menggusur pemakaman milik keluarga Diponegoro. Hal ini jelas mendapat perlawanan keras dari Diponegoro.


Untuk itu, Diponegoro kemudian memerintahkan pegawai-pegawainya untuk mencabut semua tonggak yang dipancangkan sebagai tanda pembuatan jalan Patih Danureja IV. Tidak hanya itu, Diponegoro juga mengemukakan protes keras dan menuntut supaya Patih Danureja IV dipecat dari jabatannya. Tetapi, A.H. Smisaert, selaku Residen Belanda di Yogyakarta, menolak dan menekan sultan untuk tetap mempertahankan Patih Danureja IV. Suasana tegang inilah yang menjadi pemicu meletusnya Perang Jawa.

Biografi Pangeran Diponegoro


Baca Juga : Isi Trikora – Tujuan, Latar Belakang, Tokoh dan Dampak

 


Biografi Pangeran Diponegoro

Lahir 11 Nopember 1785 dari ayah Sultan Hamengkubuwono III. Sejak kecil diasuh oleh neneknya Ratu Ageng, Permaisuri Hamengkubuwono I, pendiri kerajaan Yogyakarta yang menetap. Berkat wanita bijaksana tersebut, ia tumbuh menjadi orang alim, sederhana dan dekat dengan rakyat.


Sementara Diponegoro tumbuh dewasa, di keraton Yogyakarta terjadi kericuhan yang disebabkan campur tangan pemerintah Belanda. Pengangkatan dan pemberhentian raja atau patih ditentukan oleh Belanda. Di samping itu penindasan terhadap rakyat meningkat pula. Hasil tersebut menimbulkan sikap antipati Diponegoro terhadap Belanda.


Tanggal 20 Juni 1825, seorang utusan Belanda mengantar surat ke Tegalrejo untuk menanyakan maksud Diponegoro. Saat itu paman dari Diponegoro (Mangkubumi) dan Dewan Perwalian Kerajaan Yogyakarta sedang di Tegalrejo. Baru beberapa kalimat disusun, sudah terdengar tembakan meriam. Penduduk memberi perlawanan, namun kekuatan tidak seimbang. Mereka terpaksa mengundurkan diri. Tegalrejo diduduki Belanda. Tempat tinggal Diponegoro, masjid dan bangunan lain dibakar oleh Belanda.


Ia memerintahkan rakyat menyingkir ke Selarong dan bersama Pangeran Mangkubumi, ia menuju Kali Saka sambil menghunus pedang. Ia berkata pada Mangkubumi “lihatlah paman, rumah dan mesjid sudah terbakar, saya tidak mempunyai apa-apa lagi di dunia ini”.


Dari kali Saka, ia bersama Mangkubumi, menuju ke Selarong. Ia diangkat menjadi pimpinan tertinggi. Mangkubumi sebagai penasehat dan Pangeran Angabei penasehat khusus saat perang. Kemudian muncul Sentot Prawirodirjo yang berusia 16 tahun dan Kyai Mojo yang memberikan corak Islam kepada perjuangan.


Maklumat perang dilakukan di berbagai tempat, Jawa Barat, Jawa Timur, Rembang, Tuban, Bojonegoro, Madiun dan Pacitan. Seruan ini disambut rakyat karena merasa sudah lama tertindas penjajahan Belanda.

Pasukan Belanda yang dipimpin Kumesius berangkat dari Semarang dengan membawa empat pucuk meriam, uang dan pakaian serta perbekalan. Di sebelah Barat Laut Yogyakarta ia dekat Pisang desa Tempet, pasukan ini disergap pasukan Diponegoro. Sebanyak 27 orang Belanda dibunuh, senjata, pakaian dan uang 50.000 gulden jatuh di tangan pasukan Diponegoro. Pasukan Diponegoro mengepung Yogyakarta dari berbagai penjuru, bahkan makanan di blokir, tidak boleh masuk kota.


Baca Juga : Dekrit Presiden – Latar Belakang, Isi, Alasan dan Dampak


Kolonel Van Jett, mengirim pasukan untuk menyerang Selarong namun gagal. Tiga bulan kemudian Diponegoro memindahkan markasnya ke Dekso. Di tempat ini ia dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Sultan Ngabdulkamid Herucokro Mukmini Panoto Gomo Jowo.


Selama tahun 1825 dan 1826 pasukan Diponegoro banyak memperoleh kemenangan. Bulan Agustus 1826 Sentot berhasil menyergap pasukan Belanda, semua tewas kecuali Komandan Van Green. Dalam pertempuran di Lenkong pasukan Diponegoro dapat membunuh seorang letnan dan Pangeran Murdaningrat serta Pangeran Ponular. Kedua pangeran ini pengganti Diponegoro dan Mangkubumi di Dewan Perwalian. Di Sadegan pasukan Diponegoro dapat membunuuh beberapa perwira Belanda dan seorang Bupati.


Tahun 1827 Belanda mulai melipat gandakan kekuatan dengan cara membuat “Benteng Stelsel” dan usaha perundingan seperti perundingan di Sombiroto, di Miangi, yang diwakili Kyai Mojo, namun gagal.

Saat Kyai Mojo bersama 600 prajurit “Bukilyo”, Kyai Mojo diikuti Belanda dan ditangkap serta diasingkan ke Menado hingga wafat.


Perundingan dengan Sentot gagal, kemudian Belanda menggunakan Bupati Madiun yang masih kerabat Sentot, untuk membujuk. Tanggal 24 Oktober 1829, Sentot menyerah dengan syarat, boleh memeluk agama Islam dan memimpin pasukannya. Belanda mengirim ke Sumatra Barat agar memerangi pasukan Padri, tapi Sentot berbalik menyerang Belanda. Ia ditangkap dan dibuang ke Cianjur, kemudian ke Bengkulu dan wafat tahun 1855 dan dimakamkan di sana.


Meskipun ditinggalkan pembantu-pembantu dekatnya, Diponegoro tidak mau menyerah. Dalam perjalanan dari Manoreh ia dikepung Belanda, Diponegoro terjun ke jurang berhasil meloloskan diri. Setelah kejadian ini, ia diiringi oleh Roso dan Banteng Wareng meneruskan pembaharuan perangnya.


Karena Belanda sulit menangkap Diponegoro, maka Belanda mengumumkan bagi siapa yang dapat menangkap akan diberi hadiah 50.000 gulden, tanah dan kedudukan..

Tanggal 16 Februari 1830 ia bersedia menerima utusan Belanda, Kolonel Cleerens. Waktu itu menjelang bulan puasa, ia tidak bersedia berunding di bulan suci.


Tanggal 28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal De Kock di Magelang, didampingi Basah Martonegoro, Kyai Badarudin dan puteranya Diponegoro Anom. Di sini ia ditangkap, dibawa ke Semarang, kemudian ke Jakarta dan di buang ke Menado. Tahun 1834, ia dipindahkan ke Benteng Rotterdam di Ujung Pandang. Selama 25 tahun ia dikurung. Kisah perjuangannya, ditulis dalam “Babad Diponegoro” dalam Bahasa Jawa setebal 700 halaman.

Makam Pangeran Diponegoro


Baca Juga : Piagam Jakarta – Sejarah, Rumusan, Tokoh, Latar Belakang, Isi Dan Kontoversinya


Makam Pangeran Diponegoro

Tanggal 8 Juni 1855 ia meninggal dan dimakamkan di Ujung Pandang. Pemerintah memberinya gelar Pangeran Diponegoro sebagai Pahlawan Nasional.


Motif Dan Tujuan

  • Melakukan perlawanan terhadap Belanda yang ikut campur dalam urusan pemerintahan.
  • Meng-Islamkan tanah Jawa.
  • Menentang penguasa kolonial Belanda dan para tiran, yang senantiasa menindas rakyat.
  • Para bangsawan merasa dirugikan karena pada tahun 1823 Belanda menghentikan sistem hak sewa tanah para bangsawan oleh pengusaha swasta. Akibatnya para bangsawan harus mengembalikan uang sewa yang telah diterimanya.
  • Banyaknya macam pajak yang membebani rakyat misalnya pajak tanah, pajak rumah, pajak ternak.

Narasi Perang

Pada tanggal 29 Juli 1825 Gubernur Jenderal Van der Capellen mengirimkan Letnan Jenderal Hendrik Marcus de Kock ke Surakarta. Di Surakarta, Sunan Paku Buwono ternyata tidak memihak Diponegoro. Melalui Sunan, Belanda mendapatkan keterangan keadaan Yogyakarta. Dalam pasukan Diponegoro pun masuk seorang ulama terkenal dari desa Mojo, daerah Surakarta. Dasar keagamaan segera ditanamkan di kalangan pengikut.


Perang sabil disiarkan, baik di kalangan mereka yang telah berkumpul di Selarong, maupun mereka yang berada di daerah-daerah. Pada permulaan perang, pasukan Diponegoro berhasil bergerak maju merebut beberapa daerah, seperti misalnya Pacitan pada tanggal 6 Agustus 1825 dan Purwodadi pada tanggal 28 Agustus 1825. Pada awal perang kekuatan militer Belanda tidak begitu besar.


Di daerah Kedu terjadi pertempuran sengit di desa Dinoyo. Di sini pasukan Diponegoro menghadapi lawan yang besar sekarang jumlahnya. Mereka terdiri dari 2000 orang, yaitu gabungan antara pasukan Belanda dan pasukan Tumenggung Danuningrat, bupati Kedu yang memihak pada Belanda. Seconegoro dan Kertonegoro segera minta bantuan ke Selarong. Dari Selarong dikirim bantuan prajurit Bulkiya.


Bulkiya adalah nama salah satu kesatuan prajurit Diponegoro yang terkenal berani. Pasukan Bulkiya ini dipimpin Haji Usman Alibasah dan Haji Abdulkadir. Seconegoro memimpin barisan sayap kanan, sedang Kertonegoro memimpin barisan sayap kiri. Akhirnya pasukan Belanda dapat dipukul mundur dan bupati Kedu, Tumenggung Danuningrat tewas dalam pertempuran ini. Pasukan Bulkiya berhasil merampas beberapa pucuk senapan dan meriam serta pelurunya.


Dalam pertempuran di daerah Semarang tanggal 11 September 1825 Pangeran Serang berhadapan dengan Belanda. Untuk menumpas perlawanan rakyat ini, Jenderal de Kock mengerahkan semua kekuatan pasukan Belanda. Jenderal van Geen yang bertugas di Bone tiba di Semarang pada awal bulan September 1825. Jenderal ini kemudian ditugaskan menumpas perlawanan Pangeran Serang di Semarang.


Semarang akhirnya jatuh, akan tetapi Pangeran Serang berhasil meloloskan diri ke daerah Sukowati dan terus mengadakan perlawanan bersama Tumenggung Kartodirjo. Rembang, Blora, Rajegwasi (Bojonegoro) dan Sukowati dengan perlawanan keras akhirnya dapat dikuasai Belanda. Pada pertempuran tanggal 9 Desember 1825, Madiun jatuh ke tangan Belanda, sehingga Pangeran Serang bersama-sama dengan Pangeran Sukur, mundur ke Yogyakarta untuk menggabungkan diri dengan pasukan Diponegoro.


Perlawanan di berbagai daerah tersebut merupakan penghalang kekuatan untuk menyerbu markas besar Diponegoro di Serang. Belanda harus menumpas perlawanan di banyak daerah ini satu persatu. Secara tiba-tiba Belanda melakukan serangan umum ke Selarong pada tanggal 2 Oktober 1825. Akan tetapi Selarong didapati kosong; ternyata pasukan Diponegoro telah memindahkan markas besarnya ke Dekso, sebelah barat laut Yogyakarta. Di markas baru ini, Diponegoro mengangkat lagi pemimpin –pemimpin pasukan untuk memperkuat barisan.


Baca Juga : Perjanjian Tuntang : Pengertian, Sejarah, Latar Belakang, Isi Dan Dampaknya


Peperangan terus berjalan. Gunung kidul dibawah pimpinan Pangeran Singosari jatuh.  Pangeran Singosari mundur dan bergabung dengan Syeh Dullah Kaji Muda di Imogiri. Sementara itu pertempuran sengit yang terjadi pada tanggal 30 Juli 1826 di dekat Lengkong membawa akibat tewasnya seorang Letnan Belanda dan dua orang wali dari Sultan Hamengku Buwono V, ialah Pangeran Murdaningrat dan Pangeran Panular.

Penyebab Perang Diponegoro


Penyebab Perang Diponegoro

Secara umum dalam sebuah sumber dikatakan beberapa sebab terjadinya perang diponegoro yaitu:

  1. Diponegoro kecewa Dia tidak diangkat menjadi Sultan
  2. Peristiwa penyewaan tanah.
  3. Wilayah-wilayah Jawa yang berkurang akibat politik anexasi yang dilakukan Belanda
  4. Tekanan yang merugikan rakyat yang dilakukan pemungut cukai orang tionghoa.
  5. Merosotnya Budaya dalam kehidupan orang jawa, juga budi pekertinya.
  6. Ketidakcakapan para residen dan pegawai Belanda yang di Jogjakarta.

Puncaknya adalah ketika tanah nenek moyang Diponegoro di Tegalrejo, hendak dijadikan jalan oleh Belanda tanpa meminta persetujuan kepada Diponegoro, dengan kata lain Jalan yang akan dibuat melintasi tanah leluhur Diponegoro, ini terjadi pada tanggal 20 juli 1825, Belanda memasang tonggak-tonggak yang menjadi tanda proyek pembuatan jalan,


Diponegoro yang tetap mempertahankan apa yang menjadi hak miliknya telah menambah suasana menjadi sedemikian panas, namun hal ini sebenarnya telah diantisipasi oleh Masyarakat, yang sejak ditancapkannya tonggak-tonggak itu, oleh Belanda atas perantara Patih DanurejaIV, rakyat Tegal Rejo mendukung penuh Diponegoro, bahkan mereka memepertanyakan apa kira-kira yang akan menjadi tanda jika perang itu memang harsu terjadi, Diponegoro menjawab setelah adanya suara meriam. Pada tanggal 20 juli 1825, sekitar jam 5 petang, terdengarlah oleh rakyat suara meriam Belanda.


Baca Juga : Perjanjian Saragosa : Pengertian, Latar Belakang, Tujuan, Isi Dan Dampaknya


Akhir Perang

Tahun 1828, Kiai Mojo salah satu penguasa pendukung Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda dan di asingkan ke Minahasa sampai wafatnya. Setahun kemudian, Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda dan bersama pasukannya dikirim ke Sumatera Barat untuk memadamkan perlawanan Tuanku Imam Bonjol. Namun Sentot Prawirodirjo akhirnya ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Bengkulu sampai akhir hayatnya karena ia dan pasukannya malah memihak kepada Tuanku Imam Bonjol.


Meskipun terus terdesak, Pangeran Diponegoro bersama para pendukung fanatiknya terus melakukan perlawanan meski pemerintah Belanda menjanjikan uang sebesar 20.000 ringgit bagi siapa saja yang berhasil menangkapnya hidup atau mati. Jendral De Kock sebagai panglima tertinggi pasukan Belanda terus berupaya membujuk Pangeran Diponegoro agar mau berunding dengan Belanda. Akhirnya Pangeran Diponegoro menerima tawaran tersebut dan perundingan dilaksanakan di Magelang, tanggal 28 Maret 1830.


Namun ketika proses perundingan sedang berlangsung, secara licik Belanda menangkap Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro kemudian dibawa ke Batavia, kemudian diasingkan lagi ka Manado, lalu dipindahkan ke Makassar sampai beliau wafat pada tanggal 8 Januari 1855. Sejak penangkapan Pangeran Diponegoro secara licik oleh Belanda tersebut, maka berakhir pulalah sejarah panjang Perang Diponegoro yang sangat legendaris tersebut.


Taktik Dan Strategi Perang

 Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya.


Jalur-jalur Iogistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.


Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Selain itu, dari pihak Belanda menggunakan siasat Benteng Stelsel atau Sistem Benteng. Sistem ini mulai dilaksanakan oleh Jenderal De Kock dalam periode perang sejak tahun 1827.


Tujuan dari Benteng Stelsel adalah untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro dengan jalan mendirikan pusat-pusat pertahanan berupa benteng-benteng di daerah-daerah yang telah dikuasai Belanda. Pelaksanaan Benteng Stelsel juga dimaksud untuk mengadakan tekanan pada Diponegoro agar bersedia segera menghentikan perlawanan.


Usaha Belanda untuk mempercepat selesainya perang antara lain juga dilakukan dengan cara pengumuman pemberian hadiah sebanyak 20.000 ringgit kepada siapa pun yang dapat menangkap Diponegoro. Pengumuman yang telah dikeluarkan sejak tanggal 21 September 1829 hingga akhir tahun itu masih belum berhasil.


Sedangkan dari pihak Diponegoro menggunakan strategi perang gerilya dan memusatkan pertahanannya di Goa Selarong. Penggunaan strategi perang gerilya ini terbukti cukup berhasil karena pasukan Diponegoro mampu mendesak Belanda hingga ke daerah Pacitan.


Baca Juga : Perjanjian Bongaya – Pengertian, Latar Belakang, Isi, Makna Dan Dampaknya


Teknologi Perang

Pihak Blanda jauh lebih unggul dari segi persenjataan dibanding pangeran Diponegoro dan pengikutnya. Belanda sudah menggunakan berbagai model senapan, meriam, serta mortir.

Sebaliknya Pangeran Diponegoro dan pengikutnya hanya menggunakan tombak, keris, serta senapan klasik. Tetapi yang paling menonjol dari siasat Pangeran Dipoegoro adalah penggunaan telik sandi untuk mendapatkan informasi tentang musuh, yaitu Belanda.


Riwayat Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro yang lahir pada tahun 1785 dengan nama kecilnya yakni Antawirya, yang merupakan putera sulung Sultan Hamengkubuwono III dari selir. Saat remaja diasuh oleh Ratu Ageng ( janda Sultan Hamengkubuwono I ) di Tegalrejo, kira-kira 1 km disebelah barat stasiun Yogyakarta. Semasa hidupnya beliau berusaha memperdalam agama islam, sering bertapa di gua Langse dan sangat mementingkan masalah-masalah rohaniah. Sikapnya terhadap rakyat amat baik dan selalu memperhatikan nasibnya. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono V ( Mas Menol ), Pangeran Diponegoro diangkat menjadi wali raja, karena pada saat itu Sultan Hamengkubuwono V masih dibawah umur.


Pangeran Diponegoro mengangkat senjata melawan imperialis Belanda pada tahun 1825-1830 dan wafat pada tanggal 8 Januari 1855, sebagai penghargaan perjuangannya, pemerintah Indonesia mengangkat Pangeran Diponegoro sebagai pahlawan nasional, rumah kediaman beliau di Tegalrejo dibangun dijadikan sebuah Monumen Diponegoro, nama Diponegoro diabadikan menjadi nama kesatuan Divisi Jawa Tengah.


Demikianlah pembahasan mengenai Perang Diponegoro – Latar Belakang, Penyebab Dan Makamnya semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Send this to a friend