Struktur Daun

Diposting pada

Struktur Daun

Struktur Daun – Pengertian, Fungsi, Epidermis, Bagian Dan Anatomi – Dalam hal ini daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari ranting, biasanya berwarna hijau “Mangandung Klorofil”, dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari untuk fotosintesis.

Struktur-Daun


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt,  karena rahmat dan nikmat-Nyalah kami dapat mnyelesaikan sebuah tugas makalah Struktur Perkembangan Tumbuhan II ini, yang diberikan oleh Ibu Dr. Evika Sandi Savitri, M.P selaku dosen pembimbing Struktur Perkembangan Tumbuhan II.


Pembuatan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas dari dosen yang bersangkutan agar memenuhi tugas yang telah ditetapkan, dan juga agar setiap mahasiswa dapat terlatih dalam pembuatan makalah. Makalah ini berjudul”ANATOMI DAN PERKEMBANGAN DAUN”. Adapun sumber-sember dalam pembuatan makalah ini, didapatkan dari beberapa buku yang membahas tentang materi yang berkaitan dan juga melalui media internet.


Kami sebagai penyusun makalah ini, sangat berterima kasih kepada penyedia sumber walau tidak dapat secara langsung untuk mengucapkannya. Kami menyadari bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan, begitu pun dengan kami yang masih seorang mahasiswa.


Dalam pembuatan makalah ini mungkin masih banyak sekali kekurangan-kekurang yang ditemukan, oleh karena itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan kami dengan besar hati sangat mangharapkan ada kritik dan saran dari para pembaca sekalian dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.


Daun merupakan bagian dari tumbuh-tumbuhan yang mempunyai fungsi dan peran penting untuk melangsungkan kelangsungan hidup tumbuh-tumbuhan itu sendiri. Ciri khas dari daun, pada umumnya berwarna hijau bentuk dari daun sebagian besar adalah melebar, memiliki zat klorofil yang berguna untuk membantu proses fotosintesis. Daun juga mempunyai bagian-bagian yang berperan penting untuk membantu proses pertumbuhan pada tumbuhan, setelah di pelajari dan di pahami secara mendalam, maka manusia akan menyadari betapa pentingnya daun pada tumbuhan. Sehingga secara tidak langsung manusia juga dapat mengetahui batapa penting dan gunanya tumbuh-tumbuhan dalam hidup. Pada lingkungan informal manusia secara umum mengetahui bentuk dari daun, namun pada lingkungan ini manusia tidak mengetahui dan mengenal daun secara spesifik (Fahn, 1991).


Daun umumnya organ berwarna hijau yang terletak diatas tanah. Daun mengandung sejumlah besar klorofil, pigmen yang menyebabkan daun dapat mengabsorpsi energi cahaya dan menggunakannya untuk menghasilkan gula melalui fotosintesis. Morfologi daun sangat bervariasi, hasil adaptasi yang sering terjadi terhadap faktor pembata lingkungan hidup tumbuhan. Daun melekat pada batang oleh bagian yang sempit yang disebut tangkai daun. Bagian daun yang lebar disebut helaian daun. Helaian daun biasanya tipis dan rata, dan memiliki sistem pertulangan yang menyebabkan daun lentur dan kuat (Hidayat, 1995).


Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari ranting, umumnya berwarna hijau (mengandung klorofil) dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari untuk fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya matahari menjadi energi kimia (Kertasapoetra, 1991).


Daun umumnya organ berwarna hijau yang terletak diatas tanah. Daun mengandung sejumlah besar klorofil, pigmen yang menyebabkan daun dapat mengabsorpsi energi cahaya dan menggunakannya untuk menghasilkan gula melalui fotosintesis. Morfologi daun sangat bervariasi, hasil adaptasi yang sering terjadi terhadap faktor pembatu lingkungan hidup tumbuhan. Daun melekat pada batang oleh bagian yang sempit yang disebut tangkai daun. Bagian daun yang lebar disebut helaian daun. Helaian daun biasanya tipis dan rata, dan memiliki sistem pertulangan yang menyebabkan daun lentur dan kuat (Hidayat, 1995).


Struktur Morfologi Daun

Secara umum daun memiliki struktur morfologi sebagai berikut (Tjitrosoepomo, 2009) :

  1. Helaian daun ( lamina ).
  2. Tangkai daun ( petiolus ), terdapat bagian yang menempel pada batang disebut pangkal tangkai daun. Ada tumbuhan tertentu yang daunnya tidak bertangkai daun, misalnya rumput.
  3. Pelepah daun ( folius ), pada tumbuhan monokotil pangkal daun pipih dan lebar serta membungkus batangnya. Misalnya : pelepah daun pisang dan pelepah daun talas.

Struktur-Daun

Gambar 1. Struktur luar daun

Daun yang memiliki ketiga bagian tersebut disebut daun sempurna, misalnya daun pisang dan daun talas. Daun yang tidak memiliki satu atau lebih bagian daun disebut daun tidak sempurna, misalnya daun mangga dan daun jambu.


Pada lembaran permukaaan daun terdapat tulang atau urat daun. Tipe tulang daun ada empat macam, yaitu:

  1. Menyirip, misalnya pada daun mangga,
  2. Menjari, misalnya pada daun pepaya,
  3. Melengkung, misalnya pada daun gadung,
  4. Sejajar, misalnya pada daun jagung,

Tumbuhan dikotil umumnya memiliki daun dengan susunan tulang daun menyirip dan menjari. Sedangkan tumbuhan monokotil memiliki daun dengan susunan tulang daun sejajar atau melengkung.

Struktur-Perbedaan-Daun-Monokotil-Dikotil

Gambar 2. Struktur Perbedaan Daun Monokotil dan Dikotil


Baca Juga: Kultur Jaringan Adalah


Struktur Anatomi Daun

Terdapat 3 struktur jaringan penyusun dari daun, diantaranya jaringan epidermis, jaringan mesofil, dan jaringan pengangkut.

Jaringan-Penyusun-Daun

Gambar 3. Jaringan Penyusun Daun


Jaringan Epidermis

Epidermis berupa satu lapis sel yang dindingnya mengalami penebalan dari zat kutin (kutikula) atau kadang dari lignin. Pada epidermis terdapat stomata (mulut daun) yang diapit oleh dua sel penutup. Stomata ada yang terletak di permukaan atas saja, misalnya pada tumbuhan yang daunnya terapung (pada daun teratai), ada yang di permukaan bawah saja, dan ada pula yang terdapat di kedua permukaan daun (atas dan bawah). Tanaman Ficus mempunyai epidermis yang tersusun atas dua lapis sel. Alat-alat tambahan yang terdapat di antara epidemis daun, antara lain trikoma (rambut) dan sel kipas (Mulyani, 2006).


Epidermis-dengan-stomata

Gambar 4. Epidermis dengan stomata

Epidermis daun dari tumbuhan yang berbeda beragam dalam hal jumlah lapisan, bentuk, struktur, susunan stomata, penampilan, dan susunan trikoma, serta adanya sel khusus. Struktur dalamnya biasanya berbentuk pipih. Daun memiliki dua jenis jaringan epidermis yaitu permukaan atas daun disebut permukaan adaksial dan permukaan bawah disebut permukaan abaksial. Pada lapisan ini tidak ada ruang antar sel. Di antara sel epidermis terdapat sel penjaga yang membentuk stomata. Struktur stomata yang dapat membuka dan menutup ini berfungsi sebagai tempat terjadinya pertukaran gas dan air. Sifat terpenting pada jaringan daun ini adalah susunan selnya yang kompak dan adanya kutikula serta stomata (Campbel, 2005).


Baca Juga: Tumbuhan Merambat


Jaringan Mesofil

Mesofil merupakan lapisan jaringan dasar yang terletak antara epidermis atas dan epidermis bawah dan diantara berkas pengangkut. Mesofil dapat tersusun atas parenkim yang relative homogen atau berdifferensiasi menjadi parenkim palisade dan parenkim spons. Sesuai dengan fungsinya, parenkim mesofil merupakan daerah fotosintesis utama karena mengandung kloroplas (Sutrian, 2004).


Parenkim palisade merupakan sel-sel yang bentuknya silindris, tersusun rapat berjajar seperti pagar. Parenkim palisade umumnya dijumpai pada lapisan atas daun, menempati sampai ½ hingga 2/3 mesofi, tetapi dapat pula dijumpai pada kedua sisi permukaan daun. Jumlah lapisan sel palisade dapat satu lapis atau lebih (Hidayat, 1995).


Mesofil terdiri atas jaringan parenkim yang terdapat di sebelah dalam epidermis. Mesofil mengalami diferensiasi membentuk jaringan fotosintetik yang berisi kloroplas. Pada kebanyakan tumbuhan terdapat dua jenis parenkim dalam mesofil, yaitu parenkim palisade dan parenkim spons.


Parenkim Palisade

Sel parenkim palisade memanjang dan pada penampang melintangnya tampak berbentuk batang yang tersusun dalam deretan. Pada tumbuhan tertentu, sel palisade berbeda bentuknya. Pada Lilium  terdapat lobus besar pada sel palisade dan tampak bercabang (Fahn, 1991).

Parenkim Palisade

Gambar 5. Parenkim Palisade

Sel palisade terdapat di bawah epidermis unilateral (selapis) atau multilateral (berlapis banyak). Seringkali terdapat hipodermis di antara epidermis dan jaringan palisade. Sel parenkim palisade tersusun atas satu atau lebih lapisan. Apabila tersusun lebih dari satu lapisan, panjang sel pada tiap lapisan atau sama, atau malah semakin ke tengah semakin pendek. Jaringan palisade biasanya terdapat pada permukaan abaksial daun. Meskipun jaringan palisade tampak lebih rapat, sisi panjang selnya saling terpisah sehingga udara dalam ruang antarsel tetap mencapai sisi panjang; kloroplas pada sitoplasma melekat di tepi dinding sel itu. Hal tersebut mengakibatkan proses fotosintesis dapat berlangsung efesien (Kertasapoetro, 1991).


Baca Juga: 70 Manfaat Biologi Dalam Bidang Pertanian


Perenkin Spons

Jaringan spons terdiri dari sel bercabang yang tak teratur bentuknya. Bentuk sel parenkim spons dapat berbentuk bermacam-macam. Kekhususannya adalah adanya lobus (rongga) yang terdapat antara sel satu dan lainnya. Membedakan antara sel parenkim palisade dengan parenkim spons tidaklah selalu mudah, khususnya apabila parenkim palisade terdiri atas beberapa lapisan. Alasannya adalah apabila palisade terdiri atas beberapa lapisan, biasanya lapisan paling dalam sangat mirip dengan parenkim spons yang ada di dekatnya (Mulyani, 2006).

Parenkim Spons

Gambar 6. Parenkim Spons


Jaringan Pengangkut

Berkas pengangkut ini biasanya terbagi menjadi 2 jenis yaitu, xylem dan floem. Sel berkas pengangkut ini berdinding tipis untuk memudahkan terjadinya transpor antar sel, mungkin memiliki kloroplas seperti mesofil. Sering kali terdapat kristal. Kebanyakan daun Dikotil, parenkim berkas pengangkut memperluas ke arah epidermis pada satu atau kedua sisi daun. Sel yang mencapai arah epidermis ini berfungsi dalam pengangkutan pada daun. Bukan hanya pada daun Dikotil saja yang memiliki berkas pengangkut akan tetapi berkas pengangkut juga terdapat dalam daun Monokotil (Campbel, 2005).

Jaringan-Pengangkut

Gambar 7. Jaringan Pengangkut


Baca Juga: Pengertian Jantung Dan Fungsinya Pada Manusia


Perkembangan Daun

Secara umum perkembangan daun dimulai dari tahap permulaan (inisiasi), diferensiasi awal, perkembangan aksis daun, asal-usul helai daun, dan histogenesis jaringan helai daun.


Tahap permulaan (Inisiasi)

Inisiasi daun dimulai dengan pembelahan periklin dalam kelompok sel kecil sel pada sisi pucuk. Jumlah lapisan sel yang mulai membelah dan posisinya pada pucuk beragam pada tumbuhan yang berbeda. Primordia daun berasal dari lapisan dari lapisan paling luar pucuk batang (Hidayat, 1995).

Pada semua tumbuhan Dikotil, pembelahan periklin yang pertama tidak terjadi pada sel lapisan permukaan, tetapi pada sel yang terletak satu ata dua lapisan dibawahnya. Lapisanpermukaan diperluas dengan adanya pembelahan antiklin beberapa kali (Hidayat, 1995).

Kasus yang paling sering terjadi, inisiasi dari primordia daun dimulai pada lapisan sel di bawah lapisan permukaan. Dalam hal ini lapisan sel tunika dan lapisan sel tetangganya dari korpus ikut serta dalam inisisiasi primordium yang berbeda (Fahn, 1991).


Diferensiasi Awal

Sebagai hasil kelanjutan pembelahan sel, primordium daun menonjol dari pucuk batang sebagai penyokong yang mempunyai bentuk papila kecil atau tonjolan. Penyokong daun terdiri atas lapisan protoderm dan untaian prokambium, yang tumbuh secara akropetal dan tidak seberapa jauh dari kambium batang (Sumardi, 1993).


Perkembangan Aksis Daun

Pada kebanyakan daun Dikotil dan Gymnospermae, perkembangan aksis daun mendahului helai daun. Hasil perkembangan cepat dari primordia menjadi bentuk seperti kerucut yang runcing dengan sisi adaksialpipih (rata). Ujung kerucut ini merupakan sebagai meristem apikal. Pada tumbuhan tertentu, dari tahpa awal perkembangan ketika primordium masih berukuran 1 mm, peningkatan atau perkembangan lebih lanjut akan terjadi karena pembelahan dan pemanjangan sel yang berjarak dari ujung primordium. Pertumbuhan ini disebut dengan pertumbuhan interkalar (Sumardi, 1993).


Baca Juga: Pengertian & Perbedaan Rantai Dengan Jaring Makanan


Asal usul Helai Daun

Selama pemanjangan awal dan penebalan aksis daun muda, sel bagian tepi adaksial terus membelah dengan cepat. Inisial pinggiran adalah sel lapisan paling luar pada tepi helai daun muda. Pada Angiospermae, biasanya inisial ini akan membelah hanya ke arah antiklin dan penambahan sel baru terjadi ke arah protoderm abaksial dan adaksial (Sutrian, 2004).

Pada daun majemuk menjari dan menyirip, helai daun lateral berkembang dari meristem pinggiran adaksial dan aksis daun muda sebagai dua deretan papila. Pada tumbuhan lain, perkembangan helai daun ada yang terjadi secara akropetal ataupun bisepetal (Sutrian, 2004).


Histogenesis Jaringan Helai Daun

Pertumbuhan pinggiran berlangsung terus-menerus lebih panjang dari pertumbuhan apikal, tetapi berhenti relatif awal. Setelah pertumbuhan pinggiran berhenti,pertumbuhan lebih lanjut darihelai daun dilakukan oleh pembelahan sel helai daun. Pembelahan secara antiklin membentuk lempeng meristem. Aktivitas lempeng meristem menghasilkan peningkatan daerah permukaan, tetapi tidak terjadi penebalan organ. Pada helai daun, sel meristem berlapis sehingga relatif mudah untuk melacak asal-usul epidermis, jaringan palisade dan spons, serta berkas pengangkut (Hidayat, 1995).


Pertumbuhan daun ini dikendalikan oleh faktor genetis, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan luar dan dalam. Faktor luar yang memengaruhi daun antara lain seperti pasokan air, nutrisi, panjang hari, dan intensitas sinar.

Perkembangan-Daun

Gambar 8. Perkembangan Daun


Baca Juga: 5 Jenis Dan Struktur Anatomi Pada Akar Tumbuhan


Absisi Dan Pengguguran Daun

Pemisahan aktif daun dari cabang, tanpa meninggalkan luka, disebut absisi daun. Daun sering tanggal pada musim kemarau, atau saat kekurangan air, tanpa meninggalkan luka. Absisi juga merupakan adaptasi yang bermanfaat guna melepaskan daun tua, buah masak, dan bunga yang tidak akan menghasilkan buah, serta merupakan cara pemangkasan diri jika jumlah cabang terlampau banyak (Hidayat, 1995).


Absisi daun biasanya disiapkan di dekat dasar tangkai daun atau pangkal daun. Daerah pengguguran ini secara histologi dapat dibedakan dengan jaringan yang lain yaitu bagian luarnya ditandai dengan adanya lekukan dangkal atau adanya perbedaan warna epidermis (Hidayat, 1995).


Sistem pembuluh dalam daerah pengguguran ini biasanya terpusat di tengah. Perkembangan sklerenkim dan kolenkim kurang baik atau bahkan tidak ada. Pada daerah pengguguran terdapat dua lapisan pemisah, tempat terjadinya pelepasan organ dan merupakan lapisan pelindung dari kekeringan dan masuknya parasit (Mulyani, 2006).


Di daerah absisi tersebut terjadi perubahan sitologi dan biokimiawi dalam sel di daearah pemisah yang akhirnya memisahkan daun dari cabangnya. Pada kebanyakan daun, bunga, dan buah dan beberapa batang, persiapan lapisan absisi terjadi sewaktu ontogeni. Namun, lapisan absisi bisa juga terjadi langsung setelah ada kondisi yang merangsang absisi. Padadaerah absisi, jaringan tersklerifikasi sering tereduksi dan jaringan pembuluh terkondensasi di tengah,bukan di tepi. Pada beberapa spesies, daerah absisi seperti itu terdapat di tempat pertemuan tangkai dan sendi daun (Sumardi, 1993).


Secara histologi, pemisahan atau absisi terjadi melalui tahap histologi sebagai berikut:

  1. Pecahnya sel empulur
  2. Pembelahan sel dalam korteks
  3. Diferensiasi dan pembesaran sel
  4. Pemecahan sel pembuluh dan korteks

Tanggalnya daun atau gugurnya daun tidak perlu selalu berasosiasi dengan peristiwa pelarutan dinding sel atau lamela tengah. Di kebanyakan monokotil dan beberapa dikotil basah, tekanan fisik mengakibatkan pemisahan daun (Fahn, 1991).

Daerah-Absisi

Gambar 9. Daerah Absisi


Baca Juga: 1001 Pengertian Stomata Serta Fungsinya Lengkap


Keragaman Struktur Daun

Berdasarkan ketersediaan air di lingkungan, dapat dibedakan menjadi tumbuhan Xerofit dan tumbuhan Hidrofit, yang masing-masing memiliki sifat Xeromorfi dan Hidromofi.


Xeromorfi

Xeromorfi

Gambar 10. Xeromorfi

Adaptasi dari tumbuhan yang bersifat Xeromorfi adalah Epidermis dapat tersusun atas lebih dari 1 lapis sel, stomata tersembunyi dalam 1 cekung, (Kriptofor), palisade ada pada kedua sisi permukaan daun dengan kata lain parenkim palisade lebih berkembang dari pada parenkim bunga karang, dan bahkan parenkim bunga karang dapat tidak ada, pada epidermis sering tumbuh trikoma, dan sel-sel epidermis mengalami lignifikasi yang tebal (Hidayat, 1995).


Hidromorfi

Hidromorfi

Gambar 11. Hidromorfi

Adaptasi dari tumbuhan yang bersifat Hidromorfi adalah stomata sering menonjol keluar, memiliki ruang-ruang udara yang besar dan epidermis tanpa kutikula dan berisi kloroplas. Faktor yang terutama mempengaruhi tanaman air adalah suhu, udara, dan konsentrasi serta susunan garam dalam air. Sifat struktural yang paling menonjol pada daun tanaman air adalah berkurangnya jaringan pengokoh dan pelindung, berkurangnya jumlah jaringan angkut terutama xilem, dan terdapatnya banyak rongga udara (Hidayat, 1995).


Baca Juga: Penjelasan Organ Pada Tumbuhan Beserta Fungsi Dan Strukturnya


Perbedaan Daun Monokotil Dan Dikotil

  • Daun Dikotil

Daun Dikotil

Gambar 10. Daun Dikotil

  • Daun Monokotil

Daun Monokotil

Gambar 11. Daun Monokotil

  • Letak perbedaannya didasarkan pada jaringan tiang (palisadenya)
  • Pada monokotil, tidak terdapat jaringan tiang
  • Pada dikotil, terdapat kedua jaringan (Palisade dan Spons).

Baca Juga: Penjelasan Jaringan Parenkim Beserta Ciri, Fungsi Dan Strukturnya


Daftar Pustaka
Campbell, A, Neil. 2005. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta : UGM Press
Hidayat, B, Estiti. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : ITB Press
Kertasapoetra. 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan. Jakarta : PT. Rhineka Cipta
Mulyani. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius
Sunardi, Isserep. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta : UGM Press
Sutrian, Yayan. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuhan Tentang Sel dan Jaringan. Jakarta : PT. Rhineka Cipta

Demikianlah pembahasan mengenai Struktur Daun – Pengertian, Fungsi, Epidermis, Bagian Dan Anatomi semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Butuhkan